ثَلَاثَةُ الأُصُولِ وَأَدِلَّتُهَا
Tiga Asas Agama beserta Dalilnya
لِلشَّيْخِ
مُحَمَّدٍ التَّمِيمِي رَحِمَهُ اللهُ
Syekh Muhammad at-Tamīmiy -raḥimahullāh-
بِسْمِ اللهِ الرَّحمَنِ الرَّحِيمِ
Ketahuilah -semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda- bahwa kita semua wajib mempelajari empat persoalan, yaitu:
1- Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya, dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalilnya.
Kedua: Mengamalkan ilmu tersebut.
3- Mendakwahkannya.
Keempat: Bersabar dalam menghadapi segala rintangan terkait semua itu.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
Bismillāhirraḥmānirraḥīm
(Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)
﴿وَٱلۡعَصۡرِ1 إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ2 إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ3﴾
"Demi masa.
Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran." [QS. Al-'Aṣr: 1-3]
Imam Syafi'i -raḥimahullāh- mengatakan, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujah atas makhluk-Nya kecuali surah ini saja, maka ia sudah cukup sebagai hujah bagi mereka.”
Imam Bukhari -raḥimahullāh- berkata, “Bab: Berilmu Sebelum Berucap dan Berbuat.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala, 'Lantas, ketahuilah bahwa tidak ada ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu...” [QS. Muḥammad: 19]. Dalam ayat ini, Allah memerintahkan terlebih dahulu untuk berilmu sebelum berucap dan berbuat.”
Ketahuilah -semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda- bahwa setiap muslim dan muslimah wajib untuk mempelajari dan mengamalkan ketiga perkara ini, yaitu:
Pertama: Bahwa Allahlah yang menciptakan dan memberi rezeki kepada kita. Dia tidak membiarkan kita begitu saja dalam ketelantaran (tanpa ada tujuan hidup), tetapi mengutus kepada kita semua seorang rasul. Maka siapa yang menaati rasul tersebut, ia akan masuk surga, dan siapa yang menentangnya pasti akan masuk neraka.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿إِنَّآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَيۡكُمۡ رَسُولٗا شَٰهِدًا عَلَيۡكُمۡ كَمَآ أَرۡسَلۡنَآ إِلَىٰ فِرۡعَوۡنَ رَسُولٗا15 فَعَصَىٰ فِرۡعَوۡنُ ٱلرَّسُولَ فَأَخَذۡنَٰهُ أَخۡذٗا وَبِيلٗا16﴾
"Sesungguhnya Kami telah mengutus seorang rasul kepada kalian sebagai saksi terhadap kalian sebagaimana Kami telah mengutus seorang rasul kepada Firaun.
Akan tetapi, Firaun mendurhakai rasul itu, maka Kami siksa dia dengan siksaan yang berat." [QS. Al-Muzzammil: 15-16]
Kedua: Bahwa Allah tidak rela jika dalam melakukan ibadah yang ditujukan kepada-Nya, Dia dipersekutukan dengan sesuatu, baik dengan malaikat yang terdekat dari-Nya atau dengan seorang nabi yang diutus menjadi rasul. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا18﴾
"Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Sebab itu, janganlah kalian menyembah apa pun (di dalamnya) selain Allah." [QS. Al-Jinn: 18]
Ketiga: Bahwa siapa yang menaati Rasulullah ﷺ serta menauhidkan Allah, ia tidak boleh mencintai orang-orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, sekalipun mereka itu keluarga terdekatnya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿لَّا تَجِدُ قَوۡمٗا يُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ يُوَآدُّونَ مَنۡ حَآدَّ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَوۡ كَانُوٓاْ ءَابَآءَهُمۡ أَوۡ أَبۡنَآءَهُمۡ أَوۡ إِخۡوَٰنَهُمۡ أَوۡ عَشِيرَتَهُمۡۚ أُوْلَٰٓئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ ٱلۡإِيمَٰنَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٖ مِّنۡهُۖ وَيُدۡخِلُهُمۡ جَنَّٰتٖ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَاۚ رَضِيَ ٱللَّهُ عَنۡهُمۡ وَرَضُواْ عَنۡهُۚ أُوْلَٰٓئِكَ حِزۡبُ ٱللَّهِۚ أَلَآ إِنَّ حِزۡبَ ٱللَّهِ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ22﴾
"Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, atau kerabat mereka. Mereka itulah yang Dia tanamkan dalam hati mereka keimanan dan Dia kuatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Juga Dia memasukkan mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa rida terhadap-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung." [QS. Al-Mujādilah: 22]
Ketahuilah -semoga Allah membimbingmu untuk taat kepada-Nya- bahwa al-Ḥanīfiyyah yang merupakan ajaran Nabi Ibrahim -'alaihis-salām- adalah engkau beribadah kepada Allah semata dengan memurnikan agama hanya kepada-Nya. Itulah yang Allah perintahkan kepada seluruh umat manusia dan untuk itu pulalah Dia menciptakan mereka, sebagaimana Dia berfirman,
﴿وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ56﴾
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." [QS. Aż-Żāriyāt: 56] Makna "ya'budūni (menyembah-Ku)" dalam ayat ini, artinya: yuwaḥḥidūni (menauhidkan-Ku).
Perintah Allah yang paling agung adalah tauhid, yaitu memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata.
Sebaliknya, larangan Allah yang paling besar adalah syirik, yaitu menyembah selain Allah di samping menyembah-Nya.
Dalilnya adalah firman Allah,
﴿وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡـٔٗا...﴾
"Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun... ." [QS. An-Nisā`: 36]
Lantas, apabila Anda ditanya: Apakah tiga asas agama yang wajib diketahui oleh seorang insan?
Jawablah: Yaitu pengetahuan seorang hamba terhadap Tuhannya, agamanya (Islam), dan Nabinya, Muhammad ﷺ.
[ASAS PERTAMA]
Jika Anda ditanya: Siapakah Tuhanmu?
Katakanlah: Tuhanku adalah Allah yang telah memelihara diriku dan memelihara semesta alam ini dengan segala nikmat yang dikaruniakan-Nya. Dialah sembahanku, tiada bagiku sesembahan yang hak selain-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ2﴾
"Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Al-Fātiḥah: 2] Semua yang ada selain Allah adalah alam, sedangkan saya adalah bagian dari alam ini.
Jika Anda ditanya: Dengan perantaraan apakah Anda mengenal Tuhanmu?
Katakanlah: Melalui tanda-tanda kekuasaan-Nya dan melalui ciptaan-Nya.
Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan.
Di antara ciptaan-Nya ialah tujuh langit dan tujuh bumi beserta segala makhluk yang ada di langit dan di bumi serta yang ada di antara keduanya.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَمِنۡ ءَايَٰتِهِ ٱلَّيۡلُ وَٱلنَّهَارُ وَٱلشَّمۡسُ وَٱلۡقَمَرُۚ لَا تَسۡجُدُواْ لِلشَّمۡسِ وَلَا لِلۡقَمَرِ وَٱسۡجُدُواْۤ لِلَّهِۤ ٱلَّذِي خَلَقَهُنَّ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ37﴾
"Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah kalian bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya." [QS. Fuṣṣilat: 37].
Juga firman Allah Ta'ala,
﴿إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۭ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ54﴾
"Sesungguhnya Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia tinggi di atas Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Juga (Dia menciptakan) matahari, bulan, dan bintang-bintang yang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan perintah menjadi hak-Nya. Maha Suci Allah, Tuhan seluruh alam." [QS. Al-A'rāf: 54]
Ar-Rabb (Tuhan) adalah yang berhak disembah (ilah). Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ21 ٱلَّذِي جَعَلَ لَكُمُ ٱلۡأَرۡضَ فِرَٰشٗا وَٱلسَّمَآءَ بِنَآءٗ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡۖ فَلَا تَجۡعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ22﴾
"Wahai manusia, sembahlah Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian agar kalian bertakwa.
(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian dan langit sebagai atap, dan Dia pula menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengannya segala buah-buahan sebagai rezeki untuk kalian. Karena itu, janganlah kalian mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kalian mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 21-22]
Ibnu Kaṡīr -raḥimahullāh- berkata, "Hanya pencipta segala sesuatu yang ada inilah yang berhak untuk diibadahi."
Jenis-jenis ibadah yang diperintahkan Allah adalah antara lain: Islam, Iman, dan Ihsan. Di antaranya yang lain adalah doa, khauf (rasa takut akan kemurkaan Allah), rajā` (pengharapan), tawakal, ragbah (antusiasme, cinta), rahbah (takut, kecemasan), khusyuk, khasy-yah (rasa takut karena mengenal Allah), inābah (kembali kepada Allah), isti'ānah (memohon pertolongan), isti'āżah (memohon perlindungan), istigāṡah (memohon pertolongan untuk segera dimenangkan atau diselamatkan), żabḥ (penyembelihan), nazar, dan macam-macam ibadah lainnya yang diperintahkan oleh Alla. Seluruhnya wajib dipersembahkan kepada Allah Ta'ala semata. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُواْ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدٗا18﴾
"Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Sebab itu, janganlah kalian menyembah apa pun di dalamnya selain Allah." [QS. Al-Jinn: 18]
Karena itu, siapa yang menyelewengkan ibadah apa pun untuk selain Allah, maka ia adalah musyrik dan kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَمَن يَدۡعُ مَعَ ٱللَّهِ إِلَٰهًا ءَاخَرَ لَا بُرۡهَٰنَ لَهُۥ بِهِۦ فَإِنَّمَا حِسَابُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦٓۚ إِنَّهُۥ لَا يُفۡلِحُ ٱلۡكَٰفِرُونَ117﴾
"Siapa yang menyembah tuhan yang lain selain Allah, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak akan beruntung." [QS. Al-Mu`minūn: 117]
Dalam hadis disebutkan:
"الدُّعَاءُ مُخُّ العِبَادَةِ".
"Doa itu adalah intisari ibadah."
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ60﴾
"Tuhan kalian berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagi kalian.' Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” [QS. Gāfir: 60]
Dalil khauf (rasa takut akan kemurkaan Allah) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿...فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾
"Karena itu, janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman." [QS. Āli 'Imrān: 175]
Dalil rajā` (pengharapan) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿...فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلٗا صَٰلِحٗا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدَۢا﴾
"Sebab itu, siapa yang mengharapkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal saleh dan janganlah dia mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya." [QS. Al-Kahf: 110]
Dalil tawakal (berserah diri) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿...وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓاْ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾
"Bertawakallah kalian hanya kepada Allah jika kalian benar-benar orang-orang beriman." [QS. Al-Māidah: 23] Juga firman-Nya,
﴿...وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُ...﴾
"Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya." [QS. Aṭ-Ṭalāq: 3]
Dalil ragbah (antusiasme, cinta), rahbah (takut, kecemasan), dan khusyuk (ketundukan) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿...إِنَّهُمۡ كَانُواْ يُسَٰرِعُونَ فِي ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبٗا وَرَهَبٗاۖ وَكَانُواْ لَنَا خَٰشِعِينَ﴾
"Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Sungguh, mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami." [QS. Al-Anbiyā`: 90]
Dalil khasy-yah (rasa takut karena mengenal Allah) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿...فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِ...﴾
"Janganlah kalian takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku." [QS. Al-Māidah: 3]
Dalil inābah (kembali kepada Allah) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَأَنِيبُوٓاْ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُواْ لَهُ...﴾
"Kembalilah kalian kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya..." [QS. Az-Zumar: 54]
Dalil isti'ānah (memohon pertolongan) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ5﴾
"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan." [QS. Al-Fātiḥah: 5] Adapun dalilnya di dalam hadis ialah:
"إِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ".
"Apabila kamu memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah."
Dalil isti'āżah (memohon perlindungan) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ1﴾
"Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar)'." [QS. Al-Falaq: 1].
﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ1﴾
Juga firman-Nya, "Katakanlah, 'Aku berlindung kepada Tuhannya manusia'." [QS. An-Nās: 1]
Dalil istigāṡah (memohon pertolongan untuk segera dimenangkan atau diselamatkan) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ...﴾
"(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Tuhan kalian, lalu Dia mengabulkannya-Nya untuk kalian..." [QS. Al-Anfāl: 9]
Dalil żabḥ (penyembelihan) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ162 لَا شَرِيكَ لَهُ...﴾
"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.
Tidak ada sekutu bagi-Nya...'." [QS. Al-An'ām: 162-163] Sementara dalilnya dari Sunnah adalah:
"لَعَنَ اللَّهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللَّهِ".
"Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah."
Dalil nazar adalah firman Allah Ta'ala,
﴿يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمٗا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرٗا7﴾
"Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana." [QS. Al-Insān: 7]
[ASAS KEDUA]
Mengenal agama Islam dengan dalil-dalilnya. Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan ketauhidan, tunduk kepada-Nya dengan ketaatan, dan berlepas diri dari kesyirikan dan para pelakunya.
Agama ini memiliki tiga tingkatan: Islam, Iman, dan Ihsan.
Masing-masing tingkatan ada rukun-rukunnya.
Rukun Islam ada lima:
- Syahadat 'Lā ilāha illallāh Muḥammad rasūlullāh
- Menegakkan salat
- Menunaikan zakat
- Berpuasa Ramadan
- Berhaji ke Baitullāh al-Ḥarām.
Dalil syahadat ini adalah firman Allah Ta'ala,
﴿شَهِدَ ٱللَّهُ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ وَأُوْلُواْ ٱلۡعِلۡمِ قَآئِمَۢا بِٱلۡقِسۡطِۚ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ18﴾
"Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." [QS. Āli 'Imrān: 18]
Maknanya: tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah.
“Lā ilāha” (tiada sesembahan yang benar) adalah penafian segala bentuk sesembahan selain Allah.
"Illallāh" (kecuali Allah) adalah penetapan bahwa ibadah hanya bagi Allah semata.
Tiada sekutu bagi-Nya dalam perkara peribadatan, sebagaimana tiada sekutu bagi-Nya dalam perkara kekuasaan-Nya.
Makna syahadat tersebut diperjelas oleh firman Allah Ta'ala,
﴿وَإِذۡ قَالَ إِبۡرَٰهِيمُ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦٓ إِنَّنِي بَرَآءٞ مِّمَّا تَعۡبُدُونَ26 إِلَّا ٱلَّذِي فَطَرَنِي..﴾
"(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, 'Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kalian sembah,
kecuali Allah yang menciptakanku...'." [QS. Az-Zukhruf: 26-27] Juga firman Allah Ta'ala,
﴿قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ تَعَالَوۡاْ إِلَىٰ كَلِمَةٖ سَوَآءِۭ بَيۡنَنَا وَبَيۡنَكُمۡ أَلَّا نَعۡبُدَ إِلَّا ٱللَّهَ وَلَا نُشۡرِكَ بِهِۦ شَيۡـٔٗا وَلَا يَتَّخِذَ بَعۡضُنَا بَعۡضًا أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِۚ فَإِن تَوَلَّوۡاْ فَقُولُواْ ٱشۡهَدُواْ بِأَنَّا مُسۡلِمُونَ64﴾
"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab, marilah (kita) menuju pada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kalian, bahwa kita tidak menyembah selain Allah, kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah.' Jika mereka berpaling, maka katakanlah (kepada mereka), 'Saksikanlah, sesungguhnya kami adalah orang-orang muslim'.” [QS. Āli 'Imrān: 64]
Adapun dalil syahadat bahwa Muhammad itu Rasulullah adalah firman Allah Ta'ala,
﴿لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ128﴾
"Sungguh, telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalian kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kalian alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman." [QS. At-Taubah: 128]
Makna syahadat "Muḥammad rasūlullāh" ialah menaati apa yang di perintahkan, membenarkan apa yang dia kabarkan, menjauhi apa yang dia larang serta dia cegah, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan apa yang dia syariatkan.
Dalil salat, zakat, dan tafsir kalimat tauhid adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤۡتُواْ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلۡقَيِّمَةِ5﴾
"Padahal mereka hanya diperintahkan menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)." [QS. Al-Bayyinah: 5]
Dalil puasa adalah firman Allah Ta'ala,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ183﴾
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa." [QS. Al-Baqarah: 183]
Dalil haji adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَلِلَّهِ عَلَى ٱلنَّاسِ حِجُّ ٱلۡبَيۡتِ مَنِ ٱسۡتَطَاعَ إِلَيۡهِ سَبِيلٗاۚ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ ٱلۡعَٰلَمِينَ97﴾
"(Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." [QS. Āli 'Imrān: 97]
Tingkatan kedua adalah iman. Iman terdiri dari tujuh puluhan cabang. Cabang yang paling utama adalah kalimat Lā ilāha illallāh, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga salah satu cabang dari iman.
Rukun iman ada enam, yaitu:
- Beriman kepada Allah
- Beriman kepada malaikat-malaikat-Nya
- Beriman kepada kitab-kitab-Nya
- Beriman kepada rasul-rasul-Nya
- Beriman kepada hari Akhir, dan
- Beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.
Dalil keenam rukun ini adalah firman Allah Ta'ala,
﴿لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلۡكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ...﴾
"Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajah kalian ke arah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi... ." [QS. Al-Baqarah: 177]
Dalil kadar (takdir) adalah firman Allah Ta'ala,
﴿إِنَّا كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقۡنَٰهُ بِقَدَرٖ49﴾
"Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir)." [QS. Al-Qamar: 49]
Tingkatan ketiga: Ihsan —terdiri dari satu rukun—, yaitu: "Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Kalaupun engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَواْ وَّٱلَّذِينَ هُم مُّحۡسِنُونَ128﴾
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan (kebaikan)." [QS. An-Naḥl: 128]
Juga firman Allah Ta'ala,
﴿وَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱلۡعَزِيزِ ٱلرَّحِيمِ217 ٱلَّذِي يَرَىٰكَ حِينَ تَقُومُ218 وَتَقَلُّبَكَ فِي ٱلسَّٰجِدِينَ219﴾
"Bertakwalah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,
yang melihatmu ketika engkau berdiri (untuk salat),
dan (melihat) perubahan gerakan badanmu di antara orang-orang yang sujud." [QS. Asy-Syu'arā`: 217-219]
Juga firman Allah Ta'ala,
﴿وَمَا تَكُونُ فِي شَأۡنٖ وَمَا تَتۡلُواْ مِنۡهُ مِن قُرۡءَانٖ وَلَا تَعۡمَلُونَ مِنۡ عَمَلٍ إِلَّا كُنَّا عَلَيۡكُمۡ شُهُودًا إِذۡ تُفِيضُونَ فِيهِ...﴾
"Tidakkah engkau (Muhammad) berada dalam suatu urusan dan tidak membaca suatu ayat Al-Qur`an serta tidak pula kamu melakukan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu ketika kamu melakukannya... " [QS. Yūnus: 61] Seterusnya sampai di akhir ayat.
Adapun dalilnya dari Sunnah ialah hadis Jibril yang masyhur, yang diriwayatkan dari Umar -raḍiyallāhu 'anhu-, ia mengisahkan:
"بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ، شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ، وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ، وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ !
Suatu hari ketika kami duduk di sisi Rasulullah ﷺ, tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang memakai pakaian yang sangat putih dan rambutnya hitam pekat, tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan padanya dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya, hingga dia duduk di hadapan Nabi ﷺ. Lantas dia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya, seraya berkata, "Wahai Muhammad,
أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلَامِ؟
kabarkanlah kepadaku tentang Islam!"
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الإِسْلَامُ: أَنْ تَشْهَدَ أَلَّا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ، وَتَصُومَ رَمَضَانَ، وَتَحُجَّ البَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا، قَالَ: صَدَقْتَ - فَعَجِبْنَا لَهُ، يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ –.
Rasulullah ﷺ bersabda, "Islam itu engkau bersyahadat bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan salat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu mengadakan perjalanan ke sana." Ia berkata, "Engkau benar." Lantas, kami pun heran kepadanya; ia bertanya kepada beliau, dan dia juga membenarkannya.
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِيمَانِ؟
Ia berkata, “Beritahukanlah padaku tentang iman!”
قَالَ: أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَاليَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ، قَالَ: صَدَقْتَ.
Beliau bersabda, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Ia berkata, “Engkau benar.”
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ الْإِحْسَانِ؟
Kemudian ia berkata, “Beritahulah aku tentang ihsan!”
قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.
Beliau bersabda, "Yaitu engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Bila tidak mampu melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ؟
Dia berkata, "Beritahukanlah kepadaku tentang hari kiamat!"
قَالَ: مَا المَسْؤُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ.
Beliau bersabda, "Orang yang ditanya tidak lebih tahu daripada orang yang bertanya."
قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا؟
Dia berkata, "Kalau begitu, beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya!"
قَالَ: أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا، وَأَنْ تَرَى الحُفَاةَ العُرَاةَ العَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ، يَتَطَاوَلُونَ فِي البُنْيَانِ.
Beliau bersabda, “(Yaitu) seorang budak wanita melahirkan tuannya serta terlihatnya para penggembala yang bertelanjang kaki, telanjang badan, dan miskin papa, saling bersaing membangun gedung tinggi.”
قَالَ: ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ لِي: يَا عُمَرُ! أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلُ؟ قُلْتُ: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: فَإِنَّهُ جِبْرِيلُ، أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِينَكُمْ".
Lantas, orang itu pergi dan aku diam sekian lama. Kemudian beliau bersabda kepadaku, "Wahai Umar, tahukah engkau siapakah yang bertanya tadi?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian."
[ASAS KETIGA]
Mengenal Nabi kalian, Muhammad ﷺ. Beliau adalah Muhammad bin Abdullah bin 'Abdul-Muṭṭalib bin Hāsyim. Hāsyim berasal dari suku Quraisy. Suku Quraisy termasuk bangsa Arab, sedangkan bangsa Arab termasuk keturunan Nabi Ismail, putra Nabi Ibrahim al-Khalīl. Semoga Allah melimpahkan kepadanya dan kepada Nabi kita sebaik-baik selawat dan salam.
Beliau berumur 63 tahun; di antaranya 40 tahun sebelum kenabian dan 23 tahun sebagai nabi dan rasul.
Beliau diangkat sebagai nabi dengan turunnya wahyu “Iqra`” (QS. Al-'Alaq: 1-5), dan diangkat sebagai rasul dengan turunnya Surah Al-Muddaṡṡir, sedangkan negeri beliau adalah Makkah.
Beliau diutus oleh Allah untuk menyampaikan peringatan dari kesyirikan dan mengajak kepada tauhid. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ1 قُمۡ فَأَنذِرۡ2 وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ3 وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ4 وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ5 وَلَا تَمۡنُن تَسۡتَكۡثِرُ6 وَلِرَبِّكَ فَٱصۡبِرۡ7﴾
"Wahai orang yang berkemul (berselimut)!
Bangunlah, lalu berilah peringatan!
Adapun Tuhanmu, maka agungkanlah.
Juga pakaianmu, bersihkanlah.
Sementara perbuatan keji, tinggalkanlah!
Janganlah engkau (Muhammad) memberi demi memperoleh (balasan) yang lebih banyak.
Serta karena Tuhanmu, bersabarlah." [QS. Al-Muddaṡṡir: 1-7]
Makna ayat
﴿قُمۡ فَأَنذِرۡ﴾
"Bangunlah, lalu berilah peringatan" adalah: menyampaikan peringatan untuk menjauhi syirik dan mengajak kepada tauhid.
﴿وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ﴾
Makna "Adapun Tuhanmu, maka agungkanlah" adalah:
agungkanlah Dia dengan mengesakan-Nya.
﴿وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ﴾
Makna "Juga pakaianmu, bersihkanlah" adalah:
sucikanlah semua amalanmu dari kesyirikan.
﴿وَٱلرُّجۡزَ فَٱهۡجُرۡ﴾
Adapun makna "Sementara perbuatan keji, tinggalkanlah":
Perbuatan keji (ar-rujz) artinya: berhala-berhala. Sedangkan makna menjauhinya adalah meninggalkannya serta melepaskan diri darinya dan dari orang-orang yang memujanya.
Beliau pun melaksanakan perintah ini selama 10 tahun dalam rangka mendakwahkan tauhid. Setelah 10 tahun itu, beliau dimikrajkan (diangkat naik) ke atas langit dan disyariatkan kepada beliau salat lima waktu. Beliau melakukan salat di Makkah selama 3 tahun. Sesudah itu, beliau diperintahkan untuk berhijrah ke Madinah.
Hijrah adalah berpindah dari negeri kesyirikan ke negeri Islam.
Hijrah ini merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan umat Islam dengan berpindah dari negeri kesyirikan ke negeri Islam. Kewajiban tersebut hukumnya tetap berlaku sampai hari kiamat.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِيٓ أَنفُسِهِمۡ قَالُواْ فِيمَ كُنتُمۡۖ قَالُواْ كُنَّا مُسۡتَضۡعَفِينَ فِي ٱلۡأَرۡضِۚ قَالُوٓاْ أَلَمۡ تَكُنۡ أَرۡضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٗ فَتُهَاجِرُواْ فِيهَاۚ فَأُوْلَٰٓئِكَ مَأۡوَىٰهُمۡ جَهَنَّمُۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا97 إِلَّا ٱلۡمُسۡتَضۡعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلۡوِلۡدَٰنِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ حِيلَةٗ وَلَا يَهۡتَدُونَ سَبِيلٗا98﴾
"Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh para malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, 'Bagaimana kalian ini?' Mereka menjawab, 'Kami orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah).' Mereka (para malaikat) bertanya, 'Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?' Mereka itu, tempat kembali mereka adalah Jahanam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.
Dikecualikan (dari mereka) orang-orang yang tertindas baik laki-laki, perempuan, ataupun anak-anak yang tidak berdaya dan tidak mengetahui jalan (untuk berhijrah)." [QS. An-Nisā`: 97-98]
Juga firman Allah Ta'ala,
﴿يَٰعِبَادِيَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِنَّ أَرۡضِي وَٰسِعَةٞ فَإِيَّٰيَ فَٱعۡبُدُونِ56﴾
"Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Sungguh, Bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja." [QS. Al-'Ankabūt: 56]
Al-Bagawiy -raḥimahullāh- berkata, “Faktor penyebab turunnya ayat ini adalah ditujukan kepada kaum muslimin yang masih berada di Makkah yang belum berhijrah. Karena itu, Allah menyeru mereka dengan sebutan orang-orang yang beriman.”
Adapun dalil dari Sunnah yang menunjukkan kewajiban hijrah ialah sabda Rasulullah ﷺ,
"لَا تَنْقَطِعُ الهِجْرَةُ حَتَّى تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ، وَلَا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا".
"Tidaklah hijrah terputus hingga tobat terputus, dan tidaklah tobat terputus hingga matahari terbit dari barat."
Setelah Nabi ﷺ menetap di Madinah, beliau diperintahkan dengan berbagai syariat (yang belum diturunkan di Makkah) seperti zakat, puasa, haji, azan, jihad, amar makruf, dan nahi mungkar. Beliau pun memerintahkan syariat-syariat ini selama sepuluh tahun.
Sesudah itu, beliau wafat, sedangkan agamanya tetap dalam keadaan lestari.
Inilah agama yang beliau bawa. Tiada suatu kebaikan pun melainkan beliau tunjukkan umatnya kepadanya, dan tiada suatu keburukan pun melainkan beliau peringatkan umatnya darinya.
Kebaikan yang beliau tunjukkan ialah tauhid serta segala yang dicintai dan diridai Allah.
Sebaliknya, keburukan yang beliau peringatkan supaya dijauhi ialah syirik serta segala yang dibenci dan dimurkai Allah.
Allah mengutusnya kepada seluruh umat manusia dan mewajibkan kepada seluruh jin dan manusia untuk menaatinya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّي رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيۡكُمۡ جَمِيعًا...﴾
"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai manusia, sesungguhnya aku ini utusan Allah kepada kalian semua...'." [QS. Al-A'rāf: 158]
Melalui beliau, Allah telah menyempurnakan agama-Nya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿...ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ...﴾
"Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagi kalian, dan telah Aku ridai Islam sebagai agama kalian." [QS. Al-Mā`idah: 3]
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa Nabi ﷺ juga wafat ialah firman Allah Ta'ala,
﴿إِنَّكَ مَيِّتٞ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ30 ثُمَّ إِنَّكُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ عِندَ رَبِّكُمۡ تَخۡتَصِمُونَ31﴾
"Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula).
Kemudian sesungguhnya kalian pada hari kiamat akan berbantah-bantah di hadapan Tuhan kalian." [QS. Az-Zumar: 30-31]
Manusia sesudah mati akan dibangkitkan kembali. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿مِنۡهَا خَلَقۡنَٰكُمۡ وَفِيهَا نُعِيدُكُمۡ وَمِنۡهَا نُخۡرِجُكُمۡ تَارَةً أُخۡرَىٰ55﴾
"Darinya (tanah) itulah Kami menciptakan kalian, kepadanyalah Kami akan mengembalikan kalian, dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kalian pada waktu yang lain." [QS. Ṭāhā: 55] Juga firman Allah Ta'ala,
﴿وَٱللَّهُ أَنۢبَتَكُم مِّنَ ٱلۡأَرۡضِ نَبَاتٗا17 ثُمَّ يُعِيدُكُمۡ فِيهَا وَيُخۡرِجُكُمۡ إِخۡرَاجٗا18﴾
"Allah menumbuhkan kalian dari tanah dengan pertumbuhan (berangsur-angsur).
Kemudian Dia akan mengembalikan kalian ke dalamnya (tanah) dan mengeluarkan kalian (pada hari kiamat) dengan pasti." [QS. Nūḥ: 17-18].
Setelah manusia dibangkitkan, mereka akan dihisab dan diberi balasan sesuai dengan perbuatan mereka. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿...لِيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَسَٰٓـُٔواْ بِمَا عَمِلُواْ وَيَجۡزِيَ ٱلَّذِينَ أَحۡسَنُواْ بِٱلۡحُسۡنَى﴾
"... agar Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan dan Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)." [QS. An-Najm: 31].
Siapa saja yang tidak mengimani hari kebangkitan ini, maka dia telah kafir. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿زَعَمَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ أَن لَّن يُبۡعَثُواْۚ قُلۡ بَلَىٰ وَرَبِّي لَتُبۡعَثُنَّ ثُمَّ لَتُنَبَّؤُنَّ بِمَا عَمِلۡتُمۡۚ وَذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ7﴾
"Orang-orang kafir mengira bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), 'Tidak demikian, demi Tuhanku, kalian pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kalian kerjakan. Yang demikian itu mudah bagi Allah.'" [QS. At-Tagābun: 7]
Allah telah mengutus semua rasul sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿رُّسُلٗا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى ٱللَّهِ حُجَّةُۢ بَعۡدَ ٱلرُّسُلِۚ...﴾
"Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus... ." [QS. An-Nisā`: 165]
Rasul pertama ialah Nuh -'alaihissalām-.
Adapun yang terakhir ialah Nabi Muhammad ﷺ, beliaulah penutup para nabi, tidak ada nabi lagi setelahnya. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَآ أَحَدٖ مِّن رِّجَالِكُمۡ وَلَٰكِن رَّسُولَ ٱللَّهِ وَخَاتَمَ ٱلنَّبِيِّـۧنَ...﴾
"Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kalian, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi..." [QS. Al-Aḥzāb: 40]
Dalil yang menunjukkan bahwa rasul pertama adalah Nabi Nuh ialah firman Allah Ta'ala,
﴿إِنَّآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ كَمَآ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ نُوحٖ وَٱلنَّبِيِّـۧنَ مِنۢ بَعۡدِهِ...﴾
"Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya..." [QS. An-Nisā`: 163].
Allah telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul, mulai dari Nabi Nuh sampai Nabi Muhammad, dengan memerintahkan kepada mereka untuk beribadah kepada Allah semata dan melarang mereka dari beribadah kepada tagut. Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ...﴾
"Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), 'Sembahlah Allah dan jauhilah tagut...'." [QS. An-Naḥl: 36]
Allah telah mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya supaya bersikap kufur kepada tagut dan hanya beriman kepada Allah.
Ibnul-Qayyim -raḥimahullāhu- mengatakan, "Makna tagut ialah segala sesuatu yang diperlakukan oleh manusia secara melampaui batas seperti dengan disembah, atau diikuti, atau dipatuhi."
Tagut itu banyak macamnya, namun tokoh-tokohnya ada lima: 1. Iblis, yang telah dilaknat oleh Allah2. Orang yang disembah, sedangkan ia sendiri rela dengannya3. Orang yang mengajak manusia untuk menyembah dirinya4. Orang yang mengaku mengetahui sesuatu yang gaib5. Orang yang memutuskan sesuatu tanpa berdasarkan hukum yang telah diturunkan oleh Allah.
Dalilnya adalah firman Allah Ta'ala,
﴿لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ256﴾
"Tidak ada paksaan untuk (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." [QS. Al-Baqarah: 256] Inilah makna "Lā ilāha illallāh". Dalam hadis disebutkan:
"رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلَامُ، وَعَمُودُهُ: الصَّلَاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ".
"Pokok agama ini adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncak tertingginya adalah jihad fi sabilillah."
Wallāhu a'lam.
***
Indeks (Daftar Isi)
[ASAS KEDUA] 14
[ASAS KETIGA] 23
***