PHPWord

 

 

 

إِقََامَةُ البَرَاهِينِ عَلَى

حُكْمِ مَنِ اسْتَغَاثَ بِغَيرِ اللهِ

 

 

PENDIRIAN BUKTI ATAS HUKUM ORANG YANG MEMINTA PERTOLONGAN KEPADA SELAIN ALLAH

 

لِسَمَاحَةِ الشَّيْخِ العَلَّامَةِ

عَبْدِ العَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَازٍ

رَحِمَهُ اللهُ

 

Penulis Penyusun:

Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz

 


بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

RISALAH KE-2

HUKUM ISTIGASAH KEPADA NABI

Segala puji hanya milik Allah. Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, kepada keluarga, sahabat, dan semua yang mengikuti petunjuk beliau.

Amabakdu:

Surat kabar Al-Mujtama' Kuwait dalam edisi ke-15, yang terbit pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1390 H menerbitkan beberapa bait syair dengan judul "Peringatan Maulid Nabi yang Mulia".

Bait-bait tersebut mengandung permohonan pertolongan (istigasah) dan kemenangan kepada Nabi , agar beliau menolong umat, memenangkan, dan membebaskan mereka dari perpecahan dan perselisihan yang mereka alami. Syair tersebut ditandatangani oleh seseorang yang menyebut dirinya dengan nama: Aminah.

Berikut adalah teks dari beberapa bait syair yang dimaksud:

Wahai Rasulullah, tolonglah dunia yang... menyalakan perang dan membakar dengan panasnya

Wahai Rasulullah, tolonglah umat yang... berada dalam kegelapan keraguan yang telah lama membelenggu.

Wahai Rasulullah, selamatkanlah umat ini ***

dalam kesedihan yang mendalam, mereka kehilangan arah.

Sampai pada perkataannya,

Segeralah kemenangan seperti yang engkau lakukan ***

pada hari Badar, ketika engkau menyeru Allah

Maka kehinaan pun berubah menjadi kemenangan yang menakjubkan... Sesungguhnya Allah memiliki pasukan yang tidak terlihat oleh mata

Beginilah penulis ini mengarahkan seruannya dan permohonan tolongnya kepada Rasulullah , meminta beliau untuk menyelamatkan umat dengan segera memberikan kemenangan. Ia lupa -atau tidak menyadari- bahwa kemenangan itu ada di tangan Allah semata, bukan di tangan Nabi atau makhluk lainnya, sebagaimana firman Allah -Subḥānahū- dalam Kitab-Nya,

﴿...وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ﴾

Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. [QS. Āli 'Imrān: 126] Allah ﷻ berfirman,

﴿إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ...﴾

Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong kamu setelah itu? [QS. Āli 'Imrān: 160]

Perbuatan ini, berupa doa dan istigasah, merupakan bentuk pengalihan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah Ta'ala. Padahal, telah diketahui berdasarkan nas dan ijmak bahwa perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena Allah Subḥānahu menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya. Demikian pula Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab adalah untuk menerangkan ibadah tersebut serta menyerukannya. Sebagaimana Allah -Subḥānahu- berfirman,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56] Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ...﴾

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ 25﴾

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku. [QS. Al-Anbiyā`: 25]. Allah ﷻ berfirman,

﴿الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ1 أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ2﴾

Alif Lām Rā. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana, Mahateliti,

agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira dari-Nya untukmu, [QS. Hūd: 1-2]

Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam ayat-ayat yang muhkam ini bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya agar mereka beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Juga menerangkan bahwa Dia mengutus para rasul -'alaihimuṣ ṣalātu wassallam- untuk mengajak kepada ibadah tersebut dan melarang kebalikannya. Demikian pula Allah 'Azza Wa Jalla menerangkan bahwa Dia menetapkan ayat-ayat kitab-Nya serta menerangkannya secara rinci agar tidak ada yang disembah selain Allah Subḥānahū.

Dan telah diketahui bahwa ibadah berarti menauhidkan Allah dan menaati-Nya, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya. Allah telah memerintahkan dan mengabarkan hal tersebut dalam banyak ayat, di antaranya firman-Nya Subḥānahū,

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ...﴾

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama... [QS. Al-Bayyinah: 5] Demikian juga firman Allah -'Azza Wa Jalla-,

﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ...﴾

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia... [QS. Al-Isrā`: 23]. 3. Firman Allah -Subḥānahu-,

﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾

Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 2-3]

Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Seluruhnya menunjukkan kewajiban memurnikan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan penyembahan terhadap selain-Nya, baik itu para nabi maupun yang lainnya.

Tidak ada keraguan bahwa doa adalah bentuk ibadah yang paling penting dan paling luas cakupannya sehingga harus dimurnikan kepada Allah semata. Sebagaimana Allah -'Azza Wa Jalla- berfirman,

﴿فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ14﴾

Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). [QS. Gāfir: 14] Allah -'Azza Wa Jalla- juga berfirman,

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا18﴾

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. [QS. Al-Jinn: 18]. Perintah untuk memurnikan doa kepada Allah ini berlaku untuk semua makhluk, termasuk para nabi dan lainnya.

Demikian pula firman Allah:

﴿وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذٗا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ106﴾

Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yūnus: 106) Ini merupakan peringatan yang ditujukan kepada Nabi ﷺ, dan kita ketahui bersama bahwa Allah Yang Maha Suci menjaga beliau dari kesyirikan. Sehingga maksud dari ayat ini adalah peringatan kepada selain beliau. Kemudian Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ106﴾

Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yūnus: 106) Larangan ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, tetapi maksudnya adalah memperingatkan yang lain. Sebab, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah melindungi Rasulullah dari kesyirikan, sebagaimana diketahui bersama. Kemudian Allah Ta'ala mempertegas larangan dan peringatan tersebut dengan berfirman,

﴿...فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ﴾

...maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” Kata kezaliman, jika disebutkan secara mutlak maka maksudnya adalah syirik besar. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,

﴿...وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾

Orang-orang kafir itulah orang yang zalim. [QS. Al-Baqarah: 254]. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. [QS. Luqmān: 13]. Maka, jika Pemimpin umat manusia ﷺ, seandainya beliau berdoa kepada selain Allah niscaya beliau termasuk orang yang zalim, lalu bagaimana dengan yang lainnya?!

Berdasarkan ayat-ayat ini dan lainnya, diketahui bahwa berdoa kepada selain Allah -seperti orang mati, pohon, patung dan lainnya- adalah kesyirikan kepada Allah -'Azza Wa Jalla-, serta bertentangan dengan menauhidkan Allah dalam ibadah yang merupakan tujuan Allah menciptakan jin dan manusia, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab. Juga, bertolak belakang dengan makna kesaksian "lā ilāha illallāh" yang menafikan ibadah dari selain Allah dan menetapkannya kepada Allah semata. Sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,

﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ62﴾

Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang bathil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar. [QS. Al-Ḥajj: 62]

Inilah adalah pondasi agama dan dasar keyakinan, tidak sah ibadah kecuali setelah sahnya fondasi ini, sebagaimana firman Allah Ta'ala:

﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ65﴾

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. [QS. Az-Zumar: 65]. Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman,

﴿...وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾

Dan sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan. [QS. Al-An'ām: 88]

Dari penjelasan di atas terlihat dengan jelas bahwa agama Islam dan syahadat lā ilāha illallāh memiliki dua pilar besar:

Pertama: tidak boleh beribadah kecuali kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Siapa yang berdoa kepada orang mati, dari kalangan para nabi dan lainnya, atau berdoa kepada patung, pohon, batu atau makhluk lainnya, atau memohon pertolongan pada mereka, atau mendekatkan diri dengan sembelihan dan nazar, atau salat maupun sujud kepada mereka, maka dia telah menjadikan mereka sebagai tuhan selain Allah dan tandingan bagi Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, serta telah membatalkan dan menafikan makna syahadat lā ilāha illallāh.

Kedua: tidak beribadah kepada Allah Ta'ala kecuali dengan syariat Nabi dan Rasulullah ﷺ. Siapa yang mengadakan amalan bid'ah dalam agama yang tidak disyariatkan oleh Allah, maka dia belum mewujudkan makna syahadat Muḥammad rasūlullāh. Amalnya tidak berguna dan tidak diterima. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا23﴾

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. [QS. Al-Furqān: 23]. Maksud amalan yang disebutkan dalam ayat ini adalah amalan orang yang meninggal di atas kesyirikan kepada Allah -'Azza Wa Jalla-.

Masuk juga di dalamnya: amalan-amalan bid'ah yang tidak disyariatkan oleh Allah. Amalan tersebut akan seperti debu yang beterbangan kelak di hari Kiamat karena tidak sejalan dengan syariat yang suci. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,

«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ».

"Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya maka amalan tersebut tertolak." (Muttafaq 'Alaih)

Kesimpulannya: Penulis ini telah mengarahkan permintaan tolong dan doanya kepada Rasulullah ﷺ dan berpaling dari Rab alam semesta, padahal di tangan-Nya seluruh kemenangan, keburukan dan kebaikan. Sedangkan selain-Nya tidak memiliki sedikit pun dari itu.

Tidak diragukan, ini adalah kezaliman besar lagi buruk. Allah -'Azza Wa Jalla- telah memerintahkan untuk berdoa kepada-Nya -Subḥānahū- semata dan berjanji akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya, serta mengancam siapa saja yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Nya dengan masuk ke dalam neraka Jahanam. Allah -'Azza Wa Jalla- berfirman,

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Gāfir: 60]. Yaitu orang-orang yang hina dan rendah. Maka ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah, dan siapa saja yang menyombongkan diri darinya (tidak mau berdoa), maka tempat kembalinya adalah Neraka Jahanam. Jika demikian keadaan orang yang enggan berdoa kepada Allah, lalu bagaimana dengan orang yang justru berdoa kepada selain-Nya dan berpaling dari-Nya? Padahal, Allah -Subḥānahū- Maha Dekat, Maha Memiliki segala sesuatu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagaimana Allah -Subḥānahū- berfirman,

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ 186﴾

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. [QS. Al-Baqarah: 186]. Rasulullah ﷺ mengabarkan dalam hadis yang sahih bahwa doa adalah ibadah, dan beliau berkata kepada sepupunya Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-,

«احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعْنَتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ».

"Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu! Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu! Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah! Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah!" [HR. Tirmizi dan lainnya].

Nabi ﷺ bersabda,

«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا؛ دَخَلَ النَّارَ».

"Siapa yang meninggal dunia sedangkan dia berdoa kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, maka dia akan masuk neraka." [HR. Bukhari] Dan dalam kua kitab sahih (Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa Nabi ﷺ ditanya: Dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab,

«أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ».

"Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu." An-Niddu berarti tandingan atau yang setara. Maka, siapa saja yang berdoa kepada selain Allah, memohon pertolongan kepadanya, bernazar untuknya, menyembelih untuknya, atau mempersembahkan suatu bentuk ibadah kepadanya selain yang telah disebutkan; maka dia telah menjadikannya sebagai tandingan (bagi Allah), baik yang disembah itu seorang nabi, wali, malaikat, jin, patung, atau makhluk lainnya.

Di sini, mungkin ada yang bertanya: Bagaimana hukum meminta kepada orang yang masih hidup dan hadir secara langsung sesuatu yang mampu dia lakukan, serta beristigasah (meminta bantuannya) dalam urusan-urusan yang dapat dirasakan secara indrawi dan berada dalam kemampuannya? Jawab: Ini tidak termasuk kesyirikan, melainkan termasuk perkara biasa yang dibolehkan di antara kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam kisah Nabi Musa:

﴿...فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ...﴾

...Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya... [QS. Al-Qaṣaṣ: 15]. Sebagaimana firman Allah Ta'ala juga tentang kisah Nabi Musa,

﴿فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ...﴾

Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada... [QS. Al-Qaṣaṣ: 21]. Sebagaimana seseorang meminta pertolongan kepada sahabat-sahabatnya dalam peperangan atau dalam berbagai urusan lain yang dihadapi manusia dan di mana mereka saling membutuhkan satu sama lain.

Allah telah memerintahkan Nabi ﷺ untuk mengabari umatnya, bahwa beliau tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan manfaat atau menimpakan bahaya kepada siapa pun. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,

﴿قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا21 قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا22﴾

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”

"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.'” [QS. Al-Jinn: 21-22]. Allah Ta'ala berfirman,

﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ188﴾

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Al-A'rāf: 188].

Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.

Sudah dimaklumi bahwa Nabi ﷺ tidak berdoa kecuali kepada Rabb-nya. Sebagaimana telah diriwayatkan bahwa ketika Perang Badar, beliau memohon pertolongan kepada Allah, meminta kemenangan atas musuhnya, dan bersungguh-sungguh dalam doanya, seraya berkata: "Ya Rabb, wujudkanlah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku." Hingga akhirnya, Abu Bakar -radiyallahu ‘anhu- berkata, "Cukuplah, wahai Rasulullah, sungguh Allah akan memenuhi apa yang telah dijanjikan kepadamu." Lalu Allah Subḥānahū menurunkan firman-Nya:

﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ9﴾

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan kamu, lalu itu dikabulkan-Nya untuk kamu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” [QS. Al-Anfāl: 9]. Maka Allah -Subḥānahu- menyebut dalam ayat-ayat ini tentang istigasah mereka, lalu Dia mengabarkan bahwa Dia telah mengabulkannya dengan mengirimkan para malaikat untuk memberi kabar gembira tentang kemenangan dan menenangkan hati mereka. Namun, Allah -Subḥānahu- menjelaskan bahwa kemenangan itu bukan berasal dari para malaikat, melainkan kemenangan itu datang dari-Nya semata. Sebagaimana firman-Nya Ta'ala,

﴿وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ...﴾

Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah... [QS. Āli 'Imrān: 126] Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ123﴾

Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya. [QS. Āli 'Imrān: 123] Maka dalam ayat ini, Allah Ta'ala menjelaskan bahwa Dia-lah Yang Mahasuci yang memberikan kemenangan kepada mereka pada hari Badar. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada mereka, baik berupa senjata, kekuatan, maupun bantuan dari para malaikat, semuanya hanyalah sebagai sebab untuk kemenangan, sebagai kabar gembira, dan penenang hati. Namun, kemenangan itu sendiri tidak berasal dari hal-hal tersebut, melainkan semata-mata datang dari Allah saja. Maka bagaimana mungkin penulis ini, atau siapa pun selainnya, berani mengarahkan istigasah dan permintaan kemenangannya kepada Nabi , sementara ia berpaling dari Rabb semesta alam, yang merupakan pemilik segala sesuatu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu?!

Tidak diragukan lagi bahwa ini termasuk kebodohan yang paling buruk, bahkan termasuk bentuk kesyirikan yang paling besar. Maka penulis tersebut wajib untuk bertobat kepada Allah Subḥānahū dengan tobat yang sebenar-benarnya. Tobat yang sebenarnya mencakup beberapa hal, yaitu: 1. Menyesali dosa yang telah dilakukan. 2. Berhenti dari perbuatan yang telah dilakukannya. 3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah, keikhlasan kepada-Nya, ketaatan terhadap perintah-Nya, serta kewaspadaan terhadap apa yang telah Dia larang. Inilah yang disebut dengan tobat nasuh (yang sebenarnya), Ada hal keempat yang khusus berlaku jika kesalahan tersebut berkaitan dengan hak makhluk lain, yaitu:

4. Mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kehalalan (kerelaan) darinya.

Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertobat dan menjanjikan penerimaan tobat mereka, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ31﴾

Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. [QS. An-Nūr: 31]. Allah berfirman tentang orang-orang Nasrani:

﴿أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ74﴾

Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [QS. Al-Mā`idah: 74]. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا68 يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا69 إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا70﴾

Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,

(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,

kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [QS. Al-Furqān: 68-70]. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ25﴾

Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, [QS. Asy-Syūrā: 25].

Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,

«الإِسْلَامُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَالتَّوْبَةُ تَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهَا».

"Islam menghapus dosa-dosa masa lalu (saat kafir), dan tobat menghapus perbuatan dosa sebelumnya."

 

Saya telah menuliskan tulisan singkat ini karena besarnya bahaya syirik, yang merupakan dosa terbesar, serta karena khawatir ada yang teperdaya dengan apa yang telah ditulis oleh penulis tersebut. Selain itu, hal ini juga sebagai bentuk kewajiban untuk memberikan nasihat karena Allah dan untuk hamba-hamba-Nya. Saya memohon kepada Allah agar menjadikan tulisan ini bermanfaat, memperbaiki keadaan kita dan seluruh kaum muslimin, serta menganugerahkan kepada kita semua pemahaman yang benar dalam agama dan keteguhan di atasnya. Semoga Dia melindungi kita dan kaum Muslimin dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Sungguh, Dia-lah yang Maha Menguasai segala urusan dan Mahakuasa atas segala sesuatu.

Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.

 

 

***

 


بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

RISALAH KE-3

HUKUM ISTIGASAH KEPADA JIN DAN SETAN DAN BERNAZAR UNTUK MEREKA

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz kepada siapa saja yang beragama Islam, semoga Allah memberikan taufik kepada saya dan kepada mereka semua untuk berpegang teguh pada agama-Nya dan tetap istikamah di atasnya. Āmīn.

Assalāmu'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh

Amabakdu: Sebagian saudara kita bertanya tentang perbuatan sebagian orang-orang jahil yang berdoa dan memohon pertolongan kepada selain Allah Subḥānahū dalam berbagai urusan, seperti berdoa dan memohon pertolongan kepada jin, serta bernazar dan berkurban untuk mereka. Demikian pula perkataan sebagian orang: "Wahai tujuh!" yang maksudnya adalah tujuh pemimpin jin, dengan seruan seperti: "Tangkap dia, hancurkan tulangnya, minum darahnya, siksa dia, wahai tujuh, lakukan ini dan itu padanya!" Atau perkataan sebagian yang lain: "Tangkaplah dia, wahai jin siang, wahai jin sore." Hal-hal seperti ini banyak ditemukan di sebagian daerah selatan. Termasuk dalam kategori ini adalah berdoa kepada orang mati dari kalangan para nabi, orang saleh dan lainnya; demikian juga berdoa kepada malaikat dan istigasah kepada mereka. Maka semua ini dan yang semisalnya banyak dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai Muslim, karena kebodohan mereka dan sikap ikut-ikutan terhadap orang-orang sebelum mereka. Mungkin sebagian dari mereka menganggap hal ini remeh dan berdalih dengan mengatakan: "Ini hanya sesuatu yang terucap di lisan, kami tidak benar-benar memaksudkannya atau meyakininya."

Dia juga bertanya kepada saya tentang hukum menikahi orang yang dikenal melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, hukum memakan sembelihan mereka, hukum menyalatkan mereka, dan salat di belakang mereka, serta tentang mempercayai para dukun dan peramal; seperti orang yang mengklaim mengetahui penyakit dan penyebabnya hanya dengan melihat sesuatu yang menyentuh tubuh pasien; seperti sorban, celana, kerudung, dan sejenisnya.

Jawabannya:

Segala puji bagi Allah semata. Semoga selawat serta salam terlimpahkan kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya, yakni Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga hari Pembalasan.

Amma ba'du:

Sesungguhnya Allah -Subḥānahū wa Ta'ālā- telah menciptakan dua makhluk (jin dan manusia) agar mereka hanya beribadah kepada-Nya semata, bukan kepada selain-Nya, dan untuk mengkhususkan doa dan istigasah, penyembelihan, nazar, serta seluruh bentuk ibadah hanya kepada-Nya. Dia telah mengutus para rasul dengan membawa misi tersebut, memerintahkan mereka untuk menyampaikannya, dan menurunkan kitab-kitab samawi yang paling agung di antaranya adalah Al-Qur`an Al-Karim untuk menjelaskan hal itu dan mengajak kepadanya, serta memperingatkan manusia dari perbuatan syirik kepada Allah dan penyembahan kepada selain-Nya. Inilah pondasi paling utama dan dasar agama dan keimanan yang merupakan makna syahadat lā ilāha illallāh, dan hakikatnya tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Syahadat lā ilāha illallāh menafikan ketuhanan dan peribadatan kepada selain Allah, serta menetapkannya -yakni: ibadah- hanya bagi Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan makhluk mana pun. Dalil-dalil untuk hal ini dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ sangat banyak. Di antaranya, firman Allah ﷻ,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56] 3. Firman Allah -Subḥānahu-,

﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ...﴾

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia... [QS. Al-Isrā`: 23]. Juga firman Allah Ta'ala,

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ...﴾

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama... [QS. Al-Bayyinah: 5] Juga firman Allah Ta'ala,

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ60﴾

Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Gāfir: 60]. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ...﴾

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku... [QS. Al-Baqarah: 186].

Allah -Subḥānahū- menjelaskan di dalam ayat-ayat ini bahwa Dia menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dan Allah telah menetapkan, yakni: memerintahkan dan mewasiatkan, kepada hamba-hamba-Nya di dalam Al-Qur`an yang muhkam dan melalui lisan Rasulullah -'alaihiṣ ṣalātu wassallam-, untuk tidak beribadah kecuali hanya kepada Rabb mereka.

Dan Allah ﷻ menjelaskan bahwa doa adalah ibadah yang agung, barang siapa yang menyombongkan diri darinya akan masuk neraka. Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk hanya berdoa kepada-Nya semata, dan Dia memberitahukan bahwa Dia Mahadekat dan mengabulkan doa mereka. Maka semua hamba wajib untuk mengkhususkan doa hanya kepada Rabb mereka; karena doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang karenanya mereka diciptakan dan diperintahkan untuk melaksanakannya. Dan Allah ﷻ berfirman,

﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ162 لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ163﴾

Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,

tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).163 [QS. Al-An'ām: 162-163].

Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memberitahu manusia bahwa salatnya, ibadahnya—yaitu penyembelihan—, kehidupannya, dan kematiannya adalah semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tanpa sekutu bagi-Nya. Berdasarkan hal itu, siapa pun yang menyembelih untuk selain Allah, maka ia telah berbuat syirik kepada Allah, sebagaimana jika ia salat untuk selain-Nya. Sebab, Allah Subḥānahū telah menjadikan salat dan penyembelihan sebagai dua ibadah yang beriringan, serta menegaskan bahwa keduanya hanya untuk Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya. Maka barang siapa yang menyembelih untuk selain Allah —baik untuk jin, malaikat, orang yang telah meninggal, atau selain mereka— dengan tujuan mendekatkan diri kepada mereka, maka ia seperti orang yang salat untuk selain Allah. Dalam hadis yang sahih, Nabi -'alaihiṣ ṣalātu wassallam- bersabda,

«لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ».

"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah." Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad hasan dari Ṭāriq bin Syihāb -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,

«مرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَومٍ لَهُم صَنَمٌ لَا يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقرِّبَ لَهُ شَيئًا، فَقَالُوا لِأَحَدِهِمَا: قَرِّبْ. قَالَ: لَيسَ عِندِي شَيءٌ أَقَرِّبُهُ، قَالُوا: قَرِّبْ وَلَوْ ذَبَابًا، فَقَرَّبَ ذُبَابًا، فَخَلُّوا سَبِيلَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوا لِلآخَرِ: قَرِّبْ. قَالَ: مَا كُنْتُ لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللهِ جَلَّ جَلَالُهُ، فَضَرَبُوا عُنُقَه، فَدَخَلَ الجَنَّةَ».

"Ada dua orang lelaki melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang boleh melewati berhala itu kecuali harus mempersembahkan sesuatu untuknya. Maka, mereka berkata kepada salah seorang dari keduanya, ‘Persembahkan sesuatu.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak memiliki apa pun untuk dipersembahkan.’ Mereka berkata, ‘Persembahkan sesuatu, meskipun hanya seekor lalat.’ Maka, dia pun mempersembahkan seekor lalat. Lalu mereka membiarkannya pergi, tetapi dia masuk neraka karenanya. Kemudian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Persembahkan sesuatu.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan apa pun kepada siapa pun selain Allah Yang Maha Agung.’ Maka mereka memenggal lehernya, dan dia pun masuk surga."

Maka jika seseorang yang mendekatkan diri kepada berhala atau semacamnya hanya dengan seekor lalat saja dianggap sebagai musyrik dan berhak masuk neraka, lalu bagaimana dengan orang yang berdoa kepada jin, malaikat, atau para wali? Bagaimana pula dengan orang yang meminta pertolongan kepada mereka, bernazar untuk mereka, serta mendekatkan diri dengan menyembelih kurban demi mereka, dengan harapan hartanya terjaga, penyakitnya sembuh, atau hewan ternaknya serta tanamannya selamat? Lebih dari itu, bagaimana dengan seseorang yang melakukan hal tersebut karena takut akan kejahatan jin atau hal-hal semacamnya? Tidak diragukan lagi bahwa siapa pun yang melakukan perbuatan seperti ini lebih pantas dikatakan sebagai musyrik dan lebih berhak masuk neraka dibandingkan dengan orang yang hanya mempersembahkan seekor lalat kepada berhala.

Dan dalil lain yang disebutkan tentang hal itu adalah firman Allah ﷻ,

﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾

Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 1-3]. Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ18﴾

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Yūnus: 18]

Maka Allah memberitakan dalam dua ayat ini bahwa orang-orang musyrik menjadikan selain-Nya sebagai wali-wali dari kalangan makhluk, lalu mereka menyembahnya bersama Allah dengan rasa takut, harapan, penyembelihan, nazar, doa, dan hal-hal semacamnya. Mereka mengklaim bahwa para wali tersebut akan mendekatkan mereka kepada Allah dan memberi syafaat bagi mereka di sisi-Nya. Kemudian Allah mendustakan mereka, menjelaskan kebatilan keyakinan mereka, serta menyebut mereka sebagai pendusta, kafir, dan musyrik. Dia juga menyucikan diri-Nya dari kesyirikan mereka. Allah ﷻ berfirman,

﴿...سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾

Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan. [QS. An-Naḥl: 1]. Dari sini dapat dipahami bahwa siapa saja yang menjadikan malaikat, nabi, jin, pohon, batu, atau makhluk lainnya sebagai perantara dalam doa bersama Allah, meminta pertolongan kepada mereka, mendekatkan diri kepada mereka dengan bernazar atau menyembelih kurban, dengan harapan mendapatkan syafaat mereka di sisi Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, menyembuhkan orang sakit, menjaga harta, menyelamatkan orang yang sedang bepergian, atau hal-hal serupa, maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan yang besar dan musibah yang dahsyat. Allah Ta'ala berfirman mengenai hal ini,

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا48﴾

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar. [QS. An-Nisā`: 48]. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾

Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu. [QS. Al-Mā`idah: 72].

Syafaat itu hanya akan diperoleh pada hari kiamat oleh orang-orang yang bertauhid dan ikhlas, bukan bagi orang-orang yang berbuat syirik, sebagaimana yang dikatakan Nabi ﷺ ketika ditanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu?" Beliau menjawab,

«مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ».

"Orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari dalam hatinya." Nabi ﷺ bersabda,

«لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَـبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَومَ القِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهِ مَن مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا».

"Setiap Nabi mempunyai doa yang dikabulkan, maka setiap Nabi menyegerakan doanya, dan aku menyimpan doaku sebagai syafa'at bagi umatku pada hari kiamat. Dan syafa'atku akan diperoleh dengan kehendak Allah oleh orang yang meninggal dari umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun."

Kaum musyrikin terdahulu meyakini bahwa Allah adalah Tuhan mereka, Pencipta mereka, dan Pemberi rezeki mereka. Namun, mereka bergantung pada para nabi, wali, malaikat, pohon, batu, dan yang semisalnya, dengan harapan mendapatkan syafaat mereka di sisi Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Maka Allah tidak memberi mereka uzur (alasan) dalam hal itu. Sebaliknya, Allah mencela mereka dalam Kitab-Nya yang agung, menyebut mereka sebagai orang-orang kafir dan musyrik, serta mendustakan klaim mereka bahwa semua sesembahan itu dapat memberi syafaat bagi mereka atau mendekatkan mereka kepada Allah. Rasulullah ﷺ pun tidak membiarkan mereka dengan alasan tersebut. Sebaliknya, beliau ﷺ memerangi mereka karena kesyirikan itu hingga mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, sebagaimana firman-Nya -Subḥānahū-,

﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ...﴾

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah... [QS. Al-Baqarah: 193] Nabi ﷺ bersabda,

«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُم وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلَامِ، وَحِسَابُهُم عَلَى اللهِ».

"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka pada Allah Ta'ala." Dan makna sabda Rasulullah ﷺ,

«حَتَّى يَشْهَدُوا أَن لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ».

"Hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilāh yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah," adalah: agar mereka memurnikan ibadah kepada Allah, tanpa menyembah selain-Nya.

Dahulu, kaum musyrikin takut kepada jin dan berlindung kepada mereka. Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang hal itu:

﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا6﴾

Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat. [QS. Al-Jinn: 6]. Para ahli tafsir mengatakan tentang ayat yang mulia ini: makna firman Allah,

﴿...فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾

...mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat. yakni: rasa gentar dan takut; karena jin menjadi sombong dan merasa tinggi dalam diri mereka ketika melihat manusia meminta perlindungan kepada mereka. Pada saat itu, mereka semakin menakut-nakuti dan menggentarkan manusia, hingga manusia semakin banyak beribadah dan berlindung kepada mereka.

Allah telah menggantikan bagi kaum Muslimin dengan istiazah (memohon perlindungan) kepada-Nya Subḥānahu, dan dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, serta menurunkan dalam hal ini firman-Nya :

﴿وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ200﴾

Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. [QS. Al-A'rāf: 200]. Dan firman Allah :

﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ1﴾

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),” Diriwayatkan secara sahih dari Nabi bahwa beliau bersabda,

«مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا فَقَالَ: (أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ)؛ لَم يَضُرَّهُ شَيءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ».

"Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu berdoa: 'A'ūżu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq'," (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Dia ciptakan); maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu."

Berdasarkan ayat-ayat serta hadis yang telah disebutkan sebelumnya, seseorang yang menginginkan keselamatan dan berusaha menjaga agamanya, serta terhindar dari syirik, baik yang samar maupun yang jelas, akan mengetahui bahwa bergantung kepada orang mati, malaikat, jin, dan makhluk lainnya, serta berdoa kepada mereka dan meminta perlindungan kepada mereka dan semacamnya; adalah perbuatan orang-orang jahiliah musyrik, dan termasuk syirik yang paling buruk kepada Allah Subḥānahu. Maka wajib meninggalkannya, berhati-hati darinya, saling menasihati untuk meninggalkannya, dan mengingkari siapa saja yang melakukannya.

Adapun orang yang dikenal melakukan perbuatan-perbuatan syirik ini, maka tidak boleh menikahinya, tidak boleh memakan sembelihannya, tidak boleh menyalatinya dan tidak boleh salat bermakmum di belakangnya sampai ia mengumumkan tobatnya kepada Allah Subḥānahū dari perbuatan itu serta memurnikan doa dan ibadah hanya kepada Allah semata. Sebab, doa adalah ibadah, bahkan intisarinya. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,

«الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ».

"Doa adalah ibadah." Dan diriwayatkan dari beliau ﷺ dalam lafaz yang lain bahwa beliau bersabda,

«الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ».

"Doa itu adalah intisari ibadah." Adapun menikahi kaum musyrikin, Allah Ta'ala telah berfirman,

﴿وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ221﴾

Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. [QS. Al-Baqarah: 221]. Maka Allah -Subḥānahu- melarang kaum muslimin untuk menikahi wanita-wanita musyrik, dari kalangan penyembah berhala, jin, malaikat, dan selainnya, hingga mereka beriman dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, membenarkan Rasulullah terkait apa yang dibawanya, dan mengikuti jalannya. Dan Allah melarang menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita muslimah, hingga mereka beriman dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, membenarkan Rasulullah , dan mengikutinya.

Allah -Subḥānahu- juga mengabarkan bahwa seorang budak wanita yang beriman lebih baik daripada wanita merdeka yang musyrik, meskipun orang yang melihatnya dan mendengarkan perkataannya terkesan dengan kecantikannya dan kefasihan ucapannya; dan seorang hamba mukmin lebih baik daripada orang merdeka yang musyrik, meskipun pendengarnya dan yang melihatnya terkesan dengan ketampanannya, kefasihannya, keberaniannya, dan lainnya. Kemudian Allah -Subḥānahu- menjelaskan sebab-sebab dari perbedaan keutamaan ini dengan firman-Nya,

﴿...أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ...﴾

Mereka mengajak ke neraka [QS. Al-Baqarah: 221]. Maksudnya adalah: orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; karena mereka adalah para pengajak ke neraka dengan ucapan, perbuatan, perilaku, dan akhlak mereka. Adapun orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, mereka adalah para pengajak ke surga dengan akhlak, perbuatan, dan perilaku mereka. Maka bagaimana mungkin mereka ini bisa disamakan dengan orang-orang yang seperti itu!

Adapun menyalati orang musyrik, Allah Jalla Wa 'Alā telah berfirman tentang kaum munafikin,

﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ84﴾

Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [QS. At-Taubah: 84]. Allah Jalla wa 'Alā menjelaskan dalam ayat ini bahwa orang munafik dan kafir tidak boleh disalati karena kekufuran mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula, tidak boleh salat di belakang mereka, dan mereka tidak dijadikan imam bagi kaum Muslimin; karena kekafiran dan ketidakjujuran mereka, serta permusuhan besar yang ada antara mereka dan kaum Muslimin. Mereka bukanlah orang yang layak untuk melaksanakan salat dan ibadah, karena kekufuran dan kesyirikan menghapus segala amal. Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hal tersebut. Sedangkan memakan sembelihan orang musyrik, Allah ﷻ berfirman -menjelaskan tentang keharaman bangkai dan sembelihan mereka-,

﴿وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ121﴾

Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik. [QS. Al-An'ām: 121]. Maka Allah melarang kaum Muslimin dari memakan bangkai dan sembelihan orang musyrik, karena ia dianggap najis. Sembelihannya dihukumi sebagai bangkai, meskipun ia menyebut nama Allah saat menyembelihnya. Sebab penyebutan nama Allah dari orang musyrik itu batal dan tidak memiliki pengaruh apa pun, karena tasmiyah (penyebutan nama Allah) adalah bagian dari ibadah. Sedangkan kesyirikan membatalkan dan menghapus ibadah, hingga orang musyrik itu benar-benar bertobat kepada Allah -Subḥānahū-. Hanya saja, Allah ﷻ menghalalkan makanan Ahli Kitab dalam firman-Nya -Subḥānahu-,

﴿...وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ...﴾

...Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka... [QS. Al-Mā`idah: 5]. Karena mereka mengaku mengikuti agama samawi dan mengklaim sebagai pengikut Musa dan Isa, meskipun dalam hal ini mereka berdusta. Allah telah menghapus dan membatalkan agama mereka dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ kepada seluruh umat manusia. Namun, Allah -Jalla wa 'Alā- menghalalkan bagi kita makanan dan wanita Ahli Kitab karena hikmah yang mendalam dan rahasia yang terjaga, yang telah dijelaskan oleh para ulama. Berbeda dengan orang-orang musyrik penyembah berhala dan penyembah orang yang sudah meninggal, baik yang meninggal itu adalah para nabi, wali, maupun lainnya, karena agama mereka tidak memiliki dasar. Hal ini tidak ada keraguan di dalamnya, bahkan agama mereka batal dari akarnya, sehingga sembelihan mereka dianggap bangkai dan tidak halal untuk dimakan.

Adapun ucapan seseorang kepada orang yang diajaknya bicara: 'Jin telah menimpamu', 'Jin telah membawamu', 'Setan telah membawamu terbang', dan semacamnya, ini termasuk dalam kategori celaan dan makian, dan hal itu tidak diperbolehkan di antara sesama muslim, sebagaimana jenis-jenis celaan dan makian lainnya. Hal ini bukan termasuk syirik, kecuali jika orang yang mengucapkannya meyakini bahwa jin dapat mempengaruhi manusia tanpa izin dan kehendak Allah. Barang siapa yang meyakini hal tersebut pada jin atau makhluk lainnya, maka ia kafir dengan keyakinan ini; karena Allah -Subḥānahu- adalah pemilik segala sesuatu, dan berkuasa atas segala sesuatu, Dia yang memberi manfaat dan mudarat, dan tidak ada sesuatu pun kecuali dengan izin, kehendak, dan takdir-Nya yang telah ditetapkan sebelumnya, sebagaimana Dia ﷻ memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memberitahukan kepada manusia tentang pokok ajaran yang agung ini:

﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ188﴾

Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Al-A'rāf: 188] Jika Rasulullah, yang merupakan junjungan seluruh makhluk dan yang paling utama di antara mereka -'alaihiṣ ṣalātu wassalām- tidak memiliki kuasa atas manfaat dan mudarat untuk dirinya kecuali dengan kehendak Allah, maka bagaimana dengan makhluk lainnya?! Ayat-ayat yang menjelaskan makna ini sangat banyak.

Adapun bertanya kepada para peramal, pesulap, ahli nujum, dan yang semisal mereka, yang mengaku mengetahui perkara gaib, maka itu adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dan tidak boleh dilakukan. Membenarkan mereka lebih buruk dan lebih mungkar, bahkan termasuk cabang kekufuran; berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَومًا».

"Siapa yang mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari." [HR. Muslim dalam Sahih-nya] Dalam Sahih-nya juga, dari Mu'āwiyah bin Al Ḥakam as-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu-,

«أَنَّ النَّبيَّ ﷺ نَهَى عَنْ إِتْيَانِ الكُهَّانِ وَسُؤَالِهِم».

"Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang mendatangi dukun dan bertanya kepada mereka."

Diriwayatkan oleh pengarang kitab-kitab Sunan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,

«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ؛ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».

"Siapa yang mendatangi seorang dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini. Maka Muslimin wajib berhati-hati agar tidak bertanya kepada dukun dan peramal, serta semua tukang sihir yang terlibat dalam pemberitaan hal-hal gaib dan menipu kaum Muslimin, baik dengan dalih pengobatan atau lainnya, karena Nabi ﷺ telah melarang dan memperingatkan kita terkait hal itu. Termasuk dalam hal ini adalah apa yang diklaim oleh sebagian orang atas nama pengobatan dalam perkara-perkara gaib. Misalnya, seseorang mencium sorban pasien laki-laki atau kerudung pasien perempuan, lalu mengatakan, "Orang ini telah melakukan ini dan itu," terkait perkara-perkara gaib yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sorban atau kerudung tersebut. Tujuan dari perbuatan ini hanyalah untuk menipu masyarakat awam agar mereka menganggapnya sebagai seorang yang ahli dalam pengobatan serta mengetahui berbagai jenis penyakit dan penyebabnya. Terkadang, ia bahkan memberikan mereka sesuatu berupa obat-obatan. Jika kebetulan pasien sembuh dengan takdir Allah, mereka pun mengira bahwa kesembuhan itu disebabkan oleh obat yang diberikan olehnya. Mungkin penyakit itu disebabkan oleh gangguan sebagian jin dan setan yang melayani orang yang mengaku sebagai tabib tersebut, dan mereka (jin atau setan) memberitahunya tentang beberapa hal gaib yang mereka ketahui, sehingga ia bergantung pada informasi tersebut. (Sebagai imbalannya) ia memuaskan jin dan setan dengan ibadah yang mereka sukai, sehingga mereka mau menjauh dari pasien tersebut, dan meninggalkan gangguan yang telah mereka lakukan padanya. Hal ini adalah sesuatu yang terkenal dalam dunia jin, setan serta orang-orang yang memanfaatkan mereka.

Kaum Muslimin juga wajib untuk berhati-hati terhadap hal tersebut, saling menasihati agar meninggalkannya, bersandar kepada Allah Yang Mahasuci, dan bertawakal kepada-Nya dalam segala urusan. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah yang sesuai syariat dan obat-obatan yang dibolehkan, serta berobat dengan dokter yang menggunakan pemeriksaan langsung terhadap orang yang sakit dan memastikan penyakitnya dengan cara-cara yang nyata dan logis. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ secara sahih bahwa beliau bersabda,

«مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ».

"Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia telah menurunkan pula obatnya, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang jahil akan hal itu." Nabi ﷺ bersabda,

«لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فإِذَا أُصِيبَ دَوَاءٌ الدَّاءَ بََرَأَ بِإِذْنِ اللهِ».

"Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat untuk penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah." Nabi ﷺ bersabda,

«عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوا وَلَا تَدَاوَوا بِحَرَامٍ».

"Wahai hamba Allah, berobatlah dan janganlah berobat dengan sesuatu yang haram." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.

Kita memohon kepada Allah ﷻ agar memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin, menyembuhkan hati dan tubuh mereka dari segala keburukan, serta menyatukan mereka di atas petunjuk-Nya. Semoga Allah melindungi kita dan mereka dari fitnah yang menyesatkan serta dari ketaatan kepada setan dan para pengikutnya. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.

Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.

 

 

***

 


بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

RISALAH KE-4

HUKUM BERIBADAH DENGAN WIRID BID'AH DAN MENGANDUNG KESYIRIKAN

Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz kepada saudara yang terhormat (.........), semoga Allah memberinya taufik untuk melakukan segala kebaikan, Āmīn.

Assalāmu'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.

Amabakdu: Telah sampai kepada saya surat Anda yang mulia, -semoga Allah membimbing Anda dengan petunjuk-Nya-, dan disebutkan di dalamnya bahwa di negeri Anda terdapat orang-orang yang berpegang pada wirid-wirid yang tidak diturunkan Allah sebagai hujjah, di antaranya ada yang bersifat bid'ah, dan ada pula yang mengandung kesyirikan, dan mereka menisbahkan hal tersebut kepada Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib -raḍiyallāhu ‘anhu- dan lainnya. Mereka membaca zikir-zikir tersebut dalam majelis-majelis zikir, atau di masjid-masjid setelah salat Magrib, dengan anggapan bahwa itu adalah bentuk pendekatan kepada Allah, seperti ucapan merek, "Biḥaqqillāh, rijālallāh, a'īnūnā bi'aunillāh, wa kūnū 'aunanā billāh."

Artinya: "Demi hak Allah, wahai para wali Allah, tolonglah kami dengan pertolongan Allah, dan jadilah penolong kami dengan izin Allah." Dan juga seperti ucapan mereka: "Wahai para wali qutub, wahai para pemimpin, wahai orang-orang yang memiliki pertolongan, tolonglah kami, dan jadilah pemberi syafaat kepada Allah, ini adalah hamba kalian yang berdiri, dan duduk berdiam di pintu kalian, dan takut karena kekurangannya. Tolonglah kami wahai Rasulullah, aku tidak punya tempat lain untuk meminta selain kepada kalian, dan hanya dari kalianlah hajatku terpenuhi, dan kalian adalah keluarga Allah, demi Hamzah pemimpin para syuhada, dan siapa di antara kalian yang memberi pertolongan kepada kami, tolonglah kami wahai Rasulullah." Dan seperti ucapan mereka: "Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada sosok yang Engkau jadikan sebagai sebab terungkapnya rahasia-rahasia ketuhanan-Mu yang agung dan terbukanya cahaya kasih sayang-Mu, sehingga ia menjadi wakil dari hadirat ketuhanan-Mu dan khalifah untuk rahasia-rahasia zat-Mu."

Saya berharap Anda menjelaskan apa itu bid'ah dan syirik? Apakah sah hukum salat di belakang imam yang berdoa menggunakan doa tersebut? Semua itu sudah diketahui.

Jawabannya: Segala puji bagi Allah semata. Semoga selawat serta salam terlimpahkan kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya, juga kepada keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga Hari Pembalasan.

Amma ba'du: Ketahuilah - semoga Allah memberikan taufik kepada Anda - bahwa Allah Yang Mahasuci menciptakan seluruh makhluk dan mengutus para rasul - 'alaihimus salātu was salām - agar Dia semata yang disembah, tanpa sekutu, dan agar ibadah tidak ditujukan kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56]

Ibadah, sebagaimana telah dijelaskan, yaitu taat kepada Allah Yang Mahasuci dan taat kepada Rasulullah Muhammad ﷺ dengan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, berdasarkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, keikhlasan kepada Allah dalam beramal disertai dengan kecintaan yang sempurna kepada Allah dan ketundukan yang penuh hanya kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan siapa pun. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ...﴾

Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia... [QS. Al-Isrā`: 23] Maksudnya: Dia memerintahkan dan mewasiatkan agar hanya Dia semata yang disembah. Allah Ta'ala berfirman,

﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ2 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ3 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ4 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ5﴾

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang3

Pemilik hari pembalasan.

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. [QS. Al-Fātiḥah: 2-5] Melalui ayat-ayat ini, Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menerangkan bahwa hanya Dia yang berhak untuk disembah dan hanya kepada-Nya tempat meminta pertolongan. Allah ﷻ juga berfirman,

﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُ...﴾

Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.

"Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)... [QS. Az-Zumar: 2-3] Allah Ta'ala berfirman,

﴿فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ14﴾

Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). [QS. Gāfir: 14] Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا18﴾

Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. [QS. Al-Jinn: 18]. Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak, dan semuanya menunjukkan kewajiban mengesakan Allah dalam beribadah.

Dan sudah diketahui bahwa doa, dengan segala jenisnya, merupakan ibadah. Oleh karena itu, siapa pun tidak boleh berdoa kecuali hanya kepada Rabb-nya, serta tidak boleh meminta pertolongan atau memohon perlindungan kecuali kepada-Nya semata sebagai wujud mengamalkan ayat-ayat yang mulia ini serta yang semakna dengannya. Adapun dalam perkara-perkara yang bersifat biasa dan dalam sebab-sebab yang bersifat fisik yang masih dalam kemampuan makhluk yang hidup dan hadir, maka hal tersebut tidak termasuk ibadah. Bahkan, berdasarkan nas (dalil) dan ijmak, seseorang boleh meminta bantuan kepada sesama manusia yang masih hidup dan mampu, dalam perkara-perkara biasa yang bisa dikerjakan; seperti meminta bantuannya atau pertolongannya untuk menolak keburukan dari anaknya, pelayannya, anjingnya, dan yang semisalnya. Atau seperti seseorang yang meminta bantuan kepada manusia lain yang masih hidup, hadir, dan mampu, atau yang tidak hadir tetapi dapat dihubungi melalui sebab-sebab yang bersifat nyata seperti surat-menyurat dan sejenisnya, untuk membangun rumahnya, memperbaiki mobilnya, atau lainnya yang semisal. Demikian juga seseorang meminta tolong kepada rekan-rekannya dalam jihad dan perang, dan lainnya. Termasuk dalam hal ini firman Allah Ta'ala tentang kisah Nabi Musa -'alaihiṣṣalātu wassalamām-,

﴿...فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ...﴾

...Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya... [QS. Al-Qaṣaṣ: 15]

Adapun meminta pertolongan (istigasah) kepada orang-orang yang telah meninggal, jin, malaikat, pepohonan, atau bebatuan, maka itu termasuk syirik akbar (syirik besar). Perbuatan ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin terdahulu terhadap sesembahan mereka, seperti Al-‘Uzzā, Al-Lāt, dan selainnya. Demikian pula, istigasah dan meminta pertolongan kepada orang-orang yang dianggap wali dari kalangan orang yang masih hidup dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, seperti menyembuhkan penyakit, memberi hidayah kepada hati, memasukkan seseorang ke dalam surga, menyelamatkannya dari neraka, dan hal-hal serupa lainnya.

Ayat-ayat sebelumnya, serta ayat-ayat dan hadis-hadis yang memiliki makna serupa, semuanya menunjukkan wajibnya mengarahkan hati hanya kepada Allah dalam segala urusan dan mengikhlaskan ibadah semata-mata untuk-Nya. Sebab, manusia diciptakan untuk itu dan diperintahkan melaksanakannya—sebagaimana telah disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya—serta dalam firman Allah Subḥānahū,

﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا...﴾

Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun... [QS. An-Nisā`: 36] 3. Firman Allah -Subḥānahu-,

﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...﴾

Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya... [QS. Al-Bayyinah: 5] Dan sabda Nabi ﷺ dalam hadis Mu'az -raḍiyallāhu 'anhu-,

«حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا».

"Hak Allah atas hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (Muttafaq 'alā siḥḥatih) Dan sabda Nabi ﷺ dalam hadis Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-,ﷺ

«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا؛ دَخَلَ النَّارَ».

"Siapa yang meninggal dunia sedangkan dia berdoa kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, maka dia akan masuk neraka." [HR. Bukhari]. Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus Mu'az ke Yaman, beliau bersabda kepadanya,

«إِنَّكَ تَأْتِي قَومًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُم إِلَيهِ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ».

"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaknya pertama kali yang engkau dakwahkan adalah agar bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah." Dalam redaksi lain:

«اُدْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ».

"Ajak mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah." Dalam riwayat Bukhari yang lain:

«فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُم إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ».

"Hendaklah perkara pertama yang engkau dakwahkan pada mereka adalah agar mereka menauhidkan Allah." Dalam Sahih Muslim, Ṭāriq bin Usyaim Al-Asyja'iy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,

«مَنْ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِن دُونِ اللهِ؛ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ جَلَّ جَلَالُهُ».

"Siapa yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dan mengingkari semua yang disembah selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga, sedangkan perhitungan amalnya terserah kepada Allah ﷻ." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.

Tauhid ini adalah pokok agama Islam, dasar keyakinan, inti dari seluruh perkara, dan kewajiban yang paling utama. Tauhid juga merupakan hikmah di balik penciptaan jin dan manusia serta pengutusan seluruh rasul -'alaihimussalām- sebagaimana telah disebutkan dalam ayat-ayat yang menunjukkan hal itu. Di antaranya adalah firman Allah -Subḥānahū-,

﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56] Di antara dalilnya juga adalah firman Allah ﷻ,

﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ...﴾

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Juga firman Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā-,

﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ25﴾

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku. [QS. Al-Anbiyā`: 25] Allah ﷻ juga berfirman tentang Nabi Nuh, Hud, Salih dan Syu'aib -'alaihimussalām- bahwa mereka telah menyampaikan kepada kaumnya:

﴿...اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ...﴾

Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia. [QS. Al-A'rāf: 59] Ini adalah dakwah semua rasul, sebagaimana telah ditunjukkan oleh dua ayat di atas. Bahkan, musuh-musuh para rasul pun mengakui bahwa rasul-rasul tersebut mengajak mereka untuk mengesahkan Allah dalam ibadah dan meninggalkan tuhan-tuhan yang disembah selain Allah. Sebagaimana firman Allah ﷻ tentang kisah 'Ād, yaitu ketika mereka berkata kepada Hud -'alaihissalām-,

﴿...أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا...﴾

...Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami... [QS. Al-A'rāf: 70] Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi juga berfirman tentang ucapan kaum Quraisy tatkala didakwahi oleh Nabi kita, Muhammad ﷺ untuk mengesahkan Allah dalam ibadah serta meninggalkan semua yang mereka sembah selainnya, seperti para malaikat, wali, patung, pohon dan lain sebagainya:

﴿أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ5﴾

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. [QS. Ṣād: 5] Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga berfirman,

﴿إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ35 وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ36﴾

Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, "Lā ilāha illallāh" (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri,

Dan mereka berkata, "Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?"36 [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 35-36] Ayat-ayat yang menunjukkan makna ini sangat banyak.

Dari ayat-ayat serta hadis-hadis yang telah kami sebutkan, menjadi jelas bagimu -semoga Allah membimbingku dan membimbingmu kepada pemahaman dalam agama dan pengetahuan tentang hak Rabb alam semesta- bahwa doa-doa dan berbagai macam istigasah ini -sebagaimana yang engkau terangkan dalam pertanyaan-, seluruhnya merupakan bentuk syirik besar karena merupakan peribadatan kepada selain Allah dan permintaan akan perkara-perkara yang hanya mampu dilakukan-Nya, yang ditujukan kepada orang-orang yang telah meninggal atau makhluk yang tidak hadir. Ini lebih buruk dari syirik orang-orang terdahulu karena mereka melakukan kesyirikan hanya di saat lapang; sedangkan dalam keadaan susah, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah; karena mereka mengetahui bahwa Allah -Subḥānahū- adalah satu-satunya yang mampu menyelamatkan mereka dari kesulitan, bukan selain-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang jelas tentang orang-orang musyrik itu,

﴿فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ65﴾

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) menyekutukan (Allah), [QS. Al-'Ankabūt: 65] Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga berfirman kepada mereka dalam ayat lain,

﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا67﴾

Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). [QS. Al-Isrā`: 67]

Jika ada seseorang dari kalangan musyrikin zaman sekarang berkata, "Kami tidak bermaksud bahwa mereka (para wali, orang-orang saleh, atau makhluk lain) dapat memberi manfaat atau menyembuhkan penyakit kami dengan sendirinya, atau bahwa mereka dapat memberi manfaat dan mendatangkan bahaya dengan sendirinya; akan tetapi, kami hanya bermaksud menjadikan mendapatkan syafaat mereka (sebagai perantara) kepada Allah Ta'ala dalam hal itu."

Maka jawabannya adalah dengan mengatakan: Perkataan ini sama persis dengan tujuan dan maksud kaum kafir terdahulu. Mereka juga tidak meyakini bahwa sesembahan mereka mampu menciptakan, memberi rezeki, atau mendatangkan manfaat dan mudarat dengan sendirinya. Hal ini terbantahkan dengan apa yang telah Allah sebutkan dalam Al-Qur`an tentang mereka bahwa tujuan mereka adalah mencari syafaat, kedudukan, dan kedekatan kepada Allah dengan sedekat-dekatnya melalui perantara tersebut. Sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-,

﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ...﴾

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah... [QS. Yūnus: 18] Maka Allah Ta'ala menanggapi mereka dengan firman-Nya,

﴿...قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ﴾

Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Yūnus: 18] Allah menerangkan bahwa Dia tidak mengetahui bahwa di langit maupun di bumi ada seorang pemberi syafaat di sisi-Nya seperti yang dimaksudkan oleh kaum musyrikin. Semua yang tidak diketahui keberadaannya oleh Allah, maka pasti tidak memiliki wujud karena tidak ada sesuatu pun yang samar bagi Allah. Allah Ta'ala berfirman,

﴿تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ 1 إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾

Kitab (Al-Qur`an) ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Mahabijaksana.

Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 1-3]

Yang dimaksud dengan agama di sini adalah ibadah, yaitu ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, sebagaimana telah disebutkan. Ibadah ini mencakup: doa, istigasah, takut dan harap, sembelihan dan nazar. Selain itu, ibadah juga mencakup salat, puasa, serta segala bentuk perintah yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Maka Allah -Subḥānahū- telah menjelaskan bahwa ibadah itu hanya untuk-Nya semata, dan bahwa wajib bagi seluruh hamba untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya . Sebab, perintah Allah kepada Nabi untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, berlaku juga bagi seluruh umat ini.

Kemudian setelah itu Allah -Azza Wa Jalla- menerangkan tentang orang kafir, seraya berfirman,

﴿...وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ...

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” [QS. Az-Zumar: 3] Maka Allah membantah mereka dengan firman-Nya Subḥānahū,

﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ﴾

Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 3] Maka Allah Yang Mahasuci memberitakan dalam ayat-Nya yang mulia ini bahwa orang-orang kafir tidaklah menyembah para wali selain-Nya melainkan dengan tujuan agar para wali itu mendekatkan mereka kepada Allah sedekat-dekatnya. Dan inilah tujuan kaum kafir, baik di masa lalu maupun masa kini. Namun, Allah Ta'ala telah membatalkan keyakinan mereka dengan firman-Nya,

﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ﴾

Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 3] Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menerangkan kebohongan mereka tentang klaim bahwa tuhan-tuhan mereka akan mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan Allah juga menyatakan mereka kafir disebabkan mereka memalingkan ibadah kepadanya. Dengan demikian, setiap orang yang memiliki sedikit saja pemahaman dapat mengetahui bahwa sebab kafirnya orang-orang musyrik terdahulu adalah karena menjadikan para nabi, wali, pohon, batu dan lain sebagainya sebagai pemberi syafaat antara mereka dengan Allah. Demikian juga keyakinan mereka bahwa sembahan-sembahan itu dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa seizin dan keridaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- sebagaimana para menteri memberi syafaat (rekomendasi) di sisi para raja. Mereka menganalogikan Allah ﷻ dengan para raja dan pimpinan. Mereka mengatakan: Sebagaimana seseorang yang memiliki kepentingan dengan raja dan pemimpin akan berperantara kepadanya melalui orang-orang dekat dan para menterinya, demikian pula kami mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah kepada para nabi dan wali-Nya.

Ini adalah kebatilan yang paling batil, karena Allah ﷻ tidak memiliki tandingan dan tidak dapat dianalogikan dengan makhluk-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya dan Allah tidak akan memberikan izin itu kecuali kepada orang yang bertauhid. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu, dan Dialah yang paling penyayang di antara para penyayang. Dia tidak takut kepada siapa pun karena Dia Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya dan berbuat pada mereka sesuai kehendak-Nya. Berbeda dengan para raja dan pemimpin, mereka tidak menguasai segala sesuatu. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk hal-hal yang terkadang tidak mampu mereka lakukan sendiri, seperti bantuan para menteri, orang dekat, dan pasukannya. Selain itu, mereka juga butuh informasi tentang kebutuhan orang-orang yang tidak mereka ketahui secara langsung, sehingga mereka membutuhkan para menteri dan orang-orang dekatnya untuk mengambil hati dan keridaan mereka. . Oleh karena itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menerangkan dalam Kitab-Nya bahwa kaum musyrikin mengakui bahwa Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur; juga bahwa Dialah yang mengabulkan doa orang yang sedang mengalami kesulitan, mengangkat keburukan, menghidupkan dan mematikan, dan melakukan perbuatan lainnya yang merupakan kekhususan Allah Ta'ala. Perselisihan antara kaum musyrikin dan para rasul terletak pada masalah pemurnian ibadah kepada Allah semata. Allah ﷻ berfirman,

﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ...﴾

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah... (QS. Az-Zukhruf: 87). Allah Ta'ala berfirman,

﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ31﴾

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yūnus: 31). Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.

Telah disebutkan sebelumnya ayat-ayat yang menunjukkan bahwa perselisihan antara para rasul dan kaumnya adalah pada masalah pemurnian ibadah kepada Allah semata, seperti firman Allah Ta'ala,

﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Juga masih banyak ayat lainnya yang semakna. Allah ﷻ telah menerangkan di dalam banyak tempat dalam Kitab-Nya yang mulia tentang syafaat. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِ...﴾

…Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya… (QS. Al-Baqarah: 255) Allah -'Azza Wa Jalla- juga berfirman,

﴿وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ26﴾

Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai. (QS. An-Najm: 26).

Allah berfirman dalam menjelaskan sifat para malaikat,

﴿...وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ﴾

dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. Al-Anbiyā`: 28).

Allah ﷻ mengabarkan bahwa Dia tidak meridai kekufuran pada hamba-hamba-Nya, melainkan meridai pada mereka perbuatan syukur. Syukur sendiri adalah bentuk menauhidkan-Nya dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمۡۖ وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡ...﴾

Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhai syukurmu itu... (QS. Az-Zumar: 7).

Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Ṣaḥīḥ-nya: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu?" Beliau ﷺ bersabda,

«مَنْ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ».

"Orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari dalam hatinya." Atau beliau bersabda,

«مِنْ نَفْسِهِ».

"... ikhlas dari dirinya sendiri."

Dalam hadis sahih, Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,

«لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا».

"Setiap nabi mempunyai doa yang dikabulkan, setiap dari mereka menyegerakan doanya, namun aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari Kiamat. Syafaatku akan diperoleh dengan kehendak Allah oleh orang yang meninggal dari umatku yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.

Semua ayat dan hadis yang kita sebutkan menunjukkan bahwa ibadah itu hak Allah sendiri, tidak boleh sedikit pun dipalingkan kepada selain Allah, baik para nabi maupun lainnya. Juga menunjukkan bahwa syafaat itu milik Allah ﷻ, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

﴿قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗا...﴾

Katakanlah, “Syafaat (pertolongan) itu hanya milik Allah semuanya... (QS. Az-Zumar: 44) Tidak ada yang berhak mendapatkannya kecuali setelah ada izin Allah kepada orang yang memberi syafaat serta rida-Nya kepada yang diberikan syafaat, sementara Allah tidak akan rida kecuali kepada tauhid, sebagaimana telah disebutkan. Oleh karena itu, orang-orang yang musyrik tidak akan mendapatkan bagian dalam syafaat. Allah telah menjelaskan hal itu dalam firman-Nya,

﴿فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ 48﴾

Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat. (QS. Al-Muddaṣṣir: 48). Allah Ta'ala berfirman,

﴿...مَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ حَمِيمٖ وَلَا شَفِيعٖ يُطَاعُ﴾

Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang zalim dan tidak ada baginya seorang pemberi syafaat yang diterima (syafaatnya). (QS. Gāfir: 18).

Sudah menjadi hal lumrah bahwa saat kata kezaliman disebutkan secara mutlak maka maksudnya adalah kesyirikan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

﴿...وَٱلۡكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ﴾

Orang-orang kafir itulah orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 254). Allah Ta'ala berfirman,

﴿...إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ﴾

sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. [QS. Luqmān: 13].

Adapun yang Anda sebutkan dalam pertanyaan tentang perkataan sebagian kaum sufi di dalam masjid dan tempat lainnya: Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada sosok yang Engkau jadikan sebagai sebab terungkapnya rahasia-rahasia ketuhanan-Mu yang agung dan terbukanya cahaya kasih sayang-Mu, sehingga ia menjadi wakil dari hadirat ketuhanan-Mu dan khalifah untuk rahasia-rahasia zat-Mu ... dan seterusnya;

maka jawabannya adalah:

Perkataan ini dan perkataan lain yang semisal masuk dalam kategori memaksakan diri yang telah diperingatkan oleh Nabi kita Muhammad ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya dari Abdullah bin Mas'ūd, Rasulullah ﷺ bersabda,

«هَلَكَ المُتَنَطِّعُونَ» قَالَهَا ثَلَاثًا.

"Binasalah orang-orang yang memaksakan dirinya." Beliau mengucapkannya tiga kali.

Imam al-Khaṭṭābiy -raḥimahullāh- berkata, "Mutanaṭṭi' artinya: memaksakan diri pada sesuatu dan berlebihan dalam menggalinya, sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli kalam pada sesuatu yang tidak penting bagi mereka dan orang-orang yang menyelam pada sesuatu di luar kemampuan akal mereka."

Abu as-Sa‘ādāt Ibnu al-Aṡīr menyatakan, "Mereka adalah orang-orang yang memaksakan diri dan melampaui batas dalam berbicara, berbicara dengan suara dari tenggorokan mereka yang paling dalam. Diambil dari kata an-niṭa', yaitu rongga atas mulut. Selanjutnya kata ini digunakan untuk segala tindakan memaksakan, baik berupa ucapan maupun perbuatan."

Berdasarkan keterangan dua pakar bahasa ini, terungkap jelas bagi Anda dan setiap orang yang memiliki sedikit saja pengetahuan bahwa tata cara selawat dan salam kepada Nabi dan junjungan kita Rasulullah ﷺ ini termasuk perbuatan memaksakan diri serta berlebih-lebihan yang dilarang. Yang diperintahkan kepada seorang muslim dalam hal ini ialah berusaha mengikuti cara selawat dan salam yang datang dari Rasulullah ﷺ, karena selawat dan salam yang datang dari beliau itu lebih baik dari yang lain.

Di antaranya adalah cara yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam aṣ-Ṣaḥīḥain dari Ka'ab bin 'Ujrah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan selawat kepadamu, lalu bagimana kami berselawat kepadamu?" Beliau bersabda,

«قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».

"Ucapkan, 'Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā ibrāhīm, wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Wa bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā ibrāhīm, wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd'."

Artinya: "Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Zat yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Curahkanlah pula keberkahan kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."

Juga dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, Abu Ḥumaid as-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Bagaimana cara kami mengucapkan selawat kepadamu?" Beliau bersabda,

«قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».

"Ucapkan, 'Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā azwājihi wa żurriyyatihi, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm. Wa bārik 'alā muḥammad, wa 'alā azwājihi wa żurriyyatihi, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd'."

Artinya: "Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad beserta istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada keluarga Ibrahim. Curahkanlah keberkahan kepada Muhammad beserta istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."

Dalam Sahih Muslim disebutkan bahwa Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Basyīr bin Sa'ad bertanya, "Wahai Rasulullah! Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan selawat kepadamu, lantas bagaimana kami berselawat?" Beliau diam, kemudian bersabda,

«قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ؛ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ؛ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَالسَّلَامُ كَمَا عَلِمتُم».

"Ucapkanlah: 'Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm, wa bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm fil-'ālamīn, innaka ḥamīdun majīd'.

(Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada keluarga Ibrahim. Curahkanlah pula keberkahan kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.) Sedangkan ucapan salam adalah seperti yang telah kalian ketahui."

Semua redaksi ini, serta yang semisalnya atau lainnya yang datang dari Nabi ﷺ, adalah yang patut digunakan oleh seorang muslim dalam mengucapkan selawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ, karena Rasulullah ﷺ adalah yang paling mengetahui lafaz yang tepat untuk digunakan dalam berselawat kepadanya, sebagaimana beliau juga yang paling mengetahui lafaz yang seharusnya digunakan untuk Tuhannya.

Adapun kata-kata yang dipaksakan dan dibuat-buat, serta kata-kata yang berpotensi memiliki makna yang tidak benar, seperti kata-kata yang disebutkan dalam pertanyaan, maka tidak seharusnya digunakan; karena mengandung unsur pemaksaan, dan dapat ditafsirkan dengan makna yang batil, serta bertentangan dengan kata-kata yang dipilih oleh Rasulullah ﷺ dan yang beliau ajarkan kepada umatnya, padahal beliau adalah sosok yang paling mengetahui, paling tulus, dan paling jauh dari pemaksaan. Semoga selawat dan salam terbaik dari Tuhannya selalu tercurahkan kepada beliau.

Saya berharap bahwa dalil-dalil yang telah kami sebutkan dalam penjelasan tentang hakikat tauhid, hakikat syirik, perbedaan antara keadaan kaum musyrikin terdahulu dan kaum musyrikin belakangan dalam hal ini, juga dalam penjelasan tentang cara yang disyariatkan dalam berselawat kepada Rasulullah ﷺ, sudah cukup dan memuaskan bagi siapa saja yang mencari kebenaran. Adapun orang yang tidak memiliki keinginan untuk mengetahui kebenaran, maka ia adalah pengikut hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman,

﴿فَإِن لَّمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَكَ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهۡوَآءَهُمۡۚ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيۡرِ هُدٗى مِّنَ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ50﴾

Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qaṣaṣ: 50).

Dalam ayat yang mulia ini, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan dalam merespon petunjuk dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ:

Pertama: Golongan yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.

Kedua: Golongan yang mengikuti hawa nafsunya.

Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan bahwa tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.

Kita memohon kepada Allah ﷻ agar diselamatkan dari mengikuti hawa nafsu, menjadikan kita semua termasuk golongan yang menyambut panggilan Allah dan Rasulullah ﷺ, mengagungkan syariat-Nya, dan mewaspadai semua yang menyelisihi syariat-Nya berupa bidah dan hawa nafsu, karena Dia Maha Dermawan lagi Maha Baik.

Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya di atas kebaikan hingga hari Kiamat.

 

***