حِرَاسَةُ التَّوحِيدِ
Penjagaan Tauhid
لِسَمَاحَةِ الشَّيْخِ العَلَّامَةِ
عَبْدِ العَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ بَازٍ
رَحِمَهُ اللهُ
Penulis Penyusun:
Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-1
AKIDAH YANG BENAR DAN LAWANNYA
Penulis Penyusun:
Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz
Segala puji hanya milik Allah saja. Semoga selawat serta salam tercurahkan kepada Nabi terakhir, tidak ada lagi Nabi setelahnya, kepada keluarganya, dan para sahabatnya.
Amabakdu: Manakala akidah yang sahih merupakan pokok dan landasan agama Islam, saya memandang sangat penting untuk membahas, menulis, dan menyusun permasalahan ini dalam rangka menguraikan dan menjelaskannya.
Berdasarkan dalil-dalil syariat dari Al-Qur`an dan Sunnah dapat diketahui bahwa semua perbuatan dan perkataan akan sah dan diterima bila lahir dari akidah yang sahih. Sedangkan jika akidahnya tidak benar, maka semua perbuatan dan perkataan yang merupakan turunannya menjadi batal. Sebagaimana firman-Nya Ta'ala,
﴿...وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُۥ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ﴾
"Siapa kafir setelah beriman, maka sungguh, sia-sia amal mereka dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi." [QS. Al-Mā`idah: 5].
Allah -Ta'ālā- juga berfirman,
﴿وَلَقَدۡ أُوحِيَ إِلَيۡكَ وَإِلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكَ لَئِنۡ أَشۡرَكۡتَ لَيَحۡبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ 65﴾
Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. [QS. Az-Zumar: 65]
Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Kitabullah dan Sunnah Rasulullah yang terpercaya -semoga selawat dan salam terbaik tercurahkan kepada beliau- menunjukkan bahwa akidah yang sahih diringkas dalam enam hal, yaitu:
1. Iman kepada Allah
2. Iman kepada malaikat-Nya
3. Iman kepada kitab-kitab-Nya
4. Iman kepada rasul-rasul-Nya
5. Iman kepada hari Kiamat
6. Iman kepada takdir, baik maupun buruknya. Keenam hal ini adalah pokok-pokok akidah yang sahih, yang diturunkan dalam Kitab Allah yang mulia dan dibawa oleh Rasul-Nya, Muhammad ﷺ.
Banyak sekali dalil yang menunjukkan keenam rukun (pokok) akidah ini dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah yang sahih, di antaranya sebagai contoh:
Pertama: Dalil-dalil dari Al-Qur`an
Di antaranya:
1. Firman Allah -Azza wa Jalla-,
﴿لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ...﴾
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi... [QS. Al-Baqarah: 177]
2. Firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ala-,
﴿ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِ...﴾
"Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya..." [QS. Al-Baqarah: 285]
3. Firman Allah -Subḥānahu-,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ ءَامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِي نَزَّلَ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ وَٱلۡكِتَٰبِ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ مِن قَبۡلُۚ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلَۢا بَعِيدًا136﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada kitab (Al-Qur`an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh." [QS. An-Nisā`: 136]
3. Firman Allah -Subḥānahu-,
﴿أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 70﴾
"Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah." [QS. Al-Ḥajj: 70].
Kedua: Dalil-dalil dari As-Sunnah Di antaranya adalah hadis sahih yang masyhur, yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Ṣaḥīḥ-nya dari Amirul Mukminin, Umar bin Al-Khaṭṭāb -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Jibril -'alihissalām- bertanya kepada Nabi ﷺ mengenai keimanan. Lalu beliau menjawabnya,
«الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَاليَوْمِ الآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ».
"Iman adalah beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Kiamat, dan beriman kepada takdir baik serta buruk."1 . Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim -dengan sedikit perbedaan redaksi- melalui jalur Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-.
Lahir dari keenam pokok ini segala perkara yang wajib diyakini dan diimani oleh seorang muslim, yang berkaitan dengan Allah 'Azza wa Jalla, perihal hari Kiamat, dan perkara-perkara gaib lainnya yang dikabarkan oleh Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.
Berikut ini adalah penjelasan enam rukun tersebut:
Rukun Pertama: Iman kepada Allah Ta'ala
Rukun ini mencakup beberapa hal, di antaranya:
Rukun ini mencakup beberapa perkara, di antaranya: a. Beriman bahwa Dialah sembahan yang benar, satu-satunya yang berhak untuk disembah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Sebab, Dialah yang menciptakan semua hamba, yang memberikan kebaikan kepada mereka, yang menjamin rezeki mereka, yang mengetahui rahasia mereka dan yang tampak, serta yang Maha Kuasa untuk memberikan pahala kepada orang yang taat dan siksa kepada yang durhaka.
Allah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya serta memerintahkan mereka untuk itu, sebagaimana firman-Nya,
﴿وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ 56 مَآ أُرِيدُ مِنۡهُم مِّن رِّزۡقٖ وَمَآ أُرِيدُ أَن يُطۡعِمُونِ 57 إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ 58﴾
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.
Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.
Sungguh Allah, Dialah Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh." [QS. Aż-Żāriyāt: 56-58].
Allah Ta'ala berfirman,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ 21 ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ 22﴾
"Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.
(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dialah menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 21-22].
Demikian pula, Allah telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab, guna menjelaskan kebenaran tersebut, menyeru kepadanya, serta memberi peringatan kepada yang menyelisihinya, berdasarkan firman-Nya -Subḥānahu wa Ta'ala-,
﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾
"Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut....'" [QS. An-Naḥl: 36]
Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن قَبۡلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِيٓ إِلَيۡهِ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدُونِ 25﴾
"Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku." [QS. Al-Anbiyā`: 25]
Allah ﷻ juga berfirman,
﴿الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ1 أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ2﴾
"Alif Lām Rā. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Teliti,
agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira dari-Nya untuk kalian." [QS. Hūd: 1-2]
Hakikat ibadah ini adalah mengesakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ala- dalam seluruh bentuk peribadatan yang dilakukan oleh hamba, seperti doa, rasa takut dan harap, salat, puasa, penyembelihan, nazar, dan berbagai jenis ibadah lainnya. Ibadah ini harus disertai dengan ketundukan kepada-Nya, mengharapkan pahala-Nya, serta takut terhadap siksa-Nya, yang dibarengi dengan cinta yang sempurna kepada-Nya dan rasa hina di hadapan keagungan-Nya.
Siapa pun yang mentadaburi Al-Qur`an Al-Karim, akan mendapati bahwa kebanyakan ayat-ayatnya turun untuk menjelaskan rukun yang agung ini. Sebagai contoh, firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ala-,
﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ 2 أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾
"Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.
Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar." [QS. Az-Zumar: 2-3]
Juga firman Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā-,
﴿وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعۡبُدُوٓاْ إِلَّآ إِيَّاهُ...﴾
"Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia..." [QS. Al-Isrā`: 23]
Juga firman Allah ﷻ,
﴿فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ14﴾
Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). [QS. Gāfir: 14]
Begitu pula orang yang mencermati Sunnah Nabawiyah, akan menemukan perhatian yang besar terhadap rukun yang yang besar ini. Di antaranya, hadis yang diriwayatkan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain dari Mu'az -raḍiyallāhu 'anhu-, bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أَن يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا».
"Hak Allah terhadap hamba ialah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."2
b. Termasuk mengimani Allah adalah mengimani lima rukun Islam yang zahir, yang diwajibkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya,
Yaitu:
1. Bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah
2. Mendirikan salat
3. Membayar zakat
4. Berpuasa di bulan Ramadan
5. Berhaji ke Baitulharam bagi yang mampu melakukan perjalanan ke sana.
Demikian pula kewajiban-kewajiban lainnya yang diperintahkan oleh syariat yang suci ini.
Rukun yang paling penting dan paling agung di antara rukun-rukun tersebut adalah persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, serta Muhammad adalah utusan Allah. Persaksian ini mengharuskan pemurnian ibadah kepada Allah semata serta menafikan ibadah kepada siapa pun selain-Nya. Inilah makna kalimat "lā ilāha illallāh". Para ulama -raḥimahumullāh- mengatakan bahwa makna lā ilāha illallāh adalah: tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Atas dasar itu, semua yang disembah selain Allah, berupa manusia, malaikat, jin, ataupun yang lainnya, adalah sembahan batil. Sebaliknya, sembahan yang benar hanyalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ala -,
﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ...﴾
Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang bathil... [QS. Al-Ḥajj: 62]
Telah dijelaskan lalu, bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menciptakan jin dan manusia untuk tujuan dasar ini (menyembah Allah), memerintahkan mereka untuk mengerjakannya, serta mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya untuk hal tersebut. Maka seorang hamba harus benar-benar merenunginya dan banyak menadaburinya agar ia dapat melihat dengan jelas kebodohan besar yang menimpa kebanyakan kaum muslimin terhadap landasan ini, sehingga mereka menyembah Allah dan menyembah selain-Nya, mengalihkan hak istimewa-Nya kepada selain-Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani bahwa Dialah Pencipta alam semesta, Pengatur urusan mereka, dan yang menetapkan ketentuan atas mereka dengan ilmu dan kekuasaan-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Demikian pula, meyakini bahwa Dialah Pemilik dunia dan akhirat, Rabb seluruh alam; tidak ada pencipta selain-Nya, dan tidak ada rabb selain Dia. Dialah yang telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab guna memperbaiki kondisi para hamba serta menyeru mereka kepada apa yang akan mendatangkan keselamatan dan kebaikan mereka di dunia dan akhirat. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal itu semuanya. Allah Ta'ala berfirman,
﴿ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ 62﴾
Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. [QS. Az-Zumar: 62]
Allah Ta'ala berfirman,
﴿إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۭ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ54﴾
Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayan di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam. [QS. Al-A'rāf: 54]
d. Termasuk iman kepada Allah adalah mengimani nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, yang terdapat di dalam Kitab-Nya yang agung dan hadis-hadis yang sahih dari Rasul-Nya yang terpercaya, tanpa diselewengkan maupun ditolak, dan tanpa diberikan kaifiatnya maupun disamakan dengan sifat makhluk.
﴿...لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ﴾
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. [QS. Asy-Syūrā: 11]
Sifat-sifat itu wajib dipahami sebagaimana datangnya tanpa menyebutkan kaifiat. Dalam hal ini, kita wajib mengimani makna-makna agung yang ditunjukkannya, yang merupakan sifat bagi Allah -'Azza wa Jalla-. Kita juga wajib menyifati Allah Ta'ala dengan sifat-sifat tersebut menurut yang pantas dengan keagungan-Nya, tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk di dalam sifat-sifat-Nya sedikit pun. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman, Allah ﷻ juga berfirman,
﴿فَلَا تَضۡرِبُواْ لِلَّهِ ٱلۡأَمۡثَالَۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ74﴾
Maka janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah. Sungguh, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. [QS. An Naḥl: 74]
Inilah akidah Ahlusunah waljamaah, yaitu akidah para sahabat Rasulullah ﷺ serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Akidah inilah yang dinukil oleh Imam Abul-Hasan Al-Asy'ariy -raḥimahullāh- dari para ulama Ahlusunah di dalam kitabnya, Al-Maqālāt. Demikian pula, telah dinukil oleh ulama-ulama lainnya.
Al-Auzā'iy -raḥimahullāh- menuturkan, Zuhri dan Makḥūl pernah ditanya tentang ayat-ayat sifat, maka keduanya menjawab, "Pahamilah ayat-ayat itu sebagaimana ia datang."3
Dan Al-Auzā'iy -raḥimahullāh- juga mengatakan, "Dahulu ketika para tabiin masih banyak, kami mengatakan, 'Allah -Subḥānahu- di atas Arasy-Nya, dan kami mengimani sifat-sifat yang tercantum di dalam Sunah'."4
Al-Walīd bin Muslim -raḥimahullāh- berkata, "Malik, Al-Auzā'iy, Al-Laiṡ bin Sa'ad, dan Sufyan Aṡ-Ṡauriy -raḥimahumullāh- pernah ditanya tentang hadis-hadis yang mengandung penyebutan sifat-sifat Allah. Mereka semua mengatakan, 'Pahamilah sifat-sifat itu sebagaimana datangnya, tanpa kaifiat'."5
Tatkala Rabī'ah bin Abu Abdurrahman, guru Imam Malik -raḥmatullāh ‘alaihimā- ditanya tentang sifat istiwā` (keberadaan Allah tinggi di atas Arasy), dia menjawab, "Istiwā` itu maknanya tidak majhul, namun kaifiatnya tidak diketahui akal. Agama ini berasal dari Allah, kewajiban Rasul menyampaikan dengan penyampaian yang terang, sedangkan kita hanya berkewajiban mengimani."6 Dan tatkala Imam Malik -raḥimahullāh- ditanya tentang hal itu, ia berkata, "Makna istiwā` itu dapat dimengerti, namun kaifiatnya tidak diketahui. Mengimaninya hukumnya wajib, sedangkan menanyakan kaifiatnya adalah bidah." Kemudian beliau berkata kepada si penanya, "Aku tidak melihatmu melainkan seorang yang buruk!" Lantas beliau memerintahkan supaya ia dikeluarkan. Maka orang itu pun dikeluarkan."7 Perkataan yang semakna dengan ini juga telah diriwayatkan dari Ummul Mukminin Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā-.8
Imam Abu Abdurrahman Abdullah bin Al-Mubārak -raḥmatullāhi ‘alaih- berkata, "Kita mengetahui Rabb kita -Subḥānahu wa Ta'ālā- berada di atas langit, di atas Arasy, terpisah dari makhluk-Nya."9
Ucapan para imam dalam masalah ini sangat banyak sekali, tidak memungkinkan bila dinukilkan di tempat ini. Bagi yang ingin mengetahui lebih banyak terkait ucapan-ucapan itu, silakan merujuk ke buku-buku karya ulama Sunnah tentang masalah ini. Misalnya: kitab As-Sunnah karya Abdullah bin Imam Ahmad, At-Tauḥīd karya Imam Muhammad bin Khuzaimah, As-Sunnah karya Abul-Qāsim Al-Lālikā`iy Aṭ-Ṭabariy, dan As-Sunnah karya Abu Bakar bin Abi 'Āṣim. Termasuk di antaranya, jawaban Syekh Islam Ibnu Taimiyah (dalam buku Aqīdah Al-Ḥamawiyah) kepada penduduk Ḥamāh (Kota Hamat), yaitu sebuah jawaban agung yang memiliki banyak faedah. Di dalamnya, Syekh -raḥimahullāh- menjelaskan akidah Ahlusunah dengan menyebutkan banyak ucapan mereka serta dalil-dalil syariat (wahyu) dan dalil akal (logika) yang menunjukkan kebenaran mazhab Ahlusunah serta batilnya mazhab lawan-lawan mereka.
Begitu juga risalah beliau yang diberi judul At-Tadmuriyyah. Di dalamnya beliau membuat penjelasan yang luas serta menerangkan akidah Ahlusunah dengan dalil-dalil naqli (wahyu) dan aqli (logika), serta membantah pihak-pihak yang menyelisihi dengan bantahan yang mampu memenangkan kebenaran dan membungkam kebatilan bagi semua orang berilmu yang mau menelaahnya dengan niat yang baik dan keinginan mengetahui kebenaran. Kesimpulan akidah Ahlusunah waljamaah terkait nama dan sifat Allah adalah mereka menetapkan bagi Allah -Subḥānahu wa Ta'āla- semua nama dan sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya di dalam Kitab-Nya yang mulia atau yang ditetapkan bagi-Nya oleh Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, di dalam Sunnah beliau yang sahih dengan penetapan yang tidak mengandung penyerupaan dengan makhluk. Mereka pun menyucikan Allah -Subḥānahu wa Ta'āla- dari menyerupai makhluk-Nya dengan penafian yang jauh dari penolakan (terhadap sifat tersebut). Dengan demikian mereka berhasil selamat dari kontradiksi, dan mengamalkan semua dalil, atas taufik dari Allah. Sebab, merupakan sunnatullah -Subḥānahu- bagi orang yang berpegang teguh kepada kebenaran yang dibawa oleh para rasul Allah, serta ia mencurahkan segala upaya untuk itu, dan mengikhlaskan niat karena Allah dalam mencarinya, maka Allah akan memberinya petunjuk kepada kebenaran dan menerangkan hujah-Nya, seperti tertera dalam firman-Nya Ta'ala,
﴿بَلۡ نَقۡذِفُ بِٱلۡحَقِّ عَلَى ٱلۡبَٰطِلِ فَيَدۡمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٞ...﴾
Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap... [QS. Al-Anbiyā`: 18]
Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَٰكَ بِٱلۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا33﴾
Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh (syubhat), melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik. [QS. Al-Furqān: 33]
Adapun orang-orang yang menyelisihi Ahli Sunnah dalam keyakinan mereka tentang nama dan sifat Allah, mau tidak mau akan terjatuh ke dalam penyelisihan terhadap dalil-dalil naqli dan aqli disertai kontradiksi yang nyata pada semua yang ditetapkan maupun yang dinafikannya. Al-Hāfiẓ Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh- menyebutkan dalam kitab tafsirnya yang populer sebuah pernyataan yang bagus dalam pembahasan ini, yaitu saat menafsirkan firman Allah -'Azza wa Jalla-:
﴿إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِ...﴾
Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayan di atas Arasy... [QS. Al-A'rāf: 54]
Pernyataan tersebut sebaiknya kami nukil di sini karena faedahnya sangat besar. Beliau -raḥimahullāh- mengatakan,
"Umat Islam dalam pembahasan ini memiliki banyak sekali pendapat. Namun bukan di sini tempat memaparkannya. Dalam pembahasan ini kita harus mengikuti mazhab salafussaleh; Malik, Al-Auzā'iy, Aṡ-Ṡauriy, Al-Laiṡ bin Sa'ad, Asy-Syafi'i, Ahmad, Isḥāq bin Rāhawaih, dan imam-imam kaum muslimin lainnya, baik yang dahulu maupun sekarang, yaitu: Kita memahaminya sebagaimana datangnya, tanpa diberikan kaifiat, tanpa diserupakan, dan tanpa ditolak. Makna zahir yang segera tergambarkan di pikiran kelompok Musyabbihah harus dinafikan dari Allah, karena tidak ada sesuatu pun di antara makhluk Allah yang menyerupai Allah.
﴿...لَيۡسَ كَمِثۡلِهِۦ شَيۡءٞۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ﴾
...Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat. [QS. Asy-Syūrā: 11] Perkaranya seperti yang diterangkan oleh para imam, di antaranya adalah Nu'aim bin Ḥammād Al-Khuzā'iy, guru Bukhari, yang berkata, 'Siapa yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya maka dia telah kafir. Sebaliknya, siapa yang menolak sifat yang dengannya Allah menyifati diri-Nya maka dia telah kafir.'10 Semua sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau oleh Rasul-Nya, tidak ada yang mengandung penyerupaan. Sehingga, orang yang menetapkan bagi Allah Ta'ala apa yang disebutkan oleh ayat-ayat yang jelas serta hadis-hadis yang sahih sesuai dengan keagungan Allah, sembari menafikan sifat-sifat kekurangan dari Allah Ta'ala, maka dia telah menempuh jalan petunjuk."11 Sampai di sini pernyataan Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh.
d. Di antara perkara yang termasuk dalam keimanan kepada Allah adalah meyakini bahwa iman itu terdiri dari perkataan dan perbuatan, dapat bertambah dengan melakukan ketaatan dan berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Seorang muslim tidak boleh dikafirkan hanya karena melakukan suatu kemaksiatan yang statusnya di bawah syirik dan kekufuran, seperti zina, mencuri, memakan riba, minum khamar, durhaka kepada orang tua, dan berbagai dosa besar lainnya, selama ia tidak menganggap halal dosa-dosa tersebut. Hal ini berdasarkan firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-,
﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ...﴾
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki... [QS. An-Nisā`: 48] Dan berdasarkan hadis-hadis sahih yang mutawatir dari Rasulullah ﷺ, di antaranya,
«إِنَّ اللهَ يُخْرِجُ مِنَ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيْمَانٍ».
"Sesungguhnya Allah akan mengeluarkan dari neraka siapa saja yang memiliki iman di dalam hatinya, meskipun sekecil biji sawi."12
Rukun Kedua: Iman kepada Malaikat
Rukun ini mencakup dua perkara:
Rukun ini mencakup dua perkara: A. Beriman kepada para malaikat secara umum
Yaitu dengan meyakini bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang diciptakan untuk patuh kepada-Nya. Allah menyifati mereka dalam firman-Nya,
﴿وَقَالُواْ ٱتَّخَذَ ٱلرَّحۡمَٰنُ وَلَدٗاۗ سُبۡحَٰنَهُۥۚ بَلۡ عِبَادٞ مُّكۡرَمُونَ 26 لَا يَسۡبِقُونَهُۥ بِٱلۡقَوۡلِ وَهُم بِأَمۡرِهِۦ يَعۡمَلُونَ27 يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡ وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ28﴾
Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pengasih telah menjadikan (malaikat) sebagai anak.” Mahasuci Dia. Sebenarnya mereka (para malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan,
mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.
Dia (Allah) mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. [QS. Al-Anbiyā`: 26-28]
Malaikat terdiri dari banyak macam. Di antara mereka ada yang bertugas memikul Arasy, ada yang menjadi penjaga surga dan neraka, dan ada juga yang bertugas mencatat amal perbuatan hamba. B. Beriman kepada para malaikat secara rinci
Yaitu dengan meyakini malaikat-malaikat yang disebutkan namanya oleh Allah dan Rasul-Nya. Misalnya Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu, Mikail bertugas mengurus hujan, Mālik yang menjaga neraka, dan Israfil yang bertugas meniup sangkakala. Penyebutan nama mereka tertera dalam hadis-hadis sahih, di antaranya hadis sahih yang diriwayatkan oleh Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«خُلِقَتِ الـمَلَائِكَةُ مِن نُورٍ، وَخُلِقَ الجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُم».
"Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan kepada kalian."13 Diriwayatkan oleh Muslim dalam Ṣaḥīḥ-nya.
Rukun Ketiga: Iman kepada Kitab-kitab
Ini mencakup dua perkara juga:
A. Beriman kepada kitab secara umum
Yaitu meyakini bahwa Allah menurunkan kitab-kitab kepada para nabi dan rasul-Nya, untuk menerangkan hak-Nya dan mendakwahkannya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,
﴿لَقَدۡ أَرۡسَلۡنَا رُسُلَنَا بِٱلۡبَيِّنَٰتِ وَأَنزَلۡنَا مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلۡقِسۡطِ...﴾
Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil... [QS. Al-Ḥadīd: 25] Allah Ta'ala berfirman,
﴿كَانَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ فَبَعَثَ ٱللَّهُ ٱلنَّبِيِّـۧنَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَ ٱلنَّاسِ فِيمَا ٱخۡتَلَفُواْ فِيهِ...﴾
Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan... [QS. Al-Baqarah: 213]
B. Beriman kepada kitab-kitab secara rinci
Yaitu dengan meyakini adanya kitab-kitab yang sebutkan namanya oleh Allah, seperti Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur`an. Selain itu, meyakini Al-Qur`an adalah kitab yang paling utama, terakhir, serta mencakup seluruh kitab sebelumnya dan membenarkannya. Al-Qur`an merupakan kitab yang wajib diikuti dan dijadikan pedoman hukum oleh seluruh umat, di samping hadis-hadis yang sahih dari Rasulullah ﷺ. Sebab, Allah -Subḥānahu- mengutus rasul-Nya, Muhammad ﷺ, sebagai rasul bagi seluruh bangsa jin dan manusia, dan menurunkan kepadanya Al-Qur`an ini untuk dijadikan sebagai pemutus perkara di antara mereka, penyembuh penyakit yang ada dalam dada, penjelas segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum mukminin. Allah Ta'ālā berfirman,
﴿وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ155﴾
Dan ini adalah Kitab (Al-Qur`an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat. [QS. Al-An'ām: 155] Allah -Subḥānahu- juga berfirman,
﴿...وَنَزَّلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ تِبۡيَٰنٗا لِّكُلِّ شَيۡءٖ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٗ وَبُشۡرَىٰ لِلۡمُسۡلِمِينَ﴾
Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim). [QS. An-Naḥl: 89] Allah Ta'ala berfirman,
﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ158﴾
Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Al-A'rāf: 158] Dan ayat-ayat lain yang semakna dengan ini sangat banyak.
Rukun Keempat: Iman kepada Para Rasul
Rukun ini juga mencakup dua perkara juga, yaitu: A. Beriman kepada para rasul secara umum
Yaitu dengan meyakini bahwa Allah –Subḥānahu wa Ta‘ālā– telah mengutus rasul-rasul dari kalangan manusia kepada hamba-hamba-Nya sebagai pembawa kabar gembira dan peringatan, serta sebagai penyeru kepada kebenaran. Siapa yang menerima dakwah mereka, ia akan meraih kebahagiaan, sedangkan siapa yang menolaknya, ia akan mengalami kerugian dan penyesalan. Rasul terakhir sekaligus yang terbaik di antara mereka adalah Nabi kita, Muhammad ﷺ, sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta‘ālā- berfirman,
﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Allah Ta'ala berfirman,
﴿رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِ...﴾
Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus... [QS. An-Nisā`: 165] Allah Ta'ala berfirman,
﴿مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ...﴾
Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi... [QS. Al Aḥzāb: 40]
B. Beriman kepada para rasul secara rinci
Yaitu dengan meyakini secara khusus dan satu per satu siapa saja yang namanya disebutkan oleh Allah atau yang penamaannya diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ, seperti Nuh, Hud, Saleh, Ibrahim, dan lainnya. Semoga selawat dan salam tercurah kepada mereka, keluarga mereka, serta para pengikut mereka.
Rukun Kelima: Iman kepada Hari Akhir
Rukun ini mencakup
keimanan terhadap segala sesuatu yang diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ tentang apa yang akan terjadi setelah kematian, seperti fitnah kubur, siksa dan nikmat kubur. Demikian pula, segala yang akan terjadi pada hari Kiamat, seperti kengerian dan kedahsyatannya, ṣirāṭ (jembatan), timbangan amal, hisab (perhitungan amal), pembalasan, serta pembagian lembaran amal di hadapan manusia. Lalu, ada yang menerima catatannya dengan tangan kanan, sementara yang lain mengambilnya dengan tangan kiri atau dari belakang.
Termasuk di dalamnya adalah mengimani adanya Ḥaud (telaga) yang dimiliki oleh Nabi kita Muhammad ﷺ, yang akan didatangi oleh umatnya, serta mengimani adanya surga dan neraka, keyakinan bahwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, bahwa Dia akan berbicara langsung kepada mereka, dan hal-hal lain yang disebutkan dalam Al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah ﷺ yang sahih. Seorang hamba wajib beriman dengan semua itu dan meyakininya sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ.
Rukun keenam: Iman kepada Takdir
Rukun ini mencakup empat perkara:
A. Meyakini bahwa Allah ﷻ mengetahui segala sesuatu yang telah terjadi dan yang akan terjadi, mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, serta mengetahui rezeki, ajal, perbuatan, dan seluruh urusan mereka; tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya. Allah -Subḥānahu- berfirman,
﴿...وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ﴾
Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [QS. Al-Baqarah: 231] Allah ﷻ juga berfirman,
﴿...لِتَعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ وَأَنَّ ٱللَّهَ قَدۡ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عِلۡمَۢا﴾
agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu. [QS. Aṭ-Ṭalāq: 12]
B. Meyakini bahwa Allah telah mencatat segala sesuatu yang Dia takdirkan dan tetapkan, sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-,
﴿قَدۡ عَلِمۡنَا مَا تَنقُصُ ٱلۡأَرۡضُ مِنۡهُمۡۖ وَعِندَنَا كِتَٰبٌ حَفِيظُۢ 4﴾
Sungguh, Kami telah mengetahui apa yang ditelan oleh bumi dari (tubuh) mereka, sebab pada Kami ada kitab (catatan) yang terpelihara dengan baik. [QS. Qāf: 4] Allah Ta'ala berfirman,
﴿...وَكُلَّ شَيۡءٍ أَحۡصَيۡنَٰهُ فِيٓ إِمَامٖ مُّبِينٖ﴾
Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab yang jelas (Lauḥ Maḥfūẓ). [QS. Yāsīn: 12] Allah Ta'ala berfirman,
﴿أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُ مَا فِي ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَٰبٍۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ70﴾
Tidakkah engkau tahu bahwa Allah mengetahui apa yang di langit dan di bumi? Sungguh, yang demikian itu sudah terdapat dalam sebuah Kitab (Lauḥ Maḥfūẓ). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah. [QS. Al-Ḥajj: 70].
C. Meyakini kehendak Allah Ta'ala yang pasti terlaksana. Apa yang Dia kehendaki pasti terjadi, sebaliknya yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,
﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَفۡعَلُ مَا يَشَآءُ﴾
Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki. [QS. Al-Ḥajj: 18] Allah ﷻ juga berfirman,
﴿إِنَّمَآ أَمۡرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيۡـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ82﴾
Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu Dia hanya berkata kepadanya, "Jadilah!" Maka jadilah sesuatu itu. [QS. Yāsīn: 82] Allah -Subḥānahu- juga berfirman,
﴿وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ29﴾
Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam. [QS. At-Takwīr: 29]
D. Meyakini bahwa Allah Ta'ala yang mengadakan semua yang ada; tidak ada pencipta selain-Nya, tidak ada Tuhan selain-Nya.
Allah -Subḥānahu- berfirman,
﴿ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖۖ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ وَكِيلٞ62﴾
Allah Pencipta segala sesuatu dan Dia Maha Pemelihara atas segala sesuatu. [QS. Az-Zumar: 62] Allah Ta'ala berfirman,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱذۡكُرُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡۚ هَلۡ مِنۡ خَٰلِقٍ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ فَأَنَّىٰ تُؤۡفَكُونَ3﴾
Wahai manusia! Ingatlah akan nikmat Allah kepadamu. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezeki kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka mengapa kamu berpaling (dari ketauhidan)? [QS. Fāṭir: 3]
Iman kepada takdir mencakup keimanan terhadap keempat perkara ini seluruhnya, sebagaimana yang diyakini oleh Ahlu Sunnah waljamaah. Berbeda dengan kalangan ahli bidah yang mengingkari sebagiannya.
Di antara perkara penting dalam akidah yang benar, yang diyakini oleh Ahlu Sunnah waljamaah ialah cinta dan benci karena Allah, membela dan memusuhi karena Allah. Inilah yang disebut dengan akidah walā` dan barā`, dan itu termasuk keimanan kepada Allah Ta'ala.
Seorang mukmin akan mencintai dan membela sesama mukminin, serta membenci dan memusuhi orang-orang kafir. Dan yang terdepan di antara umat ini adalah para sahabat Rasulullah ﷺ, sebagaimana hal itu menjadi keyakinan Ahlusunah waljamaah. Ahlusunah mencintai dan membela mereka, serta meyakini bahwa mereka manusia terbaik setelah para nabi. Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
«خَيْرُ القُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُم».
"Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya."14 (Muttafaq 'alā siḥḥatih)
Ahlusunnah meyakini bahwa orang yang paling utama di antara mereka adalah Abu Bakar Aṣ-Ṣiddīq, kemudian Umar Al-Fārūq, kemudian Uṡmān Żunnūrain, kemudian Ali Al-Murtaḍā, -raḍiyallāhu 'anhum-. Kemudian setelah itu sisa sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, kemudian segenap para sahabat lainnya -raḍiyallāhu 'anhum-. Mereka menahan diri dari membicarakan konflik yang terjadi di antara mereka -yakni para sahabat-, dan tetap meyakini bahwa mereka hanya berijtihad. Siapa yang ijtihadnya benar akan mendapatkan dua pahala, sedangkan yang keliru akan mendapatkan satu pahala.
Mereka mencintai Ahlubait Rasulullah ﷺ yang beriman kepada beliau, serta memuliakan istri-istri Rasulullah ﷺ, para ibunda kaum mukminin, serta mendoakan semoga Allah meridai mereka semua. Mereka berlepas diri dari cara kelompok Rafidah yang membenci para sahabat Rasulullah ﷺ serta mencela mereka, dan berlebihan terhadap Ahlubait serta mengangkat mereka di atas kedudukan yang telah Allah ﷻ tetapkan bagi mereka. Selain itu, mereka juga berlepas diri dari cara Nawāṣib yang menyakiti Ahlubait, dengan perkataan ataupun perbuatan.
Apa yang kita sebutkan ini, seluruhnya masuk dalam akidah yang sahih, yang menjadi tujuan Allah mengutus Rasul-Nya, Muhammad ﷺ. Inilah akidah yang harus diyakini, dipegang teguh, dan dijaga dengan istikamah, serta waspada dari yang menyelisihinya. Inilah akidah golongan yang selamat, yaitu Ahlusunnah waljamaah, yang disebutkan oleh Nabi ﷺ dalam hadisnya:
«لَا تَـزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الحَقِّ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ، حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ».
"Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang tegak di atas kebenaran; mereka tidak dicelakakan oleh orang yang meninggalkan mereka, hingga datang ketetapan Allah sedang mereka tetap di atas kebenaran tersebut."15 Dalam riwayat lain disebutkan:
«لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي عَلَى الحَقِّ مَنْصُورَةٌ».
"Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang ditolong oleh (Allah) tegak di atas kebenaran."16 Dan Nabi ﷺ bersabda,
«افْتَرَقَتِ اليَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً، وَسَتَفْتَرِقُ هَذِهِ الأُمَّةُ عَلَى ثَلَاثِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً فَقَالَ الصَّحَابَةُ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ كَانَ عَلَى مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي».
"Orang Yahudi terbagi menjadi 71 kelompok, dan orang Nasrani terbagi menjadi 72 kelompok. Sedangkan umat ini akan terbagi menjadi 73 kelompok; seluruhnya di neraka, kecuali satu kelompok." Para sahabat bertanya, "Siapakah kelompok yang satu itu, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda, "Mereka yang mengikuti jalanku dan sahabat-sahabatku."17
Akidah Yang Menyimpang Dari Akidah Yang Benar
Orang-orang yang menyimpang dari akidah ini serta berjalan di jalur yang bertentangan dengannya, terdiri dari berbagai golongan, di antaranya adalah para penyembah berhala, patung, malaikat, wali, jin, pohon, batu, dan lain sebagainya. Mereka tidak menerima dakwah para rasul, bahkan menyelisihi dan menentangnya. Hal ini seperti yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan berbagai kabilah Arab terhadap Nabi kita, Muhammad ﷺ. Mereka meminta kepada sembahan-sembahan mereka untuk memenuhi kebutuhan, menyembuhkan orang sakit, dan mengalahkan musuh. Mereka juga menyembelih dan mengadakan nazar untuk sembahan-sembahan tersebut. Maka, ketika Rasul ﷺ mengingkari hal tersebut dan memerintahkan mereka untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata, mereka merasa heran dan mengingkarinya. Mereka berkata,
﴿أَجَعَلَ ٱلۡأٓلِهَةَ إِلَٰهٗا وَٰحِدًاۖ إِنَّ هَٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٞ5﴾
Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. [QS. Ṣād: 5]
Nabi ﷺ terus-menerus mengajak mereka ke jalan Allah, memperingatkan mereka dari kesyirikan, dan menjelaskan hakikat dakwah yang beliau serukan. Hingga akhirnya, Allah memberi hidayah kepada sebagian dari mereka yang dikehendaki-Nya, kemudian mereka pun berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah. Maka, agama Allah pun menang atas agama-agama lainnya setelah perjuangan panjang dan dakwah yang tak henti-hentinya dilakukan oleh Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhum- serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Kemudian keadaan berubah, kebodohan merebak pada mayoritas manusia. Kebanyakan orang kembali ke ajaran jahiliah, dengan sikap berlebih-lebihan terhadap para nabi dan wali, meminta doa dan pertolongan kepada mereka, dan berbagai bentuk kesyirikan lainnya. Mereka tidak mengetahui makna "lā ilāha illallāh" sebagaimana orang-orang kafir Arab memahami maknanya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.
Kesyirikan seperti ini masih tersebar di tengah manusia hingga masa kita sekarang disebabkan karena kebodohan yang merajalela serta jauhnya dari masa kenabian.
Syubhat orang-orang belakangan ini sama dengan syubhat orang-orang terdahulu, yaitu pernyataan mereka,
﴿...هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ...﴾
...Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah... [QS. Yūnus: 18] Dan juga perkataan mereka,
﴿...مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ...﴾
Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. [QS. Az-Zumar: 3] Allah telah membatalkan syubhat tersebut dan menjelaskan bahwa siapa pun yang menyembah selain-Nya, siapa pun dia, maka dia telah melakukan kesyirikan dan kafir, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ...﴾
Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah... [QS. Yūnus: 18] Maka Allah -Subḥānahu- membantah mereka melalui firman-Nya,
﴿قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ18﴾
Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Yūnus: 18]
Allah Ta'ala menjelaskan dalam ayat ini bahwa beribadah kepada selain-Nya, yaitu kepada para nabi, wali, dan lainnya merupakan syirik besar, meskipun para pelakunya menyebutnya dengan sebutan lain. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ...﴾
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” [QS. Asy-Syūrā: 6] Kemudian Allah Ta'ala membantah mereka melalui firman-Nya,
﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ﴾
Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Asy-Syūrā: 6]
Melalui itu Allah -Subḥānahu- menjelaskan bahwa peribadatan mereka kepada selain-Nya, seperti berdoa, takut, harap, dan yang semisalnya adalah kufur kepada-Nya -Subḥānahu-. Demikian Allah mendustakan mereka terkait apa yang mereka bahwa tuhan-tuhan mereka mendekatkan mereka kepada Allah.
Di antara keyakinan kufur yang bertentangan dengan akidah yang sahih dan menyelisihi ajaran para rasul -'alaihimuṣṣalātu wassalām- adalah keyakinan orang-orang ateis masa ini, seperti para pengikut Marxis, Lenin, dan lainnya dari para propagandis paham ateisme dan kekufuran. Baik mereka menyebutnya sosialisme, komunisme, ba'thisme, ataupun dengan nama yang lain. Prinsip dasar para ateis itu adalah: "Tidak ada tuhan, dan kehidupan hanyalah materi".
Di antara prinsip dasar mereka adalah mengingkari hari Kiamat, mengingkari surga dan neraka, dan menolak semua agama. Orang yang mencermati buku-buku mereka dan mempelajari ajaran mereka akan mengetahui hal tersebut dengan yakin. Tidak diragukan lagi, akidah semacam ini menyelisihi semua agama samawi dan akan mengantarkan para penganutnya pada kesudahan yang paling buruk, di dunia maupun akhirat.
Akidah lain yang menyelisihi kebenaran adalah keyakinan sebagian kaum sufi bahwa sebagian orang yang mereka sebut wali ikut serta dalam mengatur alam bersama Allah dan mengendalikan urusan dunia ini. Mereka menyebutnya wali qutub, wali autād, gauṡ, dan istilah-istilah lainnya yang mereka buat untuk sembahan mereka. Ini adalah kesyirikan terkait rububiyah, dan itu adalah kesyirikan paling buruk kepada Allah Ta'ala.
Barang siapa mencermati kesyirikan bangsa jahiliah di masa lampau lalu membandingkannya dengan kesyirikan yang tersebar di kalangan orang-orang sekarang, niscaya akan mendapati bahwa kesyirikan orang sekarang lebih besar dan lebih parah. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Orang-orang kafir bangsa Arab pada masa jahiliah, mereka memiliki dua ciri khas: - Pertama: Mereka tidak berbuat syirik dalam rububiyah, tetapi kesyirikan mereka adalah dalam peribadatan.
Mereka mengakui hak rububiyah adalah milik Allah ﷻ saja, sebagaimana tertera dalam firman-Nya -Subḥānahu wa Ta'ālā-,
﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ...﴾
Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah... [QS. Az-Zukhruf: 87] Allah Ta'ala juga berfirman,
﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ31﴾
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” [QS. Yūnus: 31] Dan ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.
- Kedua: Kesyirikan mereka di dalam ibadah tidak berlangsung selamanya, tetapi hanya terjadi saat dalam kondisi lapang. Adapun saat kondisi sulit, mereka akan memurnikan ibadah kepada Allah.
Allah Ta'ala berfirman terkait hal itu,
﴿فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ65﴾
Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) menyekutukan (Allah), [QS. Al-'Ankabūt: 65]
Sedangkan orang-orang musyrik pada masa ini, mereka melebihi orang-orang terdahulu dari dua sisi: - Pertama: Sebagian mereka melakukan kesyirikan dalam rububiyah. - Kedua: Kesyirikan mereka terjadi baik dalam keadaan lapang maupun saat kesulitan.
Hal ini dapat diketahui oleh siapa saja yang berbaur dengan mereka, memperhatikan keadaan mereka, serta menyaksikan apa yang mereka lakukan di makam Husain, Badawi, dan lainnya di Mesir; makam Al-Aydrus di Aden; makam Al-Hadi di Yaman; makam Ibnu Arabi di Syam; makam Syekh Abdul Qadir Al-Jilani di Irak; serta makam-makam populer lainnya yang diperlakukan secara berlebihan oleh kalangan awam.
Mereka mengalihkan begitu banyak hak Allah 'Azza wa Jalla kepada kuburan-kuburan tersebut. Namun, sangat sedikit yang mengingkari perbuatan mereka dan menjelaskan hakikat tauhid yang menjadi tujuan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ dan para rasul sebelumnya. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.
Di antara bentuk akidah yang menyimpang dari akidah yang sahih terkait nama dan sifat Allah adalah akidah ahli bid'ah dari kalangan Jahmiah, Muktazilah, serta orang-orang yang mengikuti metode mereka dalam menafikan sifat-sifat Allah 'Azza wa Jalla. Mereka meniadakan sifat-sifat kesempurnaan yang telah ditetapkan bagi Allah -Subḥānahu- serta menyifati-Nya dengan sifat sesuatu yang tidak ada, benda mati, dan hal-hal yang mustahil. Maha Tinggi Allah setinggi-tingginya dari perkataan mereka yang batil itu.
Termasuk dalam hal ini adalah orang-orang yang menafikan sebagian sifat Allah tetapi menetapkan sebagian lainnya, sebagaimana akidah kalangan Asya'irah. Apa yang mereka katakan terkait sifat-sifat yang mereka tetapkan, mengharuskan mereka melakukan hal yang sama pada sifat-sifat yang mereka nafikan dan takwilkan dalilnya. Dengan demikian, mereka telah menyelisihi dalil-dalil naqli maupun aqli serta terjerumus ke dalam kontradiksi yang sangat nyata.
Adapun Ahlusunnah wal Jamaah, mereka menetapkan bagi Allah – Subḥānahu wa Ta‘ālā – segala yang Dia tetapkan bagi diri-Nya, maupun yang ditetapkan oleh Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, terkait nama-nama dan sifat-Nya secara sempurna. Mereka juga menyucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya dengan penyucian yang tidak mengandung unsur pembatalan makna. Mereka mengamalkan seluruh dalil tanpa menyelewengkan atau meniadakan maknanya, serta terhindar dari kontradiksi yang dialami oleh golongan lain, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.
Inilah jalan keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat, yaitu jalan lurus yang telah ditapaki oleh para pendahulu umat ini dan para imamnya. Generasi akhir umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang telah menjadikan generasi pertamanya menjadi baik, yaitu mengikuti Al-Qur`an dan As-Sunnah, serta meninggalkan segala perkara yang menyelisihi keduanya. Kita memohon kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- agar mengembalikan umat ini ke jalan yang benar, memperbanyak dai yang menyeru kepada kebenaran, serta memberikan taufik kepada para pemimpin dan ulamanya untuk melawan kesyirikan, memberantasnya, dan memperingatkan sarana-sarananya. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat. Hanya Allah sebagai pemberi petunjuk. Dialah yang mencukupi kami dan sebaik-baiknya penolong. Tidak ada upaya maupun kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat serta salam kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita, Muhammad, kepada keluarga, serta para sahabatnya.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-2
HUKUM ISTIGASAH KEPADA NABI ﷺ
Segala puji hanya milik Allah. Selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah, kepada keluarga, sahabat, dan semua yang mengikuti petunjuk beliau.
Amabakdu:
Surat kabar Al-Mujtama' Kuwait dalam edisi ke-15, yang terbit pada tanggal 19 Rabiul Akhir 1390 H menerbitkan beberapa bait syair dengan judul "Peringatan Maulid Nabi yang Mulia".
Bait-bait tersebut mengandung permohonan pertolongan (istigasah) dan kemenangan kepada Nabi ﷺ, agar beliau menolong umat, memenangkan, dan membebaskan mereka dari perpecahan dan perselisihan yang mereka alami. Syair tersebut ditandatangani oleh seseorang yang menyebut dirinya dengan nama: Aminah.
Berikut adalah teks dari beberapa bait syair yang dimaksud:
Wahai Rasulullah, tolonglah dunia yang... menyalakan perang dan membakar dengan panasnya
Wahai Rasulullah, tolonglah umat yang... berada dalam kegelapan keraguan yang telah lama membelenggu.
Wahai Rasulullah, selamatkanlah umat ini ***
dalam kesedihan yang mendalam, mereka kehilangan arah.
Sampai pada perkataannya,
Segeralah kemenangan seperti yang engkau lakukan ***
pada hari Badar, ketika engkau menyeru Allah
Maka kehinaan pun berubah menjadi kemenangan yang menakjubkan... Sesungguhnya Allah memiliki pasukan yang tidak terlihat oleh mata
Beginilah penulis ini mengarahkan seruannya dan permohonan tolongnya kepada Rasulullah ﷺ, meminta beliau untuk menyelamatkan umat dengan segera memberikan kemenangan. Ia lupa -atau tidak menyadari- bahwa kemenangan itu ada di tangan Allah semata, bukan di tangan Nabi ﷺ atau makhluk lainnya, sebagaimana firman Allah -Subḥānahū- dalam Kitab-Nya,
﴿...وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَكِيمِ﴾
Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana. [QS. Āli 'Imrān: 126] Allah ﷻ berfirman,
﴿إِنْ يَنْصُرْكُمُ اللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمْ وَإِنْ يَخْذُلْكُمْ فَمَنْ ذَا الَّذِي يَنْصُرُكُمْ مِنْ بَعْدِهِ...﴾
Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkan kamu, tetapi jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapa yang dapat menolong kamu setelah itu? [QS. Āli 'Imrān: 160]
Perbuatan ini, berupa doa dan istigasah, merupakan bentuk pengalihan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah Ta'ala. Padahal, telah diketahui berdasarkan nas dan ijmak bahwa perbuatan itu tidak diperbolehkan, karena Allah Subḥānahu menciptakan makhluk untuk beribadah kepada-Nya. Demikian pula Allah mengutus para rasul dan menurunkan kitab-kitab adalah untuk menerangkan ibadah tersebut serta menyerukannya. Sebagaimana Allah -Subḥānahu- berfirman,
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56] Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ...﴾
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ 25﴾
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku. [QS. Al-Anbiyā`: 25]. Allah ﷻ berfirman,
﴿الر كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ1 أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ2﴾
Alif Lām Rā. (Inilah) Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan secara terperinci, (yang diturunkan) dari sisi (Allah) Yang Mahabijaksana, Mahateliti,
agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira dari-Nya untukmu, [QS. Hūd: 1-2]
Allah Ta'ala telah menjelaskan dalam ayat-ayat yang muhkam ini bahwa Dia menciptakan jin dan manusia hanya agar mereka beribadah kepada-Nya semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Juga menerangkan bahwa Dia mengutus para rasul -'alaihimuṣ ṣalātu wassallam- untuk mengajak kepada ibadah tersebut dan melarang kebalikannya. Demikian pula Allah 'Azza Wa Jalla menerangkan bahwa Dia menetapkan ayat-ayat kitab-Nya serta menerangkannya secara rinci agar tidak ada yang disembah selain Allah Subḥānahū.
Dan telah diketahui bahwa ibadah berarti menauhidkan Allah dan menaati-Nya, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya. Allah telah memerintahkan dan mengabarkan hal tersebut dalam banyak ayat, di antaranya firman-Nya Subḥānahū,
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ...﴾
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama... [QS. Al-Bayyinah: 5] Demikian juga firman Allah -'Azza Wa Jalla-,
﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ...﴾
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia... [QS. Al-Isrā`: 23]. 3. Firman Allah -Subḥānahu-,
﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾
Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.
Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 2-3]
Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Seluruhnya menunjukkan kewajiban memurnikan ibadah kepada Allah semata dan meninggalkan penyembahan terhadap selain-Nya, baik itu para nabi maupun yang lainnya.
Tidak ada keraguan bahwa doa adalah bentuk ibadah yang paling penting dan paling luas cakupannya sehingga harus dimurnikan kepada Allah semata. Sebagaimana Allah -'Azza Wa Jalla- berfirman,
﴿فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ14﴾
Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). [QS. Gāfir: 14] Allah -'Azza Wa Jalla- juga berfirman,
﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا18﴾
Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. [QS. Al-Jinn: 18]. Perintah untuk memurnikan doa kepada Allah ini berlaku untuk semua makhluk, termasuk para nabi dan lainnya.
Demikian pula firman Allah:
﴿وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلۡتَ فَإِنَّكَ إِذٗا مِّنَ ٱلظَّٰلِمِينَ106﴾
Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yūnus: 106) Ini merupakan peringatan yang ditujukan kepada Nabi ﷺ, dan kita ketahui bersama bahwa Allah Yang Maha Suci menjaga beliau dari kesyirikan. Sehingga maksud dari ayat ini adalah peringatan kepada selain beliau. Kemudian Allah ﷻ berfirman,
﴿وَلَا تَدۡعُ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ106﴾
Dan jangan engkau menyembah sesuatu yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi bencana kepadamu selain Allah, sebab jika engkau lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” (QS. Yūnus: 106) Larangan ini ditujukan kepada Nabi ﷺ, tetapi maksudnya adalah memperingatkan yang lain. Sebab, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah melindungi Rasulullah dari kesyirikan, sebagaimana diketahui bersama. Kemudian Allah Ta'ala mempertegas larangan dan peringatan tersebut dengan berfirman,
﴿...فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ﴾
...maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang zalim.” Kata kezaliman, jika disebutkan secara mutlak maka maksudnya adalah syirik besar. Sebagaimana firman Allah Ta'ala,
﴿...وَالْكَافِرُونَ هُمُ الظَّالِمُونَ﴾
Orang-orang kafir itulah orang yang zalim. [QS. Al-Baqarah: 254]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ﴾
Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. [QS. Luqmān: 13]. Maka, jika Pemimpin umat manusia ﷺ, seandainya beliau berdoa kepada selain Allah niscaya beliau termasuk orang yang zalim, lalu bagaimana dengan yang lainnya?!
Berdasarkan ayat-ayat ini dan lainnya, diketahui bahwa berdoa kepada selain Allah -seperti orang mati, pohon, patung dan lainnya- adalah kesyirikan kepada Allah -'Azza Wa Jalla-, serta bertentangan dengan menauhidkan Allah dalam ibadah yang merupakan tujuan Allah menciptakan jin dan manusia, mengutus para rasul, dan menurunkan kitab-kitab. Juga, bertolak belakang dengan makna kesaksian "lā ilāha illallāh" yang menafikan ibadah dari selain Allah dan menetapkannya kepada Allah semata. Sebagaimana Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,
﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡكَبِيرُ62﴾
Demikianlah (kebesaran Allah) karena Allah, Dialah (Tuhan) Yang Hak. Dan apa saja yang mereka seru selain Dia, itulah yang bathil, dan sungguh Allah, Dialah Yang Mahatinggi, Mahabesar. [QS. Al-Ḥajj: 62]
Inilah adalah pondasi agama dan dasar keyakinan, tidak sah ibadah kecuali setelah sahnya fondasi ini, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ65﴾
Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Sungguh jika engkau menyekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi. [QS. Az-Zumar: 65]. Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman,
﴿...وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴾
Dan sekiranya mereka mempersekutukan Allah, pasti lenyaplah amalan yang telah mereka kerjakan. [QS. Al-An'ām: 88]
Dari penjelasan di atas terlihat dengan jelas bahwa agama Islam dan syahadat lā ilāha illallāh memiliki dua pilar besar:
Pertama: tidak boleh beribadah kecuali kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Siapa yang berdoa kepada orang mati, dari kalangan para nabi dan lainnya, atau berdoa kepada patung, pohon, batu atau makhluk lainnya, atau memohon pertolongan pada mereka, atau mendekatkan diri dengan sembelihan dan nazar, atau salat maupun sujud kepada mereka, maka dia telah menjadikan mereka sebagai tuhan selain Allah dan tandingan bagi Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi, serta telah membatalkan dan menafikan makna syahadat lā ilāha illallāh.
Kedua: tidak beribadah kepada Allah Ta'ala kecuali dengan syariat Nabi dan Rasulullah ﷺ. Siapa yang mengadakan amalan bid'ah dalam agama yang tidak disyariatkan oleh Allah, maka dia belum mewujudkan makna syahadat Muḥammad rasūlullāh. Amalnya tidak berguna dan tidak diterima. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا23﴾
Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami akan jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan. [QS. Al-Furqān: 23]. Maksud amalan yang disebutkan dalam ayat ini adalah amalan orang yang meninggal di atas kesyirikan kepada Allah -'Azza Wa Jalla-.
Masuk juga di dalamnya: amalan-amalan bid'ah yang tidak disyariatkan oleh Allah. Amalan tersebut akan seperti debu yang beterbangan kelak di hari Kiamat karena tidak sejalan dengan syariat yang suci. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ».
"Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya maka amalan tersebut tertolak." (Muttafaq 'Alaih)
Kesimpulannya: Penulis ini telah mengarahkan permintaan tolong dan doanya kepada Rasulullah ﷺ dan berpaling dari Rab alam semesta, padahal di tangan-Nya seluruh kemenangan, keburukan dan kebaikan. Sedangkan selain-Nya tidak memiliki sedikit pun dari itu.
Tidak diragukan, ini adalah kezaliman besar lagi buruk. Allah -'Azza Wa Jalla- telah memerintahkan untuk berdoa kepada-Nya -Subḥānahū- semata dan berjanji akan mengabulkan doa orang yang berdoa kepada-Nya, serta mengancam siapa saja yang menyombongkan diri dari berdoa kepada-Nya dengan masuk ke dalam neraka Jahanam. Allah -'Azza Wa Jalla- berfirman,
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ 60﴾
Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Gāfir: 60]. Yaitu orang-orang yang hina dan rendah. Maka ayat yang mulia ini menunjukkan bahwa doa adalah ibadah, dan siapa saja yang menyombongkan diri darinya (tidak mau berdoa), maka tempat kembalinya adalah Neraka Jahanam. Jika demikian keadaan orang yang enggan berdoa kepada Allah, lalu bagaimana dengan orang yang justru berdoa kepada selain-Nya dan berpaling dari-Nya? Padahal, Allah -Subḥānahū- Maha Dekat, Maha Memiliki segala sesuatu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Sebagaimana Allah -Subḥānahū- berfirman,
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ 186﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. [QS. Al-Baqarah: 186]. Rasulullah ﷺ mengabarkan dalam hadis yang sahih bahwa doa adalah ibadah, dan beliau berkata kepada sepupunya Abdullah bin 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā-,
«احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعْنَتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ».
"Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu! Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu! Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah! Dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah!" [HR. Tirmizi dan lainnya].
Nabi ﷺ bersabda,
«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا؛ دَخَلَ النَّارَ».
"Siapa yang meninggal dunia sedangkan dia berdoa kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, maka dia akan masuk neraka." [HR. Bukhari] Dan dalam kua kitab sahih (Bukhari dan Muslim) disebutkan bahwa Nabi ﷺ ditanya: Dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab,
«أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ».
"Engkau menjadikan tandingan bagi Allah padahal Dialah yang menciptakanmu." An-Niddu berarti tandingan atau yang setara. Maka, siapa saja yang berdoa kepada selain Allah, memohon pertolongan kepadanya, bernazar untuknya, menyembelih untuknya, atau mempersembahkan suatu bentuk ibadah kepadanya selain yang telah disebutkan; maka dia telah menjadikannya sebagai tandingan (bagi Allah), baik yang disembah itu seorang nabi, wali, malaikat, jin, patung, atau makhluk lainnya.
Di sini, mungkin ada yang bertanya: Bagaimana hukum meminta kepada orang yang masih hidup dan hadir secara langsung sesuatu yang mampu dia lakukan, serta beristigasah (meminta bantuannya) dalam urusan-urusan yang dapat dirasakan secara indrawi dan berada dalam kemampuannya? Jawab: Ini tidak termasuk kesyirikan, melainkan termasuk perkara biasa yang dibolehkan di antara kaum muslimin. Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam kisah Nabi Musa:
﴿...فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ...﴾
...Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya... [QS. Al-Qaṣaṣ: 15]. Sebagaimana firman Allah Ta'ala juga tentang kisah Nabi Musa,
﴿فَخَرَجَ مِنْهَا خَائِفًا يَتَرَقَّبُ...﴾
Maka keluarlah dia (Musa) dari kota itu dengan rasa takut, waspada... [QS. Al-Qaṣaṣ: 21]. Sebagaimana seseorang meminta pertolongan kepada sahabat-sahabatnya dalam peperangan atau dalam berbagai urusan lain yang dihadapi manusia dan di mana mereka saling membutuhkan satu sama lain.
Allah telah memerintahkan Nabi ﷺ untuk mengabari umatnya, bahwa beliau tidak memiliki kekuasaan untuk memberikan manfaat atau menimpakan bahaya kepada siapa pun. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman,
﴿قُلْ إِنَّمَا أَدْعُو رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِهِ أَحَدًا21 قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا22﴾
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”
"Katakanlah (Muhammad), 'Aku tidak kuasa menolak mudarat maupun mendatangkan kebaikan kepadamu.'” [QS. Al-Jinn: 21-22]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ188﴾
Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Al-A'rāf: 188].
Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.
Sudah dimaklumi bahwa Nabi ﷺ tidak berdoa kecuali kepada Rabb-nya. Sebagaimana telah diriwayatkan bahwa ketika Perang Badar, beliau memohon pertolongan kepada Allah, meminta kemenangan atas musuhnya, dan bersungguh-sungguh dalam doanya, seraya berkata: "Ya Rabb, wujudkanlah untukku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku." Hingga akhirnya, Abu Bakar -radiyallahu ‘anhu- berkata, "Cukuplah, wahai Rasulullah, sungguh Allah akan memenuhi apa yang telah dijanjikan kepadamu." Lalu Allah Subḥānahū menurunkan firman-Nya:
﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّي مُمِدُّكُم بِأَلۡفٖ مِّنَ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ9﴾
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhan kamu, lalu itu dikabulkan-Nya untuk kamu, “Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” [QS. Al-Anfāl: 9]. Maka Allah -Subḥānahu- menyebut dalam ayat-ayat ini tentang istigasah mereka, lalu Dia mengabarkan bahwa Dia telah mengabulkannya dengan mengirimkan para malaikat untuk memberi kabar gembira tentang kemenangan dan menenangkan hati mereka. Namun, Allah -Subḥānahu- menjelaskan bahwa kemenangan itu bukan berasal dari para malaikat, melainkan kemenangan itu datang dari-Nya semata. Sebagaimana firman-Nya Ta'ala,
﴿وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ...﴾
Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah... [QS. Āli 'Imrān: 126] Allah ﷻ berfirman,
﴿وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ123﴾
Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya. [QS. Āli 'Imrān: 123] Maka dalam ayat ini, Allah Ta'ala menjelaskan bahwa Dia-lah Yang Mahasuci yang memberikan kemenangan kepada mereka pada hari Badar. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa segala sesuatu yang diberikan kepada mereka, baik berupa senjata, kekuatan, maupun bantuan dari para malaikat, semuanya hanyalah sebagai sebab untuk kemenangan, sebagai kabar gembira, dan penenang hati. Namun, kemenangan itu sendiri tidak berasal dari hal-hal tersebut, melainkan semata-mata datang dari Allah saja. Maka bagaimana mungkin penulis ini, atau siapa pun selainnya, berani mengarahkan istigasah dan permintaan kemenangannya kepada Nabi ﷺ, sementara ia berpaling dari Rabb semesta alam, yang merupakan pemilik segala sesuatu dan Maha Kuasa atas segala sesuatu?!
Tidak diragukan lagi bahwa ini termasuk kebodohan yang paling buruk, bahkan termasuk bentuk kesyirikan yang paling besar. Maka penulis tersebut wajib untuk bertobat kepada Allah Subḥānahū dengan tobat yang sebenar-benarnya. Tobat yang sebenarnya mencakup beberapa hal, yaitu: 1. Menyesali dosa yang telah dilakukan. 2. Berhenti dari perbuatan yang telah dilakukannya. 3. Bertekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut, sebagai bentuk pengagungan kepada Allah, keikhlasan kepada-Nya, ketaatan terhadap perintah-Nya, serta kewaspadaan terhadap apa yang telah Dia larang. Inilah yang disebut dengan tobat nasuh (yang sebenarnya), Ada hal keempat yang khusus berlaku jika kesalahan tersebut berkaitan dengan hak makhluk lain, yaitu:
4. Mengembalikan hak kepada pemiliknya atau meminta kehalalan (kerelaan) darinya.
Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bertobat dan menjanjikan penerimaan tobat mereka, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
﴿وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ31﴾
Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. [QS. An-Nūr: 31]. Allah berfirman tentang orang-orang Nasrani:
﴿أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ74﴾
Mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampunan kepada-Nya? Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [QS. Al-Mā`idah: 74]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا68 يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا69 إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا70﴾
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,
(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [QS. Al-Furqān: 68-70]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ25﴾
Dan Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan, [QS. Asy-Syūrā: 25].
Diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda,
«الإِسْلَامُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَالتَّوْبَةُ تَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهَا».
"Islam menghapus dosa-dosa masa lalu (saat kafir), dan tobat menghapus perbuatan dosa sebelumnya."
Saya telah menuliskan tulisan singkat ini karena besarnya bahaya syirik, yang merupakan dosa terbesar, serta karena khawatir ada yang teperdaya dengan apa yang telah ditulis oleh penulis tersebut. Selain itu, hal ini juga sebagai bentuk kewajiban untuk memberikan nasihat karena Allah dan untuk hamba-hamba-Nya. Saya memohon kepada Allah ﷻ agar menjadikan tulisan ini bermanfaat, memperbaiki keadaan kita dan seluruh kaum muslimin, serta menganugerahkan kepada kita semua pemahaman yang benar dalam agama dan keteguhan di atasnya. Semoga Dia melindungi kita dan kaum Muslimin dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Sungguh, Dia-lah yang Maha Menguasai segala urusan dan Mahakuasa atas segala sesuatu.
Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-3
HUKUM ISTIGASAH KEPADA JIN DAN SETAN DAN BERNAZAR UNTUK MEREKA
Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz kepada siapa saja yang beragama Islam, semoga Allah memberikan taufik kepada saya dan kepada mereka semua untuk berpegang teguh pada agama-Nya dan tetap istikamah di atasnya. Āmīn.
Assalāmu'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh
Amabakdu: Sebagian saudara kita bertanya tentang perbuatan sebagian orang-orang jahil yang berdoa dan memohon pertolongan kepada selain Allah Subḥānahū dalam berbagai urusan, seperti berdoa dan memohon pertolongan kepada jin, serta bernazar dan berkurban untuk mereka. Demikian pula perkataan sebagian orang: "Wahai tujuh!" yang maksudnya adalah tujuh pemimpin jin, dengan seruan seperti: "Tangkap dia, hancurkan tulangnya, minum darahnya, siksa dia, wahai tujuh, lakukan ini dan itu padanya!" Atau perkataan sebagian yang lain: "Tangkaplah dia, wahai jin siang, wahai jin sore." Hal-hal seperti ini banyak ditemukan di sebagian daerah selatan. Termasuk dalam kategori ini adalah berdoa kepada orang mati dari kalangan para nabi, orang saleh dan lainnya; demikian juga berdoa kepada malaikat dan istigasah kepada mereka. Maka semua ini dan yang semisalnya banyak dilakukan oleh orang yang mengaku sebagai Muslim, karena kebodohan mereka dan sikap ikut-ikutan terhadap orang-orang sebelum mereka. Mungkin sebagian dari mereka menganggap hal ini remeh dan berdalih dengan mengatakan: "Ini hanya sesuatu yang terucap di lisan, kami tidak benar-benar memaksudkannya atau meyakininya."
Dia juga bertanya kepada saya tentang hukum menikahi orang yang dikenal melakukan perbuatan-perbuatan tersebut, hukum memakan sembelihan mereka, hukum menyalatkan mereka, dan salat di belakang mereka, serta tentang mempercayai para dukun dan peramal; seperti orang yang mengklaim mengetahui penyakit dan penyebabnya hanya dengan melihat sesuatu yang menyentuh tubuh pasien; seperti sorban, celana, kerudung, dan sejenisnya.
Jawabannya:
Segala puji bagi Allah semata. Semoga selawat serta salam terlimpahkan kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya, yakni Nabi kita Muhammad, juga kepada keluarga serta seluruh sahabat beliau, dan orang-orang yang mengikuti petunjuk mereka hingga hari Pembalasan.
Amma ba'du:
Sesungguhnya Allah -Subḥānahū wa Ta'ālā- telah menciptakan dua makhluk (jin dan manusia) agar mereka hanya beribadah kepada-Nya semata, bukan kepada selain-Nya, dan untuk mengkhususkan doa dan istigasah, penyembelihan, nazar, serta seluruh bentuk ibadah hanya kepada-Nya. Dia telah mengutus para rasul dengan membawa misi tersebut, memerintahkan mereka untuk menyampaikannya, dan menurunkan kitab-kitab samawi yang paling agung di antaranya adalah Al-Qur`an Al-Karim untuk menjelaskan hal itu dan mengajak kepadanya, serta memperingatkan manusia dari perbuatan syirik kepada Allah dan penyembahan kepada selain-Nya. Inilah pondasi paling utama dan dasar agama dan keimanan yang merupakan makna syahadat lā ilāha illallāh, dan hakikatnya tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah. Syahadat lā ilāha illallāh menafikan ketuhanan dan peribadatan kepada selain Allah, serta menetapkannya -yakni: ibadah- hanya bagi Allah semata, tanpa menyekutukan-Nya dengan makhluk mana pun. Dalil-dalil untuk hal ini dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ sangat banyak. Di antaranya, firman Allah ﷻ,
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56] 3. Firman Allah -Subḥānahu-,
﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ...﴾
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia... [QS. Al-Isrā`: 23]. Juga firman Allah Ta'ala,
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ...﴾
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama... [QS. Al-Bayyinah: 5] Juga firman Allah Ta'ala,
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ60﴾
Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Gāfir: 60]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ...﴾
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku... [QS. Al-Baqarah: 186].
Allah -Subḥānahū- menjelaskan di dalam ayat-ayat ini bahwa Dia menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Dan Allah telah menetapkan, yakni: memerintahkan dan mewasiatkan, kepada hamba-hamba-Nya di dalam Al-Qur`an yang muhkam dan melalui lisan Rasulullah -'alaihiṣ ṣalātu wassallam-, untuk tidak beribadah kecuali hanya kepada Rabb mereka.
Dan Allah ﷻ menjelaskan bahwa doa adalah ibadah yang agung, barang siapa yang menyombongkan diri darinya akan masuk neraka. Dia memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk hanya berdoa kepada-Nya semata, dan Dia memberitahukan bahwa Dia Mahadekat dan mengabulkan doa mereka. Maka semua hamba wajib untuk mengkhususkan doa hanya kepada Rabb mereka; karena doa merupakan salah satu bentuk ibadah yang karenanya mereka diciptakan dan diperintahkan untuk melaksanakannya. Dan Allah ﷻ berfirman,
﴿قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ162 لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ163﴾
Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam,
tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).163 [QS. Al-An'ām: 162-163].
Maka Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memberitahu manusia bahwa salatnya, ibadahnya—yaitu penyembelihan—, kehidupannya, dan kematiannya adalah semata-mata untuk Allah, Rabb semesta alam, tanpa sekutu bagi-Nya. Berdasarkan hal itu, siapa pun yang menyembelih untuk selain Allah, maka ia telah berbuat syirik kepada Allah, sebagaimana jika ia salat untuk selain-Nya. Sebab, Allah Subḥānahū telah menjadikan salat dan penyembelihan sebagai dua ibadah yang beriringan, serta menegaskan bahwa keduanya hanya untuk Allah semata, tanpa sekutu bagi-Nya. Maka barang siapa yang menyembelih untuk selain Allah —baik untuk jin, malaikat, orang yang telah meninggal, atau selain mereka— dengan tujuan mendekatkan diri kepada mereka, maka ia seperti orang yang salat untuk selain Allah. Dalam hadis yang sahih, Nabi -'alaihiṣ ṣalātu wassallam- bersabda,
«لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ».
"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah." Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad hasan dari Ṭāriq bin Syihāb -raḍiyallāhu 'anhu- dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
«مرَّ رَجُلَانِ عَلَى قَومٍ لَهُم صَنَمٌ لَا يَجُوزُهُ أَحَدٌ حَتَّى يُقرِّبَ لَهُ شَيئًا، فَقَالُوا لِأَحَدِهِمَا: قَرِّبْ. قَالَ: لَيسَ عِندِي شَيءٌ أَقَرِّبُهُ، قَالُوا: قَرِّبْ وَلَوْ ذَبَابًا، فَقَرَّبَ ذُبَابًا، فَخَلُّوا سَبِيلَهُ، فَدَخَلَ النَّارَ، وَقَالُوا لِلآخَرِ: قَرِّبْ. قَالَ: مَا كُنْتُ لِأُقَرِّبَ لِأَحَدٍ شَيْئًا دُونَ اللهِ جَلَّ جَلَالُهُ، فَضَرَبُوا عُنُقَه، فَدَخَلَ الجَنَّةَ».
"Ada dua orang lelaki melewati suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorang pun yang boleh melewati berhala itu kecuali harus mempersembahkan sesuatu untuknya. Maka, mereka berkata kepada salah seorang dari keduanya, ‘Persembahkan sesuatu.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak memiliki apa pun untuk dipersembahkan.’ Mereka berkata, ‘Persembahkan sesuatu, meskipun hanya seekor lalat.’ Maka, dia pun mempersembahkan seekor lalat. Lalu mereka membiarkannya pergi, tetapi dia masuk neraka karenanya. Kemudian mereka berkata kepada yang lainnya, ‘Persembahkan sesuatu.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak akan mempersembahkan apa pun kepada siapa pun selain Allah Yang Maha Agung.’ Maka mereka memenggal lehernya, dan dia pun masuk surga."
Maka jika seseorang yang mendekatkan diri kepada berhala atau semacamnya hanya dengan seekor lalat saja dianggap sebagai musyrik dan berhak masuk neraka, lalu bagaimana dengan orang yang berdoa kepada jin, malaikat, atau para wali? Bagaimana pula dengan orang yang meminta pertolongan kepada mereka, bernazar untuk mereka, serta mendekatkan diri dengan menyembelih kurban demi mereka, dengan harapan hartanya terjaga, penyakitnya sembuh, atau hewan ternaknya serta tanamannya selamat? Lebih dari itu, bagaimana dengan seseorang yang melakukan hal tersebut karena takut akan kejahatan jin atau hal-hal semacamnya? Tidak diragukan lagi bahwa siapa pun yang melakukan perbuatan seperti ini lebih pantas dikatakan sebagai musyrik dan lebih berhak masuk neraka dibandingkan dengan orang yang hanya mempersembahkan seekor lalat kepada berhala.
Dan dalil lain yang disebutkan tentang hal itu adalah firman Allah ﷻ,
﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾
Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.
Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 1-3]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ18﴾
Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah.” Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Yūnus: 18]
Maka Allah memberitakan dalam dua ayat ini bahwa orang-orang musyrik menjadikan selain-Nya sebagai wali-wali dari kalangan makhluk, lalu mereka menyembahnya bersama Allah dengan rasa takut, harapan, penyembelihan, nazar, doa, dan hal-hal semacamnya. Mereka mengklaim bahwa para wali tersebut akan mendekatkan mereka kepada Allah dan memberi syafaat bagi mereka di sisi-Nya. Kemudian Allah mendustakan mereka, menjelaskan kebatilan keyakinan mereka, serta menyebut mereka sebagai pendusta, kafir, dan musyrik. Dia juga menyucikan diri-Nya dari kesyirikan mereka. Allah ﷻ berfirman,
﴿...سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ﴾
Mahasuci Dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka persekutukan. [QS. An-Naḥl: 1]. Dari sini dapat dipahami bahwa siapa saja yang menjadikan malaikat, nabi, jin, pohon, batu, atau makhluk lainnya sebagai perantara dalam doa bersama Allah, meminta pertolongan kepada mereka, mendekatkan diri kepada mereka dengan bernazar atau menyembelih kurban, dengan harapan mendapatkan syafaat mereka di sisi Allah, mendekatkan diri kepada-Nya, menyembuhkan orang sakit, menjaga harta, menyelamatkan orang yang sedang bepergian, atau hal-hal serupa, maka dia telah terjerumus ke dalam kesyirikan yang besar dan musibah yang dahsyat. Allah Ta'ala berfirman mengenai hal ini,
﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا48﴾
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar. [QS. An-Nisā`: 48]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ﴾
Sesungguhnya barang siapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim itu. [QS. Al-Mā`idah: 72].
Syafaat itu hanya akan diperoleh pada hari kiamat oleh orang-orang yang bertauhid dan ikhlas, bukan bagi orang-orang yang berbuat syirik, sebagaimana yang dikatakan Nabi ﷺ ketika ditanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafaatmu?" Beliau menjawab,
«مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ».
"Orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari dalam hatinya." Nabi ﷺ bersabda,
«لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَـبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَومَ القِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهِ مَن مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا».
"Setiap Nabi mempunyai doa yang dikabulkan, maka setiap Nabi menyegerakan doanya, dan aku menyimpan doaku sebagai syafa'at bagi umatku pada hari kiamat. Dan syafa'atku akan diperoleh dengan kehendak Allah oleh orang yang meninggal dari umatku dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun."
Kaum musyrikin terdahulu meyakini bahwa Allah adalah Tuhan mereka, Pencipta mereka, dan Pemberi rezeki mereka. Namun, mereka bergantung pada para nabi, wali, malaikat, pohon, batu, dan yang semisalnya, dengan harapan mendapatkan syafaat mereka di sisi Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya, sebagaimana yang telah disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya. Maka Allah tidak memberi mereka uzur (alasan) dalam hal itu. Sebaliknya, Allah mencela mereka dalam Kitab-Nya yang agung, menyebut mereka sebagai orang-orang kafir dan musyrik, serta mendustakan klaim mereka bahwa semua sesembahan itu dapat memberi syafaat bagi mereka atau mendekatkan mereka kepada Allah. Rasulullah ﷺ pun tidak membiarkan mereka dengan alasan tersebut. Sebaliknya, beliau ﷺ memerangi mereka karena kesyirikan itu hingga mereka mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, sebagaimana firman-Nya -Subḥānahū-,
﴿وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ لِلَّهِ...﴾
Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi fitnah, dan agama hanya bagi Allah... [QS. Al-Baqarah: 193] Nabi ﷺ bersabda,
«أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَيُؤتُوا الزَّكَاةَ، فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُم وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الإِسْلَامِ، وَحِسَابُهُم عَلَى اللهِ».
"Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan salat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka melakukan hal itu, maka mereka terjaga dariku darahnya dan hartanya kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka pada Allah Ta'ala." Dan makna sabda Rasulullah ﷺ,
«حَتَّى يَشْهَدُوا أَن لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ».
"Hingga mereka bersaksi bahwa tiada Ilāh yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah," adalah: agar mereka memurnikan ibadah kepada Allah, tanpa menyembah selain-Nya.
Dahulu, kaum musyrikin takut kepada jin dan berlindung kepada mereka. Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang hal itu:
﴿وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا6﴾
Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat. [QS. Al-Jinn: 6]. Para ahli tafsir mengatakan tentang ayat yang mulia ini: makna firman Allah,
﴿...فَزَادُوهُمْ رَهَقًا﴾
...mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat. yakni: rasa gentar dan takut; karena jin menjadi sombong dan merasa tinggi dalam diri mereka ketika melihat manusia meminta perlindungan kepada mereka. Pada saat itu, mereka semakin menakut-nakuti dan menggentarkan manusia, hingga manusia semakin banyak beribadah dan berlindung kepada mereka.
Allah telah menggantikan bagi kaum Muslimin dengan istiazah (memohon perlindungan) kepada-Nya Subḥānahu, dan dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, serta menurunkan dalam hal ini firman-Nya ﷻ:
﴿وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ200﴾
Dan jika setan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. [QS. Al-A'rāf: 200]. Dan firman Allah ﷻ:
﴿قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ1﴾
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),” Diriwayatkan secara sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
«مَنْ نَزَلَ مَنْزِلًا فَقَالَ: (أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ)؛ لَم يَضُرَّهُ شَيءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ».
"Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu berdoa: 'A'ūżu bikalimātillāhit-tāmmāti min syarri mā khalaq'," (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk yang Dia ciptakan); maka tidak ada sesuatu pun yang membahayakan dirinya sampai dia beranjak dari tempatnya itu."
Berdasarkan ayat-ayat serta hadis yang telah disebutkan sebelumnya, seseorang yang menginginkan keselamatan dan berusaha menjaga agamanya, serta terhindar dari syirik, baik yang samar maupun yang jelas, akan mengetahui bahwa bergantung kepada orang mati, malaikat, jin, dan makhluk lainnya, serta berdoa kepada mereka dan meminta perlindungan kepada mereka dan semacamnya; adalah perbuatan orang-orang jahiliah musyrik, dan termasuk syirik yang paling buruk kepada Allah Subḥānahu. Maka wajib meninggalkannya, berhati-hati darinya, saling menasihati untuk meninggalkannya, dan mengingkari siapa saja yang melakukannya.
Adapun orang yang dikenal melakukan perbuatan-perbuatan syirik ini, maka tidak boleh menikahinya, tidak boleh memakan sembelihannya, tidak boleh menyalatinya dan tidak boleh salat bermakmum di belakangnya sampai ia mengumumkan tobatnya kepada Allah Subḥānahū dari perbuatan itu serta memurnikan doa dan ibadah hanya kepada Allah semata. Sebab, doa adalah ibadah, bahkan intisarinya. Sebagaimana Nabi ﷺ bersabda,
«الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ».
"Doa adalah ibadah." Dan diriwayatkan dari beliau ﷺ dalam lafaz yang lain bahwa beliau bersabda,
«الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ».
"Doa itu adalah intisari ibadah." Adapun menikahi kaum musyrikin, Allah Ta'ala telah berfirman,
﴿وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ وَلَا تُنْكِحُوا الْمُشْرِكِينَ حَتَّى يُؤْمِنُوا وَلَعَبْدٌ مُؤْمِنٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكٍ وَلَوْ أَعْجَبَكُمْ أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ وَيُبَيِّنُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ221﴾
Dan janganlah kamu nikahi perempuan musyrik, sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya perempuan yang beriman lebih baik daripada perempuan musyrik meskipun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang (laki-laki) musyrik (dengan perempuan yang beriman) sebelum mereka beriman. Sungguh, hamba sahaya laki-laki yang beriman lebih baik daripada laki-laki musyrik meskipun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. [QS. Al-Baqarah: 221]. Maka Allah -Subḥānahu- melarang kaum muslimin untuk menikahi wanita-wanita musyrik, dari kalangan penyembah berhala, jin, malaikat, dan selainnya, hingga mereka beriman dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, membenarkan Rasulullah ﷺ terkait apa yang dibawanya, dan mengikuti jalannya. Dan Allah melarang menikahkan orang-orang musyrik dengan wanita-wanita muslimah, hingga mereka beriman dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata, membenarkan Rasulullah ﷺ, dan mengikutinya.
Allah -Subḥānahu- juga mengabarkan bahwa seorang budak wanita yang beriman lebih baik daripada wanita merdeka yang musyrik, meskipun orang yang melihatnya dan mendengarkan perkataannya terkesan dengan kecantikannya dan kefasihan ucapannya; dan seorang hamba mukmin lebih baik daripada orang merdeka yang musyrik, meskipun pendengarnya dan yang melihatnya terkesan dengan ketampanannya, kefasihannya, keberaniannya, dan lainnya. Kemudian Allah -Subḥānahu- menjelaskan sebab-sebab dari perbedaan keutamaan ini dengan firman-Nya,
﴿...أُولَئِكَ يَدْعُونَ إِلَى النَّارِ...﴾
Mereka mengajak ke neraka [QS. Al-Baqarah: 221]. Maksudnya adalah: orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan; karena mereka adalah para pengajak ke neraka dengan ucapan, perbuatan, perilaku, dan akhlak mereka. Adapun orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, mereka adalah para pengajak ke surga dengan akhlak, perbuatan, dan perilaku mereka. Maka bagaimana mungkin mereka ini bisa disamakan dengan orang-orang yang seperti itu!
Adapun menyalati orang musyrik, Allah Jalla Wa 'Alā telah berfirman tentang kaum munafikin,
﴿وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ84﴾
Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seseorang yang mati di antara mereka (orang-orang munafik), selama-lamanya dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di atas kuburnya. Sesungguhnya mereka ingkar kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. [QS. At-Taubah: 84]. Allah Jalla wa 'Alā menjelaskan dalam ayat ini bahwa orang munafik dan kafir tidak boleh disalati karena kekufuran mereka kepada Allah dan Rasul-Nya. Demikian pula, tidak boleh salat di belakang mereka, dan mereka tidak dijadikan imam bagi kaum Muslimin; karena kekafiran dan ketidakjujuran mereka, serta permusuhan besar yang ada antara mereka dan kaum Muslimin. Mereka bukanlah orang yang layak untuk melaksanakan salat dan ibadah, karena kekufuran dan kesyirikan menghapus segala amal. Kita memohon kepada Allah keselamatan dari hal tersebut. Sedangkan memakan sembelihan orang musyrik, Allah ﷻ berfirman -menjelaskan tentang keharaman bangkai dan sembelihan mereka-,
﴿وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ121﴾
Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik. [QS. Al-An'ām: 121]. Maka Allah ﷻ melarang kaum Muslimin dari memakan bangkai dan sembelihan orang musyrik, karena ia dianggap najis. Sembelihannya dihukumi sebagai bangkai, meskipun ia menyebut nama Allah saat menyembelihnya. Sebab penyebutan nama Allah dari orang musyrik itu batal dan tidak memiliki pengaruh apa pun, karena tasmiyah (penyebutan nama Allah) adalah bagian dari ibadah. Sedangkan kesyirikan membatalkan dan menghapus ibadah, hingga orang musyrik itu benar-benar bertobat kepada Allah -Subḥānahū-. Hanya saja, Allah ﷻ menghalalkan makanan Ahli Kitab dalam firman-Nya -Subḥānahu-,
﴿...وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ وَطَعَامُكُمْ حِلٌّ لَهُمْ...﴾
...Makanan (sembelihan) Ahli Kitab itu halal bagimu, dan makananmu halal bagi mereka... [QS. Al-Mā`idah: 5]. Karena mereka mengaku mengikuti agama samawi dan mengklaim sebagai pengikut Musa dan Isa, meskipun dalam hal ini mereka berdusta. Allah telah menghapus dan membatalkan agama mereka dengan diutusnya Nabi Muhammad ﷺ kepada seluruh umat manusia. Namun, Allah -Jalla wa 'Alā- menghalalkan bagi kita makanan dan wanita Ahli Kitab karena hikmah yang mendalam dan rahasia yang terjaga, yang telah dijelaskan oleh para ulama. Berbeda dengan orang-orang musyrik penyembah berhala dan penyembah orang yang sudah meninggal, baik yang meninggal itu adalah para nabi, wali, maupun lainnya, karena agama mereka tidak memiliki dasar. Hal ini tidak ada keraguan di dalamnya, bahkan agama mereka batal dari akarnya, sehingga sembelihan mereka dianggap bangkai dan tidak halal untuk dimakan.
Adapun ucapan seseorang kepada orang yang diajaknya bicara: 'Jin telah menimpamu', 'Jin telah membawamu', 'Setan telah membawamu terbang', dan semacamnya, ini termasuk dalam kategori celaan dan makian, dan hal itu tidak diperbolehkan di antara sesama muslim, sebagaimana jenis-jenis celaan dan makian lainnya. Hal ini bukan termasuk syirik, kecuali jika orang yang mengucapkannya meyakini bahwa jin dapat mempengaruhi manusia tanpa izin dan kehendak Allah. Barang siapa yang meyakini hal tersebut pada jin atau makhluk lainnya, maka ia kafir dengan keyakinan ini; karena Allah -Subḥānahu- adalah pemilik segala sesuatu, dan berkuasa atas segala sesuatu, Dia yang memberi manfaat dan mudarat, dan tidak ada sesuatu pun kecuali dengan izin, kehendak, dan takdir-Nya yang telah ditetapkan sebelumnya, sebagaimana Dia ﷻ memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memberitahukan kepada manusia tentang pokok ajaran yang agung ini:
﴿قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ188﴾
Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allah. Sekiranya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [QS. Al-A'rāf: 188] Jika Rasulullah, yang merupakan junjungan seluruh makhluk dan yang paling utama di antara mereka -'alaihiṣ ṣalātu wassalām- tidak memiliki kuasa atas manfaat dan mudarat untuk dirinya kecuali dengan kehendak Allah, maka bagaimana dengan makhluk lainnya?! Ayat-ayat yang menjelaskan makna ini sangat banyak.
Adapun bertanya kepada para peramal, pesulap, ahli nujum, dan yang semisal mereka, yang mengaku mengetahui perkara gaib, maka itu adalah perbuatan yang tidak dibenarkan dan tidak boleh dilakukan. Membenarkan mereka lebih buruk dan lebih mungkar, bahkan termasuk cabang kekufuran; berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيءٍ؛ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَومًا».
"Siapa yang mendatangi peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka salatnya tidak akan diterima selama empat puluh hari." [HR. Muslim dalam Sahih-nya] Dalam Sahih-nya juga, dari Mu'āwiyah bin Al Ḥakam as-Sulami -raḍiyallāhu 'anhu-,
«أَنَّ النَّبيَّ ﷺ نَهَى عَنْ إِتْيَانِ الكُهَّانِ وَسُؤَالِهِم».
"Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang mendatangi dukun dan bertanya kepada mereka."
Diriwayatkan oleh pengarang kitab-kitab Sunan dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
«مَنْ أَتَى كَاهِنًا، فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ؛ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».
"Siapa yang mendatangi seorang dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini. Maka Muslimin wajib berhati-hati agar tidak bertanya kepada dukun dan peramal, serta semua tukang sihir yang terlibat dalam pemberitaan hal-hal gaib dan menipu kaum Muslimin, baik dengan dalih pengobatan atau lainnya, karena Nabi ﷺ telah melarang dan memperingatkan kita terkait hal itu. Termasuk dalam hal ini adalah apa yang diklaim oleh sebagian orang atas nama pengobatan dalam perkara-perkara gaib. Misalnya, seseorang mencium sorban pasien laki-laki atau kerudung pasien perempuan, lalu mengatakan, "Orang ini telah melakukan ini dan itu," terkait perkara-perkara gaib yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan sorban atau kerudung tersebut. Tujuan dari perbuatan ini hanyalah untuk menipu masyarakat awam agar mereka menganggapnya sebagai seorang yang ahli dalam pengobatan serta mengetahui berbagai jenis penyakit dan penyebabnya. Terkadang, ia bahkan memberikan mereka sesuatu berupa obat-obatan. Jika kebetulan pasien sembuh dengan takdir Allah, mereka pun mengira bahwa kesembuhan itu disebabkan oleh obat yang diberikan olehnya. Mungkin penyakit itu disebabkan oleh gangguan sebagian jin dan setan yang melayani orang yang mengaku sebagai tabib tersebut, dan mereka (jin atau setan) memberitahunya tentang beberapa hal gaib yang mereka ketahui, sehingga ia bergantung pada informasi tersebut. (Sebagai imbalannya) ia memuaskan jin dan setan dengan ibadah yang mereka sukai, sehingga mereka mau menjauh dari pasien tersebut, dan meninggalkan gangguan yang telah mereka lakukan padanya. Hal ini adalah sesuatu yang terkenal dalam dunia jin, setan serta orang-orang yang memanfaatkan mereka.
Kaum Muslimin juga wajib untuk berhati-hati terhadap hal tersebut, saling menasihati agar meninggalkannya, bersandar kepada Allah Yang Mahasuci, dan bertawakal kepada-Nya dalam segala urusan. Tidak mengapa menggunakan ruqyah-ruqyah yang sesuai syariat dan obat-obatan yang dibolehkan, serta berobat dengan dokter yang menggunakan pemeriksaan langsung terhadap orang yang sakit dan memastikan penyakitnya dengan cara-cara yang nyata dan logis. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Nabi ﷺ secara sahih bahwa beliau bersabda,
«مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ».
"Allah tidak menurunkan penyakit melainkan Dia telah menurunkan pula obatnya, diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang jahil akan hal itu." Nabi ﷺ bersabda,
«لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ، فإِذَا أُصِيبَ دَوَاءٌ الدَّاءَ بََرَأَ بِإِذْنِ اللهِ».
"Setiap penyakit ada obatnya. Jika obat itu tepat untuk penyakitnya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah." Nabi ﷺ bersabda,
«عِبَادَ اللهِ، تَدَاوَوا وَلَا تَدَاوَوا بِحَرَامٍ».
"Wahai hamba Allah, berobatlah dan janganlah berobat dengan sesuatu yang haram." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.
Kita memohon kepada Allah ﷻ agar memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin, menyembuhkan hati dan tubuh mereka dari segala keburukan, serta menyatukan mereka di atas petunjuk-Nya. Semoga Allah melindungi kita dan mereka dari fitnah yang menyesatkan serta dari ketaatan kepada setan dan para pengikutnya. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan tiada daya serta kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-4
HUKUM BERIBADAH DENGAN WIRID BID'AH DAN MENGANDUNG KESYIRIKAN
Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz kepada saudara yang terhormat (.........), semoga Allah memberinya taufik untuk melakukan segala kebaikan, Āmīn.
Assalāmu'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Amabakdu: Telah sampai kepada saya surat Anda yang mulia, -semoga Allah membimbing Anda dengan petunjuk-Nya-, dan disebutkan di dalamnya bahwa di negeri Anda terdapat orang-orang yang berpegang pada wirid-wirid yang tidak diturunkan Allah sebagai hujjah, di antaranya ada yang bersifat bid'ah, dan ada pula yang mengandung kesyirikan, dan mereka menisbahkan hal tersebut kepada Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib -raḍiyallāhu ‘anhu- dan lainnya. Mereka membaca zikir-zikir tersebut dalam majelis-majelis zikir, atau di masjid-masjid setelah salat Magrib, dengan anggapan bahwa itu adalah bentuk pendekatan kepada Allah, seperti ucapan merek, "Biḥaqqillāh, rijālallāh, a'īnūnā bi'aunillāh, wa kūnū 'aunanā billāh."
Artinya: "Demi hak Allah, wahai para wali Allah, tolonglah kami dengan pertolongan Allah, dan jadilah penolong kami dengan izin Allah." Dan juga seperti ucapan mereka: "Wahai para wali qutub, wahai para pemimpin, wahai orang-orang yang memiliki pertolongan, tolonglah kami, dan jadilah pemberi syafaat kepada Allah, ini adalah hamba kalian yang berdiri, dan duduk berdiam di pintu kalian, dan takut karena kekurangannya. Tolonglah kami wahai Rasulullah, aku tidak punya tempat lain untuk meminta selain kepada kalian, dan hanya dari kalianlah hajatku terpenuhi, dan kalian adalah keluarga Allah, demi Hamzah pemimpin para syuhada, dan siapa di antara kalian yang memberi pertolongan kepada kami, tolonglah kami wahai Rasulullah." Dan seperti ucapan mereka: "Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada sosok yang Engkau jadikan sebagai sebab terungkapnya rahasia-rahasia ketuhanan-Mu yang agung dan terbukanya cahaya kasih sayang-Mu, sehingga ia menjadi wakil dari hadirat ketuhanan-Mu dan khalifah untuk rahasia-rahasia zat-Mu."
Saya berharap Anda menjelaskan apa itu bid'ah dan syirik? Apakah sah hukum salat di belakang imam yang berdoa menggunakan doa tersebut? Semua itu sudah diketahui.
Jawabannya: Segala puji bagi Allah semata. Semoga selawat serta salam terlimpahkan kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya, juga kepada keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga Hari Pembalasan.
Amma ba'du: Ketahuilah - semoga Allah memberikan taufik kepada Anda - bahwa Allah Yang Mahasuci menciptakan seluruh makhluk dan mengutus para rasul - 'alaihimus salātu was salām - agar Dia semata yang disembah, tanpa sekutu, dan agar ibadah tidak ditujukan kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56]
Ibadah, sebagaimana telah dijelaskan, yaitu taat kepada Allah Yang Mahasuci dan taat kepada Rasulullah Muhammad ﷺ dengan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, serta meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya, berdasarkan keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya, keikhlasan kepada Allah dalam beramal disertai dengan kecintaan yang sempurna kepada Allah dan ketundukan yang penuh hanya kepada-Nya, tanpa menyekutukan-Nya dengan siapa pun. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ...﴾
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia... [QS. Al-Isrā`: 23] Maksudnya: Dia memerintahkan dan mewasiatkan agar hanya Dia semata yang disembah. Allah Ta'ala berfirman,
﴿الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ2 الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ3 مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ4 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ5﴾
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.
Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang3
Pemilik hari pembalasan.
Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. [QS. Al-Fātiḥah: 2-5] Melalui ayat-ayat ini, Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menerangkan bahwa hanya Dia yang berhak untuk disembah dan hanya kepada-Nya tempat meminta pertolongan. Allah ﷻ juga berfirman,
﴿إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُ...﴾
Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.
"Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik)... [QS. Az-Zumar: 2-3] Allah Ta'ala berfirman,
﴿فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ14﴾
Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). [QS. Gāfir: 14] Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا18﴾
Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. [QS. Al-Jinn: 18]. Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak, dan semuanya menunjukkan kewajiban mengesakan Allah dalam beribadah.
Dan sudah diketahui bahwa doa, dengan segala jenisnya, merupakan ibadah. Oleh karena itu, siapa pun tidak boleh berdoa kecuali hanya kepada Rabb-nya, serta tidak boleh meminta pertolongan atau memohon perlindungan kecuali kepada-Nya semata sebagai wujud mengamalkan ayat-ayat yang mulia ini serta yang semakna dengannya. Adapun dalam perkara-perkara yang bersifat biasa dan dalam sebab-sebab yang bersifat fisik yang masih dalam kemampuan makhluk yang hidup dan hadir, maka hal tersebut tidak termasuk ibadah. Bahkan, berdasarkan nas (dalil) dan ijmak, seseorang boleh meminta bantuan kepada sesama manusia yang masih hidup dan mampu, dalam perkara-perkara biasa yang bisa dikerjakan; seperti meminta bantuannya atau pertolongannya untuk menolak keburukan dari anaknya, pelayannya, anjingnya, dan yang semisalnya. Atau seperti seseorang yang meminta bantuan kepada manusia lain yang masih hidup, hadir, dan mampu, atau yang tidak hadir tetapi dapat dihubungi melalui sebab-sebab yang bersifat nyata seperti surat-menyurat dan sejenisnya, untuk membangun rumahnya, memperbaiki mobilnya, atau lainnya yang semisal. Demikian juga seseorang meminta tolong kepada rekan-rekannya dalam jihad dan perang, dan lainnya. Termasuk dalam hal ini firman Allah Ta'ala tentang kisah Nabi Musa -'alaihiṣṣalātu wassalamām-,
﴿...فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ...﴾
...Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya... [QS. Al-Qaṣaṣ: 15]
Adapun meminta pertolongan (istigasah) kepada orang-orang yang telah meninggal, jin, malaikat, pepohonan, atau bebatuan, maka itu termasuk syirik akbar (syirik besar). Perbuatan ini serupa dengan apa yang dilakukan oleh kaum musyrikin terdahulu terhadap sesembahan mereka, seperti Al-‘Uzzā, Al-Lāt, dan selainnya. Demikian pula, istigasah dan meminta pertolongan kepada orang-orang yang dianggap wali dari kalangan orang yang masih hidup dalam perkara yang hanya mampu dilakukan oleh Allah, seperti menyembuhkan penyakit, memberi hidayah kepada hati, memasukkan seseorang ke dalam surga, menyelamatkannya dari neraka, dan hal-hal serupa lainnya.
Ayat-ayat sebelumnya, serta ayat-ayat dan hadis-hadis yang memiliki makna serupa, semuanya menunjukkan wajibnya mengarahkan hati hanya kepada Allah dalam segala urusan dan mengikhlaskan ibadah semata-mata untuk-Nya. Sebab, manusia diciptakan untuk itu dan diperintahkan melaksanakannya—sebagaimana telah disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya—serta dalam firman Allah Subḥānahū,
﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا...﴾
Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun... [QS. An-Nisā`: 36] 3. Firman Allah -Subḥānahu-,
﴿وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ...﴾
Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya... [QS. Al-Bayyinah: 5] Dan sabda Nabi ﷺ dalam hadis Mu'az -raḍiyallāhu 'anhu-,
«حَقُّ اللهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا».
"Hak Allah atas hamba adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun." (Muttafaq 'alā siḥḥatih) Dan sabda Nabi ﷺ dalam hadis Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-,ﷺ
«مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا؛ دَخَلَ النَّارَ».
"Siapa yang meninggal dunia sedangkan dia berdoa kepada selain Allah sebagai tandingan bagi-Nya, maka dia akan masuk neraka." [HR. Bukhari]. Dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, Ibnu 'Abbās -raḍiyallāhu 'anhumā- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ ketika mengutus Mu'az ke Yaman, beliau bersabda kepadanya,
«إِنَّكَ تَأْتِي قَومًا أَهْلَ كِتَابٍ، فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُم إِلَيهِ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ».
"Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahli Kitab, maka hendaknya pertama kali yang engkau dakwahkan adalah agar bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah." Dalam redaksi lain:
«اُدْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ».
"Ajak mereka untuk bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan Allah." Dalam riwayat Bukhari yang lain:
«فَلْيَكُنْ أَوَّلَ مَا تَدْعُوهُم إِلَى أَنْ يُوَحِّدُوا اللهَ».
"Hendaklah perkara pertama yang engkau dakwahkan pada mereka adalah agar mereka menauhidkan Allah." Dalam Sahih Muslim, Ṭāriq bin Usyaim Al-Asyja'iy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«مَنْ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ، وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِن دُونِ اللهِ؛ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ، وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ جَلَّ جَلَالُهُ».
"Siapa yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dan mengingkari semua yang disembah selain Allah, maka harta dan darahnya terjaga, sedangkan perhitungan amalnya terserah kepada Allah ﷻ." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.
Tauhid ini adalah pokok agama Islam, dasar keyakinan, inti dari seluruh perkara, dan kewajiban yang paling utama. Tauhid juga merupakan hikmah di balik penciptaan jin dan manusia serta pengutusan seluruh rasul -'alaihimussalām- sebagaimana telah disebutkan dalam ayat-ayat yang menunjukkan hal itu. Di antaranya adalah firman Allah -Subḥānahū-,
﴿وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ56﴾
Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. [QS. Aż-Żāriyāt: 56] Di antara dalilnya juga adalah firman Allah ﷻ,
﴿وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ...﴾
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Juga firman Allah -Subḥānahu wa Ta’ālā-,
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ25﴾
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku, maka sembahlah Aku. [QS. Al-Anbiyā`: 25] Allah ﷻ juga berfirman tentang Nabi Nuh, Hud, Salih dan Syu'aib -'alaihimussalām- bahwa mereka telah menyampaikan kepada kaumnya:
﴿...اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ...﴾
Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) bagimu selain Dia. [QS. Al-A'rāf: 59] Ini adalah dakwah semua rasul, sebagaimana telah ditunjukkan oleh dua ayat di atas. Bahkan, musuh-musuh para rasul pun mengakui bahwa rasul-rasul tersebut mengajak mereka untuk mengesahkan Allah dalam ibadah dan meninggalkan tuhan-tuhan yang disembah selain Allah. Sebagaimana firman Allah ﷻ tentang kisah 'Ād, yaitu ketika mereka berkata kepada Hud -'alaihissalām-,
﴿...أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللَّهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُنَا...﴾
...Apakah kedatanganmu kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh nenek moyang kami... [QS. Al-A'rāf: 70] Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi juga berfirman tentang ucapan kaum Quraisy tatkala didakwahi oleh Nabi kita, Muhammad ﷺ untuk mengesahkan Allah dalam ibadah serta meninggalkan semua yang mereka sembah selainnya, seperti para malaikat, wali, patung, pohon dan lain sebagainya:
﴿أَجَعَلَ الْآلِهَةَ إِلَهًا وَاحِدًا إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ5﴾
Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang satu saja? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. [QS. Ṣād: 5] Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga berfirman,
﴿إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ35 وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُوٓاْ ءَالِهَتِنَا لِشَاعِرٖ مَّجۡنُونِۭ36﴾
Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, "Lā ilāha illallāh" (Tidak ada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah), mereka menyombongkan diri,
Dan mereka berkata, "Apakah kami harus meninggalkan sesembahan kami karena seorang penyair gila?"36 [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 35-36] Ayat-ayat yang menunjukkan makna ini sangat banyak.
Dari ayat-ayat serta hadis-hadis yang telah kami sebutkan, menjadi jelas bagimu -semoga Allah membimbingku dan membimbingmu kepada pemahaman dalam agama dan pengetahuan tentang hak Rabb alam semesta- bahwa doa-doa dan berbagai macam istigasah ini -sebagaimana yang engkau terangkan dalam pertanyaan-, seluruhnya merupakan bentuk syirik besar karena merupakan peribadatan kepada selain Allah dan permintaan akan perkara-perkara yang hanya mampu dilakukan-Nya, yang ditujukan kepada orang-orang yang telah meninggal atau makhluk yang tidak hadir. Ini lebih buruk dari syirik orang-orang terdahulu karena mereka melakukan kesyirikan hanya di saat lapang; sedangkan dalam keadaan susah, mereka mengikhlaskan ibadah kepada Allah; karena mereka mengetahui bahwa Allah -Subḥānahū- adalah satu-satunya yang mampu menyelamatkan mereka dari kesulitan, bukan selain-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman dalam kitab-Nya yang jelas tentang orang-orang musyrik itu,
﴿فَإِذَا رَكِبُواْ فِي ٱلۡفُلۡكِ دَعَوُاْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ فَلَمَّا نَجَّىٰهُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ إِذَا هُمۡ يُشۡرِكُونَ65﴾
Maka apabila mereka naik kapal, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh rasa pengabdian (ikhlas) kepada-Nya, tetapi ketika Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, malah mereka (kembali) menyekutukan (Allah), [QS. Al-'Ankabūt: 65] Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- juga berfirman kepada mereka dalam ayat lain,
﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِي ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّآ إِيَّاهُۖ فَلَمَّا نَجَّىٰكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡۚ وَكَانَ ٱلۡإِنسَٰنُ كَفُورًا67﴾
Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilang semua yang (biasa) kamu seru, kecuali Dia. Tetapi ketika Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling (dari-Nya). Dan manusia memang selalu ingkar (tidak bersyukur). [QS. Al-Isrā`: 67]
Jika ada seseorang dari kalangan musyrikin zaman sekarang berkata, "Kami tidak bermaksud bahwa mereka (para wali, orang-orang saleh, atau makhluk lain) dapat memberi manfaat atau menyembuhkan penyakit kami dengan sendirinya, atau bahwa mereka dapat memberi manfaat dan mendatangkan bahaya dengan sendirinya; akan tetapi, kami hanya bermaksud menjadikan mendapatkan syafaat mereka (sebagai perantara) kepada Allah Ta'ala dalam hal itu."
Maka jawabannya adalah dengan mengatakan: Perkataan ini sama persis dengan tujuan dan maksud kaum kafir terdahulu. Mereka juga tidak meyakini bahwa sesembahan mereka mampu menciptakan, memberi rezeki, atau mendatangkan manfaat dan mudarat dengan sendirinya. Hal ini terbantahkan dengan apa yang telah Allah sebutkan dalam Al-Qur`an tentang mereka bahwa tujuan mereka adalah mencari syafaat, kedudukan, dan kedekatan kepada Allah dengan sedekat-dekatnya melalui perantara tersebut. Sebagaimana firman Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-,
﴿وَيَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡ وَيَقُولُونَ هَٰٓؤُلَآءِ شُفَعَٰٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ...﴾
Dan mereka menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bencana kepada mereka dan tidak (pula) memberi manfaat, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di hadapan Allah... [QS. Yūnus: 18] Maka Allah Ta'ala menanggapi mereka dengan firman-Nya,
﴿...قُلۡ أَتُنَبِّـُٔونَ ٱللَّهَ بِمَا لَا يَعۡلَمُ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَلَا فِي ٱلۡأَرۡضِۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ﴾
Katakanlah, “Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah sesuatu yang tidak diketahui-Nya apa yang di langit dan tidak (pula) yang di bumi?” Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. [QS. Yūnus: 18] Allah menerangkan bahwa Dia tidak mengetahui bahwa di langit maupun di bumi ada seorang pemberi syafaat di sisi-Nya seperti yang dimaksudkan oleh kaum musyrikin. Semua yang tidak diketahui keberadaannya oleh Allah, maka pasti tidak memiliki wujud karena tidak ada sesuatu pun yang samar bagi Allah. Allah Ta'ala berfirman,
﴿تَنزِيلُ ٱلۡكِتَٰبِ مِنَ ٱللَّهِ ٱلۡعَزِيزِ ٱلۡحَكِيمِ 1 إِنَّآ أَنزَلۡنَآ إِلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ فَٱعۡبُدِ ٱللَّهَ مُخۡلِصٗا لَّهُ ٱلدِّينَ2 أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلۡخَالِصُۚ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ3﴾
Kitab (Al-Qur`an) ini diturunkan oleh Allah Yang Mahamulia, Mahabijaksana.
Sesungguhnya Kami menurunkan kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.
Ingatlah! Hanya milik Allah agama yang murni (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 1-3]
Yang dimaksud dengan agama di sini adalah ibadah, yaitu ketaatan kepada Allah dan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ, sebagaimana telah disebutkan. Ibadah ini mencakup: doa, istigasah, takut dan harap, sembelihan dan nazar. Selain itu, ibadah juga mencakup salat, puasa, serta segala bentuk perintah yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan. Maka Allah -Subḥānahū- telah menjelaskan bahwa ibadah itu hanya untuk-Nya semata, dan bahwa wajib bagi seluruh hamba untuk mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya ﷻ. Sebab, perintah Allah kepada Nabi ﷺ untuk mengikhlaskan ibadah kepada-Nya, berlaku juga bagi seluruh umat ini.
Kemudian setelah itu Allah -Azza Wa Jalla- menerangkan tentang orang kafir, seraya berfirman,
﴿...وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُواْ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٰٓ...﴾
Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), “Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” [QS. Az-Zumar: 3] Maka Allah membantah mereka dengan firman-Nya Subḥānahū,
﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ﴾
Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 3] Maka Allah Yang Mahasuci memberitakan dalam ayat-Nya yang mulia ini bahwa orang-orang kafir tidaklah menyembah para wali selain-Nya melainkan dengan tujuan agar para wali itu mendekatkan mereka kepada Allah sedekat-dekatnya. Dan inilah tujuan kaum kafir, baik di masa lalu maupun masa kini. Namun, Allah Ta'ala telah membatalkan keyakinan mereka dengan firman-Nya,
﴿...إِنَّ ٱللَّهَ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ فِي مَا هُمۡ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي مَنۡ هُوَ كَٰذِبٞ كَفَّارٞ﴾
Sungguh, Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta dan orang yang sangat ingkar. [QS. Az-Zumar: 3] Allah Yang Mahasuci lagi Mahatinggi menerangkan kebohongan mereka tentang klaim bahwa tuhan-tuhan mereka akan mendekatkan mereka kepada Allah dengan sedekat-dekatnya dan Allah juga menyatakan mereka kafir disebabkan mereka memalingkan ibadah kepadanya. Dengan demikian, setiap orang yang memiliki sedikit saja pemahaman dapat mengetahui bahwa sebab kafirnya orang-orang musyrik terdahulu adalah karena menjadikan para nabi, wali, pohon, batu dan lain sebagainya sebagai pemberi syafaat antara mereka dengan Allah. Demikian juga keyakinan mereka bahwa sembahan-sembahan itu dapat memenuhi kebutuhan mereka tanpa seizin dan keridaan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- sebagaimana para menteri memberi syafaat (rekomendasi) di sisi para raja. Mereka menganalogikan Allah ﷻ dengan para raja dan pimpinan. Mereka mengatakan: Sebagaimana seseorang yang memiliki kepentingan dengan raja dan pemimpin akan berperantara kepadanya melalui orang-orang dekat dan para menterinya, demikian pula kami mendekatkan diri kepada Allah dengan beribadah kepada para nabi dan wali-Nya.
Ini adalah kebatilan yang paling batil, karena Allah ﷻ tidak memiliki tandingan dan tidak dapat dianalogikan dengan makhluk-Nya. Tidak ada seorang pun yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya dan Allah tidak akan memberikan izin itu kecuali kepada orang yang bertauhid. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- Maha Kuasa atas segala sesuatu, Maha Mengetahui segala sesuatu, dan Dialah yang paling penyayang di antara para penyayang. Dia tidak takut kepada siapa pun karena Dia Maha Kuasa atas hamba-hamba-Nya dan berbuat pada mereka sesuai kehendak-Nya. Berbeda dengan para raja dan pemimpin, mereka tidak menguasai segala sesuatu. Oleh karena itu, mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk hal-hal yang terkadang tidak mampu mereka lakukan sendiri, seperti bantuan para menteri, orang dekat, dan pasukannya. Selain itu, mereka juga butuh informasi tentang kebutuhan orang-orang yang tidak mereka ketahui secara langsung, sehingga mereka membutuhkan para menteri dan orang-orang dekatnya untuk mengambil hati dan keridaan mereka. . Oleh karena itu, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menerangkan dalam Kitab-Nya bahwa kaum musyrikin mengakui bahwa Allah yang menciptakan, memberi rezeki, dan mengatur; juga bahwa Dialah yang mengabulkan doa orang yang sedang mengalami kesulitan, mengangkat keburukan, menghidupkan dan mematikan, dan melakukan perbuatan lainnya yang merupakan kekhususan Allah Ta'ala. Perselisihan antara kaum musyrikin dan para rasul terletak pada masalah pemurnian ibadah kepada Allah semata. Allah ﷻ berfirman,
﴿وَلَئِن سَأَلۡتَهُم مَّنۡ خَلَقَهُمۡ لَيَقُولُنَّ ٱللَّهُ...﴾
Dan jika engkau bertanya kepada mereka, siapakah yang menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab, Allah... (QS. Az-Zukhruf: 87). Allah Ta'ala berfirman,
﴿قُلۡ مَن يَرۡزُقُكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ أَمَّن يَمۡلِكُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَمَن يُخۡرِجُ ٱلۡحَيَّ مِنَ ٱلۡمَيِّتِ وَيُخۡرِجُ ٱلۡمَيِّتَ مِنَ ٱلۡحَيِّ وَمَن يُدَبِّرُ ٱلۡأَمۡرَۚ فَسَيَقُولُونَ ٱللَّهُۚ فَقُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ31﴾
Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang memberi rezeki kepada kamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka menjawab, “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?” (QS. Yūnus: 31). Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.
Telah disebutkan sebelumnya ayat-ayat yang menunjukkan bahwa perselisihan antara para rasul dan kaumnya adalah pada masalah pemurnian ibadah kepada Allah semata, seperti firman Allah Ta'ala,
﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾
Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah ṭāgūt... [QS. An-Naḥl: 36] Juga masih banyak ayat lainnya yang semakna. Allah ﷻ telah menerangkan di dalam banyak tempat dalam Kitab-Nya yang mulia tentang syafaat. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِ...﴾
…Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya… (QS. Al-Baqarah: 255) Allah -'Azza Wa Jalla- juga berfirman,
﴿وَكَم مِّن مَّلَكٖ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ لَا تُغۡنِي شَفَٰعَتُهُمۡ شَيۡـًٔا إِلَّا مِنۢ بَعۡدِ أَن يَأۡذَنَ ٱللَّهُ لِمَن يَشَآءُ وَيَرۡضَىٰٓ26﴾
Dan betapa banyak malaikat di langit, syafaat (pertolongan) mereka sedikit pun tidak berguna kecuali apabila Allah mengizinkan (dan hanya) bagi siapa yang Dia kehendaki dan Dia ridai. (QS. An-Najm: 26).
Allah berfirman dalam menjelaskan sifat para malaikat,
﴿...وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ٱرۡتَضَىٰ وَهُم مِّنۡ خَشۡيَتِهِۦ مُشۡفِقُونَ﴾
dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah), dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. Al-Anbiyā`: 28).
Allah ﷻ mengabarkan bahwa Dia tidak meridai kekufuran pada hamba-hamba-Nya, melainkan meridai pada mereka perbuatan syukur. Syukur sendiri adalah bentuk menauhidkan-Nya dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Allah Ta'ala berfirman,
﴿إِن تَكۡفُرُواْ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمۡۖ وَلَا يَرۡضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلۡكُفۡرَۖ وَإِن تَشۡكُرُواْ يَرۡضَهُ لَكُمۡ...﴾
Jika kamu kafir (ketahuilah) maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran hamba-hamba-Nya. Jika kamu bersyukur, Dia meridhai syukurmu itu... (QS. Az-Zumar: 7).
Imam Bukhari meriwayatkan di dalam Ṣaḥīḥ-nya: Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bertanya, "Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling beruntung mendapatkan syafaatmu?" Beliau ﷺ bersabda,
«مَنْ قَالَ: لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ».
"Orang yang mengucapkan 'Lā ilāha illallāh' dengan ikhlas dari dalam hatinya." Atau beliau bersabda,
«مِنْ نَفْسِهِ».
"... ikhlas dari dirinya sendiri."
Dalam hadis sahih, Anas -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,
«لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا».
"Setiap nabi mempunyai doa yang dikabulkan, setiap dari mereka menyegerakan doanya, namun aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari Kiamat. Syafaatku akan diperoleh dengan kehendak Allah oleh orang yang meninggal dari umatku yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.
Semua ayat dan hadis yang kita sebutkan menunjukkan bahwa ibadah itu hak Allah sendiri, tidak boleh sedikit pun dipalingkan kepada selain Allah, baik para nabi maupun lainnya. Juga menunjukkan bahwa syafaat itu milik Allah ﷻ, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
﴿قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَٰعَةُ جَمِيعٗا...﴾
Katakanlah, “Syafaat (pertolongan) itu hanya milik Allah semuanya... (QS. Az-Zumar: 44) Tidak ada yang berhak mendapatkannya kecuali setelah ada izin Allah kepada orang yang memberi syafaat serta rida-Nya kepada yang diberikan syafaat, sementara Allah tidak akan rida kecuali kepada tauhid, sebagaimana telah disebutkan. Oleh karena itu, orang-orang yang musyrik tidak akan mendapatkan bagian dalam syafaat. Allah telah menjelaskan hal itu dalam firman-Nya,
﴿فَمَا تَنفَعُهُمۡ شَفَٰعَةُ ٱلشَّٰفِعِينَ 48﴾
Maka tidak berguna lagi bagi mereka syafaat (pertolongan) dari orang-orang yang memberikan syafaat. (QS. Al-Muddaṣṣir: 48). Allah Ta'ala berfirman,
﴿...مَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ حَمِيمٖ وَلَا شَفِيعٖ يُطَاعُ﴾
Tidak ada seorang pun teman setia bagi orang zalim dan tidak ada baginya seorang pemberi syafaat yang diterima (syafaatnya). (QS. Gāfir: 18).
Sudah menjadi hal lumrah bahwa saat kata kezaliman disebutkan secara mutlak maka maksudnya adalah kesyirikan, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman,
﴿...وَٱلۡكَٰفِرُونَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ﴾
Orang-orang kafir itulah orang yang zalim. (QS. Al-Baqarah: 254). Allah Ta'ala berfirman,
﴿...إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ﴾
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. [QS. Luqmān: 13].
Adapun yang Anda sebutkan dalam pertanyaan tentang perkataan sebagian kaum sufi di dalam masjid dan tempat lainnya: Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada sosok yang Engkau jadikan sebagai sebab terungkapnya rahasia-rahasia ketuhanan-Mu yang agung dan terbukanya cahaya kasih sayang-Mu, sehingga ia menjadi wakil dari hadirat ketuhanan-Mu dan khalifah untuk rahasia-rahasia zat-Mu ... dan seterusnya;
maka jawabannya adalah:
Perkataan ini dan perkataan lain yang semisal masuk dalam kategori memaksakan diri yang telah diperingatkan oleh Nabi kita Muhammad ﷺ dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Sahihnya dari Abdullah bin Mas'ūd, Rasulullah ﷺ bersabda,
«هَلَكَ المُتَنَطِّعُونَ» قَالَهَا ثَلَاثًا.
"Binasalah orang-orang yang memaksakan dirinya." Beliau mengucapkannya tiga kali.
Imam al-Khaṭṭābiy -raḥimahullāh- berkata, "Mutanaṭṭi' artinya: memaksakan diri pada sesuatu dan berlebihan dalam menggalinya, sebagaimana yang dilakukan oleh para ahli kalam pada sesuatu yang tidak penting bagi mereka dan orang-orang yang menyelam pada sesuatu di luar kemampuan akal mereka."
Abu as-Sa‘ādāt Ibnu al-Aṡīr menyatakan, "Mereka adalah orang-orang yang memaksakan diri dan melampaui batas dalam berbicara, berbicara dengan suara dari tenggorokan mereka yang paling dalam. Diambil dari kata an-niṭa', yaitu rongga atas mulut. Selanjutnya kata ini digunakan untuk segala tindakan memaksakan, baik berupa ucapan maupun perbuatan."
Berdasarkan keterangan dua pakar bahasa ini, terungkap jelas bagi Anda dan setiap orang yang memiliki sedikit saja pengetahuan bahwa tata cara selawat dan salam kepada Nabi dan junjungan kita Rasulullah ﷺ ini termasuk perbuatan memaksakan diri serta berlebih-lebihan yang dilarang. Yang diperintahkan kepada seorang muslim dalam hal ini ialah berusaha mengikuti cara selawat dan salam yang datang dari Rasulullah ﷺ, karena selawat dan salam yang datang dari beliau itu lebih baik dari yang lain.
Di antaranya adalah cara yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam aṣ-Ṣaḥīḥain dari Ka'ab bin 'Ujrah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan selawat kepadamu, lalu bagimana kami berselawat kepadamu?" Beliau bersabda,
«قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».
"Ucapkan, 'Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā ibrāhīm, wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Wa bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā ibrāhīm, wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd'."
Artinya: "Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Zat yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Curahkanlah pula keberkahan kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
Juga dalam aṣ-Ṣaḥīḥain, Abu Ḥumaid as-Sā'idiy -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan bahwa para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah! Bagaimana cara kami mengucapkan selawat kepadamu?" Beliau bersabda,
«قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَزْوَاجِهِ وَذُرِّيَّتِهِ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».
"Ucapkan, 'Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā azwājihi wa żurriyyatihi, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm. Wa bārik 'alā muḥammad, wa 'alā azwājihi wa żurriyyatihi, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd'."
Artinya: "Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad beserta istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada keluarga Ibrahim. Curahkanlah keberkahan kepada Muhammad beserta istri dan anak keturunannya, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."
Dalam Sahih Muslim disebutkan bahwa Abu Mas'ūd -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Basyīr bin Sa'ad bertanya, "Wahai Rasulullah! Allah memerintahkan kami untuk mengucapkan selawat kepadamu, lantas bagaimana kami berselawat?" Beliau diam, kemudian bersabda,
«قُولُوا: اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ؛ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ؛ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَالسَّلَامُ كَمَا عَلِمتُم».
"Ucapkanlah: 'Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā āli ibrāhīm, wa bārik 'alā muḥammad, wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā āli ibrāhīm fil-'ālamīn, innaka ḥamīdun majīd'.
(Ya Allah! Limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada keluarga Ibrahim. Curahkanlah pula keberkahan kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.) Sedangkan ucapan salam adalah seperti yang telah kalian ketahui."
Semua redaksi ini, serta yang semisalnya atau lainnya yang datang dari Nabi ﷺ, adalah yang patut digunakan oleh seorang muslim dalam mengucapkan selawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ, karena Rasulullah ﷺ adalah yang paling mengetahui lafaz yang tepat untuk digunakan dalam berselawat kepadanya, sebagaimana beliau juga yang paling mengetahui lafaz yang seharusnya digunakan untuk Tuhannya.
Adapun kata-kata yang dipaksakan dan dibuat-buat, serta kata-kata yang berpotensi memiliki makna yang tidak benar, seperti kata-kata yang disebutkan dalam pertanyaan, maka tidak seharusnya digunakan; karena mengandung unsur pemaksaan, dan dapat ditafsirkan dengan makna yang batil, serta bertentangan dengan kata-kata yang dipilih oleh Rasulullah ﷺ dan yang beliau ajarkan kepada umatnya, padahal beliau adalah sosok yang paling mengetahui, paling tulus, dan paling jauh dari pemaksaan. Semoga selawat dan salam terbaik dari Tuhannya selalu tercurahkan kepada beliau.
Saya berharap bahwa dalil-dalil yang telah kami sebutkan dalam penjelasan tentang hakikat tauhid, hakikat syirik, perbedaan antara keadaan kaum musyrikin terdahulu dan kaum musyrikin belakangan dalam hal ini, juga dalam penjelasan tentang cara yang disyariatkan dalam berselawat kepada Rasulullah ﷺ, sudah cukup dan memuaskan bagi siapa saja yang mencari kebenaran. Adapun orang yang tidak memiliki keinginan untuk mengetahui kebenaran, maka ia adalah pengikut hawa nafsu. Allah ﷻ berfirman,
﴿فَإِن لَّمۡ يَسۡتَجِيبُواْ لَكَ فَٱعۡلَمۡ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهۡوَآءَهُمۡۚ وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيۡرِ هُدٗى مِّنَ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلظَّٰلِمِينَ50﴾
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qaṣaṣ: 50).
Dalam ayat yang mulia ini, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan dalam merespon petunjuk dan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ:
Pertama: Golongan yang memenuhi seruan Allah dan Rasul-Nya.
Kedua: Golongan yang mengikuti hawa nafsunya.
Kemudian Allah Ta'ala mengabarkan bahwa tidak ada yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah.
Kita memohon kepada Allah ﷻ agar diselamatkan dari mengikuti hawa nafsu, menjadikan kita semua termasuk golongan yang menyambut panggilan Allah dan Rasulullah ﷺ, mengagungkan syariat-Nya, dan mewaspadai semua yang menyelisihi syariat-Nya berupa bidah dan hawa nafsu, karena Dia Maha Dermawan lagi Maha Baik.
Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi Muhammad, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya di atas kebaikan hingga hari Kiamat.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-5
HUKUM PERAYAAN MAULID NABI DAN PERAYAAN LAINNYA
Segala puji hanya milik Allah. Semoga selawat dan salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah, kepada keluarga, sahabat, dan semua yang mengikuti petunjuk beliau.
Berulang kali ditanyakan oleh banyak orang tentang hukum merayakan maulid Nabi ﷺ, berdiri untuk menghormati beliau selama perayaan tersebut, mengucapkan salam kepada beliau, dan hal-hal lain yang dilakukan dalam perayaan maulid.
Jawabannya adalah bahwa tidak diperbolehkan merayakan maulid Nabi ﷺ maupun perayaan serupa lainnya, karena hal itu termasuk bidah yang diada-adakan dalam agama. Rasulullah ﷺ sendiri tidak pernah melakukannya, begitu pula para khulafaurasyidin dan para sahabat lainnya -raḍiyallāhu ‘anhum-, maupun para tabiin yang mengikuti mereka dengan baik pada generasi yang utama. Mereka adalah orang-orang yang paling memahami Sunnah, paling sempurna dalam mencintai Rasulullah ﷺ, serta paling konsisten dalam mengikuti syariat beliau dibandingkan generasi setelahnya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman dalam Kitab-Nya,
﴿...وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْ...﴾
Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.
[QS. Al-Ḥasyr: 7]. Allah ﷻ berfirman,
﴿...فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
...maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [QS. An-Nūr: 63]. Allah -Subḥānahu- juga berfirman,
﴿لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا21﴾
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. [QS. Al-Aḥzāb: 21]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلۡأَوَّلُونَ مِنَ ٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحۡسَٰنٖ رَّضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُ وَأَعَدَّ لَهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي تَحۡتَهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدٗاۚ ذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ100﴾
Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung. [QS. At-Taubah: 100]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا...﴾
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. [QS. Al-Mā`idah: 3]. Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak. Diriwayatkan dalam hadis sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنهُ فَهُوَ رَدٌّ».
“Siapa yang mengada-adakan hal baru dalam perkara (agama) kita ini yang bukan bagian darinya, maka ia tertolak.” Yakni: dikembalikan lagi kepadanya. Beliau ﷺ bersabda dalam hadis yang lain,
«عَلَيكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيَّينَ مِنْ بَعدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا، وَعَضُّوا عَلَيهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالةٌ».
"Kalian wajib berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah khulafaurasyidin yang diberi petunjuk sepeninggalku, pegang teguh dan gigitlah ia dengan geraham, dan jangan sampai kalian melakukan perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap amalan yang diada-adakan adalah bidah, dan setiap bidah adalah kesesatan." Dua hadis ini mengandung peringatan keras terhadap perbuatan mengada-adakan bidah dan mengamalkannya.
Mengadakan perkara bidah seperti perayaan maulid ini mengesankan bahwa Allah Ta'ala belum menyempurnakan agama Islam untuk umat ini dan bahwa Rasulullah ﷺ belum menyampaikan kepada umat semua yang harus mereka lakukan, sehingga datang kalangan belakangan lalu mengadakan dalam syariat Allah apa yang tidak disyariatkan-Nya dengan dalih hal itu dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Tidak diragukan lagi bahwa ini merupakan bahaya besar dan bentuk protes terhadap Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan Rasul-Nya ﷺ.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menyempurnakan agama bagi hamba-hamba-Nya dan menyempurnakan nikmat-Nya untuk mereka. Rasulullah ﷺ telah menyampaikan risalah dengan jelas dan tidak meninggalkan jalan yang mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali beliau telah jelaskan kepada umat, sebagaimana disebutkan hadis sahih dari Abdullah bin Amr -raḍiyallāhu 'anhu- yang berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,
«مَا بَعَثَ اللهُ مِن نَبِيٍ إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيهِ أَن يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُم، وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ».
Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun melainkan dia wajib menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang ia ketahui (bermanfaat) untuk mereka dan memperingatkan mereka dari keburukan yang ia ketahui (berbahaya) untuk mereka. (HR. Muslim dalam Sahihnya)
Nabi kita Muhammad ﷺ adalah nabi yang paling utama dan sebagai penutup mereka, serta paling sempurna secara kefasihan dan nasihat. Andai kata perayaan maulid bagian dari agama yang diridai oleh Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-, pasti Rasulullah ﷺ telah menerangkannya kepada umat, atau beliau melakukannya di masa hidupnya, atau dilakukan oleh sahabat-sahabat beliau -raḍiyallāhu 'anhum-. Manakala tidak satu pun dari hal itu terjadi, dapat diketahui bahwa hal itu bukan bagian dari Islam sedikit pun. Sebaliknya, ia hanya merupakan perkara baru yang diperingatkan oleh Rasulullah ﷺ kepada umatnya, sebagaimana hal itu telah disebutkan di dalam banyak hadis. Ayat dan hadis-hadis yang menjelaskan permasalahan ini jumlahnya banyak.
Sejumlah ulama telah lantang mengingkari perayaan maulid serta memperingatkannya, sebagai bentuk pengamalan dalil-dalil yang disebutkan dan dalil lainnya. Sementara sejumlah kalangan belakangan menyelisihinya lantas membolehkannya jika tidak berisikan suatu kemungkaran, seperti guluw kepada Rasulullah ﷺ, campur baur laki-laki perempuan, menggunakan alat musik, dan perkara-perkara lain yang diingkari oleh syariat yang suci, dan mereka meyakininya sebagai bidah hasanah.
Padahal kaidah syar'i mengharuskan untuk mengembalikan apa yang diperselisihkan oleh manusia kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya ,Muhammad ﷺ, sebagaimana firman Allah ﷻ,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا59﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [QS. An-Nisā`: 59]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ ...﴾
Dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusannya (terserah) kepada Allah ... [QS. Asy-Syūrā: 10]
Kita telah mengembalikan masalah perayaan maulid ini kepada Kitabullah, lalu menemukannya memerintahkan kita mengikuti Rasulullah ﷺ pada semua yang beliau bawa dan mengingatkan kita dari semua yang beliau larang. Kita juga temukan Al-Qur`an mengabari kita bahwa Allah Ta'ala telah menyempurnakan bagi umat ini agama mereka, sedangkan perayaan ini bukan termasuk yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ, sehingga ia tidak termasuk ke dalam agama yang disempurnakan oleh Allah untuk kita dan yang diperintahkan kepada kita untuk mengikuti Rasulullah di dalamnya.
Kita juga telah mengembalikannya kepada Sunnah Rasulullah ﷺ, namun tidak kita temukan bahwa beliau melakukannya maupun memerintahkannya, tidak juga dilakukan oleh sahabat-sahabat beliau. Dengan demikian, kita dapat mengetahui bahwa perkara tersebut bukan bagian dari agama, melainkan perkara bidah yang diada-adakan serta bentuk tasyabbuh (meniru) Ahli kitab dari kalangan Yahudi dan Nasrani di dalam perayaan mereka.
Dengan demikian, tampak jelas bagi setiap orang yang memiliki sedikit saja pengetahuan, keinginan terhadap kebenaran, serta sikap objektif di dalam mencarinya bahwa perayaan maulid bukan termasuk ajaran agama Islam. Sebaliknya, ia merupakan perbuatan bidah yang diada-adakan serta hal yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya ﷺ untuk ditinggalkan dan diwaspadai. Tidak sepantasnya orang yang berakal tertipu oleh banyaknya orang yang melakukannya di berbagai belahan dunia, karena kebenaran tidak diukur berdasarkan jumlah orang yang mengerjakannya, tetapi dinilai berdasarkan dalil-dalil syariat. Allah berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nasrani,
﴿وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ111﴾
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang Yahudi atau Nasrani." Itu (hanya) angan-angan mereka. Katakanlah, "Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar. [QS. Al-Baqarah: 111] Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ...﴾
Dan jika kamu mengikuti kebanyakan orang di bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah... [QS. Al-An'ām: 116].
Selain merupakan perbuatan bidah, umumnya perayaan-perayaan tersebut juga tidak lepas dari berbagai kemungkaran lainnya, seperti percampuran antara laki-laki dan perempuan, penggunaan nyanyian dan musik, minuman keras dan narkoba, serta berbagai keburukan lainnya. Bahkan, bisa jadi dalam perayaan tersebut terjadi keburukan yang lebih besar lagi, yaitu syirik besar. Hal itu berupa sikap berlebihan terhadap Rasulullah ﷺ atau wali-wali lainnya, seperti berdoa, beristigasah, dan meminta tolong kepada mereka, meyakini bahwa mereka mengetahui perkara gaib, serta berbagai perbuatan kufur lainnya yang dilakukan oleh banyak orang saat merayakan maulid Nabi ﷺ atau lainnya yang mereka sebut wali. Padahal Rasulullah ﷺ telah bersabda,
«إِيَّاكُم وَالغُلُوُّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَن كَانَ قَبْلَكُم الغُلُوَّ فِي الدِّينِ».
"Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan mereka dalam agama." Dan Nabi ﷺ bersabda,
«لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُه».
"Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku seperti orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku hanya seorang hamba, maka katakan (panggil aku), 'Hamba Allah dan Rasul-Nya'." HR. Bukhari dalam Sahihnya, dari hadis Umar -raḍiyallāhu 'anhu-.
Yang sangat mengherankan dan aneh adalah banyak orang yang bersemangat dan bersungguh-sungguh menghadiri perayaan-perayaan bid'ah ini serta membelanya, namun mereka lalai dari kewajiban yang Allah perintahkan, seperti menghadiri salat Jumat dan salat berjemaah, dan mereka tidak peduli akan hal itu, serta tidak merasa bahwa mereka telah melakukan kemungkaran yang besar. Tidak diragukan lagi bahwa hal itu disebabkan oleh lemahnya iman, kurangnya pemahaman, dan banyaknya dosa serta maksiat yang menutupi hati. Kita memohon kepada Allah keselamatan bagi kita dan seluruh kaum muslimin.
Di antaranya: sebagian mereka meyakini Rasulullah ﷺ menghadiri perayaan maulid. Oleh sebab itu, mereka berdiri untuk menghormati beliau seraya memberikan salam dan sambutan. Ini termasuk kebatilan paling besar dan kejahilan yang paling buruk, karena Rasulullah ﷺ tidak akan keluar dari kuburnya sebelum hari Kiamat, tidak berinteraksi dengan siapa pun, dan tidak menghadiri perkumpulan mereka. Beliau tetap di dalam kuburnya hingga hari Kiamat, sementara roh beliau di tempat tertinggi di sisi Tuhannya di negeri kemuliaan; sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَلِكَ لَمَيِّتُونَ15 ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ16﴾
Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.
Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari Kiamat. [QS. Al-Mu`minūn: 15-16].
Nabi ﷺ bersabda,
«أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ القَبْرُ يَومَ القِيَامَةِ، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ، وَأَوًّلُ مُشَفَّعٍ».
"Aku adalah orang yang pertama dibangkitkan dari kubur pada hari Kiamat, aku adalah orang pertama yang memberi syafa'at, dan aku adalah orang pertama yang diizinkan memberi syafa'at." Semoga selawat dan salam terbaik selalu tercurah kepada beliau.
Dua ayat mulia ini dan juga hadis Nabi, serta ayat-ayat dan hadis-hadis yang semakna, seluruhnya menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dan selain beliau akan keluar dari kuburnya kelak di hari Kiamat. Ini adalah perkara yang telah disepakati di kalangan ulama Islam, tidak ada perbedaan di antara mereka. Setiap muslim wajib memperhatikan perkara ini dan berhati-hati terhadap perkara-perkara bidah dan khurafat yang diada-adakan oleh orang-orang yang jahil yang tidak memiliki dalil yang diturunkan oleh Allah. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan bertumpu. Tiada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
Adapun mengucapkan selawat dan salam kepada Rasulullah ﷺ, maka merupakan ibadah paling utama dan termasuk amal saleh. Allah Ta'ala berfirman,
﴿إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا56﴾
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya. [QS. Al-Aḥzāb: 56]. Nabi ﷺ bersabda,
«مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً؛ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ بِهَا عَشْرًا».
"Siapa yang berselawat kepadaku satu kali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali lipat." Selawat diperintahkan di semua waktu dan ditekankan di akhir setiap salat, bahkan sejumlah ulama mengatakan hukumnya wajib pada tasyahud akhir di setiap salat. Anjuran untuk berselawat semakin ditekankan di banyak kesempatan, di antaranya setelah azan, ketika menyebut nama beliau ﷺ, serta pada malam dan siang hari Jumat, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak hadis.
Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk memahami ajaran agama-Nya dan tetap teguh di atasnya, serta menganugerahkan kepada semua untuk senantiasa berpegang pada Sunnah dan berhati-hati dari bid'ah, karena Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.
Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, serta keluarga dan para sahabatnya.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-6
HUKUM MERAYAKAN MALAM ISRA` DAN MIKRAJ
Segala puji hanya milik Allah. Semoga selawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Tidak diragukan lagi bahwa Isra` dan Mikraj merupakan di antara tanda-tanda agung dari Allah yang menunjukkan kebenaran Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, serta menunjukkan keagungan kedudukan beliau di sisi Allah ﷻ. Peristiwa ini juga merupakan bukti kekuasaan Allah yang luar biasa, serta ketinggian-Nya -Subhānahu wa Ta’ālā- di atas seluruh makhluk-Nya. Allah -Subhānahu wa Ta’ālā- berfirman ﷻ,
﴿سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ1﴾
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. [QS. Al-Isrā`: 1]
Diriwayatkan secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ bahwa Allah telah mengangkat beliau ke langit, dan pintu-pintu langit dibuka untuk beliau, hingga beliau sampai ke langit yang ketujuh, lalu beliau diajak bicara oleh Allah sesuai kehendak-Nya. Allah juga mewajibkan salat lima waktu, yang semula diwajibkan lima puluh waktu, tetapi Nabi Muhammad ﷺ senantiasa kembali kepada-Nya untuk meminta keringanan, sampai menjadi lima waktu. Namun demikian, walaupun yang diwajibkan lima waktu saja, tetapi pahalanya tetap sama dengan lima puluh waktu, karena perbuatan baik itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Hanya kepada Allah-lah kita ucapkan puji dan syukur atas segala nikmat-Nya
Penentuan malam peristiwa Isra Mikraj tidak ditemukan di dalam hadis yang sahih, tidak di bulan Rajab dan tidak pula di bulan lainnya. Semua riwayat yang menyebutkan penentuan malam tersebut tidak sahih dari Nabi ﷺ menurut para ulama hadis. Tentunya, Allah memiliki hikmah yang besar ketika membuat manusia lupa waktunya. Andaipun penentuannya disebutkan dalam riwayat yang sahih, kaum muslimin tetap tidak boleh mengkhususkannya dengan suatu ibadah dan tidak pula merayakannya, karena Nabi ﷺ dan para sahabat -raḍiyallāhu 'anhum- tidak pernah merayakannya dan tidak juga mengkhususkannya dengan suatu ibadah. Seandainya perayaan malam Isra Mikraj diperintahkan oleh syariat, tentu Rasulullah ﷺ telah menjelaskannya kepada umat, baik melalui ucapan maupun perbuatan nyata. Jika memang hal itu pernah terjadi, pasti akan diketahui, menjadi terkenal, serta dinukilkan kepada kita oleh para sahabat -raḍiyallāhu ‘anhum-. Mereka telah meriwayatkan dari Nabi ﷺ segala sesuatu yang dibutuhkan oleh umat dan tidak melalaikan sedikit pun perkara agama. Bahkan, mereka adalah orang-orang yang terdepan dalam setiap kebaikan. Seandainya perayaan malam Isra Mikraj disyariatkan, tentu mereka adalah orang pertama yang akan mengamalkannya. Nabi ﷺ adalah orang yang paling tulus dalam memberi nasihat kepada umatnya. Beliau telah menyampaikan risalah dengan sempurna dan menunaikan amanah. Seandainya mengagungkan dan merayakan malam tersebut merupakan bagian dari agama, tentu Nabi ﷺ tidak akan melalaikannya atau menyembunyikannya. Karena hal itu tidak pernah terjadi, jelaslah bahwa perayaan dan pengagungan malam tersebut bukan bagian dari ajaran Islam sedikit pun. Allah telah menyempurnakan bagi umat ini agama mereka, menyempurnakan nikmat-Nya untuk mereka, serta mencela orang yang mengada-adakan syariat dalam agama yang tidak disyariatkan oleh-Nya. Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- berfirman dalam Kitab-Nya,
﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا...﴾
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. [QS. Al-Mā`idah: 3] Allah ﷻ berfirman,
﴿أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُۚ وَلَوۡلَا كَلِمَةُ ٱلۡفَصۡلِ لَقُضِيَ بَيۡنَهُمۡۗ وَإِنَّ ٱلظَّٰلِمِينَ لَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٞ21﴾
Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridai) Allah? Dan sekiranya tidak ada ketetapan yang menunda (hukuman dari Allah) tentulah hukuman di antara mereka telah dilaksanakan. Dan sungguh, orang-orang zalim itu akan mendapat azab yang sangat pedih. [QS. Asy-Syūrā: 21]
Juga telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ dalam hadis-hadis yang sahih tentang peringatan terhadap bidah serta penegasan bahwa hal itu adalah kesesatan. Hal ini sebagai pengingat bagi umat akan besarnya bahaya bidah serta sebagai langkah untuk menjauhkan mereka dari melakukannya. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan dalam aṣ-Ṣaḥīḥain dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ؛ فَهُوَ رَدٌّ».
"Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya maka amalan tersebut tertolak." Dalam riwayat Muslim lainnya disebutkan:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيهِ أَمْرَنَا؛ فَهُوَ رَدٌّ».
"Siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada dasarnya dari kami, maka amalannya tertolak." Dan dalam Sahih Muslim dari Jābir raḍiyallāhu 'anhu, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda dalam salah satu khotbahnya pada hari Jumat:
«أَمَا بَعْدَ، فَإِنَّ خَيرَ الحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».
"Amabakdu: Sungguh, sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara (dalam agama) adalah yang diada-adakan (bid'ah), dan semua bid'ah adalah kesesatan.” Ditambahkan oleh Nasa`i dengan sanad jayyid,
«وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ».
"Dan setiap kesesatan berakhir di neraka." Dalam Kitab-kitab as-Sunan juga diriwayatkan bahwa ‘Irbāḍ bin Sāriyah -raḍiyallāhu 'anhu- mengisahkan: Rasulullah ﷺ menasihati kami dengan nasihat yang mendalam, sehingga hati kami bergetar dan air mata pun menitik. Lantas kami berkata, "Wahai Rasulullah! Sepertinya ini adalah nasihat orang yang mau berpisah. Berikanlah kami wasiat." Beliau bersabda,
«أُوصِيكُم بِتَقْوَى اللهِ وَالسَّمعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيكُم عَبدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُم فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيكُم بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الخلُفَاءِ الرَّاشِدِينَ المَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُم وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٍ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».
"Aku wasiatkan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah serta mendengar dan taat (kepada pemimpin), walaupun yang memimpin kalian seorang budak. Sesungguhnya, siapa yang berumur panjang di antara kalian akan melihat banyak perselisihan, maka berpeganglah kepada Sunnahku dan Sunnah khulafaurrasyidin yang diberi petunjuk setelahku; berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi geraham. Hindarilah perkara-perkara yang diada-adakan dalam agama, karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah, dan semua bid'ah adalah kesesatan." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.
Diriwayatkan dari para sahabat Rasulullah ﷺ dan generasi salaf setelahnya bahwa mereka memberikan peringatan dan celaan terhadap bidah. Hal itu tidak lain karena bidah merupakan bentuk penambahan dalam syariat, membuat syariat yang tidak diizinkan oleh Allah, serta menyerupai musuh-musuh Allah dari kalangan Yahudi dan Nasrani dalam perbuatan mereka yang menambah-nambah ajaran agama dan mengada-adakan perkara baru di dalamnya yang tidak diizinkan oleh Allah. Selain itu, bidah juga melahirkan anggapan bahwa agama Islam masih kurang dan menuduhnya tidak sempurna. Kita semua mengetahui bahwa anggapan itu mengandung kerusakan besar, kemungkaran yang sangat buruk, dan sangat bertentangan dengan firman Allah ﷻ,
﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ...﴾
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu [QS. Al-Mā`idah: 3] Selain itu, juga secara terang-terangan menyelisihi hadis-hadis Rasul 'alaihiṣ ṣalātu wassalām yang memperingatkan kita agar mewaspadai bid'ah dan menjauhinya.
Saya berharap dalil-dalil yang kita sebutkan cukup dan memuaskan bagi siapa saja yang mencari kebenaran dalam rangka mengingkari bidah perayaan malam Isra dan Mikraj dan memperingatkannya, dan bahwa hal itu bukan bagian dari ajaran Islam sedikit pun.
Dan karena Allah telah mewajibkan untuk memberikan nasihat kepada kaum muslimin, menjelaskan apa yang telah disyariatkan Allah kepada mereka terkait agama, serta mengharamkan menyembunyikan ilmu; saya merasa perlu untuk mengingatkan saudara-saudara saya kaum muslimin tentang bid'ah ini, yang telah menyebar di banyak negara, hingga sebagian orang mengiranya sebagai bagian dari agama.
Hanya kepada Allah tempat meminta agar Dia memperbaiki keadaan seluruh kaum muslimin, menganugerahkan kepada mereka pemahaman yang benar dalam agama, serta memberikan taufik kepada kita dan mereka untuk berpegang teguh pada kebenaran dan kokoh melaksanakannya, serta meninggalkan segala sesuatu yang menyelisihinya. Sesungguhnya Dia adalah Pelindung dan Mahakuasa atas segala sesuatu.
Semoga Allah melimpahkan selawat, salam, serta keberkahan kepada hamba dan utusan-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga dan para sahabat beliau.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-7
HUKUM MERAYAKAN MALAM NISFU SYAKBAN
Segala puji bagi Allah yang telah menyempurnakan agama ini untuk kita, mencukupkan nikmat-Nya. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada Nabi dan Rasul-Nya, Muhammad, Nabi yang mengajak untuk bertobat dan pembawa rahmat.
Allah Ta'ala telah berfirman,
﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا...﴾
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. [QS. Al-Mā`idah: 3] Allah Ta'ala berfirman,
﴿أَمۡ لَهُمۡ شُرَكَٰٓؤُاْ شَرَعُواْ لَهُم مِّنَ ٱلدِّينِ مَا لَمۡ يَأۡذَنۢ بِهِ ٱللَّهُ...﴾
Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan aturan agama bagi mereka yang tidak diizinkan (diridai) Allah... [QS. Asy-Syūrā: 21] Dalam dua kitab Sahih diriwayatkan dari Aisyah raḍiyallāhu 'anhā dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ؛ فَهُوَ رَدٌّ».
"Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya maka amalan tersebut tertolak." Dan dalam Sahih Muslim dari Jābir raḍiyallāhu 'anhu disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda di dalam khotbah Jumat,
«أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ خَيرَ الحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ».
"Amabakdu: Sungguh, sebaik-baik perkataan adalah Kitab Allah, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara (dalam agama) adalah yang diada-adakan (bid’ah), dan semua bid’ah adalah kesesatan.” Ayat-ayat dan hadis-hadis yang semakna dengan ini sangat banyak, yang menunjukkan dengan tegas bahwa Allah subḥānahu wa ta'ālā telah menyempurnakan agama Islam bagi umat ini dan memparipurnakan nikmat-Nya atas mereka. Nabi ﷺ tidak wafat kecuali setelah menyampaikan risalah dan menjelaskan kepada umat segala sesuatu yang disyariatkan Allah untuk mereka terkait ucapan dan perbuatan. Nabi ﷺ telah menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diada-adakan oleh manusia sepeninggal beliau dan disandarkan kepada agama Islam, baik berupa perkataan maupun perbuatan, seluruhnya adalah bidah dan akan ditolak (dikembalikan) kepada pelakunya, meskipun niatnya baik. Pemahaman ini telah diketahui oleh para sahabat Rasulullah ﷺ, begitu pula oleh para ulama Islam setelah mereka. Oleh karena itu, mereka mengingkari perbuatan bidah dan memperingatkan umat darinya, sebagaimana yang disebutkan oleh para ulama yang menulis tentang pengagungan Sunnah dan penolakan terhadap bidah, seperti Ibnu Waḍḍāḥ, aṭ-Ṯurṭūsiy, Abu Syāmah, dan lainnya.
Di antara bidah yang diada-adakan oleh sebagian orang ialah bidah perayaan malam Nisfu Syakban serta mengkhususkan hari itu dengan ibadah puasa. Padahal, hal itu tidak memiliki dalil yang dapat dijadikan sandaran. Memang terdapat sejumlah hadis daif yang tidak boleh dijadikan sandaran tentang keutamaannya.
Adapun riwayat yang menyebutkan keutamaan salat di dalamnya; semuanya adalah mauḍū' (palsu), sebagaimana telah diingatkan oleh banyak ulama, dan sebagian perkataan mereka akan disebutkan, insyaallah.
Juga terdapat beberapa aṡar dari sebagian salaf dari penduduk Syam dan lainnya.
Hal yang disepakati mayoritas ulama adalah bahwa perayaan malam Nisfu Syakban adalah bidah, dan hadis-hadis yang ada tentang keutamaannya adalah daif seluruhnya, bahkan sebagiannya lagi palsu. Di antara ulama yang telah mengingatkan hal itu: al-Ḥāfiẓ Ibnu Rajab dalam bukunya Laṭā`iful-Ma'ārif dan lainnya. Hadis daif hanya dapat diamalkan dalam ibadah yang memiliki dasar dalil yang sahih. Adapun perayaan malam Nisfu Syakban, ia tidak memiliki dasar dalil yang sahih sehingga dapat dikuatkan dengan hadis-hadis yang daif. Kaidah besar ini disebutkan oleh Imam Abu 'Abbās Syekh Islam Ibnu Taimiyah -raḥimahullāh-.
Saya akan sampaikan kepada pembaca apa yang dikatakan oleh sebagian ulama dalam masalah ini, agar Anda mengetahui masalah tersebut.
Para ulama -raḥimahumullāh- telah bersepakat bahwa wajib hukumnya mengembalikan permasalahan-permasalahan yang diperselisihkan oleh umat Islam kepada Kitab Allah ﷻ dan Sunnah Rasulullah ﷺ. Apa yang diputuskan oleh keduanya atau salah satunya, itulah syariat yang wajib diikuti. Sebaliknya, yang bertentangan dengan keduanya wajib dibuang. Semua ibadah yang tidak dibawakan dalam keduanya adalah bidah yang tidak boleh dikerjakan, apalagi diserukan dan didorong. Allah ﷻ berfirman,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا59﴾
Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [QS. An-Nisā`: 59]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَا ٱخۡتَلَفۡتُمۡ فِيهِ مِن شَيۡءٖ فَحُكۡمُهُۥٓ إِلَى ٱللَّهِ...﴾
Dan apa pun yang kamu perselisihkan padanya tentang sesuatu, keputusannya (terserah) kepada Allah... [QS. Asy-Syūrā: 10] Allah Ta'ala berfirman,
﴿قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ...﴾
Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu... [QS. Āli 'Imrān: 31]. Allah ﷻ berfirman,
﴿فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا65﴾
Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [QS. An-Nisā`: 65] Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak, dan merupakan nas tentang kewajiban mengembalikan masalah-masalah yang diperselisihkan kepada Al-Qur`an dan Sunnah, serta kewajiban rida dengan hukum keduanya, dan bahwa hal itu adalah konsekuensi dari iman, dan lebih baik bagi hamba di dunia dan akhirat, serta akan mendapatkan hasil terbaik.
Al-Ḥāfiẓ Ibnu Rajab raḥimahullāh berkata tentang masalah ini dalam kitabnya: "Laṭā`if al-Ma'ārif" -setelah ucapan di atas- sebagai berikut,
"Para tabi'in dari penduduk Syam seperti Khālid bin Ma’dān, Mak-ḥūl, Luqmān bin ’Āmir, dan lainnya pernah mengagungkannya dan bersungguh-sungguh dalam ibadah pada malam tersebut. Dari merekalah orang-orang mengambil keutamaan dan pengagungan malam tersebut. Konon terdapat sejumlah riwayat israiliyat yang sampai kepada mereka dalam hal tersebut. Manakala perbuatan mereka itu terkenal ke berbagai negeri, umat Islam berbeda pandangan tentang hal itu. Sebagian mereka menerimanya dan sepakat dengan mereka tentang pengagungannya. Di antaranya: sejumlah ahli ibadah penduduk Basrah dan lainnya. Sementara itu, mayoritas ulama Hijaz mengingkari hal tersebut, seperti 'Aṭā', Ibnu Abi Mulaikah, dan hal ini diriwayatkan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari para fukaha Madinah. Ini adalah pendapat para pengikut Imam Malik dan lainnya, dan mereka mengatakan, "Semua itu adalah bid'ah."
Ulama Syam berbeda pendapat tentang cara pelaksanaannya dalam dua pendapat:
1. Dianjurkan (mustahab) menghidupkan malam tersebut secara berjamaah di masjid-masjid.
Khālid bin Ma’dān, Luqmān bin ’Āmir dan yang lainnya mengenakan pakaian terbaik mereka, memakai wewangian, dan bercelak mata, serta menghabiskan malam itu di masjid. Ishāq bin Rahwiyah juga sependapat dengan mereka dalam hal ini. Dia berkata tentang pelaksanaan salat berjamaah malam itu di masjid: "Hal itu bukanlah bid'ah", sebagaimana dinukilkan oleh Ḥarbu Al Karmāniy di dalam Masā`il-nya.
2. Berkumpul di masjid (di malam Nisfu Syakban) untuk salat, bercerita, dan berdoa hukumnya makruh, tetapi boleh dilakukan jika seseorang salat untuk dirinya sendiri. Ini adalah pendapat al-Awzā'ī, imam penduduk syam, ahli fikih sekaligus ulamanya. Pendapat inilah yang lebih dekat, insya Allah Ta'ala." Hingga dia mengatakan: Tidak diketahui ada perkataan Imam Ahmad tentang malam Nisfu Syakban. Adapun tentang anjuran menghidupkannya, dapat disimpulkan ada dua riwayat dari Imam Ahmad, berangkat dari dua riwayat dari beliau tentang menghidupkan dua malam hari raya. Di salah satu riwayat, beliau tidak menganjurkan untuk menghidupkannya secara berjemaah, karena tidak diriwayatkan dari Nabi ﷺ dan sahabat-sahabatnya. Dan (dalam riwayat lain) beliau menganjurkannya berdasarkan perbuatan Abdurrahman bin Yazid bin Al-Aswad yang pernah melakukannya, dan dia termasuk kalangan tabi'in. Demikian pula hukum salat malam Nisfu Syakban, tidak ada dalil yang sahih dari Nabi ﷺ maupun dari para sahabatnya, namun ada diriwayatkan dari sekelompok tabi'in dari kalangan fukaha terkemuka di Syam."
Selesai nukilan perkataan Al-Ḥāfiẓ Ibnu Rajab -raḥimahullāh-. Di dalamnya, beliau menegaskan bahwa tidak ada satu pun riwayat yang sahih dari Nabi ﷺ maupun sahabat-sahabat beliau tentang malam Nisfu Syakban.
Adapun pilihan Al-'Auzā'i rahimahullah tentang anjuran melaksanakan salat malam tersebut secara individu, dan pilihan al-Ḥāfiẓ Ibnu Rajab terhadap pendapat ini, maka itu adalah pendapat yang ganjil dan lemah; karena segala amalan yang tidak ditetapkan dengan dalil-dalil syar'i sebagai sesuatu yang disyariatkan, maka seorang muslim tidak boleh untuk mengadakannya, baik dilakukan secara individu atau berjamaah, baik dirahasiakan atau diumumkan; karena keumuman sabda Nabi ﷺ,
«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيهِ أَمْرُنَا؛ فَهُوَ رَدٌّ».
“Siapa yang melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami; maka amalan tersebut tertolak.” Dan dalil-dalil lainnya yang menunjukkan penolakan terhadap bid'ah dan peringatan untuk mewaspadainya.
Imam Abu Bakr aṭ-Ṭarṭūsyī -raḥimahullāh- dalam kitabnya al-Ḥawādiṡ wal Bida' menyatakan,
"Ibnu Waḍḍāḥ meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, ia berkata, 'Kami tidak mendapati seorang pun dari para sesepuh kami maupun para ahli fikih kami yang menaruh perhatian terhadap malam Nisfu Syakban, dan mereka tidak mengindahkan hadis Mak-ḥūl, serta tidak menganggapnya memiliki keutamaan dibandingkan hari-hari lainnya'."
Dikatakan kepada Ibnu Abi Mulaikah bahwa Ziyād An-Namīrī berkata, "Pahala malam Nisfu Syakban setara dengan pahala malam kemuliaan (lailatulqadar)," maka dia (Ibnu Abi Mulaikah) menjawab, "Seandainya aku mendengarnya dan di tanganku ada tongkat, niscaya aku akan memukulnya. Ziyad adalah tukang dongeng."
Imam asy-Syaukāniy -raḥimahullāh- berkata dalam buku al-Fawā`id al-Majmū'ah,
"Hadis: 'Wahai Ali, siapa yang melaksanakan salat seratus rakaat pada malam Nisfu Syakban, membaca pada setiap rakaat Al-Fātiḥah dan Qul huwallāhu aḥad sebanyak sepuluh kali, pasti Allah memenuhi segala kebutuhannya...' dan seterusnya, hadis ini mauḍū' (palsu), dan dalam lafaz-lafaznya yang menjelaskan tentang pahala yang akan diterima oleh pelakunya adalah tidak diragukan kepalsuannya oleh orang yang berilmu, dan para perawinya tidak dikenal. Hadis ini juga diriwayatkan melalui jalur kedua dan ketiga yang semuanya mauḍū' dan para perawinya tidak dikenal. Dalam kitab 'Al-Mukhtashar', beliau (Asy-Syaukānī) berkata, "Hadis tentang salat malam Nisfu Syakban adalah batil. Riwayat Ibnu Hibban dari hadis Ali: 'Apabila malam Nisfu Syakban, maka salatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya', maka hadis ini lemah." Beliau juga berkomentar tentang riwayat dalam buku 'Al-La'āli', 'Seratus rakaat pada pertengahan bulan Syakban dengan membaca surah Al-Ikhlās sepuluh kali', yang ditulis oleh Ad-Dailami dan lainnya, meskipun riwayatnya panjang, adalah hadis mauḍū' (palsu), dan mayoritas perawinya dalam tiga jalur sanad adalah majhūl (tidak dikenal) dan daif. Beliau juga mengatakan, “(Hadis yang menerangkan bahwa) dua belas rakaat dengan (membaca surah) Al-Ikhlās tiga puluh kali itu mauḍū’ (palsu), demikian juga dengan hadis “empat belas rakaat”, juga mauḍū’ (palsu).
Banyak fukaha yang tertipu dengan hadis diatas; seperti pengarang kitab Ihyā` (Ulūmuddīn) dan lainnya, begitu juga sebagian ahli tafsir. Salat pada malam ini - maksudku: malam Nisfu Syakban - juga diriwayatkan dengan berbagai jalur sanad yang semuanya batil dan palsu. Hal ini tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Tirmizi tentang keluarnya Nabi ﷺ menuju kubur Baqī', turunnya Allah di malam Nisfu Syakban ke langit dunia, dan bahwa Allah mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu kambing Bani Kalb, karena pembahasan kita adalah tentang salat yang diada-adakan pada malam itu. Di samping itu, hadis Aisyah ini lemah dan sanadnya munqaṭi’ (terputus), sebagaimana halnya hadis Ali yang telah disebutkan sebelumnya tentang salat malamnya tidak menafikan salat ini (riwayatnya) mauḍū’ (palsu), ditambah lagi dengan kelemahannya sebagaimana yang telah kami sebutkan."
Al-Ḥāfiẓ Al-‘Irāqi berkata, "Hadis tentang salat malam Nisfu Syakban adalah mauḍū’ (palsu) atas nama Rasulullah ﷺ dan dusta terhadap beliau." Imam Nawawi berkata dalam kitab: Al-Majmū‘, "Salat yang dikenal dengan salat Ragā`ib, yaitu 12 rakaat antara Magrib dan Isya, di malam Jumat pertama bulan Rajab, dan salat malam Nisfu Syakban sebanyak 100 rakaat, kedua salat ini adalah bid'ah yang mungkar. Jangan teperdaya dengan penyebutannya dalam kitab: Qūtul-Qulūb dan Iḥyā’ ‘Ulūmiddīn, atau dengan hadis yang disebutkan di dalamnya, karena semua itu batil. Jangan teperdaya dengan sebagian imam yang keliru dalam menilai hukumnya sehingga menulis risalah tentang anjuran keduanya, karena dia salah dalam hal itu."
Syekh Imam Abu Muhammad Abdurrahman bin Ismail al-Maqdisiy telah menulis satu buku bagus untuk mengingkari keduanya. Beliau telah melakukannya dengan bagus dan baik. Tentu, perkataan para ulama tentang permasalahan ini sangat banyak, seandainya kita menyebutkan semua perkataan yang kita tahu tentang masalah ini maka akan sangat panjang. Barangkali apa yang kita sebutkan telah cukup dan dapat memuaskan siapa saja yang mencari kebenaran.
Dari ayat, hadis, dan perkataan ulama yang telah disebutkan, orang yang mencari kebenaran dapat mengetahui dengan jelas bahwa merayakan malam Nisfu Syakban dengan salat dan lainnya, dan mengkhususkan siang harinya dengan ibadah puasa adalah bidah munkarah menurut kebanyakan ulama dan tidak memiliki dasar dalil dalam syariat yang suci, bahkan ia adalah perkara baru yang ada dalam Islam setelah generasi sahabat -raḍiyallāhu 'anhum-. Cukup bagi orang yang mencari kebenaran dalam masalah ini dan lainnya berdalil dengan firman Allah ﷻ,
﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ...﴾
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu [QS. Al-Mā`idah: 3]. Dan ayat-ayat yang semakna dengannya, serta sabda Nabi ﷺ:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ».
"Siapa yang membuat perkara baru dalam agama kami ini yang bukan berasal darinya maka amalan tersebut tertolak." Dan hadis-hadis lain yang semakna dengannya.
Dalam Sahih Muslim, Abu Hurairah raḍiyallāhu 'anhu meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
«لَا تَخُصُّوا لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالِي، وَلَا تَخُصُّوا يَوْمَهَا بِالصِّيَامِ مِنْ بَيْنِ الْأَيَّامِ، إِلَّا أَنْ يَكُونَ فِي صَوْمٍ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ».
"Janganlah kalian mengkhususkan malam Jumat di antara malam-malam yang lain untuk salat malam, dan jangan mengkhususkan hari Jumat di antara hari-hari yang lain untuk berpuasa, kecuali bertepatan dengan puasa yang biasa kalian lakukan." Seandainya mengkhususkan suatu malam dengan ibadah tertentu itu diperbolehkan, maka malam Jumat lebih utama daripada malam lainnya; karena hari Jumat adalah hari terbaik yang di sinari matahari, berdasarkan hadis-hadis sahih dari Rasulullah ﷺ. Ketika Nabi ﷺ memperingatkan agar tidak mengkhususkan malam tersebut dengan salat malam di antara malam-malam lainnya, maka hal ini menunjukkan bahwa malam-malam lainnya lebih utama untuk tidak dikhususkan dengan ibadah tertentu, kecuali ada dalil yang sahih yang menunjukkan pengkhususan tersebut.
Ketika Lailatul-Qadr dan malam-malam Ramadan disyariatkan untuk dihidupkan dengan salat malam dan kesungguhan dalam ibadah, Nabi ﷺ mengingatkan hal tersebut, serta memotivasi umat untuk melaksanakannya, dan beliau sendiri melakukannya, sebagaimana disebutkan dalam dua kitab sahih dari Nabi ﷺ bahwa beliau bersabda,
«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ».
"Siapa mendirikan malam bulan Ramadan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan siapa yang mendirikan malam Qadar dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." Seandainya malam Nisfu Syakban, malam Jumat pertama di bulan Rajab, atau malam Isra` dan Mikraj disyariatkan untuk dikhususkan dengan perayaan atau ibadah tertentu, tentu Nabi ﷺ akan membimbing umatnya untuk melakukannya, atau beliau sendiri yang melakukannya. Jika hal itu terjadi, tentu para sahabat raḍiyallāhu 'anhum akan menyampaikannya kepada umat, dan tidak akan menyembunyikannya dari mereka, karena mereka adalah manusia terbaik dan paling jujur setelah para nabi 'alaihimus salām. Semoga Allah meridai para sahabat Rasulullah ﷺ dan saya pun rida kepada mereka.
Anda telah tahu melalui perkataan ulama bahwa tidak ada satu pun riwayat yang sahih dari Nabi ﷺ maupun para sahabat beliau -raḍiyallāhu 'anhum- tentang keutamaan malam Jumat pertama bulan Rajab dan tidak pula malam Nisfu Syakban. Sebab itu, dapat diketahui bahwa merayakan keduanya adalah bidah yang diada-adakan dalam Islam, demikian pula mengkhususkannya dengan suatu ibadah adalah bidah yang mungkar. Demikian pula dengan malam 27 Rajab, yang diyakini sebagian orang sebagai malam Isra` dan Mikraj, tidak boleh dikhususkan dengan ibadah tertentu, sebagaimana tidak boleh merayakannya; berdasarkan dalil-dalil sebelumnya, ini jika memang diketahui tanggal kejadiannya. Namun, pendapat yang benar dari para ulama adalah bahwa malam tersebut tidak diketahui. Pendapat yang mengatakan bahwa Isra` dan Mikraj itu terjadi pada malam ke-27 bulan Rajab adalah pendapat yang batil dan tidak memiliki dasar dalam hadis-hadis sahih. Maka sungguh baik orang yang mengatakan,
“Sebaik-baik perkara adalah yang telah dikerjakan oleh para salaf, yang telah mendapatkan petunjuk ...
Dan sejelek-jelek perkara (dalam agama) adalah yang diada-adakan berupa bid’ah-bid’ah.”
Hanya kepada Allah saya memohon agar Dia memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk berpegang teguh dengan sunnah dan tetap konsisten di atasnya, serta berhati-hati dari segala yang menyelisihinya, karena sesungguhnya Dia Maha Dermawan lagi Maha Mulia.
Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, serta keluarga dan para sahabat beliau semuanya.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-8
PERINGATAN PENTING TENTANG WASIAT DUSTA YANG DINISBAHKAN KEPADA
SYEKH AHMAD, PELAYAN MASJID NABAWI YANG MULIA
Dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz kepada siapa saja dari kalangan Muslimin yang membaca surat ini, semoga Allah menjaga mereka dengan Islam, dan melindungi kami serta mereka dari kejahatan fitnah orang-orang bodoh yang sesat, Āmīn.
Assalāmu'alaikum wa raḥmatullāhi wa barakātuh.
Ammā ba’du: Saya telah membaca sebuah tulisan yang dinisbahkan kepada Syekh Aḥmad, Pelayan Masjid Nabawi yang Mulia, yang berjudul "Ini adalah Wasiat dari Madinah al-Munawwarah tentang Syekh Aḥmad, Khādim al-Ḥaram an-Nabawī asy-Syarīf". Dalam wasiat itu dia berkata,
"Pada malam Jumat, saya bergadang membaca Al-Qur`an dan setelahnya membaca Asmaulhusna. Setelah selesai membaca itu, saya bersiap untuk tidur. Kemudian aku melihat pemilik cahaya yang indah, Rasulullah ﷺ yang telah datang membawa ayat-ayat Al-Qur`an dan hukum-hukum mulia sebagai bentuk rahmat bagi alam semesta, Nabi kita Muhammad ﷺ. Beliau berkata, 'Wahai Syekh Ahmad!'
Saya menjawab, 'Labbaik, wahai Rasulullah! Wahai ciptaan Allah yang paling mulia!' Beliau berkata kepadaku, 'Aku malu terhadap perbuatan buruk manusia. Aku tidak mampu bertemu Tuhanku maupun para malaikat, karena dalam rentang satu Jumat ke Jumat berikutnya, meninggal 160 ribu manusia dalam keadaan beragama selain Islam.' Kemudian beliau menyebutkan berbagai maksiat yang terjadi di tengah manusia. Kemudian beliau berkata, 'Wasiat ini adalah rahmat Allah Yang Maha Perkasa kepada manusia.' Kemudian beliau menyebutkan sebagian tanda-tanda Kiamat, hingga beliau mengatakan, 'Sampaikan kepada mereka wasiat ini, wahai Syekh Ahmad, karena ia disalin menggunakan pena takdir dari Loh Mahfuz. Siapa yang menulisnya dan mengirimnya dari satu negeri ke negeri lain dan satu tempat ke tempat yang lain, maka akan dibangunkan untuknya satu istana dalam surga. Sebaliknya, orang yang tidak menulis dan mengirimnya maka haram baginya syafaatku kelak hari Kiamat. Siapa yang menulisnya sedangkan ia fakir maka Allah akan membuatnya kaya; atau ia berhutang maka Allah akan melunasinya; atau ia berdosa maka Allah pasti mengampuninya dan kedua orang tuanya berkat wasiat ini; sedangkan siapa yang tidak menulisnya maka hitamlah mukanya di dunia dan akhirat.' Kemudian dia melanjutkan, ‘Demi Allah Yang Maha Agung (3x), wasiat ini adalah benar. Jika aku berbohong maka aku keluar dari dunia ini dengan tidak memeluk agama Islam. Siapa yang mempercayai wasiat ini, ia akan selamat dari siksaan neraka, dan siapa yang mendustakannya maka dia telah kafir dengannya’.”
Ini adalah ringkasan wasiat dusta atas nama Rasulullah ﷺ. Kami telah mendengar wasiat dusta ini berkali-kali sejak bertahun-tahun yang lalu, disebarkan di antara masyarakat dari waktu ke waktu, dan dipromosikan di kalangan orang awam, dengan redaksi yang berbeda-beda. Pendusta itu mengatakan bahwa dia melihat Nabi ﷺ dalam tidur, lalu beliau memberinya wasiat ini. Dalam selebaran terakhir yang kami sebutkan kepada Anda, wahai pembaca, si pembohong mengklaim bahwa dia melihat Nabi ﷺ ketika bersiap untuk tidur, maka itu berarti dia melihatnya dalam keadaan sadar!
Si pendusta itu telah menyebutkan dalam wasiat tersebut banyak hal yang merupakan kedustaan paling nyata dan kebatilan paling terang. Saya akan tunjukkan hal itu dalam tulisan ini, insya Allah. Semua itu telah saya ingatkan sejak beberapa tahun lalu kepada masyarakat bahwa semua itu termasuk kedustaan yang paling nyata dan kebatilan yang paling terang. Setelah saya membaca buletin terakhir, saya ragu untuk menulisnya, karena kebatilannya sangat jelas dan tingginya tingkat keberanian pelakunya untuk berdusta. Saya tidak menyangka kebatilan semacam itu bisa diterima orang yang memiliki sedikit pengetahuan atau fitrah yang masih lurus. Akan tetapi, saya diberi tahu oleh banyak saudara kita bahwa kebatilan tersebut telah beredar luas di tengah masyarakat; mereka saling membagikannya dan sebagian membenarkannya. Oleh karena itu, saya melihat sebuah kewajiban bagi orang seperti saya untuk membuat tulisan tentang hal itu dalam rangka menerangkan kebatilannya dan menguras kedustaan terhadap Rasulullah ﷺ sehingga tidak ada orang yang tertipu. Orang berilmu dan beriman, atau memiliki fitrah yang lurus dan akal yang sehat, jika merenungkannya maka dia akan mengetahui bahwa itu adalah kebohongan dan fitnah dari berbagai sisi.
Saya telah bertanya kepada beberapa kerabat Syekh Ahmad yang dinisbahkan kepadanya fitnah ini, tentang wasiat ini, maka dia menjawabku, "Itu adalah dusta yang diada-adakan atas nama Syekh Ahmad, dan beliau sama sekali tidak mengatakannya." Sementara Syekh Ahmad yang disebutkan itu telah wafat sejak lama. Kalau kita mengandaikan bahwa Syekh Ahmad yang disebutkan, atau orang yang lebih tua darinya, mengklaim bahwa dia melihat Nabi ﷺ dalam tidur atau saat terjaga, dan mewasiatkan wasiat ini kepadanya, maka kita akan mengetahui dengan yakin bahwa dia berdusta, atau yang mengatakan hal itu kepadanya adalah setan, bukan Rasulullah ﷺ karena banyak alasan, di antaranya:
Pertama: Rasulullah ﷺ tidak dapat dilihat di alam nyata setelah beliau meninggal dunia. Siapa saja dari kalangan sufi yang jahil mengaku melihat Nabi ﷺ di alam nyata, atau beliau menghadiri maulid dan semisalnya, maka dia telah salah besar dan tertipu sekali, jatuh dalam kesalahan besar, serta menyelisihi Al-Qur`an, Sunnah, dan ijmak ulama; sebab orang yang sudah mati hanya akan keluar dari kuburnya kelak pada hari Kiamat, bukan sekarang di dunia. Dan siapa yang mengatakan sebaliknya, maka ia adalah pendusta yang nyata, atau orang yang keliru lagi tertipu, tidak mengetahui kebenaran yang telah diketahui oleh salafus salih, yang ditempuh oleh para sahabat Rasulullah ﷺ dan para pengikut mereka dengan baik. Allah Ta'ala berfirman:
﴿ثُمَّ إِنَّكُم بَعۡدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ15 ثُمَّ إِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تُبْعَثُونَ16﴾
Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.
Kemudian, sungguh kalian akan dibangkitkan (dari kubur kalian) pada hari kiamat. [QS. Al-Mu`minūn: 15-16] Nabi ﷺ bersabda,
«أَنَا أَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَأَنَا أَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ».
"Aku adalah orang yang pertama kali dibuka kuburnya pada hari Kiamat, yang pertama kali memberi syafa'at dan diberi izin untuk memberi syafa'at." Ayat-ayat Al-Qur`an dan hadis-hadis yang semakna dengan ini sangat banyak.
Kedua: Rasulullah ﷺ tidak mengucapkan hal yang menyelisihi kebenaran, baik di masa hidupnya maupun setelah meninggal dunia. Wasiat ini menyelisihi syariat beliau dengan sangat nyata dari banyak sisi -sebagaimana yang akan dijelaskan-, namun Beliau dapat dilihat dalam mimpi. Siapa yang melihat beliau dalam mimpi dengan bentuk wajahnya yang mulia, maka sungguh dia telah melihatnya; karena setan tidak bisa menyerupai bentuk beliau, sebagaimana disebutkan dalam hadis yang sahih dan mulia. Namun, yang menjadi dasar utama adalah keimanan, kejujuran, keadilan, ketelitian, dan amanah dari orang yang bermimpi, serta apakah dia melihat Nabi ﷺ dalam bentuknya yang sebenarnya atau dalam bentuk yang lain.
Seandainya ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ pada masa hidup beliau, tetapi tidak melalui jalur para perawi ṡiqah (terpercaya), ‘adl (adil), dan dabit (kuat hafalan dan pencatatannya), maka hadis tersebut tidak dapat dijadikan sebagai pegangan maupun hujah. Demikian pula, jika sebuah hadis datang melalui jalur para perawi yang ṡiqah dan dabit, tetapi bertentangan dengan riwayat perawi yang lebih dabit dan lebih ṡiqah dengan pertentangan yang tidak dapat dikompromikan, maka salah satu riwayat tersebut dihukumi mansukh (dibatalkan hukumnya) dan tidak diamalkan, sementara yang lain dinyatakan sebagai nasikh (yang membatalkan) dan itulah yang diamalkan, selama hal itu memungkinkan dengan syarat-syaratnya.
Namun, jika tidak memungkinkan untuk dikompromikan (jamak) maupun nasakh, maka riwayat yang lebih rendah tingkat dabit-nya atau lebih rendah tingkat 'adl-nya disingkirkan dan dinyatakan sebagai syāż, sehingga tidak diamalkan.
Lantas, bagaimana dengan wasiat dari orang tak dikenal yang meriwayatkannya dari Rasulullah ﷺ, sementara keadilan dan amanahnya pun tidak diketahui?! Wasiat semacam itu dalam keadaan seperti ini, pantas untuk ditinggalkan dan tidak perlu diperhatikan, sekalipun isinya tidak bertentangan dengan syariat. Lalu, bagaimana lagi jika wasiat tersebut justru mengandung banyak hal yang menunjukkan kebatilannya, merupakan kedustaan atas nama Rasulullah ﷺ, serta berisi ajaran yang diada-adakan yang tidak diizinkan oleh Allah?!
Nabi ﷺ juga bersabda,
«مَنْ قَالَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ؛ فَلْيَتَـبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ».
“Siapa yang mengatakan sesuatu atas namaku yang tidak pernah aku katakan maka hendaklah menyiapkan tempatnya di neraka.” Orang yang mengada-adakan wasiat ini atas nama Rasulullah ﷺ telah mengatakan sesuatu yang tidak pernah beliau katakan, bahkan ia telah berdusta atas nama beliau dengan kebohongan yang jelas dan berbahaya. Maka betapa pantasnya ia mendapatkan ancaman besar ini, dan betapa layaknya ia menerima hukuman tersebut jika ia tidak segera bertobat serta mengumumkan kepada orang-orang bahwa wasiat ini adalah kebohongan yang disandarkan kepada Rasulullah ﷺ. Siapa pun yang menyebarkan kebatilan di tengah masyarakat dan menyandarkannya kepada agama, maka tobatnya tidak akan diterima kecuali dengan mengumumkan kebohongannya dan menjelaskannya secara terbuka. Hal ini bertujuan agar orang-orang mengetahui bahwa ia telah mencabut kedustaannya dan menyatakan dirinya sebagai pendusta, sebagaimana firman Allah ﷻ,
﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ159 إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَبَيَّنُواْ فَأُوْلَٰٓئِكَ أَتُوبُ عَلَيۡهِمۡ وَأَنَا ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ160﴾
Sungguh, orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan dan petunjuk, setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab (Al Qur’an), mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat (pula) oleh mereka yang melaknat.
Kecuali mereka yang telah bertaubat, mengadakan perbaikan dan menjelaskan(nya), mereka itulah yang Aku terima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat, Maha Penyayang. [QS. Al-Baqarah: 159-160] Dalam ayat yang mulia ini, Allah subḥānahu wa ta'ālā menjelaskan bahwa siapa yang menyembunyikan suatu kebenaran, maka tobatnya tidak akan sah kecuali setelah melakukan perbaikan dan menjelaskan kebenaran itu.
Allah -Subḥānahu- telah menyempurnakan agama bagi hamba-hamba-Nya dan memparipurnakan nikmat-Nya dengan mengutus Rasul-Nya, Muhammad ﷺ, serta dengan wahyu syariat yang sempurna kepada beliau. Allah tidak memanggilnya kembali kepada-Nya kecuali setelah agama disempurnakan dan dijelaskan, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya ﷻ.
﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗا...﴾
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. [QS. Al-Mā`idah: 3]
Pembuat wasiat dusta ini muncul pada abad keempat belas, dia ingin menyesatkan manusia dengan agama baru, di mana pengikut syariatnya akan masuk surga, sementara yang tidak mengikuti syariatnya akan terhalang masuk surga serta akan masuk neraka. Dia ingin menjadikan wasiat dusta ini lebih agung dan lebih utama daripada Al-Qur`an, karena dia mengklaim bahwa siapa yang menulisnya dan mengirimkannya dari satu negeri ke negeri lain, atau dari satu tempat ke tempat lain maka akan dibangunkan baginya istana di surga; dan sebaliknya siapa yang tidak menulisnya dan tidak mengirimkannya maka dia tidak akan mendapatkan syafaat Nabi ﷺ pada hari Kiamat. Ini merupakan salah satu kebohongan yang paling buruk, serta merupakan bukti yang paling jelas atas kebohongan wasiat ini, kurangnya rasa malu dari pembuatnya, dan kelancangannya dalam berdusta; karena siapa pun yang menulis Al-Qur`an dan mengirimkannya dari satu negeri ke negeri lain, atau dari satu tempat ke tempat lain, tidak akan mendapatkan keutamaan ini jika tidak mengamalkan Al-Qur`an. Maka bagaimana mungkin penulis kebohongan ini dan pembawanya dari satu negeri ke negeri lain akan mendapatkan keutamaan tersebut. Dan siapa yang tidak menulis Al-Qur`an dan tidak mengirimkannya dari satu negeri ke negeri lain, tidak akan diharamkan dari syafaat Nabi ﷺ jika ia beriman kepadanya dan mengikuti syariatnya. Satu kebohongan ini saja dari wasiat itu sudah cukup untuk menunjukkan kebatilannya dan kebohongan penyebarnya, serta kelancangan dan kebodohannya, juga ketidakpahamannya terhadap petunjuk yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ.
Di dalam wasiat ini -selain yang telah disebutkan-, terdapat hal-hal lain, seluruhnya menjadi petunjuk kebatilan dan kedustaannya. Walaupun ia bersumpah seribu sumpah atau lebih akan kebenarannya, dan walaupun ia berani mendoakan dirinya dengan siksa yang paling besar dan azab yang paling keras untuk membuktikan ia benar, ia tetap tidak jujur dan tidak benar. Akan tetapi, wasiat tersebut, demi Allah, kemudian demi Allah, termasuk kebatilan yang paling buruk. Kami menjadikan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan para malaikat yang hadir bersama kita sebagai saksi. dan kepada siapa saja dari kaum Muslimin yang mengetahui tulisan ini — sebagai kesaksian yang akan kami bawa menghadap Tuhan kami ﷻ — bahwa wasiat ini adalah dusta dan fitnah terhadap Rasulullah ﷺ. Semoga Allah menghinakan orang yang mendustakannya dan menyiksanya sesuai dengan perbuatannya.
Selain hal-hal yang telah disebutkan, di dalam redaksi wasiat itu sendiri terdapat banyak hal yang menunjukkan kedustaan dan kebatilannya, di antaranya:
Pertama: Perkataannya di dalam wasiat tersebut, "Karena dalam rentang satu Jumat ke Jumat berikutnya, meninggal 160 ribu orang dalam keadaan beragama selain agama Islam."
Hal ini termasuk perkara gaib, sedangkan wahyu telah putus dari Rasulullah ﷺ semenjak beliau wafat. Bahkan, beliau tidak mengetahui perkara gaib di masa hidup beliau, apalagi setelah beliau meninggal dunia, sebagaimana firman Allah Ta'ala,
﴿قُل لَّآ أَقُولُ لَكُمۡ عِندِي خَزَآئِنُ ٱللَّهِ وَلَآ أَعۡلَمُ ٱلۡغَيۡبَ...﴾
Katakanlah (Muhammad), “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan aku tidak mengetahui yang gaib... [QS. Al-An'ām: 50] Juga firman Allah Ta'ala,
﴿قُل لَّا يَعۡلَمُ مَن فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ ٱلۡغَيۡبَ إِلَّا ٱللَّهُ...﴾
Katakanlah (Muhammad), “Tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah... [QS. An-Naml: 65] Dalam hadis yang sahih dari Nabi ﷺ disebutkan bahwa beliau bersabda,
«يُذَادُ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي يَوْمَ القِيَامَةِ، فَأَقُولُ: يَا رَبِّ! أَصْحَابِي أَصْحَابِي، فَيُقَالُ لِي: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ كَمَا قَالَ العَبْدُ الصَّالِحُ: ﴿وَكُنتُ عَلَيۡهِمۡ شَهِيدٗا مَّا دُمۡتُ فِيهِمۡۖ فَلَمَّا تَوَفَّيۡتَنِي كُنتَ أَنتَ ٱلرَّقِيبَ عَلَيۡهِمۡۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ﴾ [المائدة: 117]».
"Banyak orang yang dijauhkan dari telagaku pada hari kiamat nanti, maka aku berkata, ‘Ya Rabb, mereka adalah sahabat- sahabatku, mereka sahabat-sahabatku.’ Maka dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka perbuat setelah engkau wafat.’ Maka aku berkata sebagaimana hamba yang saleh (Nabi Isa) berkata, ‘Dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku ada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkaulah yang mengawasi mereka, dan Engkau Maha Menyaksikan segala sesuatu’." (Al-Mā'idah: 117)
Kedua: Di antara perkara yang menunjukkan ketidakbenaran wasiat tersebut ialah perkataannya dalam wasiat itu: "Siapa yang menulisnya sedangkan ia fakir maka Allah akan membuatnya kaya, kalau ia berhutang maka Allah akan melunasinya, atau kalau ia berdosa maka Allah pasti mengampuninya dan kedua orang tuanya berkat wasiat ini ..." Ini termasuk kedustaan paling besar dan bukti paling terang yang menunjukkan kedustaan pembuatnya serta minim rasa malunya kepada Allah dan kepada hamba-hamba-Nya. Ketiga hal tersebut tidak akan didapat walau dengan menulis Al-Qur`an, lalu bagaimana akan diperoleh bagi orang yang menulis wasiat palsu itu?! Sesungguhnya yang diinginkan oleh makhluk jahat ini adalah mengaburkan kebenaran dari manusia dan membuat mereka bergantung pada wasiat ini sehingga mereka mau menuliskannya dan bergantung pada keutamaan yang diklaim ini, serta meninggalkan tuntunan yang telah disyariatkan Allah bagi hamba-Nya; dan dia ingin menjadikan wasiat tersebut sebagai sarana menggapai kekayaan, melunasi utang, dan pengampunan dosa. Maka, kita berlindung kepada Allah dari sebab-sebab kehinaan dan ketaatan kepada hawa nafsu serta setan.
Ketiga: Di antara perkara yang menunjukkan ketidakbenaran wasiat tersebuat ialah perkataannya dalam wasiat itu: "Sebaliknya, siapa yang tidak menulisnya maka hitamlah mukanya di dunia dan akhirat." Ini juga merupakan kebohongan yang paling buruk, dan bukti yang paling jelas tentang kebatilan wasiat ini, serta kebohongan orang yang membuatnya. Bagaimana mungkin seorang yang berakal akan menulis wasiat ini, yang dibawa oleh seorang yang tidak dikenal pada abad keempat belas, mengada-ada atas nama Rasulullah ﷺ dan mengklaim bahwa siapa yang tidak menulisnya maka wajahnya akan menjadi hitam, dan siapa yang menulisnya akan menjadi kaya setelah miskin, selamat dari utang yang menumpuknya, dan diampuni dosa-dosa yang dilakukannya?!
Maha Suci Engkau Ya Allah, ini adalah kebohongan yang besar! Bukti-bukti dan realita yang ada menjadi saksi kebohongan pendusta ini, betapa besar kelancangannya terhadap Allah, dan betapa sedikit rasa malunya kepada Allah dan manusia. Banyak sekali umat yang tidak menuliskannya, namun wajah mereka tidak menjadi hitam; dan betapa banyak jumlah orang, hanya Allah yang dapat menghitungnya, yang telah menuliskannya berkali-kali, namun utang mereka tidak terbayar, dan kemiskinan mereka tidak hilang. Maka kita berlindung kepada Allah dari penyimpangan hati dan noda dosa. Sifat-sifat dan balasan yang dituliskan itu tidak pernah dijanjikan oleh syariat mulia bagi orang yang menulis kitab terbaik dan teragung yaitu Al-Qur`an Al-Karim, maka bagaimana bisa hal itu akan didapatkan oleh orang yang menulis wasiat palsu, yang mengandung berbagai jenis kebatilan dan kalimat-kalimat kekufuran? Maha Suci Allah!! Betapa sabarnya Dia terhadap orang yang berani berdusta atas nama-Nya.
Keempat: Di antara perkara yang menunjukkan bahwa wasiat tersebut adalah kebatilan yang paling batil dan kedustaan yang paling terang ialah perkataannya dalam wasiat itu: "Siapa yang mempercayai wasiat ini, ia akan selamat dari siksaan neraka, dan siapa yang mendustakannya maka dia telah kafir." Ini juga merupakan kelancangan terbesar dalam berdusta, dan termasuk kebatilan yang paling buruk. Pembohong ini ingin mengajak semua orang untuk mempercayai kebohongannya, dan mengklaim bahwa dengan itu mereka akan selamat dari azab neraka, dan siapa yang mendustakannya menjadi kafir. Sungguh, si pembohong ini -demi Allah- telah melakukan kedustaan yang paling besar atas nama Allah dan telah mengatakan sesuatu yang tidak benar. Justru, orang yang mempercayainya adalah yang pantas menjadi kafir, bukan orang yang mendustakannya. Sebab, wasiat tersebut hanyalah kebohongan, kebatilan, dan kedustaan yang tidak memiliki dasar kebenaran. Kami menjadikan Allah sebagai saksi bahwa wasiat itu dusta dan pembuatnya adalah seorang pendusta yang ingin mengadakan bagi manusia syariat yang tidak diridai oleh Allah, serta memasukkan ke dalam agama mereka sesuatu yang bukan bagian darinya. Allah telah menyempurnakan agama ini dan menyempurnakannya bagi umat ini empat belas abad sebelum kebohongan itu dibuat. Maka perhatikanlah, wahai para pembaca dan saudara sekalian! Berhati-hatilah, jangan sampai kalian mempercayai kebohongan semacam ini atau membiarkannya tersebar di antara kalian. Sesungguhnya kebenaran memiliki cahaya yang tidak akan samar bagi pencarinya. Maka carilah kebenaran dengan dalilnya dan tanyakanlah kepada para ulama jika ada sesuatu yang sulit kalian pahami. Janganlah kalian tertipu oleh sumpah para pendusta, karena Iblis yang terkutuk pun pernah bersumpah kepada kedua orang tua kalian, Adam dan Hawa, bahwa ia hendak menasihati mereka, padahal ia adalah pengkhianat terbesar dan pendusta paling keji, sebagaimana Allah telah kisahkan dalam firman-Nya,
﴿وَقَاسَمَهُمَآ إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ21﴾
Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya aku ini benar-benar termasuk para penasihatmu,” [QS. Al-A'rāf: 21]. Waspadalah terhadap Iblis dan waspadalah juga terhadap para pengikutnya dari kalangan para pendusta! Betapa banyak sumpah palsu mereka, janji pengkhianatan, serta kata-kata indah yang mereka hiasi demi menyesatkan dan menipu! Adapun yang disebutkan oleh pendusta ini tentang merebaknya kemungkaran, maka itu memang suatu kenyataan. Namun, Al-Qur`an Al-Karim dan Sunnah yang suci telah memberikan peringatan yang sangat keras terhadapnya. Pada keduanya terdapat petunjuk dan kecukupan.
Adapun tanda-tanda Kiamat yang disebutkan, maka hadis-hadis Nabi telah menjelaskannya dengan rinci dan Al-Qur`an juga telah mengisyaratkan sebagiannya. Siapa yang ingin mengetahuinya, ia dapat menemukannya pada tempatnya di dalam kitab-kitab Sunnah serta karya para ulama dan orang-orang beriman. Manusia tidak memerlukan penjelasan dari pendusta ini dengan tipu dayanya yang mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan. Semoga Allah melindungi saya, Anda sekalian, dan seluruh kaum muslimin dari kejahatan setan, fitnah orang-orang yang menyesatkan, penyimpangan orang-orang yang menyimpang, serta tipu daya musuh-musuh Allah yang menyebarkan kebatilan. Mereka berupaya memadamkan cahaya Allah dengan ucapan mereka dan mengacaukan agama manusia. Namun, Allah pasti akan menyempurnakan cahaya-Nya dan memenangkan agama-Nya, meskipun musuh-musuh Allah dari kalangan setan dan para pengikutnya, baik orang-orang kafir maupun ateis, membencinya. Kami memohon kepada Allah semoga memperbaiki keadaan kaum muslimin, membimbing mereka untuk mengikuti kebenaran, istikamah di atas kebenaran, dan bertobat kepada Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dari semua dosa. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang, lagi Maha Kuasa atas segala sesuatu. Cukuplah Allah bagi kita dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya yang jujur dan terpercaya, beserta keluarga, para sahabat, dan pengikutnya yang baik hingga hari Kiamat.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-9
HUKUM SIHIR, PERDUKUNAN, DAN. HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGANNYA18
Segala puji hanya milik Allah, dan semoga selawat serta salam tercurahkan kepada sosok nabi yang tidak ada nabi lain setelahnya. Amabakdu:
Melihat maraknya para tukang tipu akhir-akhir ini yang mengaku sebagai ahli pengobatan, mereka mengobati melalui praktik sihir dan perdukunan yang tersebar di beberapa negeri dengan memanfaatkan kepolosan sebagian orang yang mayoritasnya tidak tahu apa-apa, maka sebagai bentuk nasihat karena Allah dan kepada hamba-hamba-Nya, kami memandang perlunya menjelaskan betapa besar bahayanya bagi Islam dan kaum muslimin, sebab mengandung sikap bergantung kepada selain Allah Ta'ala sekaligus menyelisihi perintah-Nya dan perintah Rasul-Nya ﷺ.
Sembari memohon pertolongan kepada Allah Ta'ala, saya katakan:
Berobat hukumnya boleh berdasarkan kesepakatan para ulama. Sebab itu, seorang muslim boleh pergi ke dokter ahli penyakit dalam, ahli bedah, ahli saraf, dan lain sebagainya; guna memeriksa penyakitnya serta mengobatinya sesuai dengan obat-obatan yang mubah secara syariat, berdasarkan ilmu medis. Hal itu boleh karena termasuk tindakan melakukan sebab dan akibat yang biasa dilakukan serta tidak menafikan sikap tawakal kepada Allah. Bahkan, sebenarnya Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menurunkan penyakit beserta obatnya, ada yang mengetahuinya dan ada pula yang tidak mengetahuinya. Hanya saja, Dia tidak pernah menjadikan kesembuhan hamba-hamba-Nya dengan menggunakan hal-hal yang diharamkan.
Karenanya, orang yang sakit tidak diperkenankan pergi ke dukun-dukun yang mengaku mengetahui ilmu gaib demi mengetahui penyakitnya. Selain itu, dia tidak boleh percaya terhadap apa yang mereka beritahukan, karena mereka berbicara sebatas terkaan terkait hal gaib, atau karena mereka menghadirkan jin untuk meminta bantuan supaya memenuhi keinginan mereka. Mereka ini statusnya kafir dan sesat jika mengaku mengetahui ilmu gaib.
Imam Muslim meriwayatkan dalam Sahihnya, bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ، لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ يَوْمًا».
"Siapa yang mendatangi peramal lantas bertanya sesuatu kepadanya, maka salatnya selama empat puluh hari tidak diterima."
"Siapa yang mendatangi seorang dukun dan mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir (ingkar) terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad ﷺ."
«مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».
"Siapa yang mendatangi seorang dukun, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sesungguhnya dia telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad ﷺ." Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud. Ia juga diriwayatkan oleh para penyusun kitab Sunan yang empat dan dinyatakan sahih oleh al-Ḥākim dari Nabi ﷺ dengan redaksi:
«مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».
"Siapa yang mendatangi peramal atau dukun lalu membenarkan apa yang diucapkannya, dia telah kafir kepada apa yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ."
'Imrān bin Ḥuṣain -raḍiyallāhu 'anhu- meriwayatkan: Rasulullah ﷺ bersabda,
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ، أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ، أَوْ سَحَرَ أَوْ سُحِرَ لَهُ، وَمَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ، فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ ﷺ».
"Bukan termasuk golongan kami orang yang meminta atau melakukan taṭayyur (deteksi nasib sial), meramal atau minta diramal, menyihir atau minta disihirkan. Siapa yang mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir terhadap wahyu yang telah diturunkan kepada Muhammad ﷺ." (HR. al-Bazzar dengan sanad jayyid).
Dalam hadis-hadis yang mulia ini terdapat larangan mendatangi para peramal, dukun, penyihir, dan yang semisal mereka, sekaligus larangan bertanya kepada mereka, mempercayai mereka, dan ancaman bagi pelakunya.
Tidak boleh tertipu dengan benarnya ucapan mereka dalam beberapa perkara atau banyaknya orang yang datang kepada mereka, karena sejatinya mereka orang-orang bodoh,. Kita tidak boleh terlena dengan mereka; sebab Rasulullah ﷺ melarang mendatangi mereka, bertanya kepada mereka, serta mempercayai mereka; karena hal itu mengandung kemungkaran yang besar, mudarat yang berat, serta akibat yang buruk. Terlebih juga karena mereka adalah para pendusta dan penjahat.
Dalam hadis-hadis ini, juga terdapat dalil kafirnya seorang dukun dan penyihir, karena keduanya mengklaim mengetahui ilmu gaib, dan itu kekufuran. Di samping itu, keduanya tidak akan menggapai tujuannya kecuali dengan mengabdi kepada jin dan menyembah mereka selain Allah. Ini merupakan tindakan kekufuran kepada Allah dan menyekutukan-Nya dengan sesuatu selain-Nya. Orang yang mempercayai klaim mereka dalam perkara ilmu gaib, maka statusnya sama seperti mereka. Siapa saja yang menerima hal-hal semacam ini dari orang-orang yang melakukan praktik tersebut, maka Rasulullah ﷺ berlepas diri darinya.
Seorang muslim tidak boleh tunduk pada apa yang mereka klaim sebagai pengobatan, seperti coretan mereka dengan mantra atau menuang cairan timah dan khurafat-khurafat semisal yang mereka lakukan. Semua ini termasuk perdukunan dan tipu daya terhadap manusia. Siapa yang rela dengan hal ini, maka ia telah mendukung kebatilan dan kekufuran mereka.
Tidak boleh seorang pun dari kaum muslimin mengunjungi mereka untuk bertanya mengenai jodoh putra atau saudaranya, atau mengenai apa yang terjadi antara suami dan istri serta keluarga masing-masing; berupa rasa cinta, kesetiaan, pertikaian, perceraian, dan lain sebagainya, karena ini termasuk perkara gaib, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā-.
Sudah semestinya pemerintah, aparat kepolisian, dan pihak mana pun yang berwewenang untuk mengingkari tindakan orang mendatangi para dukun, peramal, dan yang semisal mereka. Mereka juga harus melarang siapa saja yang melakukan praktik-praktik tersebut di pasar-pasar dan tempat lainnya, serta menindak mereka dan oknum yang mendatangi mereka secara tegas.
Begitu pula dengan sihir, karena ia termasuk perbuatan yang haram dan kufur, sebagaimana tertera pada firman Allah ﷻ tentang kisah dua malaikat dalam surah Al-Baqarah:
﴿...وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنۡ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَآ إِنَّمَا نَحۡنُ فِتۡنَةٞ فَلَا تَكۡفُرۡۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنۡهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِۦ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَزَوۡجِهِۦۚ وَمَا هُم بِضَآرِّينَ بِهِۦ مِنۡ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمۡ وَلَا يَنفَعُهُمۡۚ وَلَقَدۡ عَلِمُواْ لَمَنِ ٱشۡتَرَىٰهُ مَا لَهُۥ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنۡ خَلَٰقٖۚ وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ﴾
Padahal keduanya tidak mengajarkan sesuatu kepada seseorang sebelum mengatakan, 'Sesungguhnya kami hanyalah cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kafir.' Maka mereka mempelajari dari keduanya (malaikat itu) apa yang (dapat) memisahkan antara seorang (suami) dengan isterinya. Mereka tidak akan dapat mencelakakan seseorang dengan sihirnya kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang mencelakakan dan tidak memberi manfaat kepada mereka. Dan sungguh, mereka sudah tahu, barangsiapa membeli (menggunakan sihir) itu, niscaya tidak akan mendapat keuntungan di akhirat. Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu. [QS. Al-Baqarah: 102].
Ayat-ayat yang mulia ini merupakan dalil bahwa sihir hukumnya kufur, dan para penyihir melakukan pemisahan antara suami dan istrinya. Ia juga menunjukkan bahwa sihir itu sendiri tidak akan berpengaruh secara sendiri, entah itu manfaat atau mudarat, ia hanya berpengaruh atas izin Allah berdasarkan takdir-Nya terhadap alam ini, karena Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- yang menciptakan baik dan buruk.
Ayat yang mulia ini juga menunjukkan bahwa orang-orang yang mempelajari sihir, sejatinya sedang mempelajari sesuatu yang akan membahayakan diri mereka sendiri, tidak akan bermanfaat bagi mereka, dan sungguh mereka tidak mendapatkan keuntungan apa pun di sisi Allah. Ini merupakan ancaman yang sangat besar, menunjukkan betapa besarnya kerugian mereka di dunia dan akhirat dan bahwa mereka seakan menjual jiwa mereka dengan harga yang termurah. Karenanya, Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mencela mereka dalam firman-Nya:
﴿...وَلَبِئۡسَ مَا شَرَوۡاْ بِهِۦٓ أَنفُسَهُمۡۚ لَوۡ كَانُواْ يَعۡلَمُونَ﴾
Dan sungguh, sangatlah buruk perbuatan mereka yang menjual dirinya dengan sihir, sekiranya mereka tahu. [QS. Al-Baqarah: 102] Kata "asy-syirā`" (membeli) di sini maknanya menjual.
Dampak buruknya besar serta urusannya berat bagi para pengklaim yang mewarisi ilmu-ilmu kaum musyrik itu, lalu memanipulasinya di hadapan orang-orang awam. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kita semua karena Dia sebaik-baik pelindung.
Kita memohon kepada Allah agar terhindar dan diselamatkan dari keburukan para penyihir, dukun, dan tukang tenung. Kita juga memohon kepada-Nya agar melindungi kaum muslimin dari kejahatan mereka sekaligus memberi petunjuk kepada pemerintah kaum muslimin untuk memperingatkan mereka serta menerapkan hukum Allah terhadap mereka, sehingga masyarakat terselamatkan dari mara bahaya serta perilaku buruk mereka, karena Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Allah telah mensyariatkan untuk para hamba-Nya sesuatu yang dapat melindungi diri mereka dari para penyihir sebelum terkena sihir. Dia juga menjelaskan kepada mereka solusi yang dapat mengatasinya saat sudah terkena sihir sebagai bentuk kasih sayang-Nya, kebaikan dari-Nya, dan kesempurnaan nikmat-Nya untuk mereka.
Berikut ini penjelasan langkah-langkah yang bisa dijadikan sebagai tameng dari bahaya sihir sebelum terkena, beserta upaya-upaya yang bisa dilakukan guna mengatasinya saat sudah terkena, melalui tindakan-tindakan yang mubah secara syariat, yaitu:
- Pertama: Langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari bahaya sihir sebelum terkena.
Langkah terpenting dan paling berguna ialah melindungi diri dengan zikir-zikir, doa-doa, serta bacaan istiazah yang bersumber dari syariat.
Di antaranya:
1. Membaca ayat Kursi, yang merupakan ayat yang paling agung dalam Al-Qur`an, setiap selesai salat fardu setelah salam, yaitu firman-Nya:
﴿ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ255﴾
Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Mahatinggi, Mahabesar. (QS. Al-Baqarah: 255) Ia dibaca juga saat hendak tidur. Terdapat hadis sahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda,
«مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْسِيِّ فِي لَيْلَةٍ، لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلَا يَقْرَبُهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ».
"Siapa yang membaca ayat Kursi pada malam hari, Allah akan senantiasa memberinya penjagaan hingga setan tidak bisa mendekatinya sampai pagi."
2. Di antara juga membaca:
﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ1﴾
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ1﴾
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),”
﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ1﴾
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, [QS. An-Nās: 1] Ketiganya dibaca sekali setiap selesai salat fardu. Ketiganya juga dibaca masing-masing sebanyak tiga kali pada pagi hari setelah salat Subuh, pada petang hari setelah salat Magrib.
3. Di antaranya juga: Membaca dua ayat terakhir surah Al-Baqarah pada petang hari, yaitu:
﴿ءَامَنَ ٱلرَّسُولُ بِمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِ مِن رَّبِّهِۦ وَٱلۡمُؤۡمِنُونَۚ كُلٌّ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَمَلَٰٓئِكَتِهِۦ وَكُتُبِهِۦ وَرُسُلِهِۦ لَا نُفَرِّقُ بَيۡنَ أَحَدٖ مِّن رُّسُلِهِۦۚ وَقَالُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ285﴾
Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur`an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), "Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya." Dan mereka berkata, "Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali. Dibaca sampai akhir surah.
Ini berdasarkan hadis sahih dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,
«مَنْ قَرَأَ الآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُورَةِ البَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ».
"Siapa saja yang membaca dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah pada malam hari, niscaya kedua ayat itu telah mencukupinya." Maknanya adalah dilindungi dari segala keburukan, Allāhu a'lam.
4. Di antaranya dengan memperbanyak doa:
"A'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmati min syarri mā khalaq"
Artinya: "Aku memohon perlindungan melalui kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari keburukan apa yang Dia ciptakan."
Doa ini dibaca pada malam dan siang hari, dan saat singgah di suatu tempat atau bangunan atau padang pasir atau di udara atau laut, berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
«مَن نَزَلَ مَنْزِلًا فَقالَ: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِن شَرِّ ما خَلَقَ، لَمْ يَضُرَّهُ شَيءٌ حتَّى يَرْتَحِلَ مِن مَنْزِلِهِ ذَلِكَ».
"Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca, 'A'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmati min syarri mā khalaq', niscaya tidak akan diganggu oleh apa pun sampai ia beranjak dari tempat tersebut."
5. Di antara doa lain yang bisa dibaca oleh seorang muslim pada pagi atau petang sebanyak tiga kali adalah:
«بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيءٌ فِي الأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ، وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ».
"Bismillāhillaẓī lā yaḍurru ma'a-smihī syai`un fil-arḍi walā fis-samā`i wa huwas-samī'ul-'alīm"
Artinya: "Dengan nama Allah yang tidak akan berbahaya sesuatu apa pun di bumi dan di langit bersama nama-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Hal ini berdasarkan anjuran yang bersumber dari Rasulullah ﷺ, agar seseorang membaca doa tersebut, karena ia merupakan sebab keselamatan diri dari segala keburukan.
- Kedua: Mengobati sihir setelah terkena olehnya. Langkah ini bisa dilakukan dengan beberapa alernatif:
A. Memperbanyak ketundukan dan doa pertolongan kepada Allah agar dihindarkan dari mara bahaya serta dihilangkan berbagai kesusahan.
B. Berusaha keras mengetahui tempat media sihir itu, entah itu di tanah, di bukit, atau tempat lainnya. Bila bisa diketahui dan bisa dikeluarkan serta dimusnahkan, niscaya sihir tersebut akan lenyap, dan ini paling ampuh dalam mengobati sihir.
C. Melalui ruqyah dengan zikir-zikir dan wirid-wirid yang sesuai syariat, dan ia cukup banyak, di antaranya:
1- Doa yang ada dalam hadis sahih, yaitu doa Rasulullah ﷺ
«اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ، أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا».
"Allāhumma rabban-nās, ażhibil-ba`sa, wa-syfi anta asy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman"
Artinya: "Ya Allah, Tuhan seluruh manusia! Hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, karena Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tiada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, yaitu dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." Doa ini dibaca sebanyak tiga kali.
2- Doa ruqyah yang pernah dibaca oleh Jibril kepada Nabi ﷺ, yaitu:
«بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللَّهُ يَشْفِيكَ، بِسْمِ اللَّهِ أَرْقِيكَ».
"Bismillāhi arqīka, min kulli syai`in yu`żīka, wa min syarri kulli nafsin aw 'ainin ḥāsidin, allāhu yasyfīk, bismillāhi `arqīka"
Artinya: "Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu dan dari kejelekan setiap jiwa atau pandangan yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu." Doa ini diulangi sebanyak tiga kali.
3- Di antara cara lain yang berguna bagi seseorang yang tidak mampu untuk berhubungan intim dengan istrinya adalah: mengambil tujuh daun bidara yang masih hijau, lalu ditumbuk dengan batu atau yang semisalnya, lalu dimasukkan ke dalam air yang cukup untuk mandi, sambil dibacakan:
a. Ayat Kursi.
﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ1﴾
Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! [QS. Al-Kāfirūn: 1], dan
﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ1﴾
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. [QS. Al-Ikhlās: 1], dan
﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ1﴾
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar), [QS. Al-Falaq: 1] dan
﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ1﴾
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, [QS. An-Nās: 1]
f. Ayat-ayat tentang sihir yang ada dalam surah Al-A'rāf, yaitu firman Allah Ta'ala,
﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ117 فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ118 فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ119﴾
Dan Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka.
Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan jadi sia-sia.
Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina." [QS. Al-A'rāf: 117-119]
g. Beberapa ayat dalam Surah Yūnus, yaitu:
﴿وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ79 فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ80 فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ81 وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ82﴾
Dan Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), “Datangkanlah kepadaku semua penyihir yang ulung!”
"Maka ketika para penyihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!'
Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, 'Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir, sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu. Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.'”
Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya." [QS. Yūnus: 79-82],
h. Beberapa ayat dalam Surah Ṭāhā:
﴿قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ65 قَالَ بَلۡ أَلۡقُواْۖ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ66 فَأَوۡجَسَ فِي نَفۡسِهِۦ خِيفَةٗ مُّوسَىٰ67 قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ68 وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ69﴾
Mereka berkata, “Wahai Musa! Apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?”
"Dia (Musa) berkata, 'Silakan kalian lemparkan!' Lalu tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat karena sihir mereka.
Lantas, Musa merasa takut dalam hatinya.
Kami berfirman, 'Jangan takut! Sesungguhnya engkaulah yang unggul (menang).
Lemparkanlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Tidak akan menang penyihir itu dari mana pun ia datang'.” [QS. Ṭāhā: 65-69]
Setelah membaca ayat-ayat tersebut pada sewadah air, bisa diminum tiga teguk, lalu sisanya digunakan untuk mandi. Dengan demikian, penyakit akan hilang atas kehendak Allah. Jika memang perlu menggunakan air tersebut dua kali atau lebih, maka dibolehkan sampai penyakitnya benar-benar lenyap.
Zikir-zikir, istiazah, dan berbagai metode ini termasuk faktor terbesar untuk melindungi diri dari keburukan sihir dan kejahatan lainnya. Ia juga merupakan senjata paling ampuh untuk menghilangkan sihir saat mengalaminya; bagi yang tekun menerapkannya dengan tulus dan penuh keimanan, percaya kepada Allah, bersandar kepada-Nya, dan berlapang dada terhadap apa yang diarahkan kepadanya.
Inilah yang bisa kami jelaskan terkait hal-hal yang bisa dilakukan untuk melindungi diri dari sihir dan mengobatinya. Hanya Allah yang bisa memberi kita taufik.
Di sini ada suatu permasalahan yang penting, yaitu mengobati sihir dengan melakukan sihir, yang metodenya memberikan persembahan kepada jin berupa menyembelih hewan atau ritual lainnya; hal ini dilarang karena termasuk perbuatan setan, bahkan kategori syirik besar. Sebagaimana juga dilarang melakukan pengobatan dengan bertanya kepada dukun, peramal, penyihir, atau menerapkan apa yang mereka katakan; sebab mereka adalah para pendusta dan penjahat yang mengklaim ilmu gaib dan memperdayai manusia. Rasulullah ﷺ telah memperingatkan agar tidak mendatangi, menanyai, dan mempercayai mereka, seperti yang dijelaskan pada awal risalah ini. Jadi semua itu harus diwaspadai. Ada hadis sahih yang bersumber dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau pernah ditanya tentang nusyrah (pengobatan sihir dengan sihir), lantas beliau menjawab,
«هِيَ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ».
"Itu termasuk perbuatan setan." (HR. Imam Ahmad dan Abu Daud dengan sanad jayyid).
Makna nusyrah adalah mengobati orang yang terkena sihir dengan sihir pula. Maksud beliau ﷺ dalam sabdanya ini ialah bentuk nusyrah yang biasanya dilakukan kaum jahiliah, yaitu meminta kepada si penyihir agar menghilangkan sihirnya, atau melawannya dengan sihir yang serupa dari penyihir lain.
Adapun jika diobati dengan ruqyah, doa-doa istiazah yang sesuai syariat, serta obat-obatan yang mubah, maka boleh sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya. Pernyataan tersebut dinyatakan oleh al-'Allāmah Ibnul-Qayyim dan Syekh Abdurraḥmān bin Ḥasan dalam Fatḥul-Majīd -raḥmatullāhi 'alaihimā-. Bahkan, ulama yang lain pun menyatakan hal yang sama.
Hanya kepada Allah kita memohon agar kaum muslimin diberi taufik dan keselamatan dari segala keburukan, agama mereka terjaga, serta diberi rezeki berupa pemahaman yang benar dalam hal ini dan diberi keselamatan dari semua perkara yang menyelisihi syariat-Nya.
Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada hamba dan rasul-Nya, Muhammad, serta keluarga, dan para sahabat beliau semuanya.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-10
LARANGAN MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN
Dengan nama Allah, segala puji hanya milik Allah, serta selawat dan salam semoga tercurahkan kepada Rasulullah.
Amabakdu: Saya telah membaca artikel yang dimuat di Majalah Rābiṭah al-'Ulūm al-Islāmiyyah edisi ke-3 dengan judul "Berita Umat Islam dalam Sebulan", yang berisi bahwa Rābiṭah al-'Ulūm al-Islāmiyyah (Ikatan Ilmu-ilmu Agama) di Kerajaan Hāsyimiyah Yordania berencana membangun sebuah masjid di atas gua yang baru ditemukan di desa Al-Raḥīb, yaitu gua yang dikatakan sebagai tempat para Aṣḥābul Kahfi yang disebutkan di dalam Al-Qur`an Al-Karim pernah tertidur di sana. Selesai.
Dan mengingat kewajiban untuk memberikan nasihat karena Allah dan kepada hamba-hamba-Nya, saya melihat perlu menyampaikan sebuah pernyataan dalam majalah yang sama kepada Rābiṭat al-‘Ulūm al-Islāmiyyah di Kerajaan Hāsyimiyah Yordania. Pernyataan ini berisi nasihat kepada lembaga tersebut agar tidak melaksanakan rencana pembangunan masjid di atas gua yang dimaksud. Hal ini tidak lain karena pendirian masjid di atas kuburan para nabi, orang-orang saleh, atau peninggalan mereka merupakan sesuatu yang dilarang dan diperingatkan dalam syariat Islam yang sempurna. Bahkan, orang yang melakukannya dilaknat, karena hal itu termasuk sarana menuju kesyirikan serta berlebihan dalam mengagungkan para nabi dan orang-orang saleh. Realita yang terjadi merupakan bukti kebenaran yang dibawa oleh syariat, serta menunjukkan bahwa syariat ini berasal dari Allah ﷻ. Ini juga merupakan dalil yang terang dan hujah yang kuat atas kebenaran Rasulullah ﷺ terkait apa yang beliau sampaikan dari Allah dan ajarkan kepada umat Siapa saja yang merenungkan keadaan dunia Islam serta apa yang terjadi di dalamnya berupa kesyirikan dan sikap berlebihan akibat pembangunan masjid di atas kuburan, pengagungan terhadapnya, memasang karpet, dan menghiasnya, serta menugaskan juru kunci di sana. Perbuatan ini sudah dipastikan termasuk sarana menuju kesyirikan. Dan di antara keindahan syariat Islam adalah melarang hal tersebut, serta peringatan keras terhadap pembangunannya.
Di antara dalil yang berkaitan dengan hal ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua imam besar Bukhari dan Muslim -rāḥmatullāhi 'alaihimā-, dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda,
«لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، قالَتْ عَائِشَةُ: يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا، قالَتْ: وَلَوْلَا ذَلِكَ لَأُبْرِزَ قَبْرُهُ، غَيْرَ أَنَّهُ خُشِيَ أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا».
"Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid." Aisyah berkata, "Beliau memperingatkan apa yang mereka lakukan." Aisyah berkata, "Kalau bukan karena hal tersebut, niscaya kuburan beliau ditinggikan (ditampakkan), hanya saja dikhawatirkan digunakan sebagai masjid." Dan dalam Aṣ-Ṣaḥīḥain juga, Ummu Salamah dan Ummu Habībah -raḍiyallāhu 'anhumā- menyebutkan kepada Rasulullah ﷺ tentang gereja yang mereka lihat di negeri Habasyah, dan gambar-gambar yang ada di dalamnya, maka Rasulullah ﷺ bersabda,
«أُولَئِكَ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ؛ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ».
"Mereka (orang-orang Nasrani) apabila ada orang saleh yang meninggal di antara mereka, (maka) mereka membangun di atas kuburnya tempat beribadah (gereja) dan mereka membuat di dalamnya gambar (patung-patung) tersebut. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah."
Dalam Sahih Muslim dari Jundub bin Abdullah -radhiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ, lima hari sebelum beliau wafat, bersabda,
«إِنِّي أَبْرَأُ إِلَى اللَّهِ أَنْ يَكُونَ لِي مِنْكُمْ خَلِيلٌ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدِ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا، كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا مِنْ أُمَّتِي خَلِيلًا، لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلًا، أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ».
"Sesungguhnya aku berlepas diri kepada Allah dari memiliki seorang kekasih (khalīl) di antara kalian, karena Allah telah menjadikanku sebagai kekasih-Nya, sebagaimana Dia telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih-Nya. Seandainya aku hendak menjadikan seseorang dari umatku sebagai kekasih, niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasihku. Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian biasa menjadikan kuburan para nabi dan orang-orang saleh mereka sebagai masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid, karena sesungguhnya aku melarang kalian dari perbuatan itu." Dan hadis-hadis terkait bab ini sangat banyak.
Para imam dari kalangan ulama Muslim, baik dari keempat mazhab maupun lainnya, telah menegaskan larangan membangun masjid di atas kuburan dan memperingatkan dari perbuatan tersebut. Mereka melakukannya dalam rangka mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ serta memberikan nasihat kepada umat, agar mereka tidak terjerumus ke dalam apa yang telah dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani yang berlebihan dalam mengagungkan orang-orang saleh, serta agar mereka tidak mengikuti jejak orang-orang sesat dari umat ini.
Maka Rābiṭat al-‘Ulūm al-Islāmiyyah di Yordania, serta bagi seluruh kaum Muslimin wajib untuk berpegang teguh pada sunnah, mengikuti jejak para imam, dan berhati-hati terhadap apa yang telah diperingatkan oleh Allah dan Rasul-Nya; karena dalam hal itu terdapat kebaikan bagi hamba-hamba-Nya, kebahagiaan mereka, serta keselamatan mereka di dunia dan di akhirat. Sebagian orang berpegang pada firman Allah ﷻ dalam kisah Aṣḥābul Kahfi sebagai dalil dalam permasalahan ini, yaitu:
﴿...قَالَ ٱلَّذِينَ غَلَبُواْ عَلَىٰٓ أَمۡرِهِمۡ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيۡهِم مَّسۡجِدٗا﴾
Kami pasti akan mendirikan sebuah rumah ibadah di atasnya. [QS. Al-Kahf: 21].
Jawaban atas hal itu adalah dikatakan bahwa Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- mengabarkan tentang para pemimpin dan orang-orang yang berkuasa pada masa itu bahwa mereka mengucapkan perkataan tersebut, dan hal itu bukanlah dalam rangka meridai dan menyetujui mereka, melainkan sebagai celaan, kritik, serta untuk menjauhkan manusia dari perbuatan mereka. Buktinya adalah bahwa Rasul ﷺ sebagai orang yang menerima ayat ini, dan orang yang paling tahu terkait tafsirnya; beliau telah melarang umatnya membangun masjid di atas kuburan, dan memperingatkan mereka dari hal tersebut, serta melaknat orang yang melakukannya.
Sekiranya hal tersebut dibolehkan, niscaya tidak akan mungkin Rasulullah ﷺ memberikan peringatan sekeras itu dan bertindak lebih sampai melaknat pelakunya. Beliau juga mengabarkan bahwa mereka itu termasuk makhluk terburuk di sisi Allah ﷻ. Mungkin cukup sampai di sini, semoga hal ini bisa meyakinkan para pencari kebenaran. Seandainya kita nyatakan bahwa membangun masjid di atas kuburan dibolehkan di masa lalu, maka tetap dilarang mengikuti mereka; sebab syariat kita menghapus syariat yang sebelumnya. Apalagi Rasulullah -'alaihiṣṣalātu wassalam- yang menjadi penutup para rasul dan syariatnya sempurna dan berlaku untuk semua manusia, telah melarang kita dari membangun masjid di atas kuburan. Kita tidak boleh menyelisihinya, (tetapi) wajib mengikutinya, berpegang teguh dengan ajarannya, dan meninggalkan apa pun yang menyimpang dari syariat sebelumnya serta adat istiadat yang dirasa baik menurut yang mengerjakannya; karena tidak ada yang lebih sempurna kecuali syariat Allah dan tidak ada petunjuk yang lebih baik kecuali petunjuk Rasulullah ﷺ.
Kami memohon kepada Allah agar Dia memberikan taufik kepada kita dan seluruh kaum muslimin untuk tetap teguh di atas agama-Nya dan berpegang teguh pada syariat Rasul-Nya, Muhammad -'alaihis-salātu was-salām-, dalam ucapan dan perbuatan, baik yang lahir maupun yang batin, serta dalam segala urusan, hingga kita bertemu dengan Allah ﷻ. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Dekat.
Semoga Allah melimpahkan selawat dan salam kepada hamba dan utusan-Nya, Muhammad, keluarganya, para sahabat beliau, serta orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari beliau hingga hari Kiamat.
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-11
MENGUBUR MAYAT DI DALAM MASJID
Dengan nama Allah, segala puji hanya milik Allah. Selawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah beserta keluarga dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya. Amabakdu:
Saya telah membaca surat kabar "al-Khurṭūm" yang terbit pada tanggal 17-04-1415 H; aku dapati ada suatu keterangan tentang pemakaman Sayid Muhammad Hasan al-Idrisiy di samping ayahnya di masjid mereka, tepatnya di Kota Omdurman.
Karena Allah mewajibkan agar menasihati kaum muslimin dan menjelaskan pengingkaran terhadap kemungkaran, maka saya memandang perlu untuk memperingatkan bahwa menguburkan mayat di masjid merupakan perkara yang dilarang. Bahkan, ia merupakan sarana kesyirikan, serta termasuk perbuatan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi faktor Allah mencela mereka dan Rasul-Nya ﷺ melaknat mereka; sebagaimana yang tercantum dalam aṣ-Ṣaḥīḥain dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda,
«لَعَنَ اللَّهُ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ».
"Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid." Dalam Sahih Muslim, dari Jundub bin Abdullah, diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ؛ فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ».
"Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi mereka dan orang-orang saleh sebagai masjid. Ketahuilah! Janganlah kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid. Sungguh, aku melarang kalian dari perbuatan itu." Masih banyak lagi hadis-hadis lainnya yang semakna dengan ini.
Hal yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin -baik pemerintah ataupun rakyat- di setiap negeri adalah agar bertakwa kepada Allah, waspada terhadap apa yang dilarang agama, dan menguburkan mayat-mayat mereka di luar masjid, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi ﷺ dan para sahabatnya. Mereka menguburkan mayat-mayat mereka di luar masjid, dan seperti itu juga yang dilakukan kalangan tabiin.
Adapun terkait keberadaan kuburan Nabi ﷺ dan kuburan kedua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, di Masjid Nabawi, maka tidak bisa dijadikan hujah untuk mengubur mayat di masjid; karena beliau dikuburkan di dalam rumah Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, kemudian kedua sahabatnya dikuburkan di sebelahnya. Tatkala al-Walīd bin Abdul Malik memperluas Masjid Nabawi pada akhir tahun ke-100 H, kamar beliau dimasukkan ke area dalam masjid. Waktu itu para ahli ilmu sudah pernah mengingkarinya, tetapi menurutnya tidak ada penghalang untuk tetap memperluasnya.
Dengan demikian, jelaslah bagi setiap muslim bahwa beliau ﷺ dan kedua sahabatnya -raḍiyallāhu 'anhumā- tidak pernah dikubur di dalam masjid. Faktor masuknya makam tersebut ke dalam masjid karena perluasan masjid bukanlah suatu hujah untuk membolehkan menguburkan mayat di masjid; karena mereka sebenarnya bukan dikubur di dalam masjid, tapi di rumah beliau ﷺ. Juga karena apa yang dilakukan oleh al-Walīd tidak bisa dijadikan hujah oleh siapa pun, karena hujah yang sejati ialah Al-Qur`an, Sunnah, dan ijmak ulama salaf -raḍiyallāhu 'anhum-.
Ini adalah sebagai nasihat dan untuk menggugurkan kewajiban.
Ditulis pada tanggal: 14/5/1415 H.
Hanya Allah lah yang memberikan taufik dan petunjuk. Semoga selawat dan salam tercurahkan kepada nabi kita, Muhammad, keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
***
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
RISALAH KE-12
PENJELASAN TENTANG KAFIR DAN SESATNYA ORANG YANG MENGKLAIM BOLEH KELUAR DARI SYARIAT NABI MUHAMMAD ﷺ
Segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam. Semoga selawat serta salam tercurahkan kepada penutup para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad, beserta segenap keluarga dan sahabat-sahabatnya.
Saya telah menelaah artikel yang diterbitkan dalam surat kabar Al-Syarq Al-Awsaṭ edisi no. 5824 tanggal 5/6/1415 H, yang ditulis oleh seseorang yang menamakan dirinya: Abdul Fattāḥ Al-Ḥāyik, dengan judul: "al-Fahmu al-Khāṭi` (Pemahaman yang Salah)."
Kesimpulan artikel: Penolakannya terhadap apa yang sudah diketahui dari agama Islam secara pasti, baik melalui nas maupun ijmak; yaitu keuniversalan risalah Muhammad ﷺ untuk semua umat manusia. Klaimnya bahwa siapa yang tidak mengikuti Muhammad ﷺ dan tidak menaati beliau, bahkan tetap sebagai Yahudi atau Nasrani, maka ia berada di atas agama yang benar. Kemudian ia berani menentang Tuhan semesta alam -subḥānahu- terkait kebijaksanaan-Nya dalam menyiksa orang-orang kafir dan para pelaku maksiat, dan menganggap hal itu sebagai kesia-siaan.
Ia telah menyelewengkan nas-nas syariat, menerapkannya bukan pada tempatnya, menafsirkannya sesuai kecenderungan nafsunya, dan menolak dalil-dalil syariat serta nas-nas jelas yang menunjukkan keumuman risalah Muhammad ﷺ, kafirnya seseorang saat sudah mengetahui syariatnya tetapi enggan mengikutinya, penolakan Allah terhadap agama selain Islam, dan lain sebagainya dari nas-nas yang jelas namun ditolak; karena ia teperdaya oleh pernyataan orang-orang bodoh. Apa yang sudah ia lakukan termasuk kekufuran yang nyata, kemurtadan dari Islam, serta telah mendustakan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- dan Rasul-Nya ﷺ, sebagaimana bisa diketahui dari pernyataan para ahli ilmu dan iman.
Sebab itu, pemerintah setempat wajib untuk mengadukannya ke pengadilan agama agar diminta untuk bertobat, lalu diberikan hukuman yang sesuai dengan syariat yang suci ini.
Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- telah menjelaskan keumuman risalah Muhammad ﷺ dan kewajiban mengikuti beliau bagi seluruh jin dan manusia. Hal ini sudah diketahui oleh siapa pun yang memiliki sedikit saja pengetahuan di antara kaum Muslimin.
Allah Ta'ala berfirman,
﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا ٱلَّذِي لَهُۥ مُلۡكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحۡيِۦ وَيُمِيتُۖ فَـَٔامِنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِيِّ ٱلۡأُمِّيِّ ٱلَّذِي يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمۡ تَهۡتَدُونَ158﴾
Katakanlah (Muhammad), “Wahai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah bagi kamu semua, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar kamu mendapat petunjuk.” [QS. Al-A'rāf: 158]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ لِأُنذِرَكُم بِهِۦ وَمَنۢ بَلَغَ...﴾
...Al-Qur`an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (Al-Qur`an kepadanya)... [QS. Al-An'ām: 19]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ31﴾
Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosa kamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [QS. Āli 'Imrān: 31]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلۡإِسۡلَٰمِ دِينٗا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ85﴾
Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. [QS. Āli 'Imrān: 85]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا...﴾
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan... [QS. Saba`: 28]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةٗ لِّلۡعَٰلَمِينَ107﴾
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. [QS. Al-Anbiyā`: 107]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡأُمِّيِّـۧنَ ءَأَسۡلَمۡتُمۡۚ فَإِنۡ أَسۡلَمُواْ فَقَدِ ٱهۡتَدَواْۖ وَّإِن تَوَلَّوۡاْ فَإِنَّمَا عَلَيۡكَ ٱلۡبَلَٰغُۗ وَٱللَّهُ بَصِيرُۢ بِٱلۡعِبَادِ﴾
Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Kitab dan kepada orang-orang ummi, 'Sudahkah kamu masuk Islam?' Jika mereka masuk Islam, berarti mereka telah mendapat petunjuk, tetapi jika mereka berpaling, maka kewajibanmu hanyalah menyampaikan. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya. [QS. Āli 'Imrān: 20]. Allah -Subḥānahu- juga berfirman,
﴿تَبَارَكَ ٱلَّذِي نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا1﴾
Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqān (Al-Qur`an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia), [QS. Al-Furqān: 1].
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Jābir -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa Nabi ﷺ bersabda,
«أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلَاةُ، فَلْيُصَلّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ، وَلَمْ تُحَلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةً، وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً».
"Aku diberi lima perkara yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku. Aku diberi kemenangan dengan kegentaran (musuh) sejauh perjalanan satu bulan; bumi dijadikan untukku sebagai tempat sujud dan bersuci, maka siapa saja dari umatku yang mendapati waktu salat, hendaknya ia melaksanakan salat; juga dihalalkan untukku harta rampasan perang yang tidak dihalalkan untuk seorang pun sebelumku; aku juga diberi syafaat; dan seorang Nabi itu diutus kepada kaumnya secara khusus, sedangkan aku diutus kepada manusia seluruhnya."
Ini merupakan uraian yang sangat jelas mengenai keumuman dan keuniversalan risalah Nabi Muhammad ﷺ kepada semua manusia sekaligus menghapus syariat-syariat sebelumnya, dan bagi yang tidak mengikuti Muhammad ﷺ serta tidak mematuhinya, maka ia kafir, durhaka, dan layak mendapatkan siksa. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...وَمَن يَكۡفُرۡ بِهِۦ مِنَ ٱلۡأَحۡزَابِ فَٱلنَّارُ مَوۡعِدُهُۥ...﴾
Barang siapa mengingkarinya (Al-Qur`an) di antara kelompok-kelompok (orang Quraisy), maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, [QS. Hūd: 17]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ﴾
...maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [QS. An-Nūr: 63]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُۥ يُدۡخِلۡهُ نَارًا خَٰلِدٗا فِيهَا وَلَهُۥ عَذَابٞ مُّهِينٞ14﴾
Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas hukum-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka, dia kekal di dalamnya dan dia akan mendapat azab yang menghinakan. [QS. An-Nisā`: 14]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿...وَمَن يَتَبَدَّلِ ٱلۡكُفۡرَ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ ضَلَّ سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ﴾
Barangsiapa mengganti iman dengan kekafiran, maka sungguh, dia telah tersesat dari jalan yang lurus. [QS. Al-Baqarah: 108]. Ayat-ayat yang semakna dengan ini sangat banyak.
Allah -subḥānahu- telah mengaitkan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ dengan ketaatan kepada-Nya, dan menjelaskan bahwa siapa yang meyakini selain Islam maka ia termasuk orang yang merugi, tidak akan diterima darinya tebusan atau pengganti apa pun. Allah Ta'ala berfirman,
﴿وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ 85﴾
Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi. [QS. Āli 'Imrān: 85]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ...﴾
Barang siapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. [QS. An-Nisā`: 80]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْهِ مَا حُمِّلَ وَعَلَيْكُمْ مَا حُمِّلْتُمْ وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا...﴾
Katakanlah, “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajiban Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. [QS. An-Nūr: 54]. Allah Ta'ala berfirman,
﴿إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ 6﴾
Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk. [QS. Al-Bayyinah: 6].
Diriwayatkan oleh Muslim dalam Sahih-nya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ؛ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ؛ إِلَّا كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ».
"Demi (Tuhan) yang jiwaku berada di tangan-Nya! Tidak ada seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang diriku lalu ia meninggal dalam keadaan tidak beriman kepada apa yang aku bawa, melainkan ia adalah penghuni neraka."
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan melalui perbuatan dan sabdanya tentang batalnya agama orang yang tidak masuk ke dalam Islam. Beliau memerangi orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana beliau memerangi kaum kafir lainnya, dan mengambil jizyah dari mereka yang mau memberikannya; agar mereka tidak menghalangi sampainya dakwah kepada yang lainnya, dan agar siapa pun dari mereka yang ingin masuk Islam dapat melakukannya tanpa takut dihalangi, dicegah, atau dibunuh oleh kaumnya.
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- bahwa ia berkata, "Ketika kami berada di masjid, Rasulullah ﷺ keluar dan bersabda,
«انْطَلِقُوا إِلَى يَهُودَ، فَخَرَجْنَا مَعَهُ حَتَّى جِئْنَا بَيْتَ الْمِدْرَاسِ، فَقَامَ النَّبِيُّ ﷺ، فَنَادَاهُمْ فَقَالَ :يَا مَعْشَرَ يَهُودَ، أَسْلِمُوا تَسْلَمُوا، فَقَالُوا: قَدْ بَلَّغْتَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ذَلِكَ أُرِيدُ، أَسْلِمُوا تَسْلَمُوا، فَقَالُوا: قَدْ بَلَّغْتَ يَا أَبَا الْقَاسِمِ، فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ذَلِكَ أُرِيدُ، ثُمَّ قَالَهَا الثَّالِثَةَ...».
'Ayo berangkat menuju kaum Yahudi.' Maka kami pun berangkat bersama beliau hingga kami tiba di Baitul Midrās. Nabi ﷺ berdiri dan menyeru mereka seraya berkata, 'Wahai segenap Yahudi, masuklah ke dalam Islam, niscaya kalian selamat.' Mereka menjawab, 'Anda sudah sampaikan wahai Abul Qasim.' Rasulullah ﷺ kembali menyeru mereka seraya berkata, 'Yang kuinginkan, masuklah ke dalam Islam, niscaya kalian selamat.' Namun mereka menjawab sama, 'Anda sudah sampaikan wahai Abul Qasim.' Rasulullah ﷺ kembali menyeru mereka, "Yang kuinginkan..." dan seterusnya. (Beliau ulang tiga kali)." Dan seterusnya lanjutan hadis.
Maksud hadis tersebut, beliau ﷺ pergi mendatangi orang-orang yang beragama Yahudi di Baitul Midrās mereka, lalu mengajak mereka masuk Islam, dan bersabda kepada mereka "Masuklah ke dalam Islam, niscaya kalian selamat," dan beliau menyampaikan kepada mereka berulang kali.
Beliau juga mengirimkan surat kepada Heraklius yang berisi seruan untuk masuk Islam dan pemberitahuan bahwa jika menolak, maka dosa orang-orang yang menolak masuk Islam yang disebabkan oleh dirinya akan ia tanggung. Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan bahwa Heraklius meminta surat Rasulullah ﷺ, lantas ia membacanya, ternyata isinya:
«بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى، أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، وَأَسْلِمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ، فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ
"Bismillāhirraḥmanirraḥīm. Dari Muhammad utusan Allah, kepada Heraklius penguasa Romawi. Semoga keselamatan dicurahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk.
Amabakdu:
Aku mengajak Anda masuk agama Islam. Masuklah Islam, niscaya dirimu akan selamat. Masuklah ke dalam Islam, niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali. Namun bila Anda berpaling, maka Anda menanggung dosa seluruh rakyat Anda. Dan (beliau membaca ayat),
﴿يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۭ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡـٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ64﴾
Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.” [QS. Āli 'Imrān: 64].
Lalu pada saat mereka berpaling dan menolak masuk Islam, Nabi ﷺ dan para sahabatnya langsung memerangi mereka dan mewajibkan mereka bayar jizyah.
Untuk menegaskan kesesatan mereka dan bahwa mereka berada di atas agama yang batil setelah digantikan dengan agama Muhammad ﷺ; Allah memerintahkan seorang muslim untuk meminta kepada Allah setiap hari, dalam setiap salat, dan dalam setiap rakaat agar Dia memberikan petunjuk ke jalan yang lurus, yang benar dan diterima, yaitu Islam, dan agar Dia menjauhkannya dari jalan orang-orang yang dimurkai, yaitu orang-orang Yahudi dan yang serupa dengan mereka yang mengetahui bahwa mereka berada dalam kesesatan namun tetap bersikeras di atasnya, dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang tersesat, yaitu mereka yang beribadah tanpa ilmu, dan mengklaim bahwa mereka berada di jalan yang benar, padahal mereka berada di jalan yang sesat. Mereka adalah orang-orang Nasrani, dan yang serupa dengan mereka dari umat-umat lain yang beribadah dalam kesesatan dan kebodohan. Semua itu bertujuan agar seorang muslim mengetahui secara yakin bahwa semua agama selain Islam adalah batil, setiap orang yang beribadah kepada Allah di atas selain syariat Islam adalah sesat, dan bahwa siapa pun yang tidak meyakini hal itu bukan termasuk kaum muslimin. Dalil-dalil dalam bab ini sangatlah banyak dalam Al-Qur`an dan Sunnah.
Maka penulis artikel, Abdul Fattah, wajib untuk segera bertobat secara tulus, serta menulis artikel yang mengumumkan tobatnya. Siapa yang bertobat kepada Allah dengan tobat yang benar, maka Allah menerima tobatnya; berdasarkan firman Allah -subḥānahu wa ta'ālā-,
﴿...وَتُوبُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ﴾
Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung. [QS. An-Nūr: 31]. 3. Firman Allah -Subḥānahu-,
﴿وَٱلَّذِينَ لَا يَدۡعُونَ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ وَلَا يَقۡتُلُونَ ٱلنَّفۡسَ ٱلَّتِي حَرَّمَ ٱللَّهُ إِلَّا بِٱلۡحَقِّ وَلَا يَزۡنُونَۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ يَلۡقَ أَثَامٗا68 يُضَٰعَفۡ لَهُ ٱلۡعَذَابُ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَيَخۡلُدۡ فِيهِۦ مُهَانًا69 إِلَّا مَن تَابَ وَءَامَنَ وَعَمِلَ عَمَلٗا صَٰلِحٗا فَأُوْلَٰٓئِكَ يُبَدِّلُ ٱللَّهُ سَيِّـَٔاتِهِمۡ حَسَنَٰتٖۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورٗا رَّحِيمٗا70﴾
Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina; dan barang siapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat,
(yakni) akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina,
kecuali orang-orang yang bertaubat dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. [QS. Al-Furqān: 68-70]. Hal itu berdasarkan sabda Nabi ﷺ,
«الإِسْلَامُ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ، وَالتَّوبَةُ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهَا».
"Islam menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya dan tobat menggugurkan dosa yang terjadi sebelumnya." Juga sabda Rasulullah ﷺ,
«التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبَ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ».
"Orang yang bertobat dari dosa, bagaikan seorang yang tidak berdosa."
Ayat-ayat Al-Qur`an dan hadis-hadis yang semakna dengan ini sangat banyak.
Saya memohon kepada Allah -subḥānahu wa ta'ālā- agar menampakkan kebenaran kepada kita sebagai kebenaran dan memberi kita kemampuan untuk mengikutinya, serta menampakkan kebatilan sebagai kebatilan dan memberi kita kemampuan untuk menjauhinya. Semoga Allah menganugerahkan kepada kita, kepada penulis, Abdul Fattāḥ, dan kepada seluruh umat Islam tobat tobat yang tulus, serta melindungi kita semua dari fitnah yang menyesatkan, mengikuti hawa nafsu dan setan. Sungguh Dia adalah Pemilik dan Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita, Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari Kiamat.
***
Indeks (Daftar Isi)
AKIDAH YANG BENAR DAN LAWANNYA 2
Rukun Pertama: Iman kepada Allah Ta'ala 6
Rukun ini mencakup beberapa hal, di antaranya: 6
Rukun Kedua: Iman kepada Malaikat 23
Rukun ini mencakup dua perkara: 23
Rukun Ketiga: Iman kepada Kitab-kitab 25
Ini mencakup dua perkara juga: 25
Rukun Keempat: Iman kepada Para Rasul 28
Rukun Kelima: Iman kepada Hari Akhir 29
Rukun keenam: Iman kepada Takdir 30
Akidah Yang Menyimpang Dari Akidah Yang Benar 37
RISALAH KE-2 47
HUKUM ISTIGASAH KEPADA NABI ﷺ 47
RISALAH KE-3 69
HUKUM ISTIGASAH KEPADA JIN DAN SETAN DAN BERNAZAR UNTUK MEREKA 69
RISALAH KE-4 96
HUKUM BERIBADAH DENGAN WIRID BID'AH DAN MENGANDUNG KESYIRIKAN 96
RISALAH KE-5 128
HUKUM PERAYAAN MAULID NABI DAN PERAYAAN LAINNYA 128
RISALAH KE-6 141
HUKUM MERAYAKAN MALAM ISRA` DAN MIKRAJ 141
RISALAH KE-7 150
HUKUM MERAYAKAN MALAM NISFU SYAKBAN 150
RISALAH KE-8 166
PERINGATAN PENTING TENTANG WASIAT DUSTA YANG DINISBAHKAN KEPADA 166
SYEKH AHMAD, PELAYAN MASJID NABAWI YANG MULIA 166
RISALAH KE-9 185
HUKUM SIHIR, PERDUKUNAN, DAN. HAL-HAL YANG BERKAITAN DENGANNYA 185
RISALAH KE-10 205
LARANGAN MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN 205
RISALAH KE-11 212
MENGUBUR MAYAT DI DALAM MASJID 212
RISALAH KE-12 216
PENJELASAN TENTANG KAFIR DAN SESATNYA ORANG YANG MENGKLAIM BOLEH KELUAR DARI SYARIAT NABI MUHAMMAD ﷺ 216
***
HR. Bukhari (2856) dan Muslim (30).
Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (735) dan Ibnu Abdil Bar dalam Jāmi' Al-'Ilmi wa Faḍlih (1801), namun dengan lafaz "hadis-hadis" sebagai ganti kata "ayat-ayat sifat". Lafaznya adalah: "Sampaikanlah hadis-hadis ini sebagaimana datangnya, janganlah kalian berdebat tentangnya."
Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (865). Ibnu Taimiyah menyatakan sanadnya sahih di dalam Al-Ḥamawiyah, hal. 269. Sementara itu, Aż-Żahabi di dalam Al-'Arḍ (2/223) mengatakan: "Para perawinya terpercaya."
Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (930) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (955).
Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (665) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (868).
Diriwayatkan oleh Al-Lālikā`iy dalam Syarḥu Uṣūl Al-'Itiqād (664), Abu Nu'aim dalam Ḥilyah Al-Auliyā` (6/325), dan Al-Baihaqi dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (867).
Diriwayatkan oleh Al-Muzakkiy dalam Al-Muzakkiyāt (29), Ibnu Baṭṭah dalam Al-Ibānah (120), dan Al-Lālikā`iy dalam Syarḥ Uṣūl Al-I'tiqād (663).
Diriwayatkan oleh Ad-Dārimiy dalam Ar-Radd 'alā Al-Jahmiyyah (67) dan Al-Baihaqiy dalam Al-Asmā` wa Aṣ-Ṣifāt (903).
Diriwayatkan oleh Aż-Żahabiy dalam Al-'Uluw (464), Al-Albāniy menyatakan dalam Mukhtaṣar Al-'Uluw, hal. 184, "Sanad ini sahih, para perawinya terpercaya dan dikenal."
Tafsīr Ibni Kaṡīr (3/426-427).
HR. Bukhari (22) dari Abu Sa'īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu 'anhu-.
HR. Muslim (2996) dari hadis Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-.
HR. Bukhari (3651) dan Muslim (2533) dari hadis Abdullah bin Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu-.
HR. Muslim (1920) dari hadis Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu-.
HR. Ibnu Majah (3952) dari hadis Ṡaubān -raḍiyallāhu 'anhu-, dan dinyatakan sahih oleh Ibnu Hibban (6714) dan Al-Hakim (8653).
HR. Tirmizi (2641) dari hadis Abdullah bin 'Amr -raḍiyallāhu 'anhu-. Al-Munāwiy mengatakan dalam Faiḍ Al-Qadīr (5/347), "Di dalam sanadnya terdapat Abdurrahman bin Ziyād Al-Afrīqiy, yang dikatakan oleh Aż-Żahabiy, "Para ahli hadis menilainya daif." Hadis ini dinyatakan sahih oleh Al-Albāniy dalam Ṣaḥiḥ Al-Jāmi' (5343).
Wasiat ini diterbitkan pada buku no. 17 dari Lembaga Riset Ilmiah, Fatwa, Dakwah, dan Penyuluhan pada tahun 1402 Hijriah.
HR. Muslim (No. 8).