PHPWord

 

 

 

العَقِيدَةُ الصَّحِيْحَةُ وَمَا يُضَادُّهَا

 

 

AKIDAH YANG BENAR VERSUS AKIDAH BATIL

 

 

 

لِسَمَاحَةِ الشَّيْخِ العَلَّامَةِ

عَبْدِ العَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَازٍ

رَحِمَهُ اللهُ

 

Penulis Penyusun:

Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz

 


بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ

RISALAH KE-1

AKIDAH YANG BENAR DAN LAWANNYA

Penulis Penyusun:

Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz

Segala puji hanya milik Allah saja. Semoga selawat serta salam tercurahkan kepada Nabi terakhir, tidak ada lagi Nabi setelahnya, kepada keluarganya, dan para sahabatnya.

Amabakdu: Manakala akidah yang sahih merupakan pokok dan landasan agama Islam, saya memandang sangat penting untuk membahas, menulis, dan menyusun permasalahan ini dalam rangka menguraikan dan menjelaskannya.

Berdasarkan dalil-dalil syariat dari Al-Qur`an dan Sunnah dapat diketahui bahwa semua perbuatan dan perkataan akan sah dan diterima bila lahir dari akidah yang sahih. Sedangkan jika akidahnya tidak benar, maka semua perbuatan dan perkataan yang merupakan turunannya menjadi batal. Sebagaimana firman-Nya Ta'ala,

﴿...وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُۥ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ﴾

"Siapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." [QS. Al-Mā`idah: 5].

Allah -Ta'ālā- juga berfirman,

﴿وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 65﴾

Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. [QS. Az-Zumar: 65]

Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang terpercaya -semoga selawat dan salam terbaik tercurahkan kepada beliau- menunjukkan bahwa akidah yang sahih diringkas dalam enam hal, yaitu:

1. Iman kepada Allah

2. Iman kepada malaikat-Nya

3. Iman kepada kitab-kitab-Nya

4. Iman kepada rasul-rasul-Nya

5. Iman kepada hari Kiamat

6. Iman kepada takdir, baik maupun buruknya. Keenam hal ini adalah pokok-pokok akidah yang sahih, yang diturunkan dalam Kitab Allah yang mulia dan dibawa oleh Rasul-Nya, Muhammad .

Banyak sekali dalil yang menunjukkan keenam rukun (pokok) akidah ini dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang sahih, di antaranya sebagai contoh:

Pertama: Dalil-dalil dari Al-Qur`an

Di antaranya:

1. Firman Allah -Azza wa Jalla-,

﴿لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ...﴾

Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi... [QS. Al-Baqarah: 177]

2. Firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ala-,

﴿ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِ...﴾

"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya..." [QS. Al-Baqarah: 285]

3. Firman Allah -Subḥānahu-,

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا136﴾

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." [QS. An-Nisā`: 136]

3. Firman Allah -Subḥānahu-,

﴿أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70﴾

"Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah." [QS. Al-Ḥajj: 70].

Kedua: Dalil-dalil dari As-Sunnah Di antaranya adalah hadis sahih yang masyhur, yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya dari Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Jibril -'alihissalām- bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai keimanan. Lalu beliau menjawabnya,

«الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَاليَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ».

"Iman adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Kiamat, dan beriman kepada takdir baik serta buruk."1 . Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim -dengan sedikit perbedaan redaksi- melalui jalur Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-.

Lahir dari keenam pokok ini segala perkara yang wajib diyakini dan diimani oleh seorang muslim, yang berkaitan dengan Allah 'Azza wa Jalla, perihal hari Kiamat, dan perkara-perkara gaib lainnya yang dikabarkan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Berikut ini adalah penjelasan enam rukun tersebut:

Rukun Pertama: Iman kepada Allah Ta'ala

Rukun ini mencakup beberapa hal, di antaranya:

Rukun ini mencakup beberapa perkara, di antaranya: a. Beriman bahwa Dialah sembahan yang benar, satu-satunya yang berhak untuk disembah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sebab, Dialah yang menciptakan semua hamba, yang memberikan kebaikan kepada mereka, yang menjamin rezeki mereka, yang mengetahui rahasia mereka dan yang tampak, serta yang Maha Kuasa untuk memberikan pahala kepada orang yang taat dan siksa kepada yang durhaka.

Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya serta memerintahkan mereka untuk itu, sebagaimana firman-Nya,

﴿وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ 57 إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ 58﴾

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.

Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.

Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." [QS. Aż-Żāriyāt: 56-58].

Allah Ta'ala berfirman,

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 21 ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 22﴾

"Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.

(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dialah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 21-22].

Demikian pula, Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, guna menjelaskan kebenaran tersebut, menyeru kepadanya, serta memberi peringatan kepada yang menyelisihinya, berdasarkan firman-Nya -Subḥānahu wa Ta'ala-,

﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾

"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut....'" [QS. An-Naḥl: 36]

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25﴾

"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku." [QS. Al-Anbiyā`: 25]

Allah ﷻ juga berfirman,

﴿الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ1 أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ2﴾

"Alif Lām Rā. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti,

agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira dari-Nya untuk kalian." [QS. Hūd: 1-2]

Hakikat ibadah ini adalah mengesakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ala- dalam seluruh bentuk peribadatan yang dilakukan oleh hamba, seperti doa, rasa takut dan harap, salat, puasa, penyembelihan, nazar, dan berbagai jenis ibadah lainnya. Ibadah ini harus disertai dengan ketundukan kepada-Nya, mengharapkan pahala-Nya, serta takut terhadap siksa-Nya, yang dibarengi dengan cinta yang sempurna kepada-Nya dan rasa hina di hadapan keagungan-Nya.

Siapa pun yang mentadaburi Al-Qur`an Al-Karim, akan mendapati bahwa kebanyakan ayat-ayatnya turun untuk menjelaskan rukun yang agung ini. Sebagai contoh, firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ala-,

﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ 2 أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾

"Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.

Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar." [QS. Az-Zumar: 2-3]

Juga firman Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā-,

﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ...﴾

"Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia..." [QS. Al-Isrā`: 23]

Juga firman Allah ﷻ,

﴿فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ14﴾

Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). [QS. Gāfir: 14]

Begitu pula orang yang mencermati Sunnah Nabawiyah, akan menemukan perhatian yang besar terhadap rukun yang yang besar ini. Di antaranya, hadis yang diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Mu'az -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi ﷺ bersabda,

«حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أَن يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا».

"Hak Allah terhadap hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."2

b. Termasuk mengimani Allah adalah mengimani lima rukun Islam yang zahir, yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya,

Yaitu:

1. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah

2. Mendirikan salat

3. Membayar zakat

4. Berpuasa di bulan Ramadan

5. Berhaji ke Baitulharam bagi yang mampu melakukan perjalanan ke sana.

Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya yang diperintahkan oleh syariat yang suci ini.

Rukun yang paling penting dan paling agung di antara rukun-rukun tersebut adalah persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, serta Muhammad adalah utusan Allah. Persaksian ini mengharuskan pemurnian ibadah kepada Allah semata serta menafikan ibadah kepada siapa pun selain-Nya. Inilah makna kalimat "lā ilāha illallāh". Para ulama -raḥimahumullāh- mengatakan bahwa makna lā ilāha illallāh adalah: tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Atas dasar itu, semua yang disembah selain Allah, berupa manusia, malaikat, jin, ataupun yang lainnya, adalah sembahan batil. Sebaliknya, sembahan yang benar hanyalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ala -,

﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ...﴾

Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang bathil... [QS. Al-Ḥajj: 62]

Telah dijelaskan lalu, bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menciptakan jin dan manusia untuk tujuan dasar ini (menyembah Allah), memerintahkan mereka untuk mengerjakannya, serta mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk hal tersebut. Maka seorang hamba harus benar-benar merenunginya dan banyak menadaburinya agar ia dapat melihat dengan jelas kebodohan besar yang menimpa kebanyakan kaum muslimin terhadap landasan ini, sehingga mereka menyembah Allah dan menyembah selain-Nya, mengalihkan hak istimewa-Nya kepada selain-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani bahwa Dialah Pencipta alam semesta, Pengatur urusan mereka, dan yang menetapkan ketentuan atas mereka dengan ilmu dan kekuasaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Demikian pula, meyakini bahwa Dialah Pemilik dunia dan akhirat, Rabb seluruh alam; tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada rabb selain Dia. Dialah yang telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab guna memperbaiki kondisi para hamba serta menyeru mereka kepada apa yang akan mendatangkan keselamatan dan kebaikan mereka di dunia dan akhirat. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu semuanya. Allah Ta'ala berfirman,

﴿ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ 62﴾

Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. [QS. Az-Zumar: 62]

Allah Ta'ala berfirman,

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۭ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ54﴾

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayan di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. [QS. Al-A'rāf: 54]

d. Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, yang terdapat di dalam Kitab-Nya yang agung dan hadis-hadis yang sahih dari Rasul-Nya yang terpercaya, tanpa diselewengkan maupun ditolak, dan tanpa diberikan kaifiatnya maupun disamakan dengan sifat makhluk.

﴿...لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ﴾

Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. [QS. Asy-Syūrā: 11]

Sifat-sifat itu wajib dipahami sebagaimana datangnya tanpa menyebutkan kaifiat. Dalam hal ini, kita wajib mengimani makna-makna agung yang ditunjukkannya, yang merupakan sifat bagi Allah -'Azza wa Jalla-. Kita juga wajib menyifati Allah Ta'ala dengan sifat-sifat tersebut menurut yang pantas dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk di dalam sifat-sifat-Nya sedikit pun. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, Allah ﷻ juga berfirman,

﴿فَلَا تَضۡرِبُواْ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡثَالَۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ74﴾

Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS. An Naḥl: 74]

Inilah akidah Ahlusunah waljamaah, yaitu akidah para sahabat Rasulullah serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Akidah inilah yang dinukil oleh Imam Abul-Hasan Al-Asy'ariy -raḥimahullāh- dari para ulama Ahlusunah di dalam kitabnya, Al-Maqālāt. Demikian pula, telah dinukil oleh ulama-ulama lainnya.

Al-Auzā'iy -raḥimahullāh- menuturkan, Zuhri dan Makḥūl pernah ditanya tentang ayat-ayat sifat, maka keduanya menjawab, "Pahamilah ayat-ayat itu sebagaimana ia datang."3

Dan Al-Auzā'iy -raḥimahullāh- juga mengatakan, "Dahulu ketika para tabiin masih banyak, kami mengatakan, 'Allah -Subḥānahu- di atas Arasy-Nya, dan kami mengimani sifat-sifat yang tercantum di dalam Sunah'."4

Al-Walīd bin Muslim -raḥimahullāh- berkata, "Malik, Al-Auzā'iy, Al-Laiṡ bin Sa'ad, dan Sufyan Aṡ-Ṡauriy -raḥimahumullāh- pernah ditanya tentang hadis-hadis yang mengandung penyebutan sifat-sifat Allah. Mereka semua mengatakan, 'Pahamilah sifat-sifat itu sebagaimana datangnya, tanpa kaifiat'."5

Tatkala Rabī'ah bin Abu Abdurrahman, guru Imam Malik -raḥmatullāh ‘alaihimā- ditanya tentang sifat istiwā` (keberadaan Allah tinggi di atas Arasy), dia menjawab, "Istiwā` itu maknanya tidak majhul, namun kaifiatnya tidak diketahui akal. Agama ini berasal dari Allah, kewajiban Rasul menyampaikan dengan penyampaian yang terang, sedangkan kita hanya berkewajiban mengimani."6 Dan tatkala Imam Malik -raḥimahullāh- ditanya tentang hal itu, ia berkata, "Makna istiwā` itu dapat dimengerti, namun kaifiatnya tidak diketahui. Mengimaninya hukumnya wajib, sedangkan menanyakan kaifiatnya adalah bidah." Kemudian beliau berkata kepada si penanya, "Aku tidak melihatmu melainkan seorang yang buruk!" Lantas beliau memerintahkan supaya ia dikeluarkan. Maka orang itu pun dikeluarkan."7 Perkataan yang semakna dengan ini juga telah diriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā-.8

Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubārak -raḥmatullāhi ‘alaih- berkata, "Kita mengetahui Rabb kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- berada di atas langit, di atas Arasy, terpisah dari makhluk-Nya."9

Ucapan para imam dalam masalah ini sangat banyak sekali, tidak memungkinkan bila dinukilkan di tempat ini. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak terkait ucapan-ucapan itu, silakan merujuk ke buku-buku karya ulama Sunnah tentang masalah ini. Misalnya: kitab As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, At-Tauḥīd karya Imam Muhammad bin Khuzaimah, As-Sunnah karya Abul-Qāsim Al-Lālikā`iy Aṭ-Ṭabariy, dan As-Sunnah karya Abu Bakar bin Abi 'Āṣim. Termasuk di antaranya, jawaban Syekh Islam Ibnu Taimiyah (dalam buku Aqīdah Al-Ḥamawiyah) kepada penduduk Ḥamāh (Kota Hamat), yaitu sebuah jawaban agung yang memiliki banyak faedah. Di dalamnya, Syekh -raḥimahullāh- menjelaskan akidah Ahlusunah dengan menyebutkan banyak ucapan mereka serta dalil-dalil syariat (wahyu) dan dalil akal (logika) yang menunjukkan kebenaran mazhab Ahlusunah serta batilnya mazhab lawan-lawan mereka.

Begitu juga risalah beliau yang diberi judul At-Tadmuriyyah. Di dalamnya beliau membuat penjelasan yang luas serta menerangkan akidah Ahlusunah dengan dalil-dalil naqli (wahyu) dan aqli (logika), serta membantah pihak-pihak yang menyelisihi dengan bantahan yang mampu memenangkan kebenaran dan membungkam kebatilan bagi semua orang berilmu yang mau menelaahnya dengan niat yang baik dan keinginan mengetahui kebenaran. Kesimpulan akidah Ahlusunah waljamaah terkait nama dan sifat Allah adalah mereka menetapkan bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'āla- semua nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Kitab-Nya yang mulia atau yang ditetapkan bagi-Nya oleh Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, di dalam Sunnah beliau yang sahih dengan penetapan yang tidak mengandung penyerupaan dengan makhluk. Mereka pun menyucikan Allah -Subḥānahu wa Ta'āla- dari menyerupai makhluk-Nya dengan penafian yang jauh dari penolakan (terhadap sifat tersebut). Dengan demikian mereka berhasil selamat dari kontradiksi, dan mengamalkan semua dalil, atas taufik dari Allah. Sebab, merupakan sunnatullah -Subḥānahu- bagi orang yang berpegang teguh kepada kebenaran yang dibawa oleh para rasul Allah, serta ia mencurahkan segala upaya untuk itu, dan mengikhlaskan niat karena Allah dalam mencarinya, maka Allah akan memberinya petunjuk kepada kebenaran dan menerangkan hujah-Nya, seperti tertera dalam firman-Nya Ta'ala,

﴿بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞ...﴾

Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap... [QS. Al-Anbiyā`: 18]

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا33﴾

Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh (syubhat), melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. [QS. Al-Furqān: 33]

Adapun orang-orang yang menyelisihi Ahli Sunnah dalam keyakinan mereka tentang nama dan sifat Allah, mau tidak mau akan terjatuh ke dalam penyelisihan terhadap dalil-dalil naqli dan aqli disertai kontradiksi yang nyata pada semua yang ditetapkan maupun yang dinafikannya. Al-Hāfiẓ Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh- menyebutkan dalam kitab tafsirnya yang populer sebuah pernyataan yang bagus dalam pembahasan ini, yaitu saat menafsirkan firman Allah -'Azza wa Jalla-:

﴿إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ...﴾

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayan di atas Arasy... [QS. Al-A'rāf: 54]

Pernyataan tersebut sebaiknya kami nukil di sini karena faedahnya sangat besar. Beliau -raḥimahullāh- mengatakan,

"Umat Islam dalam pembahasan ini memiliki banyak sekali pendapat. Namun bukan di sini tempat memaparkannya. Dalam pembahasan ini kita harus mengikuti mazhab salafussaleh; Malik, Al-Auzā'iy, Aṡ-Ṡauriy, Al-Laiṡ bin Sa'ad, Asy-Syafi'i, Ahmad, Isḥāq bin Rāhawaih, dan imam-imam kaum muslimin lainnya, baik yang dahulu maupun sekarang, yaitu: Kita memahaminya sebagaimana datangnya, tanpa diberikan kaifiat, tanpa diserupakan, dan tanpa ditolak. Makna zahir yang segera tergambarkan di pikiran kelompok Musyabbihah harus dinafikan dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun di antara makhluk Allah yang menyerupai Allah.

﴿...لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ﴾

...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. [QS. Asy-Syūrā: 11] Perkaranya seperti yang diterangkan oleh para imam, di antaranya adalah Nu'aim bin Ḥammād Al-Khuzā'iy, guru Bukhari, yang berkata, 'Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka dia telah kafir. Sebaliknya, siapa yang menolak sifat yang dengannya Allah menyifati diri-Nya maka dia telah kafir.'10 Semua sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau oleh Rasul-Nya, tidak ada yang mengandung penyerupaan. Sehingga, orang yang menetapkan bagi Allah Ta'ala apa yang disebutkan oleh ayat-ayat yang jelas serta hadis-hadis yang sahih sesuai dengan keagungan Allah, sembari menafikan sifat-sifat kekurangan dari Allah Ta'ala, maka dia telah menempuh jalan petunjuk."11 Sampai di sini pernyataan Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh.

d. Di antara perkara yang termasuk dalam keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa iman itu terdiri dari perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Seorang muslim tidak boleh dikafirkan hanya karena melakukan suatu kemaksiatan yang statusnya di bawah syirik dan kekufuran, seperti zina, mencuri, memakan riba, minum khamar, durhaka kepada orang tua, dan berbagai dosa besar lainnya, selama ia tidak menganggap halal dosa-dosa tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-,

﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ...﴾

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki... [QS. An-Nisā`: 48] Dan berdasarkan hadis-hadis sahih yang mutawatir dari Rasulullah ﷺ, di antaranya,

«إِنَّ اللهَ يُخْرِجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ».

"Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan dari neraka siapa saja yang memiliki iman di dalam hatinya, meskipun sekecil biji sawi."12

Rukun Kedua: Iman kepada Malaikat

Rukun ini mencakup dua perkara:

Rukun ini mencakup dua perkara: A. Beriman kepada para malaikat secara umum

Yaitu dengan meyakini bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang diciptakan untuk patuh kepada-Nya. Allah menyifati mereka dalam firman-Nya,

﴿وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَلَدٗاۗ سُبۡحَٰنَهُۥۚ بَلۡ عِبَادٞ مُّكۡرَمُونَ 26 لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ27 يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ28﴾

Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan,

mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.

Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. [QS. Al-Anbiyā`: 26-28]

Malaikat terdiri dari banyak macam. Di antara mereka ada yang bertugas memikul Arasy, ada yang menjadi penjaga surga dan neraka, dan ada juga yang bertugas mencatat amal perbuatan hamba. B. Beriman kepada para malaikat secara rinci

Yaitu dengan meyakini malaikat-malaikat yang disebutkan namanya oleh Allah dan Rasul-Nya. Misalnya Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu, Mikail bertugas mengurus hujan, Mālik yang menjaga neraka, dan Israfil yang bertugas meniup sangkakala. Penyebutan nama mereka tertera dalam hadis-hadis sahih, di antaranya hadis sahih yang diriwayatkan oleh Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Nabi bersabda,

«خُلِقَتِ الـمَلَائِكَةُ مِن نُورٍ، وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُم».

"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian."13 Diriwayatkan oleh Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya.

Rukun Ketiga: Iman kepada Kitab-kitab

Ini mencakup dua perkara juga:

A. Beriman kepada kitab secara umum

Yaitu meyakini bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul-Nya, untuk menerangkan hak-Nya dan mendakwahkannya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,

﴿لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِ...﴾

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil... [QS. Al-Ḥadīd: 25] Allah Ta'ala berfirman,

﴿كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ...﴾

Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan... [QS. Al-Baqarah: 213]

B. Beriman kepada kitab-kitab secara rinci

Yaitu dengan meyakini adanya kitab-kitab yang sebutkan namanya oleh Allah, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur`an. Selain itu, meyakini Al-Qur`an adalah kitab yang paling utama, terakhir, serta mencakup seluruh kitab sebelumnya dan membenarkannya. Al-Qur`an merupakan kitab yang wajib diikuti dan dijadikan pedoman hukum oleh seluruh umat, di samping hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah . Sebab, Allah -Subḥānahu- mengutus rasul-Nya, Muhammad , sebagai rasul bagi seluruh bangsa jin dan manusia, dan menurunkan kepadanya Al-Qur`an ini untuk dijadikan sebagai pemutus perkara di antara mereka, penyembuh penyakit yang ada dalam dada, penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum mukminin. Allah Ta'ālā berfirman,

﴿وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ155﴾

Dan ini adalah Kitab (Al-Qur`an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat. [QS. Al-An'ām: 155] Allah -Subḥānahu- juga berfirman,

﴿...وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ﴾

Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim). [QS. An-Naḥl: 89] Allah Ta'ala berfirman,

﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ158﴾

Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Al-A'rāf: 158] Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ini sangat banyak.

Rukun Keempat: Iman kepada Para Rasul

Rukun ini juga mencakup dua perkara juga, yaitu: A. Beriman kepada para rasul secara umum

Yaitu dengan meyakini bahwa Allah –Subḥānahu wa Ta‘ālā– telah mengutus rasul-rasul dari kalangan manusia kepada hamba-hamba-Nya sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan, serta sebagai penyeru kepada kebenaran. Siapa yang menerima dakwah mereka, ia akan meraih kebahagiaan, sedangkan siapa yang menolaknya, ia akan mengalami kerugian dan penyesalan. Rasul terakhir sekaligus yang terbaik di antara mereka adalah Nabi kita, Muhammad , sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta‘ālā- berfirman,

﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾

Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Allah Ta'ala berfirman,

﴿رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِ...﴾

Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus... [QS. An-Nisā`: 165] Allah Ta'ala berfirman,

﴿مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ...﴾

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi... [QS. Al Aḥzāb: 40]

B. Beriman kepada para rasul secara rinci

Yaitu dengan meyakini secara khusus dan satu per satu siapa saja yang namanya disebutkan oleh Allah atau yang penamaannya diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, seperti Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, dan lainnya. Semoga selawat dan salam tercurah kepada mereka, keluarga mereka, serta para pengikut mereka.

Rukun Kelima: Iman kepada Hari Akhir

Rukun ini mencakup

keimanan terhadap segala sesuatu yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya tentang apa yang akan terjadi setelah kematian, seperti fitnah kubur, siksa dan nikmat kubur. Demikian pula, segala yang akan terjadi pada hari Kiamat, seperti kengerian dan kedahsyatannya, ṣirāṭ (jembatan), timbangan amal, hisab (perhitungan amal), pembalasan, serta pembagian lembaran amal di hadapan manusia. Lalu, ada yang menerima catatannya dengan tangan kanan, sementara yang lain mengambilnya dengan tangan kiri atau dari belakang.

Termasuk di dalamnya adalah mengimani adanya Ḥaud (telaga) yang dimiliki oleh Nabi kita Muhammad , yang akan didatangi oleh umatnya, serta mengimani adanya surga dan neraka, keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, bahwa Dia akan berbicara langsung kepada mereka, dan hal-hal lain yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah yang sahih. Seorang hamba wajib beriman dengan semua itu dan meyakininya sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya .

Rukun keenam: Iman kepada Takdir

Rukun ini mencakup empat perkara:

A. Meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, serta mengetahui rezeki, ajal, perbuatan, dan seluruh urusan mereka; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Allah -Subḥānahu- berfirman,

﴿...وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ﴾

Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah: 231] Allah ﷻ juga berfirman,

﴿...لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا﴾

agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. [QS. Aṭ-Ṭalāq: 12]

B. Meyakini bahwa Allah telah mencatat segala sesuatu yang Dia takdirkan dan tetapkan, sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-,

﴿قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۡهُمۡۖ وَعِندَنَا كِتَٰبٌ حَفِيظُۢ 4﴾

Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang ditelan oleh bumi dari (tubuh) mereka, sebab pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara dengan baik. [QS. Qāf: 4] Allah Ta'ala berfirman,

﴿...وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ﴾

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauḥ Maḥfūẓ). [QS. Yāsīn: 12] Allah Ta'ala berfirman,

﴿أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ70﴾

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. [QS. Al-Ḥajj: 70].

C. Meyakini kehendak Allah Ta'ala yang pasti terlaksana. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, sebaliknya yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.

Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,

﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ﴾

Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki. [QS. Al-Ḥajj: 18] Allah ﷻ juga berfirman,

﴿إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ82﴾

Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. [QS. Yāsīn: 82] Allah -Subḥānahu- juga berfirman,

﴿وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ29﴾

Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam. [QS. At-Takwīr: 29]

D. Meyakini bahwa Allah Ta'ala yang mengadakan semua yang ada; tidak ada pencipta selain-Nya, tidak ada Tuhan selain-Nya.

Allah -Subḥānahu- berfirman,

﴿ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ62﴾

Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. [QS. Az-Zumar: 62] Allah Ta'ala berfirman,

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡۚ هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ3﴾

Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)? [QS. Fāṭir: 3]

Iman kepada takdir mencakup keimanan terhadap keempat perkara ini seluruhnya, sebagaimana yang diyakini oleh Ahlu Sunnah waljamaah. Berbeda dengan kalangan ahli bidah yang mengingkari sebagiannya.

Di antara perkara penting dalam akidah yang benar, yang diyakini oleh Ahlu Sunnah waljamaah ialah cinta dan benci karena Allah, membela dan memusuhi karena Allah. Inilah yang disebut dengan akidah walā` dan barā`, dan itu termasuk keimanan kepada Allah Ta'ala.

Seorang mukmin akan mencintai dan membela sesama mukminin, serta membenci dan memusuhi orang-orang kafir. Dan yang terdepan di antara umat ini adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, sebagaimana hal itu menjadi keyakinan Ahlusunah waljamaah. Ahlusunah mencintai dan membela mereka, serta meyakini bahwa mereka manusia terbaik setelah para nabi. Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«خَيْرُ القُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم».

"Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya."14 (Muttafaq 'alā siḥḥatih)

Ahlusunnah meyakini bahwa orang yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, kemudian Umar Al-Fārūq, kemudian Uṡmān Żunnūrain, kemudian Ali Al-Murtaḍā, -raḍiyallāhu 'anhum-. Kemudian setelah itu sisa sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, kemudian segenap para sahabat lainnya -raḍiyallāhu 'anhum-. Mereka menahan diri dari membicarakan konflik yang terjadi di antara mereka -yakni para sahabat-, dan tetap meyakini bahwa mereka hanya berijtihad. Siapa yang ijtihadnya benar akan mendapatkan dua pahala, sedangkan yang keliru akan mendapatkan satu pahala.

Mereka mencintai Ahlubait Rasulullah yang beriman kepada beliau, serta memuliakan istri-istri Rasulullah , para ibunda kaum mukminin, serta mendoakan semoga Allah meridai mereka semua. Mereka berlepas diri dari cara kelompok Rafidah yang membenci para sahabat Rasulullah serta mencela mereka, dan berlebihan terhadap Ahlubait serta mengangkat mereka di atas kedudukan yang telah Allah tetapkan bagi mereka. Selain itu, mereka juga berlepas diri dari cara Nawāṣib yang menyakiti Ahlubait, dengan perkataan ataupun perbuatan.

Apa yang kita sebutkan ini, seluruhnya masuk dalam akidah yang sahih, yang menjadi tujuan Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad . Inilah akidah yang harus diyakini, dipegang teguh, dan dijaga dengan istikamah, serta waspada dari yang menyelisihinya. Inilah akidah golongan yang selamat, yaitu Ahlusunnah waljamaah, yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam hadisnya:

«لَا تَـزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ‌ظَاهِرِينَ ‌عَلَى ‌الحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ».

"Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang tegak di atas kebenaran; mereka tidak dicelakakan oleh orang yang meninggalkan mereka, hingga datang ketetapan Allah sedang mereka tetap di atas kebenaran tersebut."15 Dalam riwayat lain disebutkan:

«لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الحَقِّ مَنْصُورَةٌ».

"Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang ditolong oleh (Allah) tegak di atas kebenaran."16 Dan Nabi ﷺ bersabda,

«افْتَرَقَتِ اليَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً فَقَالَ الصَّحَابَةُ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي».

"Orang Yahudi terbagi menjadi 71 kelompok, dan orang Nasrani terbagi menjadi 72 kelompok. Sedangkan umat ini akan terbagi menjadi 73 kelompok; seluruhnya di neraka, kecuali satu kelompok." Para sahabat bertanya, "Siapakah kelompok yang satu itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Mereka yang mengikuti jalanku dan sahabat-sahabatku."17

Akidah Yang Menyimpang Dari Akidah Yang Benar

Orang-orang yang menyimpang dari akidah ini serta berjalan di jalur yang bertentangan dengannya, terdiri dari berbagai golongan, di antaranya adalah para penyembah berhala, patung, malaikat, wali, jin, pohon, batu, dan lain sebagainya. Mereka tidak menerima dakwah para rasul, bahkan menyelisihi dan menentangnya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan berbagai kabilah Arab terhadap Nabi kita, Muhammad . Mereka meminta kepada sembahan-sembahan mereka untuk memenuhi kebutuhan, menyembuhkan orang sakit, dan mengalahkan musuh. Mereka juga menyembelih dan mengadakan nazar untuk sembahan-sembahan tersebut. Maka, ketika Rasul mengingkari hal tersebut dan memerintahkan mereka untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, mereka merasa heran dan mengingkarinya. Mereka berkata,

﴿أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ5﴾

Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. [QS. Ṣād: 5]

Nabi ﷺ terus-menerus mengajak mereka ke jalan Allah, memperingatkan mereka dari kesyirikan, dan menjelaskan hakikat dakwah yang beliau serukan. Hingga akhirnya, Allah memberi hidayah kepada sebagian dari mereka yang dikehendaki-Nya, kemudian mereka pun berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah. Maka, agama Allah pun menang atas agama-agama lainnya setelah perjuangan panjang dan dakwah yang tak henti-hentinya dilakukan oleh Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Kemudian keadaan berubah, kebodohan merebak pada mayoritas manusia. Kebanyakan orang kembali ke ajaran jahiliah, dengan sikap berlebih-lebihan terhadap para nabi dan wali, meminta doa dan pertolongan kepada mereka, dan berbagai bentuk kesyirikan lainnya. Mereka tidak mengetahui makna "lā ilāha illallāh" sebagaimana orang-orang kafir Arab memahami maknanya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Kesyirikan seperti ini masih tersebar di tengah manusia hingga masa kita sekarang disebabkan karena kebodohan yang merajalela serta jauhnya dari masa kenabian.

Syubhat orang-orang belakangan ini sama dengan syubhat orang-orang terdahulu, yaitu pernyataan mereka,

﴿...هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ...﴾

...Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah... [QS. Yūnus: 18] Dan juga perkataan mereka,

﴿...مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ...﴾

Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. [QS. Az-Zumar: 3] Allah telah membatalkan syubhat tersebut dan menjelaskan bahwa siapa pun yang menyembah selain-Nya, siapa pun dia, maka dia telah melakukan kesyirikan dan kafir, sebagaimana firman Allah Ta'ala,

﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ...﴾

Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah... [QS. Yūnus: 18] Maka Allah -Subḥānahu- membantah mereka melalui firman-Nya,

﴿قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ18﴾

Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Yūnus: 18]

Allah Ta'ala menjelaskan dalam ayat ini bahwa beribadah kepada selain-Nya, yaitu kepada para nabi, wali, dan lainnya merupakan syirik besar, meskipun para pelakunya menyebutnya dengan sebutan lain. Allah Ta'ala berfirman,

﴿...وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ...﴾

Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” [QS. Asy-Syūrā: 6] Kemudian Allah Ta'ala membantah mereka melalui firman-Nya,

﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ﴾

Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Asy-Syūrā: 6]

Melalui itu Allah -Subḥānahu- menjelaskan bahwa peribadatan mereka kepada selain-Nya, seperti berdoa, takut, harap, dan yang semisalnya adalah kufur kepada-Nya -Subḥānahu-. Demikian Allah mendustakan mereka terkait apa yang mereka bahwa tuhan-tuhan mereka mendekatkan mereka kepada Allah.

Di antara keyakinan kufur yang bertentangan dengan akidah yang sahih dan menyelisihi ajaran para rasul -'alaihimuṣṣalātu wassalām- adalah keyakinan orang-orang ateis masa ini, seperti para pengikut Marxis, Lenin, dan lainnya dari para propagandis paham ateisme dan kekufuran. Baik mereka menyebutnya sosialisme, komunisme, ba'thisme, ataupun dengan nama yang lain. Prinsip dasar para ateis itu adalah: "Tidak ada tuhan, dan kehidupan hanyalah materi".

Di antara prinsip dasar mereka adalah mengingkari hari Kiamat, mengingkari surga dan neraka, dan menolak semua agama. Orang yang mencermati buku-buku mereka dan mempelajari ajaran mereka akan mengetahui hal tersebut dengan yakin. Tidak diragukan lagi, akidah semacam ini menyelisihi semua agama samawi dan akan mengantarkan para penganutnya pada kesudahan yang paling buruk, di dunia maupun akhirat.

Akidah lain yang menyelisihi kebenaran adalah keyakinan sebagian kaum sufi bahwa sebagian orang yang mereka sebut wali ikut serta dalam mengatur alam bersama Allah dan mengendalikan urusan dunia ini. Mereka menyebutnya wali qutub, wali autād, gauṡ, dan istilah-istilah lainnya yang mereka buat untuk sembahan mereka. Ini adalah kesyirikan terkait rububiyah, dan itu adalah kesyirikan paling buruk kepada Allah Ta'ala.

Barang siapa mencermati kesyirikan bangsa jahiliah di masa lampau lalu membandingkannya dengan kesyirikan yang tersebar di kalangan orang-orang sekarang, niscaya akan mendapati bahwa kesyirikan orang sekarang lebih besar dan lebih parah. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Orang-orang kafir bangsa Arab pada masa jahiliah, mereka memiliki dua ciri khas: - Pertama: Mereka tidak berbuat syirik dalam rububiyah, tetapi kesyirikan mereka adalah dalam peribadatan.

Mereka mengakui hak rububiyah adalah milik Allah ﷻ saja, sebagaimana tertera dalam firman-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-,

﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ...﴾

Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah... [QS. Az-Zukhruf: 87] Allah Ta'ala juga berfirman,

﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ31﴾

Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” [QS. Yūnus: 31] Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.

- Kedua: Kesyirikan mereka di dalam ibadah tidak berlangsung selamanya, tetapi hanya terjadi saat dalam kondisi lapang. Adapun saat kondisi sulit, mereka akan memurnikan ibadah kepada Allah.

Allah Ta'ala berfirman terkait hal itu,

﴿فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ65﴾

Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) menyekutukan (Allah), [QS. Al-'Ankabūt: 65]

Sedangkan orang-orang musyrik pada masa ini, mereka melebihi orang-orang terdahulu dari dua sisi: - Pertama: Sebagian mereka melakukan kesyirikan dalam rububiyah. - Kedua: Kesyirikan mereka terjadi baik dalam keadaan lapang maupun saat kesulitan.

Hal ini dapat diketahui oleh siapa saja yang berbaur dengan mereka, memperhatikan keadaan mereka, serta menyaksikan apa yang mereka lakukan di makam Husain, Badawi, dan lainnya di Mesir; makam Al-Aydrus di Aden; makam Al-Hadi di Yaman; makam Ibnu Arabi di Syam; makam Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di Irak; serta makam-makam populer lainnya yang diperlakukan secara berlebihan oleh kalangan awam.

Mereka mengalihkan begitu banyak hak Allah 'Azza wa Jalla kepada kuburan-kuburan tersebut. Namun, sangat sedikit yang mengingkari perbuatan mereka dan menjelaskan hakikat tauhid yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dan para rasul sebelumnya. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.

Di antara bentuk akidah yang menyimpang dari akidah yang sahih terkait nama dan sifat Allah adalah akidah ahli bid'ah dari kalangan Jahmiah, Muktazilah, serta orang-orang yang mengikuti metode mereka dalam menafikan sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla. Mereka meniadakan sifat-sifat kesempurnaan yang telah ditetapkan bagi Allah -Subḥānahu- serta menyifati-Nya dengan sifat sesuatu yang tidak ada, benda mati, dan hal-hal yang mustahil. Maha Tinggi Allah setinggi-tingginya dari perkataan mereka yang batil itu.

Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang menafikan sebagian sifat Allah tetapi menetapkan sebagian lainnya, sebagaimana akidah kalangan Asya'irah. Apa yang mereka katakan terkait sifat-sifat yang mereka tetapkan, mengharuskan mereka melakukan hal yang sama pada sifat-sifat yang mereka nafikan dan takwilkan dalilnya. Dengan demikian, mereka telah menyelisihi dalil-dalil naqli maupun aqli serta terjerumus ke dalam kontradiksi yang sangat nyata.

Adapun Ahlusunnah wal Jamaah, mereka menetapkan bagi Allah – Subḥānahu wa Ta‘ālā – segala yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, maupun yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, terkait nama-nama dan sifat-Nya secara sempurna. Mereka juga menyucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya dengan penyucian yang tidak mengandung unsur pembatalan makna. Mereka mengamalkan seluruh dalil tanpa menyelewengkan atau meniadakan maknanya, serta terhindar dari kontradiksi yang dialami oleh golongan lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Inilah jalan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, yaitu jalan lurus yang telah ditapaki oleh para pendahulu umat ini dan para imamnya. Generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan generasi pertamanya menjadi baik, yaitu mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah, serta meninggalkan segala perkara yang menyelisihi keduanya. Kita memohon kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- agar mengembalikan umat ini ke jalan yang benar, memperbanyak dai yang menyeru kepada kebenaran, serta memberikan taufik kepada para pemimpin dan ulamanya untuk melawan kesyirikan, memberantasnya, dan memperingatkan sarana-sarananya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Hanya Allah sebagai pemberi petunjuk. Dialah yang mencukupi kami dan sebaik-baiknya penolong. Tidak ada upaya maupun kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat serta salam kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita, Muhammad, kepada keluarga, serta para sahabatnya.

 

***


HR. Bukhari (2856) dan Muslim (30).

Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (735) dan Ibnu Abdil Bar dalam Jāmi' Al-'Ilmi wa Faḍlih (1801), namun dengan lafaz "hadis-hadis" sebagai ganti kata "ayat-ayat sifat". Lafaznya adalah: "Sampaikanlah hadis-hadis ini sebagaimana datangnya, janganlah kalian berdebat tentangnya."

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (865). Ibnu Taimiyah menyatakan sanadnya sahih di dalam Al-Ḥamawiyah, hal. 269. Sementara itu, Aż-Żahabi di dalam Al-'Arḍ (2/223) mengatakan: "Para perawinya terpercaya."

Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (930) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (955).

Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (665) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (868).

Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (664), Abu Nu'aim dalam Ḥilyah Al-Auliyā` (6/325), dan Al-Baihaqi dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (867).

Diriwayatkan oleh Al-Muzakkiy dalam Al-Muzakkiyāt (29), Ibnu Baṭṭah dalam Al-Ibānah (120), dan Al-Lālikā`iy dalam Syarḥ Uṣūl Al-I'tiqād (663).

Diriwayatkan oleh Ad-Dārimiy dalam Ar-Radd 'alā Al-Jahmiyyah (67) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (903).

Diriwayatkan oleh Aż-Żahabiy dalam Al-'Uluw (464), Al-Albāniy menyatakan dalam Mukhtaṣar Al-'Uluw, hal. 184, "Sanad ini sahih, para perawinya terpercaya dan dikenal."

Tafsīr Ibni Kaṡīr (3/426-427).

HR. Bukhari (22) dari Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu-.

HR. Muslim (2996) dari hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-.

HR. Bukhari (3651) dan Muslim (2533) dari hadis Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-.

HR. Muslim (1920) dari hadis Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu-.

HR. Ibnu Majah (3952) dari hadis Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu-, dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban (6714) dan Al-Hakim (8653).

HR. Tirmizi (2641) dari hadis Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhu-. Al-Munāwiy mengatakan dalam Faiḍ Al-Qadīr (5/347), "Di dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyād Al-Afrīqiy, yang dikatakan oleh Aż-Żahabiy, "Para ahli hadis menilainya daif." Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albāniy dalam Ṣaḥiḥ Al-Jāmi' (5343).

HR. Muslim (No. 8).