PHPWord

 

 

حُكْمُ السِّحْرِ وَالكِهَانَةِ

وَمَا يَتَعَلَّقُ بِهَا

 

 

HUKUM SIHIR, PERDUKUNAN, DAN. HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGANNYA

 

 

لِسَمَاحَةِ الشَّيْخِ العَلَّامَةِ

عَبْدِ العَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَازٍ

رَحِمَهُ اللهُ

 

Penulis Penyusun:

Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz

 


بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

RISALAH KE-9

HUKUM SIHIR, PERDUKUNAN, DAN. HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGANNYA1

Segala puji hanya milik Allah, dan semoga selawat serta salam tercurahkan kepada sosok nabi yang tidak ada nabi lain setelahnya. Amabakdu:

Melihat maraknya para tukang tipu akhir-akhir ini yang mengaku sebagai ahli pengobatan, mereka mengobati melalui praktik sihir dan perdukunan yang tersebar di beberapa negeri dengan memanfaatkan kepolosan sebagian orang yang mayoritasnya tidak tahu apa-apa, maka sebagai bentuk nasihat karena Allah dan kepada hamba-hamba-Nya, kami memandang perlunya menjelaskan betapa besar bahayanya bagi Islam dan kaum muslimin, sebab mengandung sikap bergantung kepada selain Allah Ta'ala sekaligus menyelisihi perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya .

Sembari memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala, saya katakan:

Berobat hukumnya boleh berdasarkan kesepakatan para ulama. Sebab itu, seorang muslim boleh pergi ke dokter ahli penyakit dalam, ahli bedah, ahli saraf, dan lain sebagainya; guna memeriksa penyakitnya serta mengobatinya sesuai dengan obat-obatan yang mubah secara syariat, berdasarkan ilmu medis. Hal itu boleh karena termasuk tindakan melakukan sebab dan akibat yang biasa dilakukan serta tidak menafikan sikap tawakal kepada Allah. Bahkan, sebenarnya Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menurunkan penyakit beserta obatnya, ada yang mengetahuinya dan ada pula yang tidak mengetahuinya. Hanya saja, Dia tidak pernah menjadikan kesembuhan hamba-hamba-Nya dengan menggunakan hal-hal yang diharamkan.

Karenanya, orang yang sakit tidak diperkenankan pergi ke dukun-dukun yang mengaku mengetahui ilmu gaib demi mengetahui penyakitnya. Selain itu, dia tidak boleh percaya terhadap apa yang mereka beritahukan, karena mereka berbicara sebatas terkaan terkait hal gaib, atau karena mereka menghadirkan jin untuk meminta bantuan supaya memenuhi keinginan mereka. Mereka ini statusnya kafir dan sesat jika mengaku mengetahui ilmu gaib.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Sahihnya, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا».

"Siapa yang mendatangi peramal lantas bertanya sesuatu kepadanya, maka salatnya selama empat puluh hari tidak diterima."

"Siapa yang mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad ."

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».

"Siapa yang mendatangi seorang dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud. Ia juga diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan yang empat dan dinyatakan sahih oleh al-Ḥākim dari Nabi ﷺ dengan redaksi:

«مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».

"Siapa yang mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya, dia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."

'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ، أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ، وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».

"Bukan termasuk golongan kami orang yang meminta atau melakukan taṭayyur (deteksi nasib sial), meramal atau minta diramal, menyihir atau minta disihirkan. Siapa yang mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad ﷺ." (HR. al-Bazzar dengan sanad jayyid).

Dalam hadis-hadis yang mulia ini terdapat larangan mendatangi para peramal, dukun, penyihir, dan yang semisal mereka, sekaligus larangan bertanya kepada mereka, mempercayai mereka, dan ancaman bagi pelakunya.

Tidak boleh tertipu dengan benarnya ucapan mereka dalam beberapa perkara atau banyaknya orang yang datang kepada mereka, karena sejatinya mereka orang-orang bodoh,. Kita tidak boleh terlena dengan mereka; sebab Rasulullah ﷺ melarang mendatangi mereka, bertanya kepada mereka, serta mempercayai mereka; karena hal itu mengandung kemungkaran yang besar, mudarat yang berat, serta akibat yang buruk. Terlebih juga karena mereka adalah para pendusta dan penjahat.

Dalam hadis-hadis ini, juga terdapat dalil kafirnya seorang dukun dan penyihir, karena keduanya mengklaim mengetahui ilmu gaib, dan itu kekufuran. Di samping itu, keduanya tidak akan menggapai tujuannya kecuali dengan mengabdi kepada jin dan menyembah mereka selain Allah. Ini merupakan tindakan kekufuran kepada Allah dan menyekutukan-Nya dengan sesuatu selain-Nya. Orang yang mempercayai klaim mereka dalam perkara ilmu gaib, maka statusnya sama seperti mereka. Siapa saja yang menerima hal-hal semacam ini dari orang-orang yang melakukan praktik tersebut, maka Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya.

Seorang muslim tidak boleh tunduk pada apa yang mereka klaim sebagai pengobatan, seperti coretan mereka dengan mantra atau menuang cairan timah dan khurafat-khurafat semisal yang mereka lakukan. Semua ini termasuk perdukunan dan tipu daya terhadap manusia. Siapa yang rela dengan hal ini, maka ia telah mendukung kebatilan dan kekufuran mereka.

Tidak boleh seorang pun dari kaum muslimin mengunjungi mereka untuk bertanya mengenai jodoh putra atau saudaranya, atau mengenai apa yang terjadi antara suami dan istri serta keluarga masing-masing; berupa rasa cinta, kesetiaan, pertikaian, perceraian, dan lain sebagainya, karena ini termasuk perkara gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.

Sudah semestinya pemerintah, aparat kepolisian, dan pihak mana pun yang berwewenang untuk mengingkari tindakan orang mendatangi para dukun, peramal, dan yang semisal mereka. Mereka juga harus melarang siapa saja yang melakukan praktik-praktik tersebut di pasar-pasar dan tempat lainnya, serta menindak mereka dan oknum yang mendatangi mereka secara tegas.

Begitu pula dengan sihir, karena ia termasuk perbuatan yang haram dan kufur, sebagaimana tertera pada firman Allah ﷻ tentang kisah dua malaikat dalam surah Al-Baqarah:

﴿...وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ﴾

Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, 'Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.' Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu. [QS. Al-Baqarah: 102].

Ayat-ayat yang mulia ini merupakan dalil bahwa sihir hukumnya kufur, dan para penyihir melakukan pemisahan antara suami dan istrinya. Ia juga menunjukkan bahwa sihir itu sendiri tidak akan berpengaruh secara sendiri, entah itu manfaat atau mudarat, ia hanya berpengaruh atas izin Allah berdasarkan takdir-Nya terhadap alam ini, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang menciptakan baik dan buruk.

Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari sihir, sejatinya sedang mempelajari sesuatu yang akan membahayakan diri mereka sendiri, tidak akan bermanfaat bagi mereka, dan sungguh mereka tidak mendapatkan keuntungan apa pun di sisi Allah. Ini merupakan ancaman yang sangat besar, menunjukkan betapa besarnya kerugian mereka di dunia dan akhirat dan bahwa mereka seakan menjual jiwa mereka dengan harga yang termurah. Karenanya, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencela mereka dalam firman-Nya:

﴿...وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ﴾

Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu. [QS. Al-Baqarah: 102] Kata "asy-syirā`" (membeli) di sini maknanya menjual.

Dampak buruknya besar serta urusannya berat bagi para pengklaim yang mewarisi ilmu-ilmu kaum musyrik itu, lalu memanipulasinya di hadapan orang-orang awam. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kita semua karena Dia sebaik-baik pelindung.

Kita memohon kepada Allah agar terhindar dan diselamatkan dari keburukan para penyihir, dukun, dan tukang tenung. Kita juga memohon kepada-Nya agar melindungi kaum muslimin dari kejahatan mereka sekaligus memberi petunjuk kepada pemerintah kaum muslimin untuk memperingatkan mereka serta menerapkan hukum Allah terhadap mereka, sehingga masyarakat terselamatkan dari mara bahaya serta perilaku buruk mereka, karena Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.

Allah telah mensyariatkan untuk para hamba-Nya sesuatu yang dapat melindungi diri mereka dari para penyihir sebelum terkena sihir. Dia juga menjelaskan kepada mereka solusi yang dapat mengatasinya saat sudah terkena sihir sebagai bentuk kasih sayang-Nya, kebaikan dari-Nya, dan kesempurnaan nikmat-Nya untuk mereka.

Berikut ini penjelasan langkah-langkah yang bisa dijadikan sebagai tameng dari bahaya sihir sebelum terkena, beserta upaya-upaya yang bisa dilakukan guna mengatasinya saat sudah terkena, melalui tindakan-tindakan yang mubah secara syariat, yaitu:

- Pertama: Langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari bahaya sihir sebelum terkena.

Langkah terpenting dan paling berguna ialah melindungi diri dengan zikir-zikir, doa-doa, serta bacaan istiazah yang bersumber dari syariat.

Di antaranya:

1. Membaca ayat Kursi, yang merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur`an, setiap selesai salat fardu setelah salam, yaitu firman-Nya:

﴿ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ255﴾

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar. (QS. Al-Baqarah: 255) Ia dibaca juga saat hendak tidur. Terdapat hadis sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,

«مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي لَيْلَةٍ، لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ».

"Siapa yang membaca ayat Kursi pada malam hari, Allah akan senantiasa memberinya penjagaan hingga setan tidak bisa mendekatinya sampai pagi."

2. Di antara juga membaca:

﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ1﴾

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ1﴾

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),”

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ1﴾

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, [QS. An-Nās: 1] Ketiganya dibaca sekali setiap selesai salat fardu. Ketiganya juga dibaca masing-masing sebanyak tiga kali pada pagi hari setelah salat Subuh, pada petang hari setelah salat Magrib.

3. Di antaranya juga: Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah pada petang hari, yaitu:

﴿ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ285﴾

Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali. Dibaca sampai akhir surah.

Ini berdasarkan hadis sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,

«مَنْ قَرَأَ الآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ».

"Siapa saja yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah pada malam hari, niscaya kedua ayat itu telah mencukupinya." Maknanya adalah dilindungi dari segala keburukan, Allāhu a'lam.

 

4. Di antaranya dengan memperbanyak doa:

"A'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmati min syarri mā khalaq"

Artinya: "Aku memohon perlindungan melalui kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan."

Doa ini dibaca pada malam dan siang hari, dan saat singgah di suatu tempat atau bangunan atau padang pasir atau di udara atau laut, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

«مَن نَزَلَ مَنْزِلًا فَقالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِن شَرِّ ما خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيءٌ حتَّى يَرْتَحِلَ مِن مَنْزِلِهِ ذَلِكَ».

"Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca, 'A'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmati min syarri mā khalaq', niscaya tidak akan diganggu oleh apa pun sampai ia beranjak dari tempat tersebut."

5. Di antara doa lain yang bisa dibaca oleh seorang muslim pada pagi atau petang sebanyak tiga kali adalah:

«بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ».

"Bismillāhillaẓī lā yaḍurru ma'a-smihī syai`un fil-arḍi walā fis-samā`i wa huwas-samī'ul-'alīm"

Artinya: "Dengan nama Allah yang tidak akan berbahaya sesuatu apa pun di bumi dan di langit bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Hal ini berdasarkan anjuran yang bersumber dari Rasulullah ﷺ, agar seseorang membaca doa tersebut, karena ia merupakan sebab keselamatan diri dari segala keburukan.

- Kedua: Mengobati sihir setelah terkena olehnya. Langkah ini bisa dilakukan dengan beberapa alernatif:

A. Memperbanyak ketundukan dan doa pertolongan kepada Allah agar dihindarkan dari mara bahaya serta dihilangkan berbagai kesusahan.

B. Berusaha keras mengetahui tempat media sihir itu, entah itu di tanah, di bukit, atau tempat lainnya. Bila bisa diketahui dan bisa dikeluarkan serta dimusnahkan, niscaya sihir tersebut akan lenyap, dan ini paling ampuh dalam mengobati sihir.

C. Melalui ruqyah dengan zikir-zikir dan wirid-wirid yang sesuai syariat, dan ia cukup banyak, di antaranya:

1- Doa yang ada dalam hadis sahih, yaitu doa Rasulullah ﷺ

«اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا».

"Allāhumma rabban-nās, ażhibil-ba`sa, wa-syfi anta asy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman"

Artinya: "Ya Allah, Tuhan seluruh manusia! Hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, karena Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, yaitu dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." Doa ini dibaca sebanyak tiga kali.

2- Doa ruqyah yang pernah dibaca oleh Jibril kepada Nabi ﷺ, yaitu:

«بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ».

"Bismillāhi arqīka, min kulli syai`in yu`żīka, wa min syarri kulli nafsin aw 'ainin ḥāsidin, allāhu yasyfīk, bismillāhi `arqīka"

Artinya: "Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu dan dari kejelekan setiap jiwa atau pandangan yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu." Doa ini diulangi sebanyak tiga kali.

3- Di antara cara lain yang berguna bagi seseorang yang tidak mampu untuk berhubungan intim dengan istrinya adalah: mengambil tujuh daun bidara yang masih hijau, lalu ditumbuk dengan batu atau yang semisalnya, lalu dimasukkan ke dalam air yang cukup untuk mandi, sambil dibacakan:

a. Ayat Kursi.

﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ1﴾

Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! [QS. Al-Kāfirūn: 1], dan

﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ1﴾

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. [QS. Al-Ikhlās: 1], dan

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ1﴾

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), [QS. Al-Falaq: 1] dan

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ1﴾

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, [QS. An-Nās: 1]

f. Ayat-ayat tentang sihir yang ada dalam surah Al-A'rāf, yaitu firman Allah Ta'ala,

﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ117 فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ118 فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ119﴾

Dan Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka.

Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia.

Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina." [QS. Al-A'rāf: 117-119]

g. Beberapa ayat dalam Surah Yūnus, yaitu:

﴿وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ79 فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ80 فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ81 وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ82﴾

Dan Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), “Datangkanlah kepadaku semua penyihir yang ulung!”

"Maka ketika para penyihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!'

Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.'”

Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya." [QS. Yūnus: 79-82],

h. Beberapa ayat dalam Surah Ṭāhā:

﴿قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ65 قَالَ بَلۡ أَلۡقُواْۖ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ66 فَأَوۡجَسَ فِي نَفۡسِهِۦ خِيفَةٗ مُّوسَىٰ67 قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ68 وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ69﴾

Mereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?”

"Dia (Musa) berkata, 'Silakan kalian lemparkan!' Lalu tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat karena sihir mereka.

Lantas, Musa merasa takut dalam hatinya.

Kami berfirman, 'Jangan takut! Sesungguhnya engkaulah yang unggul (menang).

Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Tidak akan menang penyihir itu dari mana pun ia datang'.” [QS. Ṭāhā: 65-69]

Setelah membaca ayat-ayat tersebut pada sewadah air, bisa diminum tiga teguk, lalu sisanya digunakan untuk mandi. Dengan demikian, penyakit akan hilang atas kehendak Allah. Jika memang perlu menggunakan air tersebut dua kali atau lebih, maka dibolehkan sampai penyakitnya benar-benar lenyap.

Zikir-zikir, istiazah, dan berbagai metode ini termasuk faktor terbesar untuk melindungi diri dari keburukan sihir dan kejahatan lainnya. Ia juga merupakan senjata paling ampuh untuk menghilangkan sihir saat mengalaminya; bagi yang tekun menerapkannya dengan tulus dan penuh keimanan, percaya kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan berlapang dada terhadap apa yang diarahkan kepadanya.

Inilah yang bisa kami jelaskan terkait hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari sihir dan mengobatinya. Hanya Allah yang bisa memberi kita taufik.

Di sini ada suatu permasalahan yang penting, yaitu mengobati sihir dengan melakukan sihir, yang metodenya memberikan persembahan kepada jin berupa menyembelih hewan atau ritual lainnya; hal ini dilarang karena termasuk perbuatan setan, bahkan kategori syirik besar. Sebagaimana juga dilarang melakukan pengobatan dengan bertanya kepada dukun, peramal, penyihir, atau menerapkan apa yang mereka katakan; sebab mereka adalah para pendusta dan penjahat yang mengklaim ilmu gaib dan memperdayai manusia. Rasulullah telah memperingatkan agar tidak mendatangi, menanyai, dan mempercayai mereka, seperti yang dijelaskan pada awal risalah ini. Jadi semua itu harus diwaspadai. Ada hadis sahih yang bersumber dari Rasulullah , bahwa beliau pernah ditanya tentang nusyrah (pengobatan sihir dengan sihir), lantas beliau menjawab,

«هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ».

"Itu termasuk perbuatan setan." (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud dengan sanad jayyid).

 

Makna nusyrah adalah mengobati orang yang terkena sihir dengan sihir pula. Maksud beliau dalam sabdanya ini ialah bentuk nusyrah yang biasanya dilakukan kaum jahiliah, yaitu meminta kepada si penyihir agar menghilangkan sihirnya, atau melawannya dengan sihir yang serupa dari penyihir lain.

Adapun jika diobati dengan ruqyah, doa-doa istiazah yang sesuai syariat, serta obat-obatan yang mubah, maka boleh sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Pernyataan tersebut dinyatakan oleh al-'Allāmah Ibnul-Qayyim dan Syekh Abdurraḥmān bin Ḥasan dalam Fatḥul-Majīd -raḥmatullāhi 'alaihimā-. Bahkan, ulama yang lain pun menyatakan hal yang sama.

 

Hanya kepada Allah kita memohon agar kaum muslimin diberi taufik dan keselamatan dari segala keburukan, agama mereka terjaga, serta diberi rezeki berupa pemahaman yang benar dalam hal ini dan diberi keselamatan dari semua perkara yang menyelisihi syariat-Nya.

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad, serta keluarga, dan para sahabat beliau semuanya.

 

 

***


Wasiat ini diterbitkan pada buku no. 17 dari Lembaga Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Penyuluhan pada tahun 1402 Hijriah.