RINGKASAN AKIDAH ISLAM (Indonesia)

Risalah penting ini berisi pengenalan singkat tentang Islam. Di dalamnya dijelaskan tentang hal-hal penting terkait pokok-pokok dasar agama Islam, ajaran-ajarannya, serta berbagai keistimewaannya, yang bersandar pada rujukan aslinya, yaitu: Al-Qur`ān Al-Karīm dan As-Sunnah An-Nabawiyyah. Risalah ini ditujukan kepada seluruh mukalaf, baik dari kalangan muslim atau non muslim sesuai bahasa mereka, di setiap waktu dan tempat dengan berbagai perbedaan latar belakang dan kondisi mereka.

  • earth Salin data memori ke kolom terjemahan
    (Indonesia)
  • earth Penulis:
    الشيخ محمد بن صالح العثيمين
PHPWord

 

 

 

نُبذَةٌ فِي العَقِيدَةِ الإِسْلَامِيَّة

(شَرْحُ أُصُولِ الإِيمَانِ)

RINGKASAN AKIDAH ISLAM

بِقَلَم فَضِيلَة الشَّيخ العَلَّامَة

مُحَمَّدِ بْنِ صَالِحٍ العُثَيمِين

غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ وَلِلْمُسْلِمِين

 

 

Karya Syekh Al-'Allāmah

Muḥammad bin Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn

Semoga Allah mengampuni beliau, kedua orang tuanya, dan seluruh kaum muslimin

 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah semata. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, memohon ampunan-Nya, dan bertobat kepada-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan dari keburukan amal kita. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tidak akan ada yang mampu menyesatkannya. Sebaliknya, siapa saja yang disesatkan oleh-Nya, tidak akan ada yang bisa memberinya petunjuk. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada beliau beserta keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan semua yang mengikuti mereka dengan baik.

Ilmu tauhid adalah ilmu yang paling mulia, paling agung kedudukannya, dan paling wajib dipelajari karena ia merupakan ilmu tentang Allah Ta'ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, dan hak-hak-Nya atas hamba-Nya dan merupakan kunci pembuka jalan kepada Allah Ta'ala serta fondasi syariat-Nya.

Oleh karena itu, seluruh rasul sepakat untuk mendakwahkannya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25﴾

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku." [QS. Al-Anbiyā`: 25]

Allah Ta'ala telah menegaskan status keesaan untuk diri-Nya, sebagaimana hal itu ditegaskan oleh malaikat-malaikat-Nya dan orang-orang berilmu. Allah Ta'ala berfirman:

﴿شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 18﴾

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; (demikian pula kesaksian) para Malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [QS. Āli 'Imrān: 18]

Manakala kedudukan tauhid seperti itu, maka setiap muslim wajib untuk serius mempelajari, mengajarkan, menadaburi, dan meyakininya, sehingga ia bisa membangun agamanya di atas fondasi yang benar serta ketenangan dan ketundukan supaya ia dapat memetik buah dan hasilnya. Hanya Allah-lah yang memberikan taufik dan petunjuk.

Penulis

 


AGAMA ISLAM

Agama Islam adalah agama yang dengannya Allah mengutus Muhammad ﷺ, dengannya Allah menutup semua agama dan menyempurnakannya untuk para hamba-Nya. Dengan Islam, Allah menyempurnakan nikmat untuk mereka serta meridainya sebagai agama mereka. Dia tidak menerima dari siapa pun agama selainnya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَۗ وَكَانَ ٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا 40﴾

"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." [QS. Al-Aḥzāb: 40]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ...﴾

"Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu." [QS. Al-Mā`idah: 3]

Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنَّ ٱلدِّينَ عِندَ ٱللَّهِ ٱلۡإِسۡلَٰمُ...﴾

"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam..." (QS. Āli 'Imrān: 19). Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 85﴾

"Siapa yang mencari agama selain Islam, maka (agama itu) tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi." [QS. Āli 'Imrān: 85]

Allah Ta'ala telah mewajibkan semua manusia agar memeluk agama Islam. Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ,

﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ 158﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah kepada kalian semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi (yang tidak bisa baca tulis) yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kalian mendapat petunjuk.'" [QS. Al-A'rāf: 158]

Dalam Sahih Muslim, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,

«وَالَّذِي ‌نَفْسُ ‌مُحَمَّدٍ ‌بِيَدِهِ ‌لَا ‌يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ».

“Demi (Allah) yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang diriku lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku bawa, melainkan ia adalah penghuni neraka.”1

Beriman kepada beliau ialah membenarkan apa yang beliau bawa disertai penerimaan dan ketundukan, tidak sebatas pembenaran. Oleh karena itu, Abu Ṭālib tidak dinyatakan beriman kepada Rasulullah ﷺ sekalipun ia membenarkan apa yang beliau ajarkan serta menyatakan bahwa agama beliau sebaik-baik agama.

Agama Islam berisikan semua kebaikan yang dikandung oleh agama-agama sebelumnya, bahkan ia lebih utama karena selalu relevan untuk semua waktu, tempat, dan umat. Allah Ta'ala berfirman kepada Rasul-Nya,

﴿وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِ...﴾

"Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelum-nya dan menjaganya..." [QS. Al-Mā`idah: 48]

Islam sebagai agama yang relevan untuk semua waktu, tempat, dan umat, maksudnya adalah bahwa menjalankannya tidak bertentangan dengan kemaslahatan umat manusia di waktu dan tempat mana pun, bahkan Islamlah yang akan mewujud-kan kemaslahatannya. Kerelevanan ini tidak bermaksud bahwa agama Islam tunduk pada semua waktu, tempat, dan umat, sebagaimana yang diinginkan oleh sebagian orang.

Agama Islam adalah agama kebenaran, siapa yang menjalankannya dengan sebenar-benarnya, maka Allah Ta'ala menjamin akan menolongnya dan memenangkannya di atas orang lain. Allah Ta'ala berfirman,

﴿هُوَ ٱلَّذِيٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُۥ عَلَى ٱلدِّينِ كُلِّهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ 9﴾

"Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur`an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai." [QS. Aṣ-Ṣaff: 9]

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسۡتَخۡلِفَنَّهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ كَمَا ٱسۡتَخۡلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمۡ دِينَهُمُ ٱلَّذِي ٱرۡتَضَىٰ لَهُمۡ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعۡدِ خَوۡفِهِمۡ أَمۡنٗاۚ يَعۡبُدُونَنِي لَا يُشۡرِكُونَ بِي شَيۡـٔٗاۚ وَمَن كَفَرَ بَعۡدَ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ 55﴾

"Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai bagi mereka, dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku, serta tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi siapa yang (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." [QS. An-Nūr: 55]

Agama Islam mencakup akidah dan syariat. Dia sempurna di dalam akidah dan syariat-syariatnya:

Agama Islam memerintahkan untuk menauhid

-

kan Allah dan melarang

kesyirikan

.

Agama Islam memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang dusta.

Agama Islam memerintahkan keadilan dan melarang kezaliman.

Keadilan ialah memperlakukan sama antara yang semisal dan membedakan antara yang berbeda. Penyetaraan secara mutlak bukanlah keadilan sebagaimana yang diklaim sebagian orang ketika ia mengatakan secara mutlak, "Agama Islam adalah agama persamaan." Padahal, menyetarakan antara yang berbeda adalah bentuk kezaliman yang tidak diajarkan oleh Islam, dan pelakunya tidak dipuji.

Agama Islam memerintahkan untuk berlaku amanah dan melarang khianat.

Agama Islam memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.

Agama Islam memerintahkan bakti kepada kedua orang tua dan melarang durhaka.

Agama Islam memerintahkan untuk menjalin silaturahmi dan melarang memutusnya.

Agama Islam memerintahkan sikap baik dalam bertetangga dan melarang sikap buruk di dalamnya.

Secara umum agama Islam memerintahkan semua akhlak mulia dan melarang seluruh akhlak hina; memerintahkan semua perbuatan baik dan melarang seluruh perbuatan buruk.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ 90﴾

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi bantuan kepada kerabat. Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kalian agar kalian dapat mengambil pelajaran." [QS. An-Naḥl: 90]

 

* * *

RUKUN ISLAM

Rukun Islam ialah pilar-pilar Islam yang di atasnya Islam dibangun. Rukun Islam ada lima sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- bahwa Nabi ﷺ bersabda,

«بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ: عَلَى أَنْ يُوَحِّدَ اللَّه - وَفِي رِوَايَةٍ عَلَى خَمْسٍ -: شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَالْحَجِّ».

"Islam dibangun di atas lima perkara -dalam riwayat lain: di atas lima-: syahadat ilāha illallāh muḥammad rasūlullāh, mendirikan salat, menunai-kan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan beribadah haji." Seorang laki-laki bertanya, "Ibadah haji dan puasa Ramadan?" Beliau bersabda,

«لَا، صِيَامُ رَمَضَانَ، وَالْحَجُّ».

"Tidak, puasa di bulan Ramadan dan ibadah haji." Demikianlah aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ .2 

Syahadat

 

ilāha

 

illallāh

(tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah) dan

Muḥammad

'

abduhu

 

wa

 

rasūluh

(Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya). Dua kalimat syahadat ini adalah keyakinan kokoh yang diungkapkan dengan lisan, seolah-olah dia memastikan syahadat tersebut sebagaimana dia menyaksikannya.

Alasan dua syahadat ini dijadikan satu rukun padahal objek syahadatnya dua ialah:

Bisa jadi karena Rasulullah

adalah penyampai (risalah) dari Allah

Ta'ala

, sehingga kesaksian untuk beliau sebagai hamba dan utusan Allah adalah bagian dari kesempurnaan kesaksian tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah.

Atau disebabkan karena kedua kesaksian tersebut adalah fondasi untuk keabsahan dan diterimanya amal, sebab suatu amal tidak akan sah maupun diterima kecuali dengan syarat ikhlas untuk Allah

Ta'ala

dan mengikuti Rasulullah

.

Dengan ikhlas kepada Allah akan terwujud kesaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan dengan mengikuti Rasulullah ﷺ akan terwujud kesaksian bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya.

Di antara faedah kesaksian yang agung ini ialah memerdekakan hati dan jiwa dari penghambaan kepada makhluk dan dari mengikuti selain utusan Allah.

Menegakkan salat ialah beribadah kepada Allah

Ta'ala

dengan mengerjakan salat secara benar dan sempurna terkait waktu dan kaifiatnya.

Di antara faedahnya: kelapangan dada, penyejuk mata, dan mencegah kekejian dan kemungkaran.

Menunaikan zakat ialah beribadah kepada Allah

Ta'ala

dengan mengeluarkan kadar yang wajib

dari harta-harta wajib zakat.

Di antara faedahnya: membersihkan jiwa dari akhlak buruk seperti bakhil serta memenuhi hajat Islam dan umat Islam.

Berpuasa Ramadan ialah beribadah kepada Allah

Ta'ala

dengan menahan diri dari

pembatal-pembatal

puasa di siang Ramadan.

Di antara faedahnya: melatih jiwa untuk meninggalkan sesuatu yang disukai demi meraih rida Allah ﷻ.

Berhaji ke Baitulharam ialah beribadah kepada Allah

Ta'ala

dengan mengunjungi Baitullah untuk menunaikan syiar-syiar haji.

Di antara faedahnya: melatih jiwa untuk mengerahkan usaha dalam bentuk harta dan fisik dalam rangka ketaatan kepada Allah Ta'ala. Oleh karena itu, haji merupakan salah satu bentuk jihad di jalan Allah Ta'ala.

Faedah-faedah yang kita sebutkan pada pilar-pilar ini, demikian juga yang tidak kita sebutkan, akan menjadikan umat Islam sebagai umat yang suci lagi bersih, beribadah kepada Allah dengan agama yang benar, dan memperlakukan orang lain secara adil dan jujur. Hal itu karena syariat-syariat Islam lainnya akan baik bila pilar-pilar ini baik, serta keadaan umat Islam akan baik ketika urusan agamanya baik. Sebaliknya, keadaan umat ini tidak akan baik selaras dengan kadar yang hilang dari kebaikannya dalam urusan agamanya.

Siapa yang ingin melihat perkara tersebut lebih jelas, hendaklah membaca firman Allah Ta'ala,

﴿وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ 96 أَفَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا بَيَٰتٗا وَهُمۡ نَآئِمُونَ 97 أَوَأَمِنَ أَهۡلُ ٱلۡقُرَىٰٓ أَن يَأۡتِيَهُم بَأۡسُنَا ضُحٗى وَهُمۡ يَلۡعَبُونَ 98 أَفَأَمِنُواْ مَكۡرَ ٱللَّهِۚ فَلَا يَأۡمَنُ مَكۡرَ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلۡقَوۡمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ 99﴾

"Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Akan tetapi, ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. Lantas apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?  Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain? Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah (yang tidak terduga)? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi." [QS. Al-A'rāf: 96-99]

Lihatlah sejarah orang-orang terdahulu karena sejarah adalah pelajaran bagi orang-orang yang berakal dan ilmu, bagi orang yang hatinya tidak tertutupi tabir. Hanya Allahlah tempat meminta pertolongan.

 

* * *

PILAR-PILAR AKIDAH ISLAM

Agama Islam -sebagaimana telah kami jelaskan- terdiri dari akidah dan syariat. Kami telah sebutkan secara ringkas sebagian dari syariatnya dan beberapa rukunnya yang merupakan pilar bagi syariat-syariatnya.

Adapun akidah Islam, maka pilar-pilarnya ialah beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, serta takdir yang baik dan yang buruk.

Pilar-pilar ini telah ditunjukkan oleh Kitab Allah (Al-Qur`an) dan sunnah Rasulullah ﷺ.

Dalam Al-Qur`an, Allah Ta'ala berfirman,

﴿لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ...﴾

"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi..." [QS. Al-Baqarah: 177]

Allah juga berfirman tentang takdir,

﴿إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ 49 وَمَآ أَمۡرُنَآ إِلَّا وَٰحِدَةٞ كَلَمۡحِۭ بِٱلۡبَصَرِ50﴾

"Sungguh, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdirnya). Perintah Kami hanyalah (dengan) satu perkataan seperti kejapan mata." [QS. Al-Qamar: 49-50]

Sedangkan dalam sunnah, Nabi ﷺ bersabda ketika menjawab pertanyaan Jibril tentang iman,

«الْإِيمَانُ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ: خَيْرِهِ وَشَرِّهِ».

"Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari Akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk."3

Iman Kepada Allah Ta'ala

Iman kepada Allah mencakup empat perkara:

Pertama: Iman dengan keberadaan Allah

Ta'ala

Keberadaan Allah Ta'ala telah ditunjukkan oleh fitrah, akal, syar'i, dan indra.

Petunjuk fitrah terhadap keberadaan Allah

-

Subḥānahu

 

wa

 

Ta'ālā

-

adalah bahwa seluruh makhluk diciptakan di atas fitrah beriman kepada penciptanya tanpa harus berpikir atau belajar terlebih dahulu.

Tidak ada yang beralih dari fitrah tersebut kecuali orang yang hatinya dihinggapi sesuatu yang dapat memalingkannya. Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«‌مَا ‌مِنْ ‌مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ».

“Tidak ada satu bayi pun kecuali dilahirkan di atas fitrah (Islam). Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi."4

Petunjuk akal terhadap keberadaan Allah

Ta'ala

adalah bahwa semua makhluk, baik yang sudah lalu maupun yang akan datang, pasti memiliki pencipta yang menciptakannya, karena ia tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, sebagaimana ia juga tidak mungkin ada secara tiba-tiba.

Ia tidak mungkin mengadakan dirinya sendiri karena sesuatu tidak akan menciptakan dirinya. Sebab sebelum ia ada, ia adalah tiada. Maka bagaimana mungkin ia menjadi pencipta?!

Demikian juga ia tidak mungkin ada secara tiba-tiba, karena setiap sesuatu yang baru pasti memiliki pencipta. Juga karena keberadaannya dengan tatanan yang indah, keserasian yang harmonis, serta keterkaitan yang kokoh antara sebab dan akibat, juga antara makhluk yang satu dengan lainnya, maka hal itu sepenuhnya menafikan kemungkinan keberadaannya terjadi secara kebetulan. Sebab sesuatu yang ada karena kebetulan tidaklah memiliki keteraturan pada asal keberadaannya; maka bagaimana mungkin ia bisa tetap teratur dalam keberlangsungan dan perkembangannya?!

Jika makhluk-makhluk ini tidak mungkin menciptakan dirinya sendiri, juga tidak mungkin ada secara kebetulan, maka dapat dipastikan bahwa ia memiliki pencipta, yaitu Allah, Tuhan alam semesta.

Allah Ta'ala telah menyebutkan dalil logis dan argumen pasti ini dalam surah Aṭ-Ṭūr. Allah berfirman,

﴿أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ 35﴾

"Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?" [QS. Aṭ-Ṭūr: 35]

Maksudnya: mereka tidak diciptakan tanpa pencipta, mereka juga tidak menciptakan diri mereka sendiri, sehingga dipastikan bahwa pencipta mereka adalah Allah ﷻ. Oleh karena itu, ketika Jubair bin Muṭ'im -raḍiyallāhu 'anhu- mendengar Rasulullah ﷺ membaca surah Aṭ-Ṭūr dan sampai pada ayat-ayat berikut:

﴿أَمۡ خُلِقُواْ مِنۡ غَيۡرِ شَيۡءٍ أَمۡ هُمُ ٱلۡخَٰلِقُونَ 35 أَمۡ خَلَقُواْ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۚ بَل لَّا يُوقِنُونَ 36 أَمۡ عِندَهُمۡ خَزَآئِنُ رَبِّكَ أَمۡ هُمُ ٱلۡمُصَۜيۡطِرُونَ37﴾

"Atau apakah mereka tercipta tanpa asal-usul ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu ataukah mereka yang berkuasa?  [QS. Aṭ-Ṭūr: 35-37],

Sedangkan Jubair ketika itu masih musyrik, ia berkata, 'Hatiku hampir copot. Itu adalah kali pertama iman masuk ke dalam hatiku'."5

Marilah kita ambil sebuah perumpamaan untuk menjelaskan hal itu. Seandainya seseorang menceritakan kepada Anda tentang sebuah istana yang megah, dikelilingi oleh taman-taman, dialiri sungai-sungai di sekitarnya, dipenuhi dengan perabot dan tempat tidur, serta dihiasi dengan berbagai macam ornamen dari unsur-unsur penopangnya maupun pelengkapnya, lalu ia berkata, "Sesungguhnya istana ini beserta segala kesempurnaan yang ada di dalamnya telah mewujudkan dirinya sendiri, atau tercipta begitu saja secara kebetulan tanpa ada yang mewujudkan," niscaya Anda segera mengingkari dan mendustakannya, serta menganggap ucapannya itu sebagai perkataan yang tidak masuk akal. Lalu, apakah mungkin alam yang luas ini berikut bumi dan langitnya, planet-planetnya, dan dengan keadaan dan tatanannya yang indah memukau, telah menciptakan dirinya sendiri atau ada tiba-tiba tanpa pencipta?!

Petunjuk

syar'i

terhadap keberadaan Allah

Ta'ala

adalah bahwa seluruh kitab samawi menyatakan hal tersebut.

Kandungan hukum-hukumnya yang penuh keadilan dan kemaslahatan makhluk adalah petunjuk yang menunjukkan hukum-hukum tersebut berasal dari Tuhan Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui maslahat makhluk-Nya. Di samping itu, segala informasi alam semesta yang dikandungnya dan yang dibuktikan kebenarannya oleh realitas adalah bukti bahwa semua informasi itu berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menciptakan apa yang diinformasikan-Nya.

Sementara petunjuk indra terhadap keberadaan Allah, maka dilihat dari dua sisi:

Sisi Pertama:

Kita sering mendengar dan menyaksikan dikabulkannya doa orang-orang yang berdoa serta ditolongnya orang-orang yang mengalami ujian.

Hal ini memberi petunjuk pasti tentang keberadaan Allah Ta'ala. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,

﴿وَنُوحًا إِذۡ نَادَىٰ مِن قَبۡلُ فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُۥ...﴾

"(Ingatlah kisah) Nuh sebelum itu, ketika dia berdoa. Kami perkenankan (doa)nya..." [QS. Al-Anbiyā`: 76]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ...﴾

"(Ingatlah) ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu itu dikabulkan-Nya untuk kalian..." [QS. Al-Anfāl: 9]

Dalam Sahih Bukhari, Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- berkata,

«إنَّ أعرابيًّا دَخَلَ يَوْمَ الجُمُعَةِ -والنَّبِيُّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ يَخْطُبُ- فقالَ: يا رسُولَ اللَّهِ، هَلَكَ المَالُ، وجَاعَ العِيَالُ، فَادْعُ اللَّهَ لنَا؛ فَرَفَعَ يَدَيْهِ ودَعَا، فَثَارَ السَّحَابُ أمثَالَ الجِبَالِ، فَلَمْ يَنْزِلْ عَنْ مِنْبَرِهِ حتَّى رَأَيْتُ المَطَرَ يَتَحَادَرُ عَنْ لِحْيَتِهِ».

"Seorang badui masuk masjid di hari Jumat -ketika Nabi sedang berkhotbah-, lalu berkata, 'Wahai Rasulullah, harta telah binasa dan keluarga kelaparan, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.' Lantas Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berdoa. Lantas awan pun bergerak seperti gunung sedangkan beliau tidak turun dari mimbarnya hingga aku melihat air hujan bercucuran dari jenggotnya."6

Pada hari Jumat berikutnya, laki-laki badui tersebut atau yang lainnya berdiri dan berkata, 'Wahai Rasulullah, bangunan runtuh dan harta tenggelam, maka berdoalah kepada Allah untuk kami.' Lantas beliau mengangkat kedua tangannya kemudian berdoa,

«اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا».

'Allāhumma ḥawālainā wa 'alainā (Ya Allah, turunkan hujan ini di sekitar tempat kami, dan jangan turunkan sebagai bencana untuk kami).' Tidaklah beliau memberi isyarat ke suatu arah (awan) tertentu kecuali awan pun terbelah di sana (dengan turunnya hujan)."7

Pengabulan doa orang-orang yang berdoa senantiasa menjadi perkara yang dapat disaksikan hingga masa kita sekarang bagi orang yang jujur dalam berdoa kepada Allah Ta'ala serta memenuhi syarat-syarat pengabulan doa.

Sisi kedua:

Bukti-bukti kebenaran para nabi yang disebut mukjizat dan yang disaksikan manusia ataupun yang mereka dengar adalah bukti nyata adanya Tuhan yang mengutus mereka, yaitu Allah

Ta'ala

, karena ini merupakan perkara yang keluar dari batas kemampuan manusia, diberikan oleh Allah

Ta'ala

sebagai bentuk dukungan kepada rasul-rasul-Nya dan pembelaan terhadap mereka.

Contohnya: Mukjizat Nabi Musa -'alaihissalām- ketika diperintahkan oleh Allah untuk memukulkan tongkatnya ke laut, lantas ia memukulkannya lalu laut itu terbelah menjadi dua belas jalan yang kering sementara air di antara jalan-jalan itu seperti pegunungan. Allah Ta'ala berfirman,

﴿فَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرۡقٖ كَٱلطَّوۡدِ ٱلۡعَظِيمِ 63﴾

"Lalu Kami wahyukan kepada Musa, 'Pukullah laut itu dengan tongkatmu.' Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar." [QS. Asy-Syu'arā`: 63]

Contoh kedua: Mukjizat Nabi Isa -'alaihissalām- ketika ia menghidupkan orang-orang yang mati serta mengeluarkan mereka dari kuburnya dengan izin Allah. Allah Ta'ala berfirman mengisahkan ucapannya,

﴿...وَأُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِ ٱللَّهِ...﴾

"... dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah." [QS. Āli 'Imrān: 49]. Allah berfirman,

﴿...وَإِذۡ تُخۡرِجُ ٱلۡمَوۡتَىٰ بِإِذۡنِي...﴾

"...dan ingatlah ketika engkau mengeluarkan orang-orang mati (dari kubur menjadi hidup) dengan seizin-Ku..." [QS. Al-Mā`idah: 110]

Contoh ketiga: Mukjizat Nabi Muhammad ﷺ ketika orang-orang Quraisy meminta bukti kepada beliau, maka beliau menunjuk ke bulan, lantas bulan itu terbelah dua dan orang-orang pun dapat melihatnya. Hal itulah yang ditunjukkan oleh firman Allah Ta'ala,

﴿ٱقۡتَرَبَتِ ٱلسَّاعَةُ وَٱنشَقَّ ٱلۡقَمَرُ 1 وَإِن يَرَوۡاْ ءَايَةٗ يُعۡرِضُواْ وَيَقُولُواْ سِحۡرٞ مُّسۡتَمِرّٞ 2﴾

"Saat (hari Kiamat) semakin dekat, bulan pun terbelah. Dan jika mereka melihat suatu tanda, mereka berpaling dan berkata, 'Ini adalah sihir yang terus-menerus.'" [QS. Al-Qamar: 1-2]

Mukjizat-mukjizat yang dapat diketahui lewat indra ini, yang Allah Ta'ala berikan sebagai bentuk penguatan dan pembelaan untuk rasul-rasul-Nya, menunjukkan secara pasti tentang keberadaan Allah Ta'ala.

Perkara kedua yang terkandung dalam iman kepada Allah adalah beriman pada

rububiyah

(ketuhanan) Allah.

Maksudnya adalah bahwa Allah semata sebagai Tuhan (Pengatur alam semesta), tidak ada sekutu maupun pembantu untuk-Nya.

Rabb (Tuhan) maksudnya di sini ialah pemilik penciptaan, kerajaan, dan perintah. Tidak ada pencipta kecuali Allah, tidak ada raja kecuali Allah, dan tidak ada perintah kecuali milik Allah. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُ...﴾

"Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya." [QS. Al-A'rāf: 54].

Allah berfirman,

﴿...ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُۚ وَٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ مَا يَمۡلِكُونَ مِن قِطۡمِيرٍ

"Yang (berbuat) demikian itulah Allah, Tuhan kalian. Milik-Nya segala kerajaan. Dan orang-orang yang kalian seru (sembah) selain Allah tidak mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari." [QS. Fāṭir: 13]

Belum pernah diketahui ada orang yang mengingkari rububiyah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- kecuali orang sombong yang tidak yakin dengan apa yang diucapkannya, sebagaimana yang terjadi pada Firaun tatkala ia berkata kepada kaumnya,

﴿فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلۡأَعۡلَىٰ 24﴾

Lalu ia (Firaun) berkata, "Akulah tuhanmu yang paling tinggi." [QS. An-Nāzi'āt: 24] 

Dia juga berkata sebagaimana dalam ayat:

﴿...يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمَلَأُ مَا عَلِمۡتُ لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرِي...﴾

"Wahai para pembesar kaumku, aku tidak mengetahui ada tuhan bagimu selain aku." [QS. Al-Qaṣaṣ: 38].

Akan tetapi, hal itu tidak berasal dari keyakinan hatinya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَجَحَدُواْ بِهَا وَٱسۡتَيۡقَنَتۡهَآ أَنفُسُهُمۡ ظُلۡمٗا وَعُلُوّٗا...﴾

"Mereka mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan diri mereka sendiri, padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya..." [QS. An-Naml: 14]

Musa berkata kepada Firaun, sebagaimana dikisahkan oleh Allah,

﴿...لَقَدۡ عَلِمۡتَ مَآ أَنزَلَ هَٰٓؤُلَآءِ إِلَّا رَبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ بَصَآئِرَ وَإِنِّي لَأَظُنُّكَ يَٰفِرۡعَوۡنُ مَثۡبُورٗا

"Sungguh, engkau telah mengetahui bahwa tidak ada yang menurunkan (mukjizat-mukjizat) itu kecuali Tuhan (yang memelihara) langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sungguh, aku benar-benar menduga engkau akan binasa, wahai Firaun." [QS. Al-Isrā`: 102]

Oleh karena itu, orang-orang musyrik mengakui rububiyah (ketuhanan) Allah Ta'ala kendati mereka menyekutukan-Nya dalam peribadatan. Allah Ta'ala berfirman,

﴿قُل لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 84 سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ 85 قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ86 سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ 87 قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦمَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 88 سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ 89﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Milik siapakah bumi dan semua yang ada di dalamnya, jika kalian mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kalian tidak ingat?' Katakanlah, 'Siapakah Tuhan (yang memiliki) langit yang tujuh dan Tuhan (yang memiliki) 'Arsy yang agung?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, 'Maka apakah kalian tidak bertakwa?' Katakanlah, 'Di tangan siapa kerajaan segala sesuatu, dan Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kalian mengetahui?' Mereka akan menjawab, 'Milik Allah.' Katakanlah, '(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kalian ditipu?'” [QS. Al-Mu`minūn: 84-89]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ لَيَقُولُنَّ خَلَقَهُنَّ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡعَلِيمُ 9﴾

"Jika kalian tanyakan kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?' Pastilah mereka akan menjawab, 'Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.'” [QS. Az-Zukhruf: 9]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ 87﴾

"Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, 'Allah.' jadi bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" [QS. Az-Zukhruf: 87]

Perintah Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencakup perintah bersifat kauni dan perintah syar'i. Sebagaimana Dia-lah yang mengatur alam semesta dan yang membuat takdir menurut kehendaki-Nya serta sesuai dengan hikmah-Nya, Dia pula yang membuat hukum dengan menetapkan ibadah dan hukum-hukum muamalat menurut hikmah-Nya. Sebab itu, siapa yang menetapkan adanya pembuat syariat ibadah ataupun muamalat bersama Allah Ta'ala, dia telah menyekutukan Allah dan tidak merealisasikan keimanan.

Perkara ketiga yang terkandung dalam iman kepada Allah adalah beriman pada

uluhiyah

(keilahian) Allah.

Maksudnya adalah bahwasanya Allah semata sembahan yang benar, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kata Al-Ilāh memiliki makna: al-ma`lūh, yaitu yang disembah atas dasar cinta dan pengagungan.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٞ وَٰحِدٞۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ 163﴾

"Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Baqarah: 163]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ 18﴾

"Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia; (demikian pula) para Malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [QS. Āli 'Imrān: 18]

Semua yang dijadikan sebagai sembahan bersama Allah yang disembah selain-Nya, keilahiannya itu batil. Allah Ta'ala berfirman,

﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ 62﴾

"Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil. Dan sungguh Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. [QS. Al-Ḥajj: 62]

Penamaan mereka sebagai ilah/sembahan tidak memberikannya hak uluhiyah atau penyembahan. Allah Ta'ala berfirman tentang Lātta, 'Uzzā, dan Manāt,

﴿إِنۡ هِيَ إِلَّآ أَسۡمَآءٞ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍۚ...﴾

"Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuk (menyembah)nya." [QS. An-Najm: 23]

Allah juga berfirman mengisahkan perkataan Nabi Hud -'alaihissalām- kepada kaumnya,

﴿...أَتُجَٰدِلُونَنِي فِيٓ أَسۡمَآءٖ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّا نَزَّلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٖۚ...﴾

"Apakah kalian hendak berbantah denganku tentang nama-nama (berhala) yang kalian dan nenek moyang kalian buat sendiri, padahal Allah tidak menurunkan keterangan untuk itu?" [QS. Al-A'rāf: 71]

Allah juga berfirman mengisahkan perkataan Yusuf -'alaihissalām- kepada dua penghuni penjara,

﴿يَٰصَٰحِبَيِ ٱلسِّجۡنِ ءَأَرۡبَابٞ مُّتَفَرِّقُونَ خَيۡرٌ أَمِ ٱللَّهُ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّارُ مَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِهِۦٓ إِلَّآ أَسۡمَآءٗ سَمَّيۡتُمُوهَآ أَنتُمۡ وَءَابَآؤُكُم مَّآ أَنزَلَ ٱللَّهُ بِهَا مِن سُلۡطَٰنٍ...﴾

"Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Apa yang kalian sembah selain Dia hanyalah nama-nama yang kalian dan nenek moyang kalian buat-buat, Allah tidak menurunkan keterangan apa pun tentang itu..." [QS. Yūsuf: 39-40]

Oleh karena itu, para rasul -'alaihimussalām- berkata ke kaum mereka,

﴿...ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُ...﴾

"Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia." [QS. Al-A'rāf: 59]

Akan tetapi, kaum musyrikin enggan melakukannya. Mereka malah menetapkan tuhan-tuhan selain Allah yang mereka sembah bersama Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, dan yang mereka mintai kemenangan dan pertolongan.

Allah Ta'ala telah membatalkan perbuatan orang-orang musyrik yang menuhankan tuhan-tuhan itu dengan dua hujah logis:

Pertama:

Tidak ada pada tuhan-tuhan yang mereka sembah itu sifat-sifat ketuhanan sedikit pun, karena mereka merupakan makhluk yang tidak menciptakan, tidak mampu mendatangkan manfaat bagi para penyembahnya, tidak juga mampu mengangkat keburukan dari mereka, tidak kuasa memberi kehidupan dan kematian, tidak menjadi pemilik apa pun di langit, dan tidak juga sebagai sekutu di dalam kepemilikannya.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ ءَالِهَةٗ لَّا يَخۡلُقُونَ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ وَلَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ ضَرّٗا وَلَا نَفۡعٗا وَلَا يَمۡلِكُونَ مَوۡتٗا وَلَا حَيَوٰةٗ وَلَا نُشُورٗا 3﴾

"Namun, mereka malah mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), padahal mereka (tuhan-tuhan itu) tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan, dan tidak (pula) membangkitkan." [QS. Al-Furqān: 3]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡكٖ وَمَا لَهُۥ مِنۡهُم مِّن ظَهِيرٖ وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنۡ أَذِنَ لَهُۥ...﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah! Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Bahkan, syafaat tidaklah berguna di sisi-Nya kecuali bagi orang yang telah Dia izinkan...'." [QS. Saba`: 22-23]

Allah juga berfirman,

﴿أَيُشۡرِكُونَ مَا لَا يَخۡلُقُ شَيۡـٔٗا وَهُمۡ يُخۡلَقُونَ 191 وَلَا يَسۡتَطِيعُونَ لَهُمۡ نَصۡرٗا وَلَآ أَنفُسَهُمۡ يَنصُرُونَ 192﴾

"Mengapa mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan apa pun? Padahal (berhala) itu sendiri diciptakan. Dan mereka (berhala itu) tidak dapat memberikan pertolongan kepada mereka, dan tidak pula dapat menolong diri mereka sendiri." [QS. Al-A'rāf: 191-192]

Bila seperti ini keadaan tuhan-tuhan itu, maka menjadikannya sebagai tuhan yang disembah adalah kebodohan yang paling bodoh dan kebatilan yang paling batil.

Kedua:

Orang-orang musyrik itu mengakui bahwa Allah

Ta'ala

satu-satunya Tuhan Yang Maha Pencipta, di tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu, Dialah yang melindungi, dan tidak ada yang dapat dilindungi dari-Nya. Keadaan ini mengharuskan mereka untuk mengesakan Allah dalam peribadatan sebagaimana mereka mengesakan-Nya dalam penciptaan dan pengaturan. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 21 ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 22﴾

"Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan menurunkan air dari langit, lalu dengan itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Sebab itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 21-22]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُۖ فَأَنَّىٰ يُؤۡفَكُونَ 87﴾

"Jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, 'Allah.' Jadi, bagaimana mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah)?" [QS. Az-Zukhruf: 87]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ 31 فَذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمُ ٱلۡحَقُّۖ فَمَاذَا بَعۡدَ ٱلۡحَقِّ إِلَّا ٱلضَّلَٰلُۖ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ 32﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?' Mereka pasti menjawab, 'Allah.' Lantas katakanlah, 'Mengapa kalian tidak bertakwa (kepada-Nya)?' Itulah Allah, Tuhan kalian yang sebenarnya. Sebab itu, tidak ada setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Lantas mengapa kalian dipalingkan?" [QS. Yūnus: 31-32]

Perkara keempat yang dikandung oleh iman kepada Allah: beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Yaitu menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Kitab-Nya atau di dalam sunnah Rasul-Nya menurut yang pantas dengan-Nya, tanpa taḥrīf (diselewengkan maknanya) maupun ta'ṭīl (diingkari maknanya), dan tanpa takyīf (diberikan kaifiat) dan tanpa tamṡīl (diserupakan dengan makhluk). Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 180﴾

"Allah memiliki Asmaulhusna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebutnya dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-A'rāf: 180]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿...وَلَهُ ٱلۡمَثَلُ ٱلۡأَعۡلَىٰ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ وَهُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

"... Dia memiliki sifat Yang Maha Tinggi di langit dan di bumi. Juga Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. [QS. Ar-Rūm: 27]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿...لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." [QS. Asy-Syūrā: 11]

Ada dua kelompok yang tersesat dalam masalah ini:

Kelompok pertama:

Mu'aṭṭilah

Mereka adalah orang-orang yang mengingkari seluruh nama-nama dan sifat-sifat Allah atau sebagiannya karena beranggapan bahwa menetapkannya bagi Allah berkonsekuensi tasybīh (menyerupakan Allah Ta'ala dengan makhluk-Nya). Prasangka ini salah berdasarkan beberapa alasan, di antaranya:

Pertama: Hal tersebut melahirkan konsekuensi-konsekuensi yang batil, seperti adanya kontradiksi di dalam firman Allah

karena Allah menetapkan bagi diri-Nya nama-nama

dan sifat-sifat sembari menafikan ada sesuatu yang serupa dengan diri-Nya.

Kalaulah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat tersebut berkonsekuensi tasybīh (menyerupakan Allah dengan makhluk), maka hal itu mengharuskan adanya kontradiksi di dalam firman Allah, serta firman-firman-Nya saling mendustakan satu sama lain.

Kedua: Kesamaan dua benda dalam suatu nama atau sifat tidak mengharuskan keduanya sama secara hakiki.

Anda melihat dua orang, masing-masing dari keduanya sama-sama seorang manusia yang mendengar, melihat, dan berbicara, akan tetapi hal itu tidak mengharuskan keduanya sama dalam sifat kemanusiaan, pendengaran, penglihatan, dan tutur kata.

Anda melihat hewan-hewan memiliki tangan, kaki, dan mata, tetapi kesamaan nama tersebut tidak mengharuskan tangan, kaki, dan matanya sama persis.

Jika tampak jelas perbedaan di antara makhluk terkait nama atau sifat yang sama, maka perbedaan antara Sang Pencipta dan makhluk yang diciptakan lebih jelas dan lebih besar.

Kelompok kedua:

Musyabbihah

Mereka adalah orang-orang yang menetapkan nama dan sifat disertai sikap menyerupakan Allah Ta'ala dengan makhluk-Nya karena beranggapan seperti inilah yang ditunjukkan oleh dalil Al-Qur'an dan sunnah, karena Allah Ta'ala berbicara kepada hamba menurut yang mereka pahami. Akan tetapi, prasangka ini batil berdasarkan beberapa alasan, di antaranya:

Pertama: Keserupaan Allah

Ta'ala

dengan makhluk-Nya adalah perkara yang dibatalkan oleh akal dan syariat. Merupakan sesuatu yang mustahil bila dalil-dalil Al-

Qur`an

dan

s

unnah

menunjukkan perkara yang batil.

Kedua: Allah

Ta'ala

berbicara kepada para hamba menurut yang mereka

pahami

dari sisi makna dasar. Adapun hakikat dan kaifiatnya maka itu merupakan perkara yang Allah

Ta'ala

rahasiakan ilmunya terkait hal-hal yang berkaitan dengan zat dan sifat-sifat-Nya.

Ketika Allah menetapkan bagi diri-Nya bahwa Dia mendengar, maka mendengar telah diketahui dari sisi makna dasarnya, yaitu menangkap suara, namun hakikat mendengar pada pendengaran Allah Ta'ala adalah sesuatu yang tidak diketahui, sebab hakikat mendengar di antara makhluk saja berbeda-beda, maka perbedaannya antara Yang Maha Pencipta dengan makhluk akan lebih terang dan lebih besar.

Ketika Allah Ta'ala mengabarkan tentang diri-Nya bahwa Dia bersemayam di atas Arasy-Nya, "bersemayam" dari sisi makna dasarnya telah kita ketahui bersama, tetapi hakikat dari bagaimana Allah bersemayam di atas Arasy-Nya tidak bisa kita ketahui, karena hakikat bersemayam sendiri berbeda-beda antar makhluk. Tidaklah bersemayam di atas kursi yang diam seperti bersemayam di atas pelana unta yang liar. Jika terjadi perbedaan dalam hakikat bersemayam antar makhluk, maka perbedaannya antara Yang Maha Pencipta dengan makhluk lebih terang dan lebih besar.

Beriman kepada Allah Ta'ala seperti yang kita terangkan akan mendatangkan berbagai faedah besar bagi orang-orang beriman, di antaranya:

Pertama: Merealisasikan tauhid kepada Allah

Ta'ala

, sehingga tidak ada rasa harap dan takut yang tersemat pada selain-Nya serta tidak ada yang disembah kecuali Dia.

Kedua: Cinta dan pengagungan yang sempurna kepada Allah

Ta'ala

sesuai dengan yang ditunjukkan oleh nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur.

Ketiga: Mewujudkan peribadatan kepada-Nya dengan melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhkan apa yang dilarang-Nya.

 

* * *

 


Iman Kepada Para Malaikat

Malaikat adalah makhluk ciptaan yang bersifat gaib. Mereka beribadah kepada Allah Ta'ala dan tidak memiliki sedikit pun sifat-sifat rububiyah (ketuhanan) dan uluhiyah (keilahian). Mereka diciptakan oleh Allah Ta'ala dari cahaya, dan diberikan kepatuhan sempurna terhadap perintah-Nya serta kekuatan untuk melaksanakannya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...وَمَنۡ عِندَهُۥ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ

"(Malaikat-malaikat) yang di sisi-Nya tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak (pula) merasa letih. Mereka bertasbih malam dan siang tanpa henti." [QS. Al-Anbiyā`: 19-20]

Jumlah mereka sangat banyak, tidak ada yang mengetahui jumlah mereka kecuali Allah Ta'ala. Diriwayatkan dalam Dua Kitab Sahih dari Anas -raḍiyallāhu 'anhu- dalam kisah mikraj bahwa Nabi ﷺ diperlihatkan Baitulmakmur di langit. Setiap hari ada 70.000 malaikat yang mengerjakan salat di dalamnya, ketika mereka telah keluar maka mereka tidak akan kembali lagi, selamanya.

Iman kepada para malaikat mencakup empat perkara:

Pertama: Beriman pada keberadaan mereka.

Kedua: Beriman pada nama sebagian malaikat

yang kita

ketahui

namanya, seperti Jibril, sedangkan yang kita tidak

ketahui

namanya, maka kita imani secara global.

Ketiga: Beriman pada sifat sebagian malaikat yang kita

ketahui

sifat-sifatnya; seperti sifat Jibril. Nabi

mengabarkan bahwa beliau melihat Jibril dengan sifat asli penciptaannya yang dibentuk oleh Allah dan memiliki 600 sayap yang menutup ufuk.

Terkadang malaikat berubah wujud dengan perintah Allah Ta'ala ke bentuk manusia laki-laki. Hal ini pernah terjadi pada Jibril ketika diutus oleh Allah Ta'ala ke Maryam dan menjelma dalam rupa manusia sempurna.

Demikian juga ketika dia diutus kepada Nabi ﷺ saat beliau sedang duduk bersama sahabat-sahabatnya. Dia datang dalam rupa laki-laki dengan pakaian sangat putih dan rambut sangat hitam, tidak terlihat padanya jejak perjalanan jauh, tetapi tidak seorang pun di antara sahabat-sahabat beliau yang mengenalnya. Lalu dia duduk di hadapan Nabi ﷺ dengan menautkan kedua lututnya pada lutut beliau dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya dan bertanya kepada Nabi ﷺ tentang Islam, iman, dan ihsan serta kiamat dan tanda-tandanya. Lalu Nabi ﷺ memberikannya jawaban. Setelah itu dia pergi. Kemudian Nabi ﷺ bersabda,

«هَذَا جِبْرِيلُ؛ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ».

"Itu adalah Jibril. Dia datang untuk mengajari kalian agama kalian."8

Demikian pula para malaikat yang Allah Ta'ala utus kepada Ibrahim dan Lut, mereka datang dalam rupa laki-laki.

Keempat: Beriman pada tugas sebagian mereka yang kita

ketahui

yang mereka laksanakan dengan perintah Allah

Ta'ala

, seperti bertasbih serta beribadah kepada-Nya siang dan malam tanpa bosan dan lelah.

Terkadang sebagian mereka memiliki tugas-tugas khusus tertentu.

Misalnya: Jibril yang diamanahi menyampaikan wahyu Allah Ta'ala. Dia diutus oleh Allah untuk menyampaikannya kepada para nabi dan rasul.

Mikail: dia ditugaskan mengurus hujan dan tumbuhan.

Israfil: dia ditugaskan meniup sangkakala saat hari Kiamat dan kebangkitan makhluk.

Malakul-Maut: dia ditugaskan untuk mencabut nyawa ketika kematian.

Malik: dia ditugaskan mengurus neraka. Dia adalah penjaga neraka.

Malaikat-malaikat yang ditugaskan mengurus janin dalam rahim. Ketika janin genap empat bulan dalam kandungan ibunya, Allah mengutus satu malaikat dan memerintahkannya untuk menulis rezekinya, ajalnya, amalnya, dan nasibnya sengsara atau bahagia.

Malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk menjaga dan mencatat amalan manusia. Setiap orang dijaga oleh dua malaikat, salah satunya di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri.

Malaikat-malaikat yang ditugaskan untuk menanyai mayit ketika telah diletakkan di dalam kuburnya. Dua malaikat mendatanginya dan bertanya tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya.

Iman kepada para malaikat melahirkan banyak faedah penting, di antaranya:

Pertama: Mengetahui keagungan, kekuatan, dan kekuasaan Allah

Ta'ala

, karena kebesaran makhluk menunjukkan keagungan Sang Pencipta.

Kedua: Bersyukur kepada Allah

Ta'ala

atas penjagaan-Nya kepada manusia, karena Allah telah menugaskan di antara malaikat-malaikat tersebut untuk menjaga mereka, mencatat amal mereka, dan mengurus berbagai kemaslahatan mereka yang lainnya.

Ketiga: Mencintai para malaikat karena banyaknya ibadah mereka kepada Allah

Ta'ala

.

Sebagian orang sesat mengingkari bila malaikat itu berupa fisik. Mereka menyatakan bahwa malaikat itu adalah istilah untuk kekuatan baik yang ada pada makhluk. Ini adalah pengingkaran terhadap Kitab Allah Ta'ala dan sunnah Rasulullah ﷺ serta ijmak kaum muslimin.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ فَاطِرِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ جَاعِلِ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ رُسُلًا أُوْلِيٓ أَجۡنِحَةٖ مَّثۡنَىٰ وَثُلَٰثَ وَرُبَٰعَۚ...﴾

"Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat..." [QS. Fāṭir: 1]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ يَتَوَفَّى ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَضۡرِبُونَ وُجُوهَهُمۡ وَأَدۡبَٰرَهُم...﴾

"Sekiranya kamu melihat ketika para malaikat mencabut nyawa orang-orang yang kafir sambil memukul wajah dan punggung mereka... " [QS. Al-Anfāl: 50]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿...وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ...﴾

"... Sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), Keluarkanlah nyawa kalian..." [QS. Al-An'ām: 93]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿...حَتَّىٰٓ إِذَا فُزِّعَ عَن قُلُوبِهِمۡ قَالُواْ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمۡۖ قَالُواْ ٱلۡحَقَّۖ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ

"... Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, 'Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhan kalian?' Mereka menjawab, '(Perkataan) yang benar.' Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." [QS. Saba`: 23]

Allah Ta'ala berfirman tentang penghuni surga:

﴿...وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ يَدۡخُلُونَ عَلَيۡهِم مِّن كُلِّ بَابٖ سَلَٰمٌ عَلَيۡكُم بِمَا صَبَرۡتُمۡۚ فَنِعۡمَ عُقۡبَى ٱلدَّارِ

"... Sedang para malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu (sambil berkata), 'Semoga keselamatan tercurah kepada kalian karena kesabaran kalian.' Sungguh, alangkah baiknya tempat kesudahan itu." [QS. Ar-Ra'd: 23-24]

Dalam Sahih Imam Bukhari, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi bahwa beliau bersabda,

«إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ».

"Jika Allah Ta'ala mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril, 'Sesungguhnya Allah Ta'ala mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Lalu Jibril pun mencintainya. Selanjutnya Jibril berseru di tengah-tengah para penghuni langit, 'Sesungguhnya Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.' Lalu para penghuni langit pun mencintainya. Kemudian ia dijadikan diterima di bumi."9

Masih dalam Sahih Imam Bukhari, Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

«إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلَائِكَةُ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ، فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ».

"Jika hari Jumat tiba, para malaikat berdiri di setiap pintu masjid untuk mencatat orang yang pertama datang dan seterusnya. Jika imam telah duduk di atas mimbar maka para malaikat melipat catatan mereka lalu mendekat untuk mendengarkan zikir (khotbah)."10

Dalil-dalil ini tegas menyatakan bahwa malaikat itu berupa fisik, bukan kekuatan maknawi, sebagaimana yang dikatakan oleh orang-orang yang menyimpang. Sesuai petunjuk dalil-dalil inilah umat Islam berijmak.

 

 

* * *

Iman Kepada Kitab-kitab

"Al-Kutub" adalah bentuk jamak kata "kitāb" yang memiliki makna: maktūb (yang ditulis).

Maksudnya di sini ialah kitab-kitab yang diturunkan oleh Allah Ta'ala kepada rasul-rasul-Nya sebagai rahmat dan petunjuk bagi seluruh makhluk, untuk mengantarkan mereka pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Iman kepada kitab-kitab mencakup empat perkara:

Pertama: Beriman bahwa kitab-kitab itu benar-benar turun dari sisi Allah.

Kedua: Beriman pada sebagian nama kitab yang kita

ketahui

namanya, seperti Al-

Qur`an

yang diturunkan kepada Muhammad

, Taurat yang diturunkan kepada Musa

, Injil yang diturunkan kepada Isa

, dan Zabur yang diturunkan kepada Daud

. Adapun yang tidak kita

ketahui

namanya, maka kita mengimaninya secara global.

Ketiga: Membenarkan berita-beritanya yang sahih, seperti berita Al-

Qur`an

ataupun berita-berita yang tidak mengalami distorsi pada kitab-kitab terdahulu.

Keempat: Mengamalkan hukum-hukumnya yang belum dimansukh, serta rida menerimanya, baik kita dapat memahami hikmahnya maupun tidak. Semua kitab-kitab terdahulu dimansukh dengan Al-

Qur`an

Al-Karim. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿وَأَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ مُصَدِّقٗا لِّمَا بَيۡنَ يَدَيۡهِ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَمُهَيۡمِنًا عَلَيۡهِۖ...﴾

"Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya... " [QS. Al-Mā`idah: 48] Yakni: sebagai hakim atasnya.

Oleh karena itu, tidak boleh mengamalkan hukum apa pun di antara hukum kitab-kitab terdahulu kecuali yang sahih dan ditetapkan oleh Al-Qur`an.

Iman kepada kitab akan membuahkan banyak faedah besar, di antaranya:

Pertama: Mengetahui perhatian Allah

Ta'ala

pada hamba-Nya, yaitu Allah menurunkan untuk setiap kaum sebuah kitab yang akan membimbing mereka.

Kedua: Mengetahui kebijaksanaan Allah

Ta'ala

di dalam syariat-Nya, yaitu Allah menetapkan bagi setiap kaum syariat yang sesuai dengan keadaan mereka.

Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿...لِكُلّٖ جَعَلۡنَا مِنكُمۡ شِرۡعَةٗ وَمِنۡهَاجٗا...﴾

"Untuk setiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." [QS. Al-Mā`idah: 48]

Ketiga: Mensyukuri nikmat Allah dalam hal itu.

* * *

Iman Kepada Para Rasul

"Rusul" adalah bentuk jamak dari kata "rasūl" yang memiliki makna: yang diutus, yaitu orang yang diutus untuk menyampaikan sesuatu.

Maksudnya di sini ialah orang yang diberikan wahyu berupa syariat dan diperintahkan untuk menyampaikannya.

Rasul yang paling pertama ialah Nuh -'alaihissalām- dan yang paling terakhir ialah Muhammad ﷺ.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿ إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٖ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ مِنۢ بَعۡدِهِ...﴾

"Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya..." [QS. An-Nisā`: 163]

Dalam Sahih Imam Bukhari, Anas bin Mālik -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dalam hadis tentang syafaat, bahwa Nabi ﷺ menyebutkan,

«ذُكِرَ أَنَّ النَّاسَ يَأْتُونَ إِلَى آدَمَ؛ لِيَشْفَعَ لَهُمْ، فَيَعْتَذِرُ إِلَيْهِمْ وَيَقُولُ: ائْتُوا نُوحًا أَوَّلَ رَسُولٍ بَعَثَهُ اللَّهُ» وذكر تمام الحديث.

"Manusia datang menemui Adam supaya memberi mereka syafaat, tetapi dia meminta maaf kepada mereka dan berkata, 'Temuilah Nuh, rasul pertama yang diutus oleh Allah ....'" Kemudian dia menyebutkan kelanjutan hadisnya.11

Allah Ta'ala berfirman tentang Muhammad ﷺ,

﴿مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَۗ...﴾

"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi..." [QS. Al-Aḥzāb: 40]

Tidak ada satu umat pun yang luput dari seorang rasul yang diutus oleh Allah Ta'ala membawa syariat tersendiri kepada mereka atau dari seorang nabi yang diberikan wahyu yang berisikan syariat rasul sebelumnya untuk diperbaharui. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾

"Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut,'..." [QS. An-Naḥl: 36]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿...وَإِن مِّنۡ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٞ﴾

"Tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan." [QS. Fāṭir: 24]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَا ٱلتَّوۡرَىٰةَ فِيهَا هُدٗى وَنُورٞۚ يَحۡكُمُ بِهَا ٱلنَّبِيُّونَ ٱلَّذِينَ أَسۡلَمُواْ لِلَّذِينَ هَادُواْ...﴾

"Sesungguhnya Kami yang menurunkan Kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya. Yang dengan kitab itu para nabi yang berserah diri kepada Allah memberi putusan atas perkara orang Yahudi... " [QS. Al-Mā`idah: 44]

Para rasul adalah manusia yang merupakan makhluk biasa. Mereka tidak memiliki sedikit pun sifat-sifat rububiyah (ketuhanan) dan uluhiyah (keilahian). Allah Ta'ala berfirman tentang Nabi-Nya, Muhammad, yang merupakan penghulu para rasul serta pemilik kedudukan paling agung di sisi Allah,

﴿قُل لَّآ أَمۡلِكُ لِنَفۡسِي نَفۡعٗا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُۚ وَلَوۡ كُنتُ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ لَٱسۡتَكۡثَرۡتُ مِنَ ٱلۡخَيۡرِ وَمَا مَسَّنِيَ ٱلسُّوٓءُۚ إِنۡ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٞ وَبَشِيرٞ لِّقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ 188﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.'” [QS. Al-A'rāf: 188]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿قُلۡ إِنِّي لَآ أَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرّٗا وَلَا رَشَدٗا 21 قُلۡ إِنِّي لَن يُجِيرَنِي مِنَ ٱللَّهِ أَحَدٞ وَلَنۡ أَجِدَ مِن دُونِهِۦ مُلۡتَحَدًا 22﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepada kalian.' Katakanlah, 'Sesungguhnya tidak ada yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya.'” [QS. Al-Jinn: 21-22]

Sifat-sifat manusia juga ada pada diri mereka, seperti: sakit, kematian, butuh makan dan minum, dan lain sebagainya. Allah Ta'ala berfirman mengisahkan Ibrahim ﷺ ketika ia menyebutkan sifat Allah,

﴿وَٱلَّذِي هُوَ يُطۡعِمُنِي وَيَسۡقِينِ 79 وَإِذَا مَرِضۡتُ فَهُوَ يَشۡفِينِ 80 وَٱلَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحۡيِينِ 81﴾

"Dan Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku, dan Yang mematikan aku, kemudian menghidupkanku." [QS. Asy-Syu'arā`: 79-81]

Nabi ﷺ bersabda,

«إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي».

"Sesungguhnya aku adalah seorang manusia seperti kalian; aku dapat lupa sebagaimana kalian lupa. Sebab itu, apabila aku lupa, ingatkanlah aku."12

Allah Ta'ala telah menyifati para rasul sebagai hamba-Nya pada kedudukan mereka yang paling tinggi serta dalam konteks pujian untuk mereka. Allah Ta'ala berfirman tentang Nuh ﷺ,

﴿...إِنَّهُۥ كَانَ عَبۡدٗا شَكُورٗا

"Sesungguhnya dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur." [QS. Al-Isrā`: 3]

Allah berfirman tentang Muhammad ﷺ,

﴿تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا 1﴾

"Maha Suci Allah yang telah menurunkan Furqān (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia)." [QS. Al-Furqān: 1].

Allah berfirman tentang Ibrahim, Ishak, dan Yakub -ṣallallāhu 'alaihim wasallam-,

﴿وَٱذۡكُرۡ عِبَٰدَنَآ إِبۡرَٰهِيمَ وَإِسۡحَٰقَ وَيَعۡقُوبَ أُوْلِي ٱلۡأَيۡدِي وَٱلۡأَبۡصَٰرِ45 إِنَّآ أَخۡلَصۡنَٰهُم بِخَالِصَةٖ ذِكۡرَى ٱلدَّارِ 46 وَإِنَّهُمۡ عِندَنَا لَمِنَ ٱلۡمُصۡطَفَيۡنَ ٱلۡأَخۡيَارِ 47﴾

"Ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishak, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi). Sesungguhnya Kami telah memilih mereka dengan keikhlasan yang khusus, yaitu mengingat negeri akhirat. Sesungguhnya mereka di sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang terbaik." [QS. Ṣād: 45-47]

Allah juga berfirman tentang Isa bin Maryam -'alaihi as-salām-,

﴿إِنۡ هُوَ إِلَّا عَبۡدٌ أَنۡعَمۡنَا عَلَيۡهِ وَجَعَلۡنَٰهُ مَثَلٗا لِّبَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ 59﴾

"Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan nikmat (kenabian) kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai contoh bagi Bani Israil." [QS. Az-Zukhruf: 59]

Iman kepada rasul mencakup empat perkara:

Pertama: Beriman bahwa kerasulan mereka benar dari Allah

Ta'ala

. Siapa yang mengingkari kerasulan salah seorang mereka, sungguh ia telah kafir kepada semua rasul, sebagaimana Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿كَذَّبَتۡ قَوۡمُ نُوحٍ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 105﴾

"Kaum Nuh telah mendustakan para rasul." [QS. Asy-Syu'arā`: 105].

Allah menyatakan mereka mendustakan semua rasul, padahal tidak ada rasul selain Nuh ketika mereka mendustakannya. Oleh karena itu, orang-orang Nasrani yang mendustakan Muhammad ﷺ dan tidak mengikuti beliau, mereka itu (hakikatnya) sedang mendustakan Almasih Ibnu Maryam dan tidak mengikutinya, apalagi dia telah memberi kabar gembira kepada mereka berupa kedatangan Muhammad ﷺ. Tidak ada gunanya dia memberi kabar gembira kepada mereka tentang beliau kecuali karena beliau adalah rasul kepada mereka. Melalui perantaraan beliau, Allah menyelamatkan mereka dari kesesatan dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus.

Kedua: Mengimani nama para rasul yang kita

ketahui

namanya, seperti: Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, dan Nuh

-'

alaihimuṣ-ṣalātu

 

wassalām

-.

Mereka berlima adalah para rasul ulul azmi. Allah

Ta'ala

menyebutkan mereka bersamaan di dua ayat dalam Al-

Qur`an

; yaitu pada firman-Nya,

﴿وَإِذۡ أَخَذۡنَا مِنَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مِيثَٰقَهُمۡ وَمِنكَ وَمِن نُّوحٖ وَإِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَى ٱبۡنِ مَرۡيَمَۖ وَأَخَذۡنَا مِنۡهُم مِّيثَٰقًا غَلِيظٗا 7﴾

"(Ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh." [QS. Al-Aḥzāb: 7]

Juga firman Allah,

﴿شَرَعَ لَكُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِۦ نُوحٗا وَٱلَّذِيٓ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ وَمَا وَصَّيۡنَا بِهِۦٓ إِبۡرَٰهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰٓۖ أَنۡ أَقِيمُواْ ٱلدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُواْ فِيهِۚ كَبُرَ عَلَى ٱلۡمُشۡرِكِينَ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِۚ ٱللَّهُ يَجۡتَبِيٓ إِلَيۡهِ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِيٓ إِلَيۡهِ مَن يُنِيبُ 13﴾

"Dia (Allah) telah mensyariatkan untuk kalian agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kalian berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kalian serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya)." [QS. Asy-Syūrā: 13]

Adapun sebagian mereka yang kita tidak ketahui namanya, maka kita cukup mengimani mereka secara global. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَلَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلٗا مِّن قَبۡلِكَ مِنۡهُم مَّن قَصَصۡنَا عَلَيۡكَ وَمِنۡهُم مَّن لَّمۡ نَقۡصُصۡ عَلَيۡكَ...﴾

"Sungguh Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad). Di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antaranya ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu." [QS. Gāfir: 78]

Ketiga: Membenarkan informasi-informasi mereka yang sahih.

Keempat: Mengamalkan syariat rasul yang diutus kepada kita, yaitu penutup mereka, Muhammad

, yang diutus kepada segenap manusia. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا 65﴾

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." [QS. An-Nisā`: 65]

Iman kepada rasul memiliki banyak faedah mulia, di antaranya:

Pertama: Mengetahui kasih sayang dan perhatian Allah

Ta'ala

kepada hamba-hamba-Nya, yaitu Allah mengutus para rasul untuk membimbing mereka ke jalan Allah

Ta'ala

serta menjelaskan bagaimana mereka beribadah kepada Allah, karena akal manusia tidak dapat mengetahui hal itu secara mandiri.

Kedua: Bersyukur kepada Allah

Ta'ala

atas nikmat yang besar ini.

Ketiga: Mencintai para rasul

-'

alaihimuṣ-ṣalātu

 

wassalām

-,

menjunjung, dan memuji mereka menurut yang patut karena mereka adalah utusan Allah

Ta'ala

dan karena mereka beribadah kepada-Nya, menyampaikan agama-Nya, dan memberikan nasihat kepada hamba-hamba-Nya.

Orang-orang kafir telah mengingkari rasul mereka karena beranggapan utusan Allah Ta'ala tidak akan berasal dari kalangan manusia. Allah Ta'ala telah menyebutkan anggapan itu dan membantahnya dalam firman-Nya,

﴿وَمَا مَنَعَ ٱلنَّاسَ أَن يُؤۡمِنُوٓاْ إِذۡ جَآءَهُمُ ٱلۡهُدَىٰٓ إِلَّآ أَن قَالُوٓاْ أَبَعَثَ ٱللَّهُ بَشَرٗا رَّسُولٗا 94 قُل لَّوۡ كَانَ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَلَٰٓئِكَةٞ يَمۡشُونَ مُطۡمَئِنِّينَ لَنَزَّلۡنَا عَلَيۡهِم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَلَكٗا رَّسُولٗا 95﴾

"Tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman ketika petunjuk datang kepadanya, selain perkataan mereka, 'Mengapa Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?' Katakanlah, 'Sekiranya di bumi ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat menjadi rasul.'” [QS. Al-Isrā`: 94-95]

Allah Ta'ala membantah anggapan tersebut dengan menegaskan bahwa seorang rasul harus dari kalangan manusia sebab ia diutus kepada penduduk bumi yang merupakan kalangan manusia. Seandainya penduduk bumi itu terdiri dari para malaikat, niscaya Allah mengutus malaikat kepada mereka sebagai rasul agar semisal dengan mereka. Demikian juga yang diceritakan oleh Allah Ta'ala tentang orang-orang yang mendustakan para rasul, bahwa mereka mengatakan,

﴿...إِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُنَا تُرِيدُونَ أَن تَصُدُّونَا عَمَّا كَانَ يَعۡبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأۡتُونَا بِسُلۡطَٰنٖ مُّبِينٖ قَالَتۡ لَهُمۡ رُسُلُهُمۡ إِن نَّحۡنُ إِلَّا بَشَرٞ مِّثۡلُكُمۡ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَمُنُّ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَمَا كَانَ لَنَآ أَن نَّأۡتِيَكُم بِسُلۡطَٰنٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ...﴾

"...Kalian hanyalah manusia seperti kami juga. Kalian ingin menghalangi kami (menyembah) apa yang dari dahulu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, “Kami hanyalah manusia seperti kalian juga, tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidaklah pantas bagi kami mendatangkan bukti kepada kalian kecuali dengan izin Allah..." [QS. Ibrāhīm: 10-11]

 

 

* * *

Iman Kepada Hari Akhir

Hari Akhir adalah hari Kiamat, momen dibangkitkannya umat manusia untuk perhitungan amal dan pembalasannya.

Dinamakan demikian karena tidak ada lagi hari setelahnya, yaitu saat penghuni surga menetap di tempat mereka sebagaimana penghuni neraka menetap di tempat mereka.

Iman kepada hari Akhir mencakup tiga perkara:

Pertama: Beriman pada kebangkitan, yaitu dihidupkannya kembali orang-orang yang sudah mati ketika tiupan sangkakala yang kedua, lalu manusia bangkit untuk menghadap Tuhan semesta alam dalam keadaan tidak beralas kaki, tidak berpakaian, dan tidak disunat. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿...كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٖ نُّعِيدُهُۥۚ وَعۡدًا عَلَيۡنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَٰعِلِينَ﴾

"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati. Sungguh, Kami akan melaksanakannya." [QS. Al-Anbiyā`: 104]

Kebangkitan itu benar adanya, sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur`an, sunnah, dan ijmak kaum muslimin.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿ثُمَّ إِنَّكُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ 15 ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ تُبۡعَثُونَ16﴾

"Kemudian setelah itu, sungguh kalian pasti mati. Kemudian pada hari kiamat, kalian akan dibangkitkan." [QS. Al-Mu`minūn: 15-16]

Nabi ﷺ bersabda,

«يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرْلًا».

"Manusia akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan bertelanjang kaki, bertelanjang badan, dan tidak berkhitan."13 [Muttafaq 'Alaih]

Umat Islam juga telah berijmak terhadap kebenarannya. Hal ini sesuai dengan sifat hikmah Allah Ta'ala yang menghendaki agar Dia membuatkan tempat kembali bagi makhluk ini, tempat mereka diberikan balasan atas apa yang disyariatkan-Nya pada mereka di dalam agama yang dibawa oleh rasul-rasul-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿أَفَحَسِبۡتُمۡ أَنَّمَا خَلَقۡنَٰكُمۡ عَبَثٗا وَأَنَّكُمۡ إِلَيۡنَا لَا تُرۡجَعُونَ 115﴾

"Maka apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian main-main (tanpa ada maksud) dan bahwa kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?" [QS. Al-Mu`minūn: 115]

Allah juga berfirman kepada Nabi-Nya ﷺ,

﴿إِنَّ ٱلَّذِي فَرَضَ عَلَيۡكَ ٱلۡقُرۡءَانَ لَرَآدُّكَ إِلَىٰ مَعَادٖۚ...﴾

"Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Al-Qur`an, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali..." [QS. Al-Qaṣaṣ: 85]

Kedua: Beriman pada perhitungan amal dan pembalasan, bahwa amal hamba akan dihisab (dihitung) dan diberikan balasan. Hal itu ditunjukkan oleh Al-

Qur`an

,

s

unnah

, dan ijmak umat Islam.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنَّ إِلَيۡنَآ إِيَابَهُمۡ 25 ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا حِسَابَهُم 26﴾

"Sungguh, kepada Kamilah mereka kembali, kemudian sesungguhnya tanggungan Kamilah perhitungan mereka." [QS. Al-Gāsyiyah: 25-26]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿مَن جَآءَ بِٱلۡحَسَنَةِ فَلَهُۥ عَشۡرُ أَمۡثَالِهَاۖ وَمَن جَآءَ بِٱلسَّيِّئَةِ فَلَا يُجۡزَىٰٓ إِلَّا مِثۡلَهَا وَهُمۡ لَا يُظۡلَمُونَ 160﴾

"Siapa yang berbuat kebaikan, maka ia mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Sebaliknya, siapa yang berbuat kejahatan, maka ia dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi)." [QS. Al-An'ām: 160]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَنَضَعُ ٱلۡمَوَٰزِينَ ٱلۡقِسۡطَ لِيَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ فَلَا تُظۡلَمُ نَفۡسٞ شَيۡـٔٗاۖ وَإِن كَانَ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٍ أَتَيۡنَا بِهَاۗ وَكَفَىٰ بِنَا حَٰسِبِينَ 47﴾

"Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidak seorang pun dirugikan walau sedikit; sekalipun hanya seberat biji sawi, pasti Kami akan mendatangkannya (pahala). Cukuplah Kami yang membuat perhitungan." [QS. Al-Anbiyā`: 47]

Ibnu Umar -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

«إِنَّ اللَّهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ - أَيْ سَتْرَهُ - وَيَسْتُرُهُ: فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ، وَأَمَّا الْكُفَّارُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيُنَادَى بِهِمْ عَلَى رُؤُوسِ الْخَلَائِقِ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ، أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ».

"Sesungguhnya Allah akan mendekatkan orang mukmin lalu meletakkan tabir-Nya kepadanya dan menutupinya. Lalu Allah bertanya, 'Tahukah kamu dosa ini? Tahukah kamu dosa itu?' Dia menjawab, 'Ya, wahai Tuhanku.' Hingga ketika Allah membuatnya mengakui dosa-dosanya dan dia melihat dirinya pasti binasa, Allah berfirman, 'Aku telah menutupinya padamu di dunia, dan hari ini Aku mengampuninya untukmu.' Lantas dia diberikan buku catatan kebaikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafik, mereka dipanggil di hadapan makhluk: 'Mereka itulah orang-orang yang mendustakan Tuhan mereka. Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim.'"14 (Muttafaq 'Alaih)

Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,

«أَنَّ مَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَعَمِلَهَا؛ كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِئَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَأَنَّ مَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَعَمِلَهَا؛ كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً».

"Siapa yang berniat melakukan suatu kebaikan lalu mengerjakannya, maka Allah menulisnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat hingga kelipatan-kelipatan yang banyak. Sebaliknya, siapa yang berniat melakukan suatu keburukan lalu mengerjakannya, Allah menulisnya sebagai satu keburukan."15

Umat Islam juga telah berijmak dalam menetapkan adanya perhitungan dan pembalasan amal. Hal itu sesuai dengan sifat hikmah Allah karena Allah Ta'ala telah menurunkan kitab-kitab, mengutus rasul-rasul, mewajibkan para hamba untuk menerima apa yang mereka bawa dan mengamalkan apa yang wajib diamalkan di antaranya, serta mewajibkan perang terhadap orang-orang yang menentangnya dan menghalalkan darah, keturunan, wanita-wanita, dan harta mereka. Kalaulah tidak ada hisab dan pembalasan, maka hal itu termasuk kesia-siaan yang Tuhan Yang Maha Bijaksana mesti disucikan darinya. Allah Ta'ala telah mengisyaratkan hal itu dalam firman-Nya,

﴿فَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلَّذِينَ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ وَلَنَسۡـَٔلَنَّ ٱلۡمُرۡسَلِينَ 6 فَلَنَقُصَّنَّ عَلَيۡهِم بِعِلۡمٖۖ وَمَا كُنَّا غَآئِبِينَ 7﴾

"Maka pasti akan Kami tanyakan kepada umat yang telah mendapat seruan (dari rasul-rasul) dan Kami akan tanyakan (juga) para rasul, kemudian pasti akan Kami ceritakan kepada mereka (apa yang telah mereka kerjakan) dengan pengetahuan (Kami), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka)." [QS. Al-A'rāf: 6-7]

Ketiga: Beriman pada surga dan neraka, bahwa keduanya adalah tempat kembali yang abadi bagi makhluk.

Surga adalah negeri kenikmatan yang disiapkan oleh Allah Ta'ala bagi orang-orang mukmin yang bertakwa, yaitu orang-orang yang beriman pada apa yang diwajibkan oleh Allah untuk diimani serta melaksanakan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya dengan penuh ikhlas kepada Allah serta mengikuti Rasulullah. Di dalamnya terdapat berbagai macam kenikmatan.

«مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ».

"Apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terbersit dalam hati manusia."16

Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ خَيۡرُ ٱلۡبَرِيَّةِ 7 جَزَآؤُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ جَنَّٰتُ عَدۡنٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ ذَٰلِكَ لِمَنۡ خَشِيَ رَبَّهُۥ 8﴾

"Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." [QS. Al-Bayyinah: 7-8]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٞ مَّآ أُخۡفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٖ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 17﴾

"Tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka, yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyenangkan hati sebagai balasan terhadap apa yang mereka kerjakan." [QS. As-Sajdah: 17]

Sedangkan neraka ialah negeri siksaan yang disiapkan oleh Allah Ta'ala bagi orang-orang kafir yang zalim, yaitu orang-orang yang kafir kepada Allah dan durhaka kepada rasul-rasul-Nya. Di dalamnya terdapat berbagai macam siksaan yang tidak pernah terlintas pada pikiran. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَٱتَّقُواْ ٱلنَّارَ ٱلَّتِيٓ أُعِدَّتۡ لِلۡكَٰفِرِينَ 131﴾

"Peliharalah diri kalian dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir." [QS. Āli 'Imrān: 131]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا 29﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhan kalian. Siapa yang menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman. Sebaliknya, siapa yang menghendaki (kafir), biarlah dia kafir.' Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek." [QS. Al-Kahfi: 29]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَعَنَ ٱلۡكَٰفِرِينَ وَأَعَدَّ لَهُمۡ سَعِيرًا 64 خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۖ لَّا يَجِدُونَ وَلِيّٗا وَلَا نَصِيرٗا 65 يَوۡمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمۡ فِي ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَٰلَيۡتَنَآ أَطَعۡنَا ٱللَّهَ وَأَطَعۡنَا ٱلرَّسُولَا۠ 66﴾

"Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka tidak mendapatkan pelindung dan tidak pula penolong. Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, 'Aduhai, sekiranya kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.'" [QS. Al-Aḥzāb: 64-66]

Iman kepada hari Akhir memiliki banyak faedah mulia, di antaranya:

Pertama: Senang dan semangat dalam mengerjakan ketaatan karena mengharapkan pahala di hari itu.

Kedua: Benci untuk mengerjakan kemaksiatan dan untuk meridainya karena takut terhadap siksa hari itu.

Ketiga: Kenikmatan dan pahala akhirat yang diharapkan orang mukmin akan menghibur dirinya terkait kegagalannya dalam meraih sebagian perkara dunia.

Orang-orang kafir mengingkari kebangkitan setelah kematian karena beranggapan hal itu tidak mungkin terjadi.

Anggapan ini batil, sebagaimana ditunjukkan oleh dalil syariat, indra, dan akal.

Adapun dalil syariat, maka firman Allah Ta'ala:

﴿زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 7﴾

"Orang-orang yang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kalian kerjakan.' Yang demikian itu mudah bagi Allah." [QS. At-Tagābun: 7]

Perkara ini juga telah disepakati oleh semua kitab-kitab samawi.

Adapun dalil indra, maka Allah telah memperlihatkan kepada hamba-hamba-Nya kejadian dihidupkannya orang-orang yang sudah mati di dunia ini. Di dalam surah Al-Baqarah terdapat lima contoh untuk itu, yaitu:

Contoh pertama: Kaum Nabi Musa ketika mereka berkata kepadanya,

﴿...لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى ٱللَّهَ جَهۡرَةٗ ...﴾

"Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas." [QS. Al-Baqarah: 55]

Allah Ta'ala lantas mematikan mereka, kemudian Dia menghidupkan mereka kembali. Terkait hal itulah Allah Ta'ala berfirman kepada Bani Israil,

﴿وَإِذۡ قُلۡتُمۡ يَٰمُوسَىٰ لَن نُّؤۡمِنَ لَكَ حَتَّىٰ نَرَى ٱللَّهَ جَهۡرَةٗ فَأَخَذَتۡكُمُ ٱلصَّٰعِقَةُ وَأَنتُمۡ تَنظُرُونَ 55 ثُمَّ بَعَثۡنَٰكُم مِّنۢ بَعۡدِ مَوۡتِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ 56﴾

"(Ingatlah) ketika kalian berkata, 'Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan jelas.' Maka halilintar menyambar kalian, sedangkan kalian menyaksikannya. Kemudian Kami membangkitkan kalian setelah kematian kalian agar kalian bersyukur." [QS. Al-Baqarah: 55-56]

Contoh kedua: Kisah laki-laki yang terbunuh yang diperdebatkan oleh Bani Israil. Allah Ta'ala memerintahkan mereka agar menyembelih seekor sapi lalu memukulnya dengan sebagian dari sapi tersebut supaya dia mengabarkan kepada mereka siapa yang membunuhnya. Terkait dengan hal itulah Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَإِذۡ قَتَلۡتُمۡ نَفۡسٗا فَٱدَّٰرَٰءۡتُمۡ فِيهَاۖ وَٱللَّهُ مُخۡرِجٞ مَّا كُنتُمۡ تَكۡتُمُونَ 72 فَقُلۡنَا ٱضۡرِبُوهُ بِبَعۡضِهَاۚ كَذَٰلِكَ يُحۡيِ ٱللَّهُ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَيُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تَعۡقِلُونَ 73﴾

"(Ingatlah), ketika kalian membunuh seseorang, lalu kalian tuduh-menuduh tentang itu. Tetapi Allah menyingkapkan apa yang kalian sembunyikan. Maka Kami berfirman, 'Pukullah dia dengan sebagian dari (bagian tubuh) sapi betina itu!' Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati dan memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda-Nya agar kalian mengerti." [QS. Al-Baqarah: 72-73]

Contoh ketiga: Kisah sekelompok orang yang berjumlah ribuan keluar dari kampung halamannya untuk menyelamatkan diri dari kematian, maka Allah Ta'ala mematikan mereka kemudian menghidupkan mereka kembali. Tentang hal itulah Allah Ta'ala berfirman,

﴿أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ خَرَجُواْ مِن دِيَٰرِهِمۡ وَهُمۡ أُلُوفٌ حَذَرَ ٱلۡمَوۡتِ فَقَالَ لَهُمُ ٱللَّهُ مُوتُواْ ثُمَّ أَحۡيَٰهُمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَذُو فَضۡلٍ عَلَى ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَشۡكُرُونَ 243﴾

"Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang keluar dari kampung halamannya, sedang jumlahnya ribuan karena takut mati? Lalu Allah berfirman kepada mereka, 'Matilah kalian!' Kemudian Allah menghidupkan mereka. Sesungguhnya Allah memberikan karunia kepada manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur." [QS. Al-Baqarah: 243]

Contoh keempat: Kisah laki-laki yang melewati suatu perkampungan yang sudah mati, sehingga ia menganggap tidak mungkin bila Allah Ta'ala akan menghidupkan kampung itu kembali, maka Allah Ta'ala mematikannya selama 100 tahun lalu menghidupkannya. Tentang hal itulah Allah Ta'ala berfirman,

﴿أَوۡ كَٱلَّذِي مَرَّ عَلَىٰ قَرۡيَةٖ وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا قَالَ أَنَّىٰ يُحۡيِۦ هَٰذِهِ ٱللَّهُ بَعۡدَ مَوۡتِهَاۖ فَأَمَاتَهُ ٱللَّهُ مِاْئَةَ عَامٖ ثُمَّ بَعَثَهُۥۖ قَالَ كَمۡ لَبِثۡتَۖ قَالَ لَبِثۡتُ يَوۡمًا أَوۡ بَعۡضَ يَوۡمٖۖ قَالَ بَل لَّبِثۡتَ مِاْئَةَ عَامٖ فَٱنظُرۡ إِلَىٰ طَعَامِكَ وَشَرَابِكَ لَمۡ يَتَسَنَّهۡۖ وَٱنظُرۡ إِلَىٰ حِمَارِكَ وَلِنَجۡعَلَكَ ءَايَةٗ لِّلنَّاسِۖ وَٱنظُرۡ إِلَى ٱلۡعِظَامِ كَيۡفَ نُنشِزُهَا ثُمَّ نَكۡسُوهَا لَحۡمٗاۚ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥ قَالَ أَعۡلَمُ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ 259﴾

"Atau seperti orang yang melewati suatu negeri yang (bangunan-bangunannya) telah roboh hingga menutupi (reruntuhan) atap-atapnya, dia berkata, 'Bagaimana Allah menghidupkan kembali (negeri) ini setelah hancur?' Lalu Allah mematikan (orang itu) selama seratus tahun, kemudian membangkit-kannya (menghidupkannya) kembali. Dan (Allah) bertanya, 'Berapa lama engkau tinggal (di sini)?' Dia (orang itu) menjawab, 'Aku tinggal (di sini) sehari atau setengah hari.' Allah berfirman, 'Tidak! Engkau telah tinggal seratus tahun. Lihatlah makanan dan minumanmu yang belum berubah, tetapi lihatlah keledaimu (yang telah menjadi tulang belulang). Dan agar Kami jadikan engkau tanda kekuasaan Kami bagi manusia. Lihatlah tulang belulang (keledai itu), bagaimana Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membaluṭnya dengan daging.' Maka ketika telah nyata baginya, dia pun berkata, 'Saya mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.'" [QS. Al-Baqarah: 259]

Contoh kelima: Kisah Ibrahim al-Khalīl ketika ia minta kepada Allah Ta'ala untuk memperlihatkan kepadanya bagaimana Dia akan menghidupkan orang-orang yang telah mati. Lantas Allah Ta'ala memerintahkannya untuk menyembelih empat ekor burung dan membaginya ke dalam beberapa bagian dan diletakkan di atas gunung-gunung di sekitarnya lalu dia memanggil mereka, maka bagian-bagian tersebut menyatu satu sama lain dan datang dengan berjalan cepat menemui Ibrahim. Tentang hal itulah Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِـۧمُ رَبِّ أَرِنِي كَيۡفَ تُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰۖ قَالَ أَوَلَمۡ تُؤۡمِنۖ قَالَ بَلَىٰ وَلَٰكِن لِّيَطۡمَئِنَّ قَلۡبِيۖ قَالَ فَخُذۡ أَرۡبَعَةٗ مِّنَ ٱلطَّيۡرِ فَصُرۡهُنَّ إِلَيۡكَ ثُمَّ ٱجۡعَلۡ عَلَىٰ كُلِّ جَبَلٖ مِّنۡهُنَّ جُزۡءٗا ثُمَّ ٱدۡعُهُنَّ يَأۡتِينَكَ سَعۡيٗاۚ وَٱعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٞ 260﴾

"(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.' Allah berfirman, 'Belum percayakah engkau?' Dia (Ibrahim) menjawab, 'Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap).' Dia (Allah) berfirman, 'Kalau begitu ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.' Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [QS. Al-Baqarah: 260]

Itulah beberapa contoh realitas yang menunjukkan mungkinnya menghidupkan orang yang telah mati. Juga telah disebutkan bahwa di antara mukjizat yang diberikan Allah Ta'ala kepada Isa bin Maryam ialah menghidupkan orang mati dan mengeluarkan mereka dari kuburnya dengan izin Allah Ta'ala.

Adapun dalil akal, maka bisa ditinjau dari dua sisi:

Pertama: Allah

Ta'ala

yang menciptakan langit dan bumi beserta segala isi keduanya pertama kali, dan yang kuasa memulai penciptaan

tentunya sangat lebih kuasa untuk

mengulang

-

nya

. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿وَهُوَ ٱلَّذِي يَبۡدَؤُاْ ٱلۡخَلۡقَ ثُمَّ يُعِيدُهُۥ وَهُوَ أَهۡوَنُ عَلَيۡهِ...﴾

"Dia-lah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya." [QS. Ar-Rūm: 27]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿...كَمَا بَدَأۡنَآ أَوَّلَ خَلۡقٖ نُّعِيدُهُۥۚ وَعۡدًا عَلَيۡنَآۚ إِنَّا كُنَّا فَٰعِلِينَ﴾

"Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya lagi. (Suatu) janji yang pasti Kami tepati. Sungguh, Kami akan melaksanakannya." [QS. Al-Anbiyā`: 104]

Allah juga memerintahkan agar membantah orang yang mengingkari penghidupan kembali tulang-belulang yang telah hancur,

﴿قُلۡ يُحۡيِيهَا ٱلَّذِيٓ أَنشَأَهَآ أَوَّلَ مَرَّةٖۖ وَهُوَ بِكُلِّ خَلۡقٍ عَلِيمٌ 79﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Yang akan menghidupkannya ialah (Allah) yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk.'' [QS. Yāsīn: 79]

Kedua: Bumi kadang mati dan kering, tidak memiliki pohon hijau, lalu hujan turun padanya, maka tanahnya bergerak dan hidup di atasnya berbagai jenis tanaman yang indah. Allah yang kuasa menghidupkan bumi setelah ia mati,

tentu lebih kuasa menghidupkan orang yang mati. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنَّكَ تَرَى ٱلۡأَرۡضَ خَٰشِعَةٗ فَإِذَآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡهَا ٱلۡمَآءَ ٱهۡتَزَّتۡ وَرَبَتۡۚ إِنَّ ٱلَّذِيٓ أَحۡيَاهَا لَمُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰٓۚ إِنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ39﴾

"Di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, engkau melihat bumi itu kering dan tandus, tetapi apabila Kami turunkan hujan di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya (Allah) yang menghidupkannya pasti dapat menghidupkan yang mati. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu." [QS. Fuṣṣilat: 39]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَنَزَّلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ مُّبَٰرَكٗا فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ جَنَّٰتٖ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ9 وَٱلنَّخۡلَ بَاسِقَٰتٖ لَّهَا طَلۡعٞ نَّضِيدٞ 10 رِّزۡقٗا لِّلۡعِبَادِۖ وَأَحۡيَيۡنَا بِهِۦ بَلۡدَةٗ مَّيۡتٗاۚ كَذَٰلِكَ ٱلۡخُرُوجُ 11﴾

"Lalu dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-biji yang dapat dipanen, juga pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, sebagai rezeki bagi hamba-hamba. Juga Kami hidupkan dengan (air) itu negeri yang mati. Seperti itulah kebangkitan." [QS. Qāf: 9-11]

Perkara lain yang termasuk bagian dari iman kepada hari Akhir ialah mengimani semua peristiwa yang terjadi setelah kematian, misalnya:

Fitnah kubur, yaitu pertanyaan kepada

mayit

setelah dikuburkan tentang Tuhannya, agamanya, dan nabinya.

Allah akan meneguhkan orang yang beriman dengan kalimat yang teguh. Dia akan menjawab, "Tuhanku adalah Allah, agamaku adalah Islam, dan nabiku adalah Muhammad ." Sebaliknya, Allah akan menyesatkan orang-orang yang zalim. Orang kafir akan menjawab, "Hah, aku tidak tahu." Sedangkan orang munafik akan menjawab, "Aku tidak tahu, aku pernah mendengar orang-orang mengucapkan sesuatu, lalu aku pun ikut mengucapkannya."

Siksa dan nikmat kubur. Siksa kubur itu akan ditimpakan kepada orang-orang yang zalim dari kalangan munafik dan kafir. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿...وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي غَمَرَٰتِ ٱلۡمَوۡتِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ بَاسِطُوٓاْ أَيۡدِيهِمۡ أَخۡرِجُوٓاْ أَنفُسَكُمُۖ ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ عَذَابَ ٱلۡهُونِ بِمَا كُنتُمۡ تَقُولُونَ عَلَى ٱللَّهِ غَيۡرَ ٱلۡحَقِّ وَكُنتُمۡ عَنۡ ءَايَٰتِهِۦ تَسۡتَكۡبِرُونَ

"...(Alangkah ngerinya) sekiranya engkau melihat pada waktu orang-orang zalim (berada) dalam kesakitan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya (sambil berkata), 'Keluarkanlah nyawa kalian!' Pada hari itu kalian akan dibalas dengan azab yang sangat menghinakan, karena kalian mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kalian menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya." [QS. Al-An'ām: 93]

Allah Ta'ala juga berfirman tentang keluarga Fir`aun,

﴿ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ 46﴾

"Mereka dimasukkan ke dalam neraka (di kubur) pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat (kepada malaikat diperintahkan), 'Masukkanlah Fir'aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras!'” [QS. Gāfir: 46]

Dalam Sahih Muslim, Zaid bin Ṡābit -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

«فَلَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللَّهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ الَّذِي أَسْمَعُ مِنْهُ»

"Kalau saja saya tidak khawatir kalian tidak akan saling menguburkan, maka saya pasti berdoa kepada Allah agar memperdengarkan kepada kalian sebagian dari siksa kubur yang aku dengar."

Kemudian beliau menghadapkan wajahnya, lalu bersabda,

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ النَّارِ».

"Berlindunglah kepada Allah dari siksa neraka." Mereka berkata, "Kami berlindung kepada Allah dari siksa neraka." Beliau bersabda,

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ».

"Berlindunglah kepada Allah dari siksa kubur." Mereka berkata, "Kami berlindung kepada Allah dari siksa kubur." Beliau bersabda,

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ»

"Berlindunglah kepada Allah dari fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi." Mereka berkata, "Kami memohon perlindungan kepada Allah dari fitnah-fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi." Beliau bersabda,

«تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ».

"Berlindunglah kepada Allah dari fitnah Dajjal." Mereka berkata, "Kami berlindung kepada Allah dari fitnah Dajjal."17

Adapun nikmat kubur, maka dianugerahkan bagi orang-orang beriman yang jujur. Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ 30﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Tuhan kami adalah Allah', kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), 'Janganlah kalian merasa takut dan janganlah pula kalian bersedih hati; dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepada kalian.'" [QS. Fuṣṣilat: 30]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿فَلَوۡلَآ إِذَا بَلَغَتِ ٱلۡحُلۡقُومَ 83 وَأَنتُمۡ حِينَئِذٖ تَنظُرُونَ 84 وَنَحۡنُ أَقۡرَبُ إِلَيۡهِ مِنكُمۡ وَلَٰكِن لَّا تُبۡصِرُونَ 85 فَلَوۡلَآ إِن كُنتُمۡ غَيۡرَ مَدِينِينَ 86 تَرۡجِعُونَهَآ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ 87 فَأَمَّآ إِن كَانَ مِنَ ٱلۡمُقَرَّبِينَ 88 فَرَوۡحٞ وَرَيۡحَانٞ وَجَنَّتُ نَعِيمٖ 89﴾

"Kalau begitu, mengapa (kalian tidak mencegah) ketika (nyawa) telah sampai di kerongkongan, padahal kalian pada waktu itu melihat? Kami lebih dekat kepadanya daripada kalian, tetapi kalian tidak melihat. Sebab itu, jika kalian tidak dikuasai (oleh Allah), kembalikanlah (nyawa itu) jika kalian orang-orang yang benar. Adapun jika dia termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), maka dia memperoleh ketenteraman dan rezeki serta surga kenikmatan." [QS. Al-Wāqi'ah: 83-89]

Al-Barā` bin 'Āzib -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang orang mukmin setelah ia menjawab pertanyaan dua malaikat di kuburnya,

«يُنَادِي مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: أَنْ صَدَقَ عَبْدِي، فَافْرِشُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَأَلْبِسُوهُ مِنَ الْجَنَّةِ، وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى الْجَنَّةِ، قَالَ: فَيَأْتِيهِ مِنْ رَوْحِهَا وَطِيبِهَا، وَيُفْسَحُ لَهُ فِي قَبْرِهِ مَدَّ بَصَرِهِ».

"Penyeru dari langit menyerukan, 'Hamba-Ku telah benar, maka berilah ia alas dari surga, berilah ia pakaian dari surga, dan bukakanlah untuknya pintu ke surga.' Lalu datanglah kepadanya bau harum dan wewangian surga, dan dilapangkan untuknya dalam kuburnya sejauh pandangannya." Diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud dalam hadis panjang).18

Sebagian orang sesat mengingkari adanya siksa dan nikmat kubur karena beranggapan hal itu tidak mungkin terjadi sebab menyelisihi fakta (dalam pandangan mereka). Mereka mengatakan, "Jika mayat dibuka lagi di kuburnya maka akan ditemukan seperti sedia kala dan kuburnya pun tidak berubah luas maupun sempit."

Anggapan ini batil berdasarkan dalil syariat, indra, dan akal.

Adapun dalil syariat, maka berupa nas-nas yang telah disampaikan sebelumnya yang menunjukkan adanya siksa kubur maupun nikmatnya.

Dalam Sahih Bukhari, Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- berkata, "Nabi ﷺ keluar dari sebagian kebun Madinah. Lalu beliau mendengar suara dua orang yang disiksa di kuburnya ..." Ibnu 'Abbās menyebutkan lengkap hadis tersebut, disebutkan di dalamnya,

«أَنَّ أَحَدَهُمَا كَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنَ الْبَوْلِ».

"Salah satunya biasa tidak melindungi diri dari air kencingnya." Dalam riwayat lain:

«مِنْ بَوْلِهِ».

"... air urinenya."

«وَأَنَّ الْآخَرَ كَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ».

"Sedangkan orang kedua biasa menyebarkan adu domba." Dalam riwayat Imam Muslim:

«لَا يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ».

"Dia tidak membersihkan diri dari air kencing."19

Adapun petunjuk indra: Orang yang tidur bermimpi bahwa dia berada di sebuah tempat yang luas dan indah, dia bersenang-senang di sana. Atau, dia berada di sebuah tempat yang sempit dan tidak bersahabat, dia tersiksa dengannya, dan terkadang dia terbangun disebabkan karena apa yang dilihatnya. Kendati demikian, dia tetap berada di atas kasurnya di dalam kamarnya seperti sedia kala. Tidur adalah jenis dari kematian. Oleh karena itu, Allah Ta'ala menamakan tidur sebagai kematian. Allah Ta'ala berfirman,

﴿ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلۡأَنفُسَ حِينَ مَوۡتِهَا وَٱلَّتِي لَمۡ تَمُتۡ فِي مَنَامِهَاۖ فَيُمۡسِكُ ٱلَّتِي قَضَىٰ عَلَيۡهَا ٱلۡمَوۡتَ وَيُرۡسِلُ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمًّى...﴾

"Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur. Maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan (kembali) nyawa yang lain sampai batas yang ditentukan..." [QS. Az-Zumar: 42]

Adapun dalil akal ialah orang yang tidur dapat melihat mimpi yang benar yang sesuai realitas dan ada kalanya ia melihat Nabi ﷺ sesuai sifat beliau. Siapa yang bermimpi melihat Nabi sesuai sifat beliau, maka ia telah melihat beliau dengan sebenarnya. Kendati demikian, orang yang tidur itu tetap berada di kamarnya di atas kasurnya, jauh dari apa yang ia lihat. Jika hal itu mungkin terjadi dalam perkara dunia, maka tidakkah hal yang serupa mungkin terjadi dalam perkara akhirat?!

Adapun dasar anggapan mereka bahwa ketika mayat dibuka dalam kuburnya niscaya akan didapati seperti sediakala, kuburnya tidak berubah luas maupun sempitnya, maka dapat dijawab dari beberapa sisi. Di antaranya:

Pertama: Tidak boleh menolak keterangan syariat dengan menggunakan syubhat-syubhat lemah seperti ini, padahal

seandainya

orang yang menolaknya mencermati keterangan syariat dengan saksama niscaya ia akan mengetahui kebatilan syubhat-syubhat tersebut. Pernah dikatakan,

Betapa banyak pengkritik pendapat yang benar, ternyata cacatnya berasal dari pemahamannya yang tidak sehat.

Kedua: Alam barzakh termasuk perkara gaib yang tidak dapat dijangkau indra.

Seandainya

ia dapat dijangkau indra, maka tidak ada gunanya beriman kepada perkara gaib, dan akan sama kedudukan orang yang beriman kepada perkara gaib dengan orang yang menolak mengimaninya.

Ketiga: Siksa dan nikmat kubur, serta lapang dan sempit kubur adalah sesuatu yang hanya diketahui oleh si

mayit

, tidak yang lainnya, sebagaimana orang yang tidur melihat dalam mimpinya bahwa ia berada di sebuah tempat yang sempit dan menakutkan, atau di sebuah tempat yang luas nan indah, sementara orang di sekitarnya tidak melihat maupun merasakan hal itu. Nabi

biasa diberikan wahyu ketika berada di tengah-tengah sahabatnya. Beliau

mendengar wahyu tersebut sedangkan para sahabat tidak mendengarnya. Terkadang malaikat menjelma dalam rupa laki-laki lalu berbicara kepadanya, namun para sahabat tidak melihat malaikat tersebut dan tidak pula mendengarnya.

Keempat: Indra manusia terbatas pada sesuatu yang dimungkinkan oleh Allah

Ta'ala

dan mereka tidak mampu untuk menjangkau semua yang ada. Langit yang tujuh serta bumi berikut semua yang ada padanya dan segala sesuatu benar-benar bertasbih memuji Allah. Dia terkadang memperdengarkan hal itu kepada siapa yang dikehendaki di antara makhluk-Nya. Kendati demikian, hal itu tertutup dari pendengaran kita. Tentang hal ini, Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبۡعُ وَٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهِنَّۚ وَإِن مِّن شَيۡءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمۡدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفۡقَهُونَ تَسۡبِيحَهُمۡ...﴾

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kalian tidak mengerti tasbih mereka." [QS. Al-Isrā`: 44]

Demikian juga halnya setan dan jin. Mereka berjalan hilir mudik di muka bumi, bahkan jin datang kepada Rasulullah ﷺ serta mendengarkan dan menyimak bacaannya, lalu mereka pulang ke kaum mereka sembari memberi peringatan. Kendati demikian, mereka tidak terlihat oleh kita. Tentang hal ini, Allah Ta'ala berfirman,

﴿يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ لَا يَفۡتِنَنَّكُمُ ٱلشَّيۡطَٰنُ كَمَآ أَخۡرَجَ أَبَوَيۡكُم مِّنَ ٱلۡجَنَّةِ يَنزِعُ عَنۡهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوۡءَٰتِهِمَآۚ إِنَّهُۥ يَرَىٰكُمۡ هُوَ وَقَبِيلُهُۥ مِنۡ حَيۡثُ لَا تَرَوۡنَهُمۡۗ إِنَّا جَعَلۡنَا ٱلشَّيَٰطِينَ أَوۡلِيَآءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ 27﴾

"Wahai anak cucu Adam, janganlah sampai kalian tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan kedua orang tua kalian dari surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." [QS. Al-A'rāf: 27]

Bila manusia tidak mampu menjangkau semua yang ada, maka mereka tidak boleh mengingkari perkara-perkara gaib yang telah valid kebenarannya dan indra mereka tidak menjangkaunya.

* * *

Iman Kepada Takdir

Qadar -dengan memfatahkan dāl- ialah ketentuan-ketentuan Allah Ta'ala bagi makhluk, sebagaimana yang telah ada dalam ilmu-Nya dan sesuai hikmah-Nya.

Iman kepada takdir mencakup empat perkara:

Pertama: Beriman bahwa Allah

Ta'ala

mengetahui segala sesuatu, secara global dan rinci, yang azali dan abadi, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya ataupun perbuatan hamba-hamba-Nya.

Kedua: Beriman bahwa Allah

Ta'ala

telah menulisnya di Loh Mahfuz. Tentang kedua hal ini, Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70﴾

"Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Loh Mafuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah." [QS. Al-Ḥajj: 70]

Dalam Sahih Muslim dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Āṣ -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

«كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ».

"Allah telah menulis takdir semua makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi."20

Ketiga: Beriman bahwa semua yang ada tidak terjadi kecuali dengan kehendak Allah

Ta'ala

, baik yang berkaitan dengan perbuatan-Nya ataupun yang berkaitan dengan perbuatan makhluk. Allah

Ta'ala

berfirman tentang yang berkaitan dengan perbuatan-Nya,

﴿وَرَبُّكَ يَخۡلُقُ مَا يَشَآءُ وَيَخۡتَارُ...﴾

"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki..." [QS. Al-Qaṣaṣ: 68]

Allah berfirman,

﴿...وَيَفۡعَلُ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ

"Allah berbuat apa yang Dia kehendaki." [QS. Ibrāhīm: 27]

Allah berfirman,

﴿هُوَ ٱلَّذِي يُصَوِّرُكُمۡ فِي ٱلۡأَرۡحَامِ كَيۡفَ يَشَآءُ...﴾

"Dialah yang membentuk kalian dalam rahim menurut yang Dia kehendaki... ." [QS. Āli 'Imrān: 6] 

Allah Ta'ala juga berfirman tentang sesuatu yang berkaitan dengan perbuatan makhluk,

﴿...وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَسَلَّطَهُمۡ عَلَيۡكُمۡ فَلَقَٰتَلُوكُمۡۚ...﴾

"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya diberikan-Nya kekuasaan kepada mereka (dalam) menghadapi kalian, maka pastilah mereka memerangi kalian..." [QS. An-Nisā`: 90]

Allah berfirman,

﴿...وَلَوۡ شَآءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُۖ فَذَرۡهُمۡ وَمَا يَفۡتَرُون

"Kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama apa (kebohongan) yang mereka ada-adakan." [QS. Al-An'ām: 112]

Keempat: Beriman bahwa semua yang ada adalah makhluk bagi Allah

Ta'ala

lengkap dengan zat, sifat, dan gerakannya. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ 62﴾

"Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu." [QS. Az-Zumar: 62]

Allah -Subḥānahu- juga berfirman,

﴿...وَخَلَقَ كُلَّ شَيۡءٖ فَقَدَّرَهُۥ تَقۡدِيرٗا

"Dia juga menciptakan segala sesuatu lalu menetapkan ukuran-ukurannya yang tepat." [QS. Al-Furqān: 2]

Allah berfirman mengisahkan Ibrahim ﷺ bahwa dia berkata kepada kaumnya,

﴿وَٱللَّهُ خَلَقَكُمۡ وَمَا تَعۡمَلُونَ 96﴾

"Padahal Allah-lah yang menciptakan kalian dan yang kalian perbuat.” [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 96]

Beriman kepada takdir -sebagaimana yang kita terangkan- tidak menihilkan bahwa hamba memiliki kehendak dan kemampuan dalam perbuatan-perbuatannya yang bersifat pilihan karena dalil syariat dan realitas menunjukkan penetapan hal tersebut untuknya.

Adapun dalil syariat, maka firman Allah Ta'ala tentang kehendak,

﴿...فَمَن شَآءَ ٱتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِۦ مَـَٔابًا

"Maka barang siapa menghendaki, niscaya dia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya." [QS. An-Naba`: 39]

Allah berfirman,

﴿...فَأۡتُواْ حَرۡثَكُمۡ أَنَّىٰ شِئۡتُمۡۖ...﴾

"... maka datangilah ladang kalian itu kapan saja dengan cara yang kalian suka... " [QS. Al-Baqarah: 223]

Allah juga berfirman tentang kekuasaan,

﴿فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ...﴾

"Bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian dan dengarlah serta taatlah..." [QS. At-Tagābun: 16]

Allah berfirman,

﴿لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكۡتَسَبَتۡۗ...﴾

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Dia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya." [QS. Al-Baqarah: 286]

Adapun dalil realitas maka setiap orang mengetahui bahwa ia memiliki kehendak dan kemampuan. Dengan keduanya ia berbuat dan dengan keduanya pula ia tidak berbuat. Dia juga bisa membedakan antara yang terjadi dengan keinginannya seperti berjalan dan yang terjadi tanpa keinginannya seperti menggigil. Akan tetapi, kehendak dan kemampuan hamba terjadi dengan kehendak dan kuasa Allah Ta'ala. Ini berdasarkan firman Allah Ta'ala,

﴿لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ 28 وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ 29﴾

"(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus. Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." [QS. At-Takwīr: 28-29]

Demikian juga alam seluruhnya milik Allah Ta'ala, maka tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa sepengetahuan dan kehendak-Nya.

Iman kepada takdir -sebagaimana yang kita terangkan- tidak memberikan hamba pembenaran atas perbuatannya meninggalkan sebagian kewajiban atau mengerjakan sebagian kemaksiatan.

Oleh karena itu, tindakannya yang beralasan dengan takdir adalah salah dilihat dari beberapa sisi:

Pertama: Firman Allah

Ta'ala

,

﴿سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُواْ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَيۡءٖۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُواْ بَأۡسَنَاۗ قُلۡ هَلۡ عِندَكُم مِّنۡ عِلۡمٖ فَتُخۡرِجُوهُ لَنَآۖ إِن تَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ أَنتُمۡ إِلَّا تَخۡرُصُونَ 148﴾

"Orang-orang musyrik akan berkata, 'Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan menyekutukan-Nya, begitu pula nenek moyang kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.' Demikian pula orang-orang sebelum mereka yang telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami. Katakanlah (Muhammad), 'Apakah kalian mempunyai pengetahuan yang dapat kalian kemukakan kepada kami? Yang kalian ikuti hanya persangkaan belaka, dan kalian hanya mengira.'” [QS. Al-An'ām: 148]

Seandainya mereka boleh beralasan dengan takdir, niscaya Allah tidak akan menimpakan siksa-Nya pada mereka.

Kedua: Firman Allah

Ta'ala

,

﴿رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ وَكَانَ ٱللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمٗا 165﴾

"Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [QS. An-Nisā`: 165]

Seandainya takdir boleh menjadi alasan bagi orang-orang yang menyelisihi syariat, maka alasan tersebut tidak terangkat dengan diutusnya para rasul, karena penyelisihan setelah diutusnya para rasul juga terjadi dengan takdir Allah Ta'ala.

Ketiga: Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim -redaksinya milik Imam Bukhari- dari Ali bin Abi Talib

-

raḍiyallāhu

'

anhu

-

bahwa Nabi

 

bersabda,

«مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا قَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ أَوْ مِنَ الْجَنَّةِ».

"Tidaklah salah seorang di antara kalian melainkan telah ditetapkan tempat tinggalnya di neraka atau di surga." Lalu seorang lelaki dari kaum itu berkata, "Tidakkah kita bersandar saja, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda,

«لَا، اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ»

"Tidak. Tetapi, beramallah karena setiap orang akan dimudahkan." Kemudian beliau membaca,

﴿فَأَمَّا مَنۡ أَعۡطَىٰ وَٱتَّقَىٰ 5﴾

"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa." [QS. Al-Lail: 5]

Dalam redaksi riwayat Muslim:

«فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ».

"Setiap orang dimudahkan untuk beramal sesuai dengan tujuan diciptakannya."21

Nabi ﷺ memerintahkan agar beramal dan melarang bertumpu pada takdir.

Keempat: Allah

Ta'ala

memerintahkan dan melarang hamba serta tidak membebaninya kecuali yang sanggup dia kerjakan. Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿فَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ وَٱسۡمَعُواْ وَأَطِيعُواْ...﴾

"Maka bertakwalah kalian kepada Allah menurut kesanggupan kalian dan dengarlah serta taatlah..." [QS. At-Tagābun: 16]

Allah berfirman,

﴿لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَا...﴾

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." [QS. Al-Baqarah: 286]

Seandainya manusia terpaksa dalam perbuatannya, berarti ia telah dibebani sesuatu yang ia tidak mampu melepaskan diri darinya. Tentu ini tidak benar. Oleh karena itu, ketika ia mengerjakan kemaksiatan dengan sebab tidak tahu, lupa, atau terpaksa maka ia tidak berdosa karena ia memiliki uzur.

Kelima: Takdir Allah

Ta'ala

adalah rahasia yang tersembunyi, tidak akan diketahui kecuali setelah takdir itu terjadi. Sementara keinginan hamba terhadap apa yang diperbuatnya telah ada sebelum perbuatannya itu. Artinya, keinginannya untuk berbuat tidak dibangun di atas pengetahuannya pada takdir Allah, ketika itu ia tidak bisa beralasan dengan takdir karena seseorang tidak dapat beralasan dengan sesuatu yang tidak diketahuinya.

Keenam: Kita melihat orang sangat gigih melakukan perkara yang menguntungkannya dalam urusan dunianya hingga ia mendapatkannya, dan ia tidak akan beralih darinya kepada sesuatu yang tidak menguntungkannya lalu beralasan dengan takdir. Lantas mengapa ia beralih dari sesuatu yang bermanfaat baginya dalam urusan agamanya kepada sesuatu yang memudaratkannya lalu beralasan dengan

takdir? Bukankah kedua perkara itu sama?!

Saya berikan Anda contoh yang menjelaskannya:

Seandainya di hadapan seseorang ada dua jalan: salah satunya akan mengantarkannya ke sebuah negeri yang mengalami kekacauan, pembunuhan, perampokan, perusakan kehormatan, ketakutan, dan kelaparan; sedangkan jalan yang kedua seluruhnya penuh ketertiban, keamanan yang terkendali, kehidupan yang nikmat, serta penghormatan terhadap nyawa, kehormatan dan harta benda, maka jalan manakah yang akan dilaluinya?

Tentu ia akan menempuh jalan kedua yang akan mengantarkannya ke negeri yang tertib dan aman. Tidak mungkin bagi siapa pun yang berakal memilih jalur yang membawa kepada negeri kekacauan dan ketakutan lalu dia beralasan dengan takdir. Lalu mengapa dalam perkara akhirat ia malah memilih jalan neraka, bukan jalan surga, lalu beralasan dengan takdir?!

Contoh yang lain: Kita melihat orang yang sakit diperintahkan minum obat, maka ia akan meminumnya sekalipun ia tidak menikmatinya. Sebaliknya, ia dilarang dari makanan yang membahayakannya, maka ia akan meninggalkannya sekalipun ia menginginkannya. Semua itu bertujuan untuk mendapatkan kesembuhan dan keselamatan. Ia tidak mungkin menolak minum obat ataupun memakan makanan yang membahayakannya lantas beralasan dengan takdir. Lalu mengapa seseorang meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, atau mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, kemudian beralasan dengan takdir?

Ketujuh:

Seandainya

orang yang beralasan dengan takdir terkait kewajiban yang ditinggalkannya ataupun kemaksiatan yang dikerjakannya dizalimi oleh seseorang yang mengambil hartanya dan merusak kehormatannya lalu beralasan dengan takdir dengan mengatakan, "Jangan salahkan aku karena aku berbuat zalim dengan takdir Allah," maka ia tidak akan menerima alasannya. Mengapa ia tidak menerima alasan takdir pada tindakan zalim orang lain kepadanya, dan malah menggunakannya sebagai alasan untuk dirinya sendiri ketika menzalimi hak Allah

Ta'ala

?!

Diriwayatkan bahwa pernah ada seorang pencuri dihadapkan kepada Amirul Mukminin Umar bin Al-Khattab -raḍiyallāhu 'anhu-, dia berhak mendapat sanksi potong tangan. Maka beliau memerintahkan agar tangannya dipotong. Akan tetapi, orang itu berkata, "Sebentar, wahai Amirul Mukminin! Sesungguhnya aku mencuri dengan takdir Allah." Maka Umar berkata, "Kami juga demikian. Kami memotong dengan takdir Allah."

Iman kepada takdir memiliki banyak faedah mulia, di antaranya:

Pertama: Bersandar kepada Allah

Ta'ala

ketika melakukan sebab, yaitu tidak bertumpu pada sebab tersebut karena segala sesuatu tercapai dengan takdir Allah

Ta'ala

.

Kedua: Agar seseorang tidak bangga dengan dirinya ketika mendapatkan keinginannya, karena terwujudnya hal itu adalah nikmat dari Allah

Ta'ala

melalui sebab-sebab kebaikan dan kesuksesan yang Allah tetapkan, sedangkan bangga diri akan menjadikannya lupa mensyukuri nikmat itu.

Ketiga: Ketenangan dan ketenteraman hati dengan takdir Allah

Ta'ala

yang berlaku padanya, sehingga ia tidak gusar dengan luputnya sesuatu yang disukai atau terjadinya sesuatu yang tidak disukai, karena hal itu terjadi dengan takdir Allah, pemilik langit dan bumi, dan ia pasti terjadi, tidak dapat dielakkan. Tentang hal ini, Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 22 لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ 23﴾

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Loh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kalian tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepada kalian. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." [QS. Al-Ḥadīd: 22-23]

Nabi ﷺ bersabda,

«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ».

"Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Sungguh, seluruh urusannya adalah kebaikan. Hal ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Ketika mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Ketika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya."22

Ada dua kelompok yang menyimpang dalam takdir:

Pertama: Jabariah.

Mereka berpendapat bahwa manusia terpaksa melakukan perbuatannya, ia tidak memiliki kehendak maupun kemampuan di dalamnya.

Kedua:

Qadariah

.

Mereka berpendapat bahwa manusia mandiri dalam mewujudkan kehendak dan kemampuan, tidak ada pengaruh kehendak dan kuasa Allah Ta'ala di dalamnya.

Bantahan terhadap kelompok pertama (Jabariah) ialah dengan dalil syariat dan realitas.

Adapun dalil syariat ialah bahwa Allah Ta'ala telah menetapkan adanya kehendak dan kemampuan bagi hamba dan Dia menisbahkan perbuatan kepadanya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...مِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلدُّنۡيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ ٱلۡأٓخِرَةَۚ...﴾

"Di antara kalian ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada (pula) orang yang menghendaki akhirat." [QS. Āli 'Imrān: 152]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ فَمَن شَآءَ فَلۡيُؤۡمِن وَمَن شَآءَ فَلۡيَكۡفُرۡۚ إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ...﴾

"Katakanlah (Muhammad), 'Kebenaran itu datangnya dari Tuhan kalian. Siapa menghendaki (beriman), hendaklah dia beriman. Sebaliknya, siapa yang menghendaki (kafir), biarlah dia kafir.' Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka." [QS. Al-Kahfi: 29]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿مَّنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا فَلِنَفۡسِهِۦۖ وَمَنۡ أَسَآءَ فَعَلَيۡهَاۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّٰمٖ لِّلۡعَبِيدِ

"Siapa yang mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka (dosanya) tanggungan dirinya sendiri. Tuhanmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-(Nya)." [QS. Fuṣṣilat: 46]

Adapun dalil realitas maka setiap orang mengetahui perbedaan antara perbuatannya yang bersifat pilihan yang dilakukannya atas dasar keinginannya, seperti: makan, minum, menjual dan membeli, dengan apa yang dialaminya tanpa keinginannya, seperti menggigil akibat demam dan jatuh dari loteng. Pada aktivitas yang pertama ia adalah pelaku yang memiliki pilihan sesuai keinginannya, tanpa ada paksaan, sedangkan pada aktivitas yang kedua ia tidak memiliki pilihan dan tidak juga menginginkan apa yang terjadi padanya.

Bantahan terhadap kelompok kedua (Qadariah) ialah dengan dalil syariat dan akal.

Adapun dalil syariat ialah bahwa Allah Ta'ala yang menciptakan segala sesuatu, dan segala sesuatu terjadi itu dengan kehendak-Nya. Allah Ta'ala telah menjelaskan di dalam Kitab-Nya bahwa perbuatan hamba terjadi dengan kehendak-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُواْ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُواْ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يُرِيدُ﴾

"Kalau Allah menghendaki, niscaya orang-orang setelah mereka tidak akan berbunuh-bunuhan, setelah bukti-bukti sampai kepada mereka. Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) yang kafir. Kalau Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya." [QS. Al-Baqarah: 253]

Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿وَلَوۡ شِئۡنَا لَأٓتَيۡنَا كُلَّ نَفۡسٍ هُدَىٰهَا وَلَٰكِنۡ حَقَّ ٱلۡقَوۡلُ مِنِّي لَأَمۡلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ 13﴾

"Jika Kami menghendaki niscaya Kami berikan kepada setiap jiwa petunjuk (bagi)nya, tetapi telah ditetaplah perkataan (ketetapan) dari-Ku: 'Pasti akan Aku penuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia bersama-sama.'" [QS. As-Sajdah: 13]

Adapun dalil akal ialah bahwa seluruh alam semesta adalah milik Allah Ta'ala, dan manusia bagian dari alam itu, sehingga ia adalah milik Allah Ta'ala. Tidak mungkin bagi sesuatu yang dimiliki untuk melakukan sesuatu pada milik tuannya kecuali dengan izin dan kehendaknya.

 

* * *

 


TUJUAN AKIDAH ISLAM

"Hadaf" (tujuan) secara bahasa digunakan untuk sejumlah makna, di antaranya: sasaran yang ditancapkan untuk dipanah serta segala sesuatu yang dijadikan tujuan.

Tujuan akidah Islamiah ialah target serta buah indah yang diharapkan lahir dari berpegang teguh dengannya. Hal itu banyak dan beragam, di antaranya:

Pertama: Memurnikan niat dan ibadah kepada Allah

Ta'ala

semata, karena Dialah Yang Maha Menciptakan, tidak ada sekutu bagi-Nya, sehingga niat dan ibadah wajib ditujukan untuk-Nya semata.

Kedua: Memerdekakan akal dan pikiran dari kerancuan yang lahir dari kehampaan hati dari akidah ini, karena siapa yang hatinya hampa dari akidah Islam, maka ia berada di antara orang yang hatinya kosong dari seluruh akidah dan menjadi penyembah materiil saja, atau tersesat di dalam berbagai kesesatan akidah dan khurafat.

Ketiga: Ketenangan jiwa dan pikiran. Tidak ada gelisah dalam jiwa dan tidak pula kerancuan dalam pikirannya karena akidah ini menghubungkan seorang mukmin dengan penciptanya, maka ia rida menjadikan Allah sebagai Tuhan dan pengatur serta pembuat ketentuan dan syariat, sehingga hatinya

tenteram dengan ketetapan-Nya serta dadanya lapang terhadap Islam, dan ia tidak mencari penggantinya.

Keempat: Keselamatan niat dan amal dari penyimpangan dalam beribadah kepada Allah

Ta'ala

ataupun bermuamalah dengan sesama makhluk, karena di antara rukunnya ialah beriman kepada para rasul yang mencakup mengikuti jalan mereka yang mendatangkan keselamatan dalam niat dan amal.

Kelima: Serius dan sungguh-sungguh dalam semua urusan. Dia tidak membuang-buang kesempatan untuk beramal saleh, sebaliknya ia memanfaatkannya untuk itu lantaran mengharap pahala, serta tidak melihat sebuah potensi dosa kecuali ia menjauhinya lantaran takut siksa, karena di antara rukunnya ialah beriman kepada kebangkitan dan pembalasan terhadap amal.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَلِكُلّٖ دَرَجَٰتٞ مِّمَّا عَمِلُواْۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعۡمَلُونَ 132﴾

"Masing-masing orang ada tingkatannya (sesuai) dengan apa yang mereka kerjakan. Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." [QS. Al-An'ām: 132]

Nabi ﷺ telah memotivasi kita untuk mencapai tujuan ini dalam sabdanya,

«الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا كَانَ كَذَا وَكَذَا، وَلَكِنْ قُلْ: قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ (لَوْ) تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ».

"Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah, meskipun masing-masing memiliki sisi kebaikan. Fokuslah pada apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah! Jika ada sesuatu yang menimpamu, maka jangan katakan, 'Andai aku melakukan ini itu, tentu hasilnya seperti ini.' Tetapi ucapkanlah, 'Telah ditetapkan oleh Allah. Apa yang Allah kehendaki, maka Dia melakukannya.' Karena kata-kata 'andai' bisa membuka peluang untuk setan." HR. Muslim.23

Keenam: Membentuk umat yang tangguh, siap mengorbankan seluruh hal yang dimilikinya demi meneguhkan agamanya dan mengukuhkan pilar-pilarnya, tidak peduli apa pun yang menimpanya dalam rangka itu. Tentang hal ini, Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ 15﴾

"Sesungguhnya orang-orang yang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." [QS. Al-Ḥujurāt: 15]

Ketujuh: Meraih kebahagiaan dunia dan akhirat dengan memperbaiki individu dan masyarakat, serta menggapai pahala dan kemuliaan. Tentang hal itu, Allah

Ta'ala

berfirman,

﴿مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحٗا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٞ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةٗ طَيِّبَةٗۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ 97﴾

"Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [QS. An-Naḥl: 97]

Inilah beberapa tujuan akidah Islam. Kita berharap kepada Allah Ta'ala semoga mewujudkannya untuk kita dan untuk semua kaum muslimin, sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Pemurah. Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, serta keluarga dan seluruh sahabat beliau.

Ditulis oleh Penulis dengan penanya.

Muḥammad Ṣāliḥ al-'Uṡaimīn

Daftar Isi

 

KATA PENGANTAR 2

AGAMA ISLAM 4

RUKUN ISLAM 10

PILAR-PILAR AKIDAH ISLAM 14

Iman Kepada Allah Ta'ala 15

Iman Kepada Para Malaikat 39

Iman Kepada Kitab-kitab 46

Iman Kepada Para Rasul 48

Iman Kepada Hari Akhir 59

Iman Kepada Takdir 86

TUJUAN AKIDAH ISLAM 102

 

***


HR. Bukhari, Kitāb al-Īmān, (No. 8); dan Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Qaul an-Nabī : Buniyal-Islām ‘alā Khams, (No. 16).

HR. Muslim, Kitāb al-Īmān, (No. 8); dan Abu Daud, Kitāb as-Sunnah, Bāb fī al-Qadar, (No. 4695).

HR. Bukhari, Kitāb al-Janā`iz, Bab Iżā aslama al-ṣabiyyu famāta, hal yuṣallā ‘alayhi, wa-hal yu‘raḍu ‘alā al-ṣabiyyi al-islāmu, (No. 1292); dan Muslim, Kitāb al-Qadar, Bāb Ma‘nā Kulli Mawlūdin Yūladu ‘Alā al-Fiṭrah, wa-Ḥukmu Mawti Aṭfāli al-Kuffār wa-Aṭfāli al-Muslimīn, (No. 2658).

HR. Bukhari, Sūrah Aṭ-Ṭūr, (No. 4854).

HR. Bukhari, Kitāb al-Jumu'ah, Bāb al-Istisqā’ fil-Khuṭbah Yawm al-Jumu'ah, (No. 891).

HR. Bukhari, Kitāb al-Jumu'ah, Bāb al-Istisqā` fil-Khuṭbah Yawm al-Jumu'ah, (No. 891); dan Muslim, Kitāb Ṣalātil-Istisqā`, Bāb ad-Du‘ā’ fil-Istisqā`, (No. 897).

HR. Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Bayān al-Īmān wal-Islām wal-Iḥsān wa Wujūb al-Īmān bi Iṡbāt Qadar Allāh -Subḥānahu wa Ta'ālā-, (No. 8).

HR. Bukhari, Kitab Bad`ul-Khalq, Bāb Żikr al-Malāʾikah, (No. 3037); dan Muslim, Kitāb al-Birr waṣ-Ṣilah wal-Ādāb, Bāb Iżā Aḥabba Allāhu ‘Abdan, Ḥabbabahū Ilā ‘Ibādih, (No. 2637).

HR. Bukhari, Kitāb al-Jumu'ah, Bāb al-Istimā'i ilal-Khuṭbah, (No. 887); Muslim, Kitāb al-Jumu'ah, Bāb Faḍli at-Tahjīr Yawm al-Jumu'ah, (No. 850).

HR. Bukhari, Kitāb at-Tauḥīd, Bāb Qaulullāhi Ta'ālā: Limā Khalaqtu Biyadayya, (No. 7410); dan Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Adnā Ahlil-Jannah Manzilah Fīhā, (No. 193).

HR. Bukhari, Abwābul-Qiblah, Bāb at-Tawajjuh Naḥwa al-Qiblah Ḥaiṡu Kāna, (No. 392); dan Muslim, Kitāb al-Masājid wa Mawāḍi'uṣ-Ṣalāh, Bāb as-Sahwu fī aṣ-Ṣalāh, was-Sujūdu Lahu, (No. 572).

HR. Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifat Na‘īmihā wa Ahluhā, Bāb Fanā’ ad-Dunyā wa Bayān al-Ḥashr Yawm al-Qiyāmah, (No. 2859).

HR. Bukhari, Kitāb al-Maẓālim, Bāb Qaulillāhi Ta'ālā: Alā La'natullāhi 'alā aẓ-Ẓālimīn, (No. 2309); dan Muslim, Kitāb at-Taubah, Bāb Qabūlu Taubatil-Qātil, wa In Kaṡura Qatluhu, (No. 2768).

HR. Muslim, Kitāb Al-Īmān, Bāb Iżā Hamma al-'Abdu bi Ḥasanah Kutibat wa Iżā Hamma bi Sayyi'ah Lam Tuktab, (No. 131)

HR. Bukhari, Kitāb al-Tafsīr, Bāb Qawlihi: “Falā Ta‘lamu Nafsun Mā Ukhfiya Lahum Min Qurrati A‘yunin” No. (4501); dan Muslim, Kitāb al-Jannah wa-Ṣifatu Na‘īmihā wa-Ahlihā, (No. 2824).

HR. Muslim, Kitāb al-Jannah wa Ṣifatu Na‘īmihā wa Ahlihā, Bāb ‘Arḍ Maq‘adi al-Mayyit min al-Jannah aw an-Nār ‘Alayhi wa-Iṡbāt ‘Ażāb al-Qabr wat-Ta‘awwuż minhu, (No. 2867).

HR. Abu Daud, Kitab as-Sunnah, Kitāb as-Sunnah, Bāb al-Mas’alah fī al-Qabr wa ‘Ażāb al-Qabr, (No. 4753); dan Ahmad, Musnad al-Kūfiyyīn, hadis al-Barā` bin 'Āzib (No. 18534).

HR. Bukhari, Kitāb al-Wuḍū’, Bāb mā jā’a fī Ghasl al-Baul, (No. 215).

HR. Muslim, Kitāb al-Qadar, Bāb Ḥijāj Ādam wa Mūsā ‘alaihimas-salām, (No. 2653).

HR. Bukhari, Kitāb al-Qadar, Bāb "Wa Kāna Amru Allāhi Qadaran Maqdūran" (No. 6605); dan Muslim, Kitāb al-Qadar, Bāb Kaifiyyah Khalq al-Ādamī fī Baṭni Ummihi wa Kitābati Rizqihi wa Ajalihi wa ‘Amalihi wa Syaqāwatihi wa Sa‘ādatihi, (No. 2647).

HR. Muslim, Kitāb az-Zuhd wa ar-Raqā’iq, Bāb al-Mu’min Amruhu Kulluhu Khair, (No. 2999).

HR. Muslim, Kitāb al-Qadar, Bāb fī al-Amr bil-Quwwah, wa Tarki al-‘Ajzi, wa al-Isti‘ānah bi-Allāh, wa Tafwīḍ al-Maqādīr li-Allāh, (2664).

HR. Muslim, Kitāb al-Īmān, Bāb Wujūb al-Īmān bi Risālati Nabiyyinā Muḥammad  ilā Jamī'in-Nās wa Naskh al-Milal bi Millatihi, (No. 153).