كيفية صلاة النبي ﷺ (إندونيسي)

كتاب كَيفِيَّةُ صَلَاةِ النَّبِيِّ ﷺ لخَّص فيه سماحة الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله صفة صلاة النبي ﷺ، بأسلوب سهل ومنهج دقيق، مستندًا إلى النصوص الصحيحة، ليكون هاديًا للمسلم في صلاته، وقد بيَّن فيه أركان الصلاة وسننها وصفاتها من الوضوء إلى التسليم، جامعًا بين الدليل والبيان، داعيًا إلى الاقتداء الكامل بالنبي ﷺ في أعظم عبادة.

  • earth Salin data memori ke kolom terjemahan
    (إندونيسي)
  • earth Penulis:
    الشيخ عبد العزيز بن باز

Terjemahan lainnya 51

PHPWord

 

 

 

كَيْفِيَّةُ صَلَاةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

 

 

TATA CARA SALAT NABI

 

 

لِفَضِيلَةِ الشَّيْخِ العَلَّامَةِ

عَبْدِ العَزِيزِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَازٍ

غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَلِوَالِدَيْهِ وَلِلْمُسْلِمِينَ

 

Penyusun:

Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz

Semoga Allah mengampuni beliau,

kedua orang tua beliau, dan seluruh umat Islam

 

 


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

TATA CARA SALAT NABI

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Segala puji hanya milik Allah, serta selawat dan salam semoga tercurah kepada hamba dan Rasul-Nya, Nabi kita Muhammad, beserta keluarga beliau, dan para sahabatnya.

Amabakdu:

Tulisan ringkas ini memuat penjelasan tentang tata cara salat Nabi ﷺ. Kami ingin mempersembahkannya kepada setiap muslim dan muslimah agar mereka berusaha meneladan beliau dalam hal tersebut, karena beliau ﷺ pernah bersabda,

«صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي»

"Salatlah kalian sebagaimana kalian melihatku salat."1 Berikut penjelasan salat beliau ﷺ

Menyempurnakan wudu, yaitu berwudu seperti yang diperintahkan Allah

-

Subḥānahu

 

wa

 

Ta'ālā

-

sebagai penerapan firman-Nya:

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قُمۡتُمۡ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغۡسِلُواْ وُجُوهَكُمۡ وَأَيۡدِيَكُمۡ إِلَى ٱلۡمَرَافِقِ وَٱمۡسَحُواْ بِرُءُوسِكُمۡ وَأَرۡجُلَكُمۡ إِلَى ٱلۡكَعۡبَيۡنِ...﴾

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melaksanakan salat, maka basuhlah wajahmu dan kedua tanganmu sampai ke siku, serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai ke kedua mata kaki." [QS. Al-Mā`idah: 6]. Dan seterusnya.

Juga berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ»

"Salat tidak akan diterima tanpa bersuci."2

Juga berdasarkan sabda beliau ﷺ kepada seseorang yang salatnya keliru:

«‌إِذَا ‌قُمْتَ ‌إِلَى ‌الصَّلَاةِ، ‌فَأَسْبِغِ ‌الْوُضُوءَ»

“Apabila kamu mendirikan salat, maka berwudulah dengan sempurna.”3

Orang yang hendak salat harus menghadap secara total ke kiblat, yaitu

Ka'bah

, di mana pun posisi dirinya, sembari berniat dalam hati akan mengerjakan salat yang ingin ia kerjakan, baik itu fardu ataupun sunah. Ia tidak perlu melafalkan secara lisan saat berniat, sebab mengucapkan niat di sini tidak disyariatkan, bahkan termasuk bidah, karena Nabi

tidak pernah melafalkan niat, tidak pernah pula

dilakukan oleh para sahabatnya

-

raḍiyallāhu

'

anhum

-.

Ia juga hendaknya meletakkan

sutrah

(pembatas) di hadapannya saat salat jika ia menjadi imam atau salat sendirian. Menghadap kiblat termasuk syarat dalam salat, kecuali dalam kondisi-kondisi tertentu yang telah diketahui dan dijelaskan dalam buku-buku ulama.

Mengucapkan takbiratulihram dengan membaca:

"

Allāhu

akbar",

sambil melihat ke tempat sujud.

Mengangkat kedua tangan saat bertakbir sampai sejajar dengan kedua bahu atau setara dengan kedua telinga.

Meletakkan kedua tangan di dada. Telapak tangan kanan diletakkan di atas telapak tangan kiri, pergelangan, dan hasta, sebagaimana tertera dalam hadis-hadis yang sahih dari Nabi

.

Disunahkan membaca doa iftitah, yaitu:

«اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وبيْنَ خَطَايَايَ، كَمَا بَاعَدْتَ بيْنَ المَشْرِقِ والمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الخَطَايَا كما يُنَقَّى الثَّوْبُ الأبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بالمَاءِ والثَّلْجِ والبَرَدِ»

"Allāhumma bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magribi. Allāhumma naqqinī minal-khaṭāyā kamā yunaqqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allāhumma-gsil khaṭāyāya bil-mā`i waṡ-ṡalji wal-barad."

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku, sebagaimana engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana kain putih yang dibersihkan dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan es."4

Bila mau, ia boleh membaca doa lain, yaitu:

«سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وبِحَمْدِكَ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ، وَتَعَالَى جَدُّكَ، ولَا إلَهَ غَيْرُكَ»

Subḥānakallāhumma wa biḥamdika wa tabārakas-muka wa ta'ālā jadduka wa ilāha gairuka."

Artinya: "Ya Allah, Maha Suci Engkau dan dengan memuji-Mu, Maha Berkah nama-Mu, Maha Luhur kemuliaan-Mu, dan tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Engkau."5

Apabila membaca doa iftitah lainnya yang sahih dari Nabi ﷺ, maka tidak masalah. Sebaiknya membaca doa-doa iftitah ini secara bergantian, karena hal itu lebih sempurna dalam mengikuti beliau. Kemudian mengucapkan:

"A'ūżu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm, bismillāhir-raḥmānir-raḥīm"

Artinya: "Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."

Lalu membaca Surah Al-Fātiḥah, berdasarkan sabda beliau ﷺ:

«لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بفَاتِحَةِ الكِتَابِ»

"Tidak sah salat orang yang tidak membaca Al-Fātiḥah."6

Setelah itu, hendaknya mengucapkan "āmīn" dengan jahar ketika salat jahar dan dengan lirih ketika salat sir. Kemudian membaca ayat-ayat dari Al-Qur`an semampunya. Setelah bacaan Surah Al-Fātiḥah pada salat Zuhur, Asar, dan Isya, sebaiknya membaca surah-surah dari Awsāṭul-Mufaṣṣal. Pada salat Subuh, sebaiknya membaca Ṭiwālul-Mufaṣṣal. Pada salat Magrib sesekali membaca Ṭiwālul-Mufaṣṣal dan sesekali Qiṣārul-Mufaṣṣal. Hal ini sebagai bentuk pengamalan Sunnah yang tertera dalam berbagai hadis.

Turun melakukan rukuk dengan bertakbir sambil mengangkat kedua tangan sampai sejajar dengan kedua telinga, lalu memosisikan kepala lurus dengan punggung, sembari kedua telapak tangan diletakkan di kedua lutut, serta bersikap

tumakninah

dalam rukuk tersebut seraya membaca:

«‌سُبْحَانَ رَبِّيَ العَظِيْمِ»

"Subḥāna rabbiyal-'aẓīm." (Maha Suci Tuhanku Yang Maha Agung). Sebaiknya mengulangi bacaan ini sebanyak tiga kali atau lebih, dan disunahkan membaca juga:

«‌سُبْحَانَكَ ‌اللهُمَّ ‌وَبِحَمْدِكَ، ‌اللهُمَّ ‌اغْفِرْ ‌لِي»

"Subḥānakallāhumma wa biḥamdika, allāhummag-fir-lī."

Artinya: Maha Suci Engkau, ya Allah, dan Engkau Maha Terpuji. Ya Allah, ampunilah aku."7

Mengangkat kepala untuk bangkit dari rukuk sambil mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu atau kedua telinga seraya berucap:

"

Sami'allāhu

liman

ḥamidah

"

(Allah mendengar orang yang memuji-Nya). Jika ia menjadi imam atau salat sendiri, ketika posisinya sudah berdiri ia mengucapkan,

«رَبَّنَا ولَكَ الحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ مِلْءَ السَّمَواتِ ومِلْءَ الأرضِ، ومِلْءَ ما شِئتَ مِن شيءٍ بَعدُ»

"Rabbanā walakal-ḥamdu ḥamdan kaṣīran ṭayyiban mubārakan fīh, mil`as-samāwāti wamil`al-arḍi, wamil`a syi`ta min syai`in ba'dua."

Artinya: "Wahai Tuhan kami, segala pujian sebanyak-banyaknya milik-Mu, yang baik, serta penuh keberkahan di dalamnya, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh apa yang Engkau kehendaki setelah itu."8

Adapun jika dia menjadi makmum, maka saat bangkit dari rukuk hendaknya membaca: "Rabbanā walakal-ḥamdu...", dan seterusnya, seperti disebutkan sebelumnya. Masing-masing imam, makmum, atau yang salat sendirian, boleh menambahkan bacaan:

«أهْلَ الثَّنَاءِ والْمجْدِ، أحَقُّ مَا قَالَ العَبْدُ، وكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ: اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أعْطَيْتَ، ولَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، ولَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ»

"Ahlaṡ-ṡanā`i wal-majdi, aḥaqqu qālal-'abdu, wa kullunā laka 'abdun, allāhumma māni'a limā a'ṭaita wa mu'ṭiya limā mana'ta, wa yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu."

Artinya: "Engkau yang berhak terhadap semua pujian dan pengagungan. Itu adalah ucapan paling benar yang dikatakan oleh hamba, dan kami seluruhnya hamba-Mu. Ya Allah, tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Kekayaan atau kemuliaan seseorang tidak bisa digunakan untuk menghindari siksa-Mu."9 Tambahan ini lebih baik, sebab ia valid bersumber dari beliau ﷺ.

Disunahkan juga meletakkan kedua tangan di dada -baik itu imam, makmum, atau salat sendirian- sebagaimana yang ia lakukan pada saat berdiri sebelum rukuk, karena hal ini tertera secara valid dari Nabi ﷺ dalam hadis Wā`il bin Ḥujr dan Sahl bin Sa'ad -raḍiyallāhu 'anhumā-.

Turun sujud sambil bertakbir dengan meletakkan kedua lutut terlebih dahulu sebelum kedua tangan jika memungkinkan. Namun bila terasa berat, maka hendaknya mendahulukan kedua tangan sebelum kedua lutut sembari semua jemari kaki dan tangan dihadapkan ke kiblat, dirapatkan jemarinya, dan dijulurkan ke arah kiblat, sehingga bersujud pada ketujuh anggota tubuh: dahi serta hidung, kedua tangan, kedua lutut, dan jemari bagian dalam kakinya. Kemudian mengucapkan:

"

Subḥāna

 

rabbiyal-a'lā

"

(

Maha

S

uci Tuhanku Yang Maha

T

inggi

). Doa ini disunahkan dibaca sebanyak tiga kali, atau lebih. Juga dianjurkan membaca,

«سُبْحانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنا وبِحَمْدِكَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي»

"Subḥānakallāhumma rabbanā wa biḥamdika, allāhumma-gfir ."

Artinya: "Maha Suci Engkau, wahai Tuhan kami, dan segala puji bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku."

Juga memperbanyak doa lain, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«‌أَمَّا ‌الرُّكُوعُ، ‌فَعَظِّمُوا ‌فِيهِ ‌الرَّبَّ، وَأَمَّا السُّجُودُ، فَاجْتَهِدُوا فِي الدُّعَاءِ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ»

"Adapun ketika rukuk, maka agungkanlah Tuhanmu; dan saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, karena itu layak untuk dikabulkan doa kalian."10

Dianjurkan pula untuk memohon kepada Tuhannya kebaikan dunia dan akhirat. Ini dilakukan ketika salat fardu ataupun salat sunah. Hendaknya merenggangkan kedua lengan dari samping tubuh, serta menjauhkan perut dari kedua paha, menjauhkan kedua paha dari kedua betis, dan tidak menempelkan kedua lengan di lantai. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

«اعْتَدِلُوا في السُّجُودِ، ولَا يَبْسُطْ أحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الكَلْبِ»

"Bersikaplah pertengahan dalam sujud dan tidak boleh salah satu di antara kalian menghamparkan kedua hastanya layaknya seekor anjing."11

Bangkit dari sujud sambil bertakbir, lalu membentangkan kaki kanan serta duduk di atasnya, menegakkan telapak kaki kanannya, serta meletakkan kedua tangannya di atas paha dan lututnya, seraya membaca,

«رَبِّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي وَاجْبُرْنِي»

"Rabbig-firlī war-ḥamnī wah-dinī war-zuqnī wa 'āfinī waj-burnī."

Artinya: "Tuhanku, ampunilah aku, kasihanilah aku, berilah aku petunjuk, berilah aku rezeki, selamatkanlah aku, dan perbaikilah aku."12

Hendaknya melakukan tumakninah saat duduk ini.

Sujud yang kedua sambil bertakbir dan melakukan sebagaimana yang dilakukan pada sujud pertama.

Bangkit dari sujud sambil bertakbir lalu duduk sejenak seperti duduk di antara dua sujud. Ini disebut dengan duduk istirahat dan hukumnya sunah, jika tidak dikerjakan pun tidak masalah, juga tidak ada zikir atau doa tertentu padanya. Kemudian bangkit berdiri untuk rakaat kedua sambil bertumpu pada kedua lutut jika memungkinkan, namun bila terasa berat, maka bertumpu pada lantai. Kemudian membaca Surah Al-

Fātiḥah

serta ayat lain dari Al-

Qur`an

semampunya setelah membaca Al-

Fātiḥah

. Lalu melakukan sebagaimana pada rakaat pertama.

Apabila salatnya berjumlah dua rakaat, seperti salat Subuh, salat Jumat, salat Idulfitri, dan Iduladha, maka setelah bangkit dari sujud

kedua, hendaknya duduk dengan telapak kaki kanan ditegakkan sementara kaki kiri dihamparkan, juga meletakkan tangan kanan di atas paha kanan sambil menggenggam semua jemari kecuali telunjuk, karena dijadikan isyarat tauhid. Jika ia menggenggam jari kelingking dan jari manis pada tangan kanannya, lalu jari tengah dan jempolnya digabung membuat lingkaran, lalu jari telunjuk menunjuk, maka itu juga baik; karena dua tata cara ini valid bersumber dari Nabi

. Tapi sebaiknya sesekali melakukan cara ini dan sekali-sekali melakukan cara yang satunya. Untuk tangan kirinya diletakkan di atas paha kirinya dan lututnya. Kemudian membaca doa tasyahud saat duduk ini, yaitu:

«التَّحِيَّاتُ للهِ والصَّلَوَاتُ والطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أيُّها النَّبيُّ ورَحْمَةُ الله وبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وعلَى عِبَادِ الله الصَّالِحِينَ، أشْهَدُ أنْ لَا إلَهَ إلَّا الله وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسولُهُ»

"At-taḥiyyātu lillāh, waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-salāmu 'alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh. As-salāmu 'alainā wa 'alā 'ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu an ilāha illallāh wa asyhadu anna muḥammadan 'abduhu wa rasūluh."

Artinya: "Segala ucapan penghormatan, selawat, dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan terlimpah kepadamu, wahai Nabi, juga rahmat Allah serta berkah-Nya. Semoga keselamatan terlimpah pada kami dan hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya." Kemudian membaca,

«اللَّهُمَّ صَلِّ علَى مُحَمَّدٍ وعلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ علَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ؛ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ علَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ علَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إبْرَاهِيمَ؛ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ»

"Allāhumma ṣalli 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad, kamā ṣallaita 'alā ibrāhīm wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Wa bārik 'alā muḥammad wa 'alā āli muḥammad, kamā bārakta 'alā ibrāhīm wa 'alā āli ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd."

Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Zat yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Curahkanlah pula keberkahan kepada Muhammad dan atas keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia."13

Juga memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara dengan membaca doa:

«اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِن عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ القَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ المَحْيَا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ المَسِيحِ الدَّجَّالِ»

"Allāhumma innī a'ūżubika min 'ażābi jahannam, wa min 'ażābil-qabri, wa min fitnatil-maḥyā wal-mamāti wa min syarri fitnatil-masīh ad-dajjāl."

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari siksa jahanam, dari siksa kubur, dari ujian hidup dan kematian, serta dari keburukan ujian Almasih Dajal."14

Kemudian berdoa sekehendaknya berupa kebaikan dunia dan akhirat. Jika berdoa untuk kedua orang tua atau untuk yang lainnya dari kalangan kaum muslimin, tidak mengapa -baik ketika salat fardu atau salat sunah-, berdasarkan keumuman sabda Nabi ﷺ dalam hadis Ibnu Mas'ūd tatkala beliau mengajarkannya bacaan tasyahud:

«ثُمَّ ‌لِيَتَخَيَّرْ ‌مِنَ ‌الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ فَيَدْعُو»

"Kemudian silakan memilih doa yang ia sukai untuk dibaca."15 Dalam lafaz lainnya disebutkan:

«‌ثُمَّ ‌لِيَخْتَرْ ‌مِنَ ‌الْمَسْأَلَةِ ‌مَا ‌شَاءَ»

"Kemudian silakan meminta apa pun yang ia kehendaki."16

Doa ini mencakup semua perkara yang bermanfaat bagi seorang hamba di dunia dan akhirat. Kemudian mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri dengan membaca, "As-salāmu 'alaikum wa raḥmatullāh, As-salāmu 'alaikum wa raḥmatullāh."

Apabila salatnya berjumlah tiga rakaat seperti Magrib, atau berjumlah empat rakaat seperti Zuhur, Asar, dan Isya, maka hendaknya membaca doa tasyahud tersebut di atas, disertai selawat kepada Nabi

. Kemudian bangkit berdiri sambil bertumpu pada kedua lutut, lalu mengangkat kedua tangan sejajar dengan kedua bahu atau kedua telinga seraya berucap:

"

Allāhu

akbar",

dan meletakkan kedua tangan di dada sebagaimana di rakaat sebelumnya. Lalu cukup membaca Surah Al-

Fātiḥah

saja. Namun jika pada rakaat ketiga dan keempat saat salat Zuhur sesekali membaca ayat lain setelah Al-

Fātiḥah

, maka tidak masalah, karena ada dalil validnya yang bersumber dari Nabi

, yaitu dalam hadis Abu

Sa'id

. Jika ia tidak membaca selawat kepada

Nabi

setelah tasyahud awal maka tidak masalah. Kemudian ia

bertasyahud

akhir di rakaat ketiga pada salat Magrib, serta di rakaat keempat pada salat Zuhur, Asar, dan Isya, seperti yang dipaparkan sebelumnya dalam salat yang berjumlah dua rakaat. Kemudian mengucapkan salam sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Lantas membaca istigfar sebanyak tiga kali, kemudian membaca,

«اللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلَامُ وَمِنْكَ السَّلَامُ، تَبَارَكْتَ يا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَامِ»

"Allāhumma antas-salām, wa minkas-salām, tabārakta żal-jalāli wal-ikrām"

Artinya: "Ya Allah, Engkaulah As-Salām dan dari-Mu keselamatan. Maha Tinggi Engkau, wahai pemilik kebesaran dan keagungan."17

Doa ini dibaca sebelum menghadap ke arah jemaah jika ia menjadi imam. Kemudian membaca:

«لَا إلَهَ إلَّا الله وحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَه، لَهُ المُلْكُ، ولَهُ الحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شيءٍ قَدِيرٌ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بالله، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أعْطَيْتَ، ولَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ، لَا إلَهَ إلَّا الله، وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الفَضْلُ، وَلَهُ الثَّنَاءُ الحَسَنُ، لَا إلَهَ إلَّا الله مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَو كَرِهَ الكَافِرُونَ»

" ilāha illallāh waḥdahu syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu, wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr. ḥaula wa quwwata illā billāh. Allāhumma māni'a limā a'ṭaita wa mu'ṭiya limā mana'ta, wa yanfa'u żal-jaddi minkal-jaddu. ilāha illallāh, wa na'budu illā iyyāh, lahun-ni'matu wa lahul-faḍlu, wa lahuṡ-ṡanā`ul-ḥasan. ilāha illallāh mukhliṣīna lahud-dīn wa law karihal-kāfirūn."

Artinya: "Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya milik-Nya semua kerajaan dan hanya bagi-Nya semua pujian dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah. Ya Allah, tidak ada yang mampu menghalangi apa yang Engkau beri dan tidak ada pula yang dapat memberi apa yang Engkau halangi. Kekayaan atau kemuliaan seseorang tidak bisa digunakan untuk menghindari siksa-Mu. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Kita tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. Hanya milik-Nya semua nikmat, hanya milik-Nya semua kebaikan, dan hanya milik-Nya semua pujian yang baik. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dengan memurnikan ibadah seluruhnya hanya kepada-Nya walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya."18

Lalu bertasbih sebanyak 33 kali, bertahmid sejumlah itu, serta bertakbir sejumlah itu, lalu menggenapkannya 100 dengan membaca,

" ilāha illallāhu waḥdahu syarīka lah, lahul-mulku wa lahul-ḥamdu wa huwa 'alā kulli syai`in qadīr."

Artinya: "Tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, semua kerajaan dan segala pujian hanya milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu."

Lantas membaca ayat Kursi, Qul huwallāhu aḥad, Qul a'ūżubirab-bil-falaq, dan Qul a'ūżubirab-binnās setelah setiap selesai salat fardu. Disunahkan mengulangi ketiga surah tersebut sebanyak tiga kali setelah salat Subuh dan salat Magrib, sebab terdapat hadis-hadis kesunahannya dari Nabi ﷺ. Semua zikir ini hukumnya sunah, bukan wajib.

Disyariatkan bagi setiap muslim dan muslimah untuk mengerjakan salat sunah 4 rakaat sebelum salat Zuhur dan 2 rakaat setelahnya, juga 2 rakaat setelah salat Magrib, 2 rakaat setelah salat Isya, dan 2 rakaat sebelum salat Subuh. Semuanya berjumlah 12 rakaat dan dinamakan salat rawatib (rutinan), karena Nabi ﷺ sangat merutinkannya saat mukim. Adapun jika sedang safar, maka beliau meninggalkannya kecuali salat sunah sebelum Subuh dan salat sunah witir, beliau ﷺ tetap mengerjakan keduanya, baik saat mukim maupun safar. Salat rawatib dan witir ini lebih utama dikerjakan di rumah, namun bila dikerjakan di masjid pun tidak masalah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ:

«أفْضَلُ صَلَاةِ المَرْءِ في بَيْتِهِ، إلَّا الصَّلَاةَ المَكْتُوبَةَ»

"Sebaik-baik salat seseorang adalah yang dikerjakan di rumahnya, kecuali salat fardu."19

Menjaga salat-salat ini termasuk penyebab seseorang masuk surga, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«مَنْ صَلَّى اثْنَتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً فِي يَومٍ وَلَيْلَةٍ، بُنِيَ لَه بِهِنَّ بَيْتٌ فِي الجَنَّةِ»

"Siapa yang salat dua belas rakaat dalam sehari semalam, niscaya akan dibangunkan rumah untuknya di surga."20

Jika seseorang mengerjakan salat sunah empat rakaat sebelum Asar, dua rakaat sebelum Magrib, dan dua rakaat sebelum Isya, itu baik; karena ada riwayat sahih dari Nabi ﷺ yang menunjukkan hal itu. Apabila seseorang salat empat rakaat setelah Zuhur dan empat rakaat sebelumnya, itu baik; berdasarkan sabda beliau ﷺ,

«مَنْ ‌حَافَظَ ‌عَلَى ‌أَرْبَعِ ‌رَكَعَاتٍ ‌قَبْلَ ‌الظُّهْرِ، وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ).

"Siapa yang menjaga salat sunah empat rakaat sebelum Zuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkannya masuk neraka."21 Maksudnya, seseorang menambahkan dua rakaat sunah rawatib setelah Zuhur; sebab sunah rawatibnya empat rakaat sebelumnya dan dua rakaat sesudahnya. Jika ia menambah dua rakaat setelahnya, maka ia akan mendapatkan keutamaan yang disebutkan dalam hadis Ummu Ḥabībah -raḍiyallāhu 'anhā- di atas.

Hanya Allah yang memberi taufik. Semoga selawat serta salam Allah curahkan kepada Nabi kita, Muhammad bin Abdullah, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya di atas kebaikan sampai hari Kiamat.

 

 

***

 


HR. Muslim (No. 224).

HR. Bukhari (No. 5782).

HR. Bukhari (No. 744) dan Muslim (No. 598).

HR. Muslim (No. 399).

HR. Bukhari (No. 756).

HR. Bukhari (No. 817) dan Muslim (No. 484).

HR. Muslim (No. 477).

HR. Bukhari (No. 711) dan Muslim (No. 598).

HR. Muslim (No. 479).

HR. Bukhari (No. 788) dan Muslim (No. 493).

HR. Tirmizi (No. 284), Abu Daud (No. 850), dan Ibnu Majah, (No. 898).

HR. Bukhari (No. 797) dan Muslim (No. 402).

HR. Bukhari (No. 1311) dan Muslim (No. 588).

HR. An-Nasa`i (No. 1298).

HR. Muslim (No. 402).

HR. Muslim (No. 591).

HR. Muslim (No. 402).

HR. Muslim (No. 728).

HR. Bukhari (No. 6860).

HR. Ahmad (No. 25547), Tirmizi (No. 393), dan Abu Daud (No. 1077).

HR. Bukhari (No. 605).