الدعاء ويليه العلاج بالرقى من الكتاب والسنة (إندونيسي)

فَهَذَا مُخْتَصَرٌ مِنْ كِتَابِي ((الذَّكْرُ وَالدُّعَاءُ وَالعِلاَجُ بِالرُّقَى مِنَ الكِتَابِ وَالسُّنَّةِ))[2] ، اخْتَصَرْتُ فِيهِ قِسْمَ الدُّعَاءِ؛ لِيَسْهُلَ الانْتِفَاعُ بِهِ، وَزِدْتُ عَلَيْهِ أَدْعِيَةً، وَفَوَائِدَ نَافِعَةً، إنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى

  • earth Bahasa
    (إندونيسي)
  • earth Karya Tulis:
    الشيخ سعيد بن علي بن وهف القحطاني
PHPWord

 

 

 

 

الدُّعَاءُ

وَيَلِيهِ الْعِلَاجُ

بِالرُّقَى مِنْ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

 

KUMPULAN DOA SERTA PENGOBATAN DAN RUQYAH DARI AL-QUR`AN DAN SUNNAH

 

 

 

Penulis

Dr. Sa'īd bin Ali bin Wahf Al-Qaḥṭāniy

 

﴿وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ١٠٨﴾ [الأعراف: ١٠٨]

"Dan Allah memiliki Asmā’ul Ḥusnā (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmā’ul Ḥusnā itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al-A'rāf: 180].

Allāh - Al-Awwal (Maha Awal) - Al-Ākhir (Maha Akhir)- Aẓ-Ẓāhir (Maha Tinggi) - Al-Bāṭin (Maha Tersembunyi) - Al-'Aliy (Maha Tinggi) - Al-A'lā (Maha Luhur)

Al-Muta'āl (Maha Tinggi) - Al-'Aẓīm (Maha Agung) - Al-Majīd (Maha Mulia) - Al-Kabīr (Maha Besar) - As-Samī' (Maha Mendengar) - Al-Baṣīr (Maha Melihat) - Al-'Alīm (Maha Mengetahui)

Al-Khabīr (Maha Mengetahui dengan Detail) - Al-Ḥamīd (Maha Terpuji) - Al-'Azīz (Maha Perkasa) - Al-Qadīr (Maha Kuasa) - Al-Qādir (Maha Berkuasa) - Al-Muqtadir (Maha Menentukan) - Al-Qawiy (Maha Kuat)

Al-Matīn (Maha Kokoh) - Al-Ganiy (Maha Kaya) - Al-Ḥakīm (Maha Bijaksana) - Al-Ḥalīm (Maha Penyantun) - Al-'Afuwwu (Maha Pemaaf) - Al-Gafūr (Maha Pengampun) - Al-Gaffār (Maha Pengampun)

At-Tawwāb (Maha Penerima Taubat) - Ar-Raqīb (Maha Mengawasi) - Asy-Syahīd (Maha Menyaksikan) - Al-Ḥafīẓ (Maha Memelihara) - Al-Latīf (Maha Lembut) - Al-Qarīb (Maha Dekat) - Al-Mujīb (Maha Mengabulkan)

Al-Wadūd (Maha Mencintai) - Asy-Syākir (Maha Mensyukuri) - Asy-Syakūr (Maha Memberi Balasan Kebaikan) - As-Sayyid (Maha Pemimpin) - Aṣ-Ṣamad (Maha Dibutuhkan) - Al-Qāhir (Maha Menundukkan) - Al-Qahhār (Maha Menaklukkan)

Al-Jabbār (Maha Perkasa dan Maha Memaksa) - Al-Ḥasīb (Maha Membuat Perhitungan) - Al-Hādī (Maha Memberi Petunjuk) - Al-Ḥakam (Maha Menetapkan Hukum) - Al-Quddūs (Maha Suci) - As-Salām (Maha Memberi Keselamatan) - Al-Barru (Maha Baik)

Al-Wahhāb(Maha Pemberi) - Ar-Raḥmān (Maha Pengasih) - Ar-Raḥīm (Maha Penyayang) - Al-Karīm (Maha Mulia) - Al-Akram (Maha Pemurah) - Ar-Ra`ūf (Maha Pengasih dengan Lembut) - Al-Fattāḥ (Maha Pembuka dan Pemberi Keputusan)

Ar-Rāziq (Maha Pemberi Rezeki) - Ar-Razzāq (Maha Memberi Rezeki dengan Kelimpahan) - Al-Ḥayy (Maha Hidup) - Al-Qayyūm (Maha Berdiri Sendiri dan Mengurus Makhluk-Nya) - Ar-Rabb (Maha Pemelihara dan Pengatur) - Al-Malik (Maha Raja) - Al-Malīk (Maha Memiliki Kekuasaan Mutlak)

Al-Wāḥid (Maha Esa) - Al-Aḥad (Maha Tunggal) - Al-Mutakabbir (Maha Membanggakan Diri) - Al-Khāliq (Maha Pencipta) - Al-Khallāq (Maha Pencipta dengan Terus-Menerus) - Al-Bāri’ (Maha Mewujudkan) - Al-Muṣawwir (Maha Pembentuk Rupa)

Al-Mu’min (Maha Memberi Keamanan) - Al-Muhaymin (Maha Mengawasi dan Memelihara) - Al-Muḥīṭ (Maha Meliputi) - Al-Muqīt (Maha Memberi Kekuatan dan Rezeki) - Al-Wakīl (Maha Memelihara dan Mengurus) - Al-Kāfī (Maha Mencukupi) - Al-Wāsi‘ (Maha Luas)

Al-Ḥaqq (Maha Benar) - Al-Jamīl (Maha Indah) - Ar-Rafīq (Maha Penyantun) - Al-Ḥayyī (Maha Malu dan Pemalu) - Al-Satīr (Maha Menutupi) - Al-Ilāh (Maha Tuhan) - Al-Qābiḍ (Maha Menyempitkan)

Al-Bāsiṭ (Maha Melapangkan) - Al-Mu‘ṭī (Maha Memberi) - Al-Muqaddim (Maha Mendahulukan) - Al-Mu’akhkhir (Maha Mengakhirkan) - Al-Mubīn (Maha Menjelaskan) - Al-Mannān (Maha Pemberi Karunia) - Al-Walī (Maha Melindungi dan Menolong)

Al-Mawlā (Maha Menolong dan Membantu) - An-Nāṣir (Maha Penolong) - Asy-Syāfī (Maha Penyembuh) - Mālik al-Mulk (Pemilik Kerajaan) - Jāmi‘ an-Nās (Maha Mengumpulkan Manusia)

Nūrus-samāwāti wal-arḍ (Cahaya Langit dan Bumi) - Żul-jalāl wal-ikrām (Maha Memiliki Keagungan dan Kemuliaan) - Badī'us-samāwāti wal-arḍ (Maha Pencipta Langit dan Bumi dengan Sempurna).1

 


بِسْمِ اللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

 

Mukadimah

Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kita memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan jiwa kita, kesalahan amalan kita. Siapa yang Allah beri hidayah, tidak akan ada yang mampu menyesatkannya, dan siapa yang Dia sesatkan, tidak akan ada yang mampu memberinya hidayah. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, serta aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat serta salam sebanyak-banyaknya kepada keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya dengan baik sampai hari Kiamat.

Amabakdu:

Buku ini merupakan ringkasan dari buku saya "Aż-Żikru wa Ad-Du'ā`u wa Al-'Ilāju bi Ar-Ruqā min Al-Kitābi wa As-Sunnah" (Zikir, Doa, dan Pengobatan dengan Ruqyah dari Al-Qur`an dan Sunnah).

Saya mengambil bagian doanya; supaya manfaatnya lebih mudah diperoleh, dan kami tambahkan beberapa doa serta beberapa faedah yang bermanfaat, Insyaallah Ta'ala.2

Saya memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla melalui nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, agar menjadikan buku ini murni hanya karena wajah-Nya yang mulia. Sesungguhnya Dia Maha Melindungi dan Maha Kuasa untuk mewujudkannya.

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam serta keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, para keluarga, sahabat, dan pengikutnya dengan baik hingga hari Kiamat.

Ditulis oleh:

Sa'īd bin Ali bin Wahf Al-Qaḥṭāniy

Ditulis pada bulan Syakban 1408 H.

 


Keutamaan Doa

Allah Ta'ala berfirman,

﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِيٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِي سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ ٦٠﴾ [غافر: ٦٠]

"Dan Tuhanmu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.’ Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke neraka Jahanam dalam keadaan hina dina." (QS. Gāfir: 60).

Allah -'Azza wa Jalla- juga berfirman,

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦﴾ [البقرة: ١٨٦]

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186).

Nabi ﷺ bersabda,

«الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ، قَالَ رَبُّكُمْ: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ».

"Berdoa adalah ibadah. Tuhan kalian berfirman, 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan’.”3

Beliau ﷺ juga bersabda,

«إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا».

"Sesungguhnya Tuhan kalian Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi, Maha Pemalu dan Maha Mulia, Dia merasa malu terhadap hamba-Nya yang mengangkat kedua tangannya kepada-Nya (berdoa), lalu Dia mengembalikannya dalam keadaan kosong (tidak dikabulkan)."4

Dan beliau ﷺ bersabda,

«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا»، قَالُوا: إِذًا نُكْثِرُ ؟ قَالَ: «اللهُ أَكْثَرُ».

"Tidaklah seorang muslim berdoa dengan doa yang tidak mengandung dosa atau pemutusan tali persaudaraan, melainkan Allah akan memberikannya salah satu dari tiga perkara: Dia segera mengabulkannya, atau menyimpannya untuknya nanti di akhirat, atau mengalihkan keburukan yang semisal dari dirinya." Para sahabat berkata, "Kalau begitu, kami akan banyak berdoa." Beliau bersabda, "Allah lebih banyak lagi (pemberian-Nya)."5

Di antara adab berdoa dan sebab dikabulkannya doa:6

Ikhlas kepada Allah.

Memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berselawat kepada Nabi

ﷺ

, serta mengakhiri doanya dengan hal tersebut.

Bersikap tegas dalam berdoa dan yakin akan dikabulkan.

Bersungguh-sungguh dalam berdoa dan tidak tergesa-gesa mengharapkan jawaban.

Menghadirkan hati saat berdoa.

Berdoa dalam kondisi senang maupun susah.

Tidak memohon kecuali hanya kepada Allah semata.

Dilarang mendoakan keburukan untuk keluarga, harta, anak, dan diri sendiri.

Melirihkan suara saat berdoa antara suara yang rendah dan keras.

Mengakui dosa-, memohon ampunan atasnya; mengakui nikmat-nikmat Allah, dan bersyukur kepada-Nya atas nikmat tersebut.

Tidak memaksakan sajak dalam berdoa.

Tunduk, khusyuk, harap, dan takut.

Mengembalikan hak-hak yang dizalimi kepada pemiliknya disertai bertobat.

Mengulangi doa sampai tiga kali.

Menghadap kiblat.

Mengangkat kedua tangan saat berdoa.

Jika memungkinkan, berwudu sebelum berdoa.

Tidak melampaui batas dalam berdoa.

Berdoa untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, jika ingin mendoakan orang lain.

7

Bertawasul kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang mulia, atau dengan amal saleh yang telah dilakukan oleh orang yang berdoa, atau

dengan doa seorang hamba saleh yang masih hidup dan hadir.

Hendaknya makanan, minuman, dan pakaian berasal dari yang halal.

Tidak mengucapkan doa yang mengandung dosa atau memutuskan tali silaturahmi.

Beramar makruf nahi mungkar.

Menjauhi segala bentuk kemaksiatan.

Waktu, Kondisi, serta Tempat-tempat Doa Dikabulkan:8

Lailatulqadar.

Akhir malam.

Setelah salat lima waktu.

Antara azan dan ikamah.

Satu waktu di setiap malam.

Ketika azan dikumandangkan untuk salat lima waktu.

Ketika hujan turun.

Saat barisan maju dalam perang di jalan Allah.

Suatu waktu pada hari Jumat.

Pendapat yang paling kuat tentang waktu itu adalah bahwa ia terjadi pada akhir waktu Asar di hari Jumat, dan bisa juga saat khotbah dan salat.

Ketika minum air zamzam disertai niat yang tulus.

Ketika sujud (dalam salat).

Saat bangun malam dan memanjatkan doa yang telah disyariatkan dalam hal tersebut.

Jika tidur dalam kondisi suci, kemudian bangun malam lantas berdoa.

Ketika berdoa dengan

"Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn."

(Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim).

Doa manusia setelah seseorang wafat.

Berdoa setelah memuji Allah dan berselawat kepada Nabi

ﷺ

dalam tasyahud akhir.

Ketika berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung yang jika berdoa dengannya, Dia akan mengabulkannya, bila meminta kepada-Nya melalui nama-Nya tersebut, Dia akan memberi"

9

Doa seorang muslim untuk saudaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya.

Doa saat hari Arafah di padang Arafah.

Berdoa di bulan Ramadan.

Saat kaum muslimin berkumpul dalam majelis zikir.

Ketika mengalami musibah berdoa dengan

"Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn. Allāhumma`jurnī fī muṣībatī wa akhliflī khairan minhā."

(Sesungguhnya kita milik Allah dan kelak kita akan kembali kepada-Nya. Ya Allah berilah aku pahala atas musibah yang menimpaku ini, dan gantilah dengan sesuatu yang lebih baik darinya).

Doa dalam keadaan hati yang sepenuhnya menghadap kepada Allah, dan penuh keikhlasan.

Doa orang yang dizalimi terhadap orang yang menzaliminya.

Doa baik orang tua untuk anaknya atau doa keburukan untuk anaknya.

Doa seorang musafir.

Doa orang yang berpuasa hingga berbuka.

Doa orang yang berpuasa saat berbuka puasa.

Doa orang yang dalam keadaan terdesak.

Doa pemimpin yang adil.

Doa anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya.

Doa setelah wudu, jika berdoa dengan doa yang disyariatkan setelah wudu.

Berdoa setelah melempar jamrah sugra.

Berdoa setelah melempar jamrah wusta.

Berdoa di dalam Ka'bah, dan bagi yang salat di area dalam ḥijr (Ismail) karena itu termasuk Ka'bah.

Berdoa di bukit Safa.

Berdoa ketika di bukit Marwa.

Berdoa ketika berada di Masy'arilḥarām (Muzdalifah).

Seorang mukmin selalu berdoa kepada Tuhannya, di mana pun berada. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

﴿وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦﴾ [البقرة: ١٨٦]

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran." (QS. Al-Baqarah: 186).

Akan tetapi, waktu-waktu, kondisi, serta tempat-tempat tersebut lebih mendapatkan perhatian khusus.

 


Doa dari Al-Qur`an dan Sunnah

Segala puji hanya milik Allah semata, semoga selawat serta salam tercurahkan kepada Nabi terakhir, tidak ada nabi lain setelahnya.

1- ﴿بِسْمِ اللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ ١ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٢ ٱلرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ ٣ مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ٥ ٱهۡدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ٦ صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنۡعَمۡتَ عَلَيۡهِمۡ غَيۡرِ ٱلۡمَغۡضُوبِ عَلَيۡهِمۡ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ ٧﴾ [الفاتحة: ١-٧]

1. Bismillāhirraḥmānirraḥīm. Alḥamdulillāhi rabbil-'ālamīn. Arraḥmānirraḥīm. Māliki yaumid-dīn. Iyyāka na'budu wa iyyāka nasta'īn. Ihdinaṣ-ṣirāṭal-mustaqīm. Ṣirāṭal-lażīna an'amta 'alaihim gairil-magdūbi 'alaihim walaḍ-ḍāllīn.

(Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat). (QS. Al-Fātiḥah: 1-7].

2- ﴿... رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ ٢٧﴾ [البقرة: ١٢٧]

2- Rabbanā taqabbal minnā inaka antas-samī'ul 'alīm.

(Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui). [QS. Al-Baqarah: 127].

3- ﴿... وَتُبۡ عَلَيۡنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ١٢٨﴾ [البقرة: ١٢٨]

3- Wa tub 'alainā innaka antat-tawwābur-raḥīm.

(Dan terimalah tobat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang). [QS. Al-Baqarah: 128].

4- ﴿... رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ٢٠١﴾ [البقرة: ٢٠١]

4- Rabbanā ātinā fid-dun-yā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā 'ażābann-nār.

(Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka). [QS. Al-Baqarah: 201].

5- ﴿... سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۖ غُفۡرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ ٢٨٥﴾ [البقرة: ٢٨٥]

5- "Sami'nā wa aṭa'nā gufrānaka rabbanā wa ilaikal-maṣīr."

(Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali). [QS. Al-Baqarah: 285].

6- ﴿... رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذۡنَآ إِن نَّسِينَآ أَوۡ أَخۡطَأۡنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تَحۡمِلۡ عَلَيۡنَآ إِصۡرٗا كَمَا حَمَلۡتَهُۥ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِنَاۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلۡنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِۦۖ وَٱعۡفُ عَنَّا وَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَآۚ أَنتَ مَوۡلَىٰنَا فَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٢٨٦﴾ [البقرة: ٢٨٦]

6- "Rabbanā lā tu`ākhiżnā innasīnā aw akhṭa`nā, rabbanā wa lā taḥmil 'alainā iṣran kamā ḥamaltahū 'alallazīna min qablinā, rabbanā wa lā tuḥammilnā mā lā ṭāqata lanā bih, wa'fu'annā wagfirlanā, warḥamnā, anta maulānā fanṣurnā 'alal qaumil kāfirīn."

(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir). [QS. Al-Baqarah: 286].

7- ﴿رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨﴾ [آل عمران: ٨]

7- "Rabbanā lā tuzig qulūbanā ba'da iż hadaitanā wa hablanā milladunka raḥmah, innaka antal-wahhāb."

(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi). [QS. Āli 'Imrān: 8].

8- ﴿... رَبَّنَا إِنَّنَا آمَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ١٦﴾ [آل عمران: ١٦]

8- "Rabbanā innanā āmannā fag-firlanā żunūbanā wa qinā 'ażābannār."

(Ya Tuhan kami, kami benar-benar beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka). [QS. Āli 'Imrān: 16].

9- ﴿... رَبِّ هَبۡ لِي مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةٗ طَيِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ٣٨﴾ [آل عمران: ٣٨]

9- "Rabbi hablī milladunka żurriyatan ṭayyibatan innaka samī'uddu'ā`."

(Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa). [QS. Āli 'Imrān: 38].

10- ﴿رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلۡتَ وَٱتَّبَعۡنَا ٱلرَّسُولَ فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ٥٣﴾ [آل عمران: ٥٣]

10- "Rabbanā āmannā bimā anzalta wat-taba'nar-rasūla faktubnā ma'asy-syāhidīn."

(Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu tetapkanlah kami bersama golongan orang yang memberikan kesaksian). [QS. Āli 'Imrān: 53].

11- ﴿... رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسۡرَافَنَا فِيٓ أَمۡرِنَا وَثَبِّتۡ أَقۡدَامَنَا وَٱنصُرۡنَا عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ١٤٧﴾ [آل عمران: ١٤٧]

11- "Rabbanag-firlanā żunūbanā wa isrāfanā fī amrinā wa ṡabbit aqdāmanā wanṣurnā 'alal-qaumil-kāfirin."

(Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir). [QS. Āli 'Imrān: 147].

12- ﴿... رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ هَٰذَا بَٰطِلٗا سُبۡحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ ١٩١ رَبَّنَآ إِنَّكَ مَن تُدۡخِلِ ٱلنَّارَ فَقَدۡ أَخۡزَيۡتَهُۥۖ وَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٖ١٩٢ رَّبَّنَآ إِنَّنَا سَمِعۡنَا مُنَادِيٗا يُنَادِي لِلۡإِيمَٰنِ أَنۡ ءَامِنُواْ بِرَبِّكُمۡ فَـَٔامَنَّاۚ رَبَّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرۡ عَنَّا سَيِّـَٔاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ ٱلۡأَبۡرَارِ ١٩٣ رَبَّنَا وَءَاتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخۡزِنَا يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ إِنَّكَ لَا تُخۡلِفُ ٱلۡمِيعَادَ ١٩٤﴾ [آل عمران: ١٩١-١٩٤]

12- "Rabbanā mā khalaqta hāżā bāṭilan subḥānaka faqinā 'ażābannār. Rabbanā innaka man tudkhilinnār faqad akhzaitahu wamā liẓẓālimīna min anṣār. Rabbanā innanā sami'nā munādiyan yunādī lil`īmān an āminū birabbikum fa`āmannā rabbanā fag-firlanā żunūbanā wa kaffir 'annā sayyi`ātinā wa tawaffanā ma'al-`abrār. Rabbanā wa ātinā mā wa'adtanā 'ala rusulika walā tukhzinā yaumal-qiyāmah innaka lā tukhliful mī'ād."

(Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar orang yang menyeru kepada iman, (yaitu), 'Berimanlah kamu kepada Tuhanmu,' maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan matikanlah kami beserta orang-orang yang berbakti.

Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sungguh, Engkau tidak pernah mengingkari janji). [QS. Āli 'Imrān: 191-194].

13- ﴿... رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱكۡتُبۡنَا مَعَ ٱلشَّٰهِدِينَ٨٣﴾ [المائدة: ٨٣]

13- "Rabbanā āmannā faktubnā ma'asyāhidīn."

(Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur`an dan kenabian Muhammad)). [QS. Al-Mā`idah: 83].

14- ﴿... رَبَّنَا ظَلَمۡنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ٢٣﴾ [الأعراف: ٢٣]

14- "Rabbanā ẓalamnā anfusanā wa 'illam tagfirlanā wa tarḥamnā lanakūnannā minal-khāsirīn."

(Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi). [QS. Al-A'rāf: 23].

15- ﴿... رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ٤٧﴾ [الأعراف: ٤٧]

15- "Rabbanā lā taj'alnā ma'alqaumiẓ-ẓālimīn."

(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang zalim itu). [QS. Al-A'rāf: 47].

١٦- اللهم ﴿... أَنتَ وَلِيُّنَا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَاۖ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡغَٰفِرِينَ١٥٥ وَٱكۡتُبۡ لَنَا فِي هَٰذِهِ ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ ...﴾ [الأعراف: ١٥٥-١٥٦]

16- “Allāhumma Anta waliyyunā fag-firlanā warḥamnā wa anta khairul-gāfirīn. Waktub lanā fi hāżihid-dun-yā ḥasanatan wa fil`ākhirati."

(Ya Allah, Engkaulah Wali kami, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat. Engkaulah Pemberi ampunan yang terbaik, dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat). [QS. Al-A'rāf: 155-165].

17- ﴿... حَسۡبِيَ ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَكَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ١٢٩﴾ [التوبة: ١٢٩]

17- "Ḥasbiyallāhu lā ilāha illā huwa 'alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul 'arsyil-'aẓīm."

(Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung). [QS. At-Taubah: 129].

18- ﴿... رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٨٥ وَنَجِّنَا بِرَحۡمَتِكَ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ٨٦﴾ [يونس: ٨٥-٨٦]

18- "Rabbanā lā taj'alnā fitnatal-liqaumiẓ-ẓālimīn. Wa najjinā biraḥmatika minal-qaumil-kāfirīn."

(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi kaum yang zalim, dan selamatkanlah kami dengan rahmat-Mu dari orang-orang kafir). [QS. Yūnus: 85-86].

19- ﴿... رَبِّ إِنِّيٓ أَعُوذُ بِكَ أَنۡ أَسۡـَٔلَكَ مَا لَيۡسَ لِي بِهِۦ عِلۡمٞۖ وَإِلَّا تَغۡفِرۡ لِي وَتَرۡحَمۡنِيٓ أَكُن مِّنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ٤٧﴾ [هود: ٤٧]

19- "Rabbi innī a'użubika an as'alaka mā laisa lī bihi 'ilmun wa illa tagfirlī wa tarḥamnī akum-minalkhāsirīn."

(Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi). [QS. Hūd: 47].

٢٠- اللَّهُمَّ يَا ﴿... فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِيِّۦ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ تَوَفَّنِي مُسۡلِمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ١٠١﴾ [يوسف: ١٠١]

20- "Allāhumma yā fātiras-samāwāti wal-arḍ anta waliyyī fid-dun-yā wal-ākhirah tawaffanī musliman wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn."

(Ya Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh). (QS. Yūsuf: 101).10

21- ﴿...  رَبِّ ٱجۡعَلۡ هَٰذَا ٱلۡبَلَدَ ءَامِنٗا وَٱجۡنُبۡنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعۡبُدَ ٱلۡأَصۡنَامَ٣٥﴾ [إبراهيم: ٣٥]

21- "Rabbij'al hāżal-balada āminan wajnubnī wabaniyya an-na'budal`aṣnām."

(Ya Tuhan, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala). [QS. Ibrāhīm: 35].

22- ﴿رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ٤٠﴾ [إبراهيم: ٤٠]

22- "Rabbij'alnī muqīmaṣ-ṣalāti wa min żurriyatī rabbanā wa taqabbal du'ā`."

(Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku). [QS. Ibrāhīm: 40].

23- ﴿رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ٤١﴾ [إبراهيم: ٤١]

23- "Rabbanag-firlī wa liwālidayya wa lilmu`minīna yauma yaqūmul-ḥisāb."

(Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua orang tuaku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perhitungan (hari Kiamat)). [QS. Ibrāhīm: 41].

24- ﴿... رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةٗ وَهَيِّئۡ لَنَا مِنۡ أَمۡرِنَا رَشَدٗا١٠﴾ [الكهف: ١٠]

24- "Rabbanā ātinā milladunka raḥmatan, wa hayyi` lanā min amrinā rasyadā."

(Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami). [QS. Al-Kahf: 10].

25- ﴿... رَبِّ ٱشۡرَحۡ لِي صَدۡرِي ٢٥ وَيَسِّرۡ لِيٓ أَمۡرِي ٢٦ وَٱحۡلُلۡ عُقۡدَةٗ مِّن لِّسَانِي ٢٧ يَفۡقَهُواْ قَوۡلِي٢٨﴾ [طه: ٢٥-٢٨]

25- "Rabbisy-raḥlī ṣadrī, wa yassirlī amrī, waḥlul 'uqdatammillisānī yafqahū qaulī."

(Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, serta lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka memahami ucapanku). [QS. Ṭāha: 25-28].

26- ﴿... رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا١١٤﴾ [طه: ١١٤]

26- "Rabbi zidnī 'ilman."

(Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku). [QS. Ṭāha: 114].

27- ﴿... لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَٰنَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ ٨٧﴾ [الأنبياء: ٨٧]

27- "Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn."

(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selian Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim). [QS. Al-Anbiyā`: 87].

28- ﴿... رَبِّ لَا تَذَرۡنِي فَرۡدٗا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلۡوَٰرِثِينَ٨٩﴾ [الأنبياء: ٨٩]

28- "Rabbi lā tażarnī fardan wa anta khairul wāriṡīn."

(Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik). [QS. Al-Anbiyā`: 89].

29- ﴿... رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنۡ هَمَزَٰتِ ٱلشَّيَٰطِينِ ٩٧ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحۡضُرُونِ ٩٨﴾ [المؤمنون: ٩٧-٩٨]

29- "Rabbi a'ūżubika min hamazātisy-syayāṭīn, wa a'ūżubika rabbi an yaḥḍurūn."

(Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku). [QS. Al-Mu`minūn: 97-98].

30- ﴿... رَبَّنَآ ءَامَنَّا فَٱغۡفِرۡ لَنَا وَٱرۡحَمۡنَا وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ١٠٩﴾ [المؤمنون: ١٠٩]

30- "Rabbanā āmannā fagfir lanā war-ḥamnā wa anta khairur-rāḥimīn."

(Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat, Engkau adalah pemberi rahmat yang terbaik). [QS. Al-Mu`minūn: 109].

31- ﴿... رَّبِّ ٱغۡفِرۡ وَٱرۡحَمۡ وَأَنتَ خَيۡرُ ٱلرَّٰحِمِينَ١١٨﴾ [المؤمنون: ١١٨]

31- "Rabbigfir warḥam wa anta khairur-rāḥimīn."

(Ya Tuhanku, berilah ampunan dan (berilah) rahmat, Engkaulah pemberi rahmat yang terbaik). [QS. Al-Mu`minūn: 118].

32- ﴿... رَبَّنَا ٱصۡرِفۡ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا ٦٥ إِنَّهَا سَآءَتۡ مُسۡتَقَرّٗا وَمُقَامٗا٦٦﴾ [الفرقان: ٦٥-٦٦]

32- "Rabbanaṣ-rif 'annā 'ażāba jahannama inna 'ażābahā kāna garāmā, "innahā sā`at mustaqarraw-wamuqāmā."

(Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, karena sesungguhnya azabnya itu membuat kebinasaan yang kekal. Sungguh, Jahanam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman). [QS. Al-Furqān: 65-66].

33- ﴿... رَبَّنَا هَبۡ لَنَا مِنۡ أَزۡوَٰجِنَا وَذُرِّيَّٰتِنَا قُرَّةَ أَعۡيُنٖ وَٱجۡعَلۡنَا لِلۡمُتَّقِينَ إِمَامًا٧٤﴾ [الفرقان: ٧٤]

33- "Rabbanā hab lanā min azwājinā ważurriyātinā qurrata a'yunin waj'alnā lilmuttaqīna `imāmā."

(Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan hidup kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa). [QS. Al-Furqān: 74].

34- ﴿ رَبِّ هَبۡ لِي حُكۡمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ٨٣ وَٱجۡعَل لِّي لِسَانَ صِدۡقٖ فِي ٱلۡأٓخِرِينَ٨٤وَٱجۡعَلۡنِي مِن وَرَثَةِ جَنَّةِ ٱلنَّعِيم٨٥﴾ [الشعراء: ٨٣-٨٥]

34- "Rabbi hablī ḥukman wa alḥiqnī biṣ-ṣāliḥīn, waj'al-lī lisāna ṣidqin fil-`ākhirīn, waj'alnī min waraṡati jannatin-na'īm."

(Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku ilmu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang yang mewarisi surga yang penuh kenikmatan). [QS. Asy-Syu'arā`: 83-85].

35- ﴿وَلا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ ٨٧ يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيم٨٩﴾ [الشعراء: ٨٧-٨٩]

35- "Wa lā tukhzinī yauma yub'aṡūn, yauma lā yanfa'u mālun wa lā banūn, illā man atallāha biqalbin salīm."

(Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih). [QS. Asy-Syu'arā`: 87-89].

36- ﴿... رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ١٩﴾ [النمل: ١٩]

36- "Rabbi awzi'nī an asykura ni'matakallatī an'amta 'alayya wa 'alā wālidayya wa an a'mala ṣāliḥan tarḍāhu wa adkhilnī biraḥmatika fī 'ibādikaṣ-ṣāliḥīn."

(Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai, serta masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh). [QS. An-Naml: 19].

37- ﴿... رَبِّ إِنِّي ظَلَمۡتُ نَفۡسِي فَٱغۡفِرۡ لِي...﴾ [القصص: ١٦]

37- "Rabbi innī ẓalamtu nafsī fag-firlī."

(Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku sendiri, maka ampunilah aku). [QS. Al-Qaṣaṣ: 16].

38- ﴿... رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ٢١﴾ [القصص: ٢١]

38- "Rabbi najjinī minal qaumiẓ-ẓālimīn."

(Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu). [QS. Al-Qaṣaṣ: 21].

39- ﴿... عَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يَهۡدِيَنِي سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ٢٢﴾ [القصص: ٢٢]

39- "'Asā rabbī an yahdiyanī sawā`as-sabīl."

(Mudah-mudahan Tuhanku memimpin aku ke jalan yang benar). (QS. Al-Qaṣaṣ: 22].

40- ﴿... رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ٢٤﴾ [القصص: ٢٤]

40- "Rabbi innī limā anzalta ilayya min khairin faqīr."

(Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku). [QS. Al-Qaṣaṣ: 24].

41- ﴿... رَبِّ ٱنصُرۡنِي عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡمُفۡسِدِينَ٣٠﴾ [العنكبوت: ٣٠]

41- "Rabbin-ṣurnī 'alal-qaumil-mufsidīn."

(Ya Tuhanku, tolonglah aku menghadapi golongan yang berbuat kerusakan itu). [QS. Al-'Ankabūt: 30].

42- ﴿رَبِّ هَبۡ لِي مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ١٠٠﴾ [الصافات: ١٠٠]

42- "Rabbi hablī minaṣ-ṣāliḥīn."

(Ya Tuhanku anugerahkanlah kepadaku (anak) yang termasuk orang yang saleh). [QS. Aṣ-Ṣāffāt: 100].

43- ﴿... رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ١٥﴾ [الأحقاف: ١٥]

43- "Rabbi awzi'nī an asykura ni'matakallatī an'amta 'alayya wa 'alā wālidayya wa an a'mala sāliḥan tarḍāhu wa aṣliḥ lī fī żurriyatī innī tubtu ilaika wa innī minal-muslimīn."

(Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertaubat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim). [QS. Al-Aḥqāf: 15].

44- ﴿... رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لَنَا وَلِإِخۡوَٰنِنَا ٱلَّذِينَ سَبَقُونَا بِٱلۡإِيمَٰنِ وَلَا تَجۡعَلۡ فِي قُلُوبِنَا غِلّٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٞ رَّحِيمٌ١٠﴾ [الحشر: ١٠]

44- "Rabbanagfir lanā wa li ikhwāninallazīna sabaqūnā bil-`īmāni wa lā taj'al fī qulūbinā gillan lillazīna āmanū rabbanā innaka ra`ūfurraḥīm."

(Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang). [QS. Al-Ḥasyr: 10].

45- ﴿... رَّبَّنَا عَلَيۡكَ تَوَكَّلۡنَا وَإِلَيۡكَ أَنَبۡنَا وَإِلَيۡكَ ٱلۡمَصِيرُ٤﴾ [الممتحنة: ٤]

45- "Rabbanā 'alaika tawakkalnā wa ilaika anabnā wa ilaikal-maṣīr."

(Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali). [QS. Al-Mumtaḥanah: 4].

46- ﴿رَبَّنَا لَا تَجۡعَلۡنَا فِتۡنَةٗ لِّلَّذِينَ كَفَرُواْ وَٱغۡفِرۡ لَنَا رَبَّنَآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ٥﴾ [الممتحنة: ٥]

46- "Rabbanā lā taj'alnā fitnatan lillażīna kafarū wagfir lanā rabbanā innaka antal-'azīzul-ḥakīm."

(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (sasaran) fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami, ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana). [QS. Al-Mumtaḥanah: 5].

47- ﴿رَّبِّ ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِمَن دَخَلَ بَيۡتِيَ مُؤۡمِنٗا وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِۖ ...﴾ [نوح: ٢٨]

47- "Rabbigfir-lī wa li wālidayya wa liman dakhala baitiya mu`minan wa lil-mu`minīna wal-mu`mināt."

(Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu-bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan). [QS. Nūḥ: 28].

48- ﴿... رَبَّنَآ أَتۡمِمۡ لَنَا نُورَنَا وَٱغۡفِرۡ لَنَآۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ٨﴾ [التحريم: ٨]

48- "Rabbanā atmim lanā nūranā wagfir lanā innaka 'alā kulli syai`in qadīr."

(Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu). [QS. At-Taḥrīm: 8].

٤٩- « اللهم اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ».

49- "Allāhummah-dinī limakh-tulifa fīhi minal-haqqi bi`iżnika, innaka tahdī man tasyā`u ilā ṣirāṭim-mustaqīm."

(Ya Tuhanku, berilah petunjuk kepadaku tentang kebenaran yang mereka perselisihkan dengan izin-Mu, sungguh Engkau memberi petunjuk kepada siapa pun yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus).11

٥٠- «اللهم آتِني الحِكْمَةَ الَّتي مَنْ أُوتِيَهَا فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا».

50- "Allāhumma ātinil-ḥikmah allatī man ūtīhā faqad ūtiya khairan kaṡīran."

(Ya Tuhanku berikanlah aku hikmah yang siapa pun diberikan hikmat itu kepadanya, maka ia telah mendapatkan kebaikan yang banyak).12

٥١- «اللهم ثَبِّتْنِي بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ».

51- "Allāhumma ṡabbitnī bil-qauliṡ-ṡābit fil-ḥāyātid-dun-yā wa fil-ākhirah."

(Ya Allah teguhkanlah aku dengan ucapan yang teguh di dunia dan akhirat).13

٥٢- «اللهم حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ ».

52- "Allāhumma ḥabbib ilainal-īmāna wa zayyinhu fi qulūbinā, wa karrih ilainal-kufra wal-fusūqa wal-'iṣyāna waj'alnā minar-rāsyidīn."

(Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada keimanan, dan jadikan (iman) itu indah dalam hati kami, jadikanlah kami benci terhadap kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan, dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus).14

٥٣- «اللهم قِنِي شُحَّ نَفْسِي وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُفْلِحِينَ ».

53- "Allāhumma qinī syuḥḥa nafsī waj'alnī minal-mufliḥīn."

(Ya Allah, lindungilah aku dari kekikiran diriku sendiri, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang beruntung).15

54- «اللهم آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ».

54- "Allāhumma ātinā fid-dun-yā ḥasanatan wa fil-ākhirati ḥasanatan wa qinā 'ażābannār."

(Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari api neraka).16

55- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَفِتْنَةِ الْقَبْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ، وَشَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى، وَشَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ قَلْبِي بِمَاءِ الثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّ قَلْبِي مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ».

55- "Allāhumma innī a'użubika min fitnatin-nār wa 'ażābinnār, wa fitnatil-qabri, wa syarri fitnatil-ginā, wa syarri fitnatil-faqri. Allāhumma innī a'ūżubika min syarri fitnatil-masīḥid-dajjāl. Allāhummagsil qalbī bimā`iṡṡalji wal-barad, wa naqqi qalbī minal-khaṭāyā kamā naqqaitaṡ-ṡaubal-abyaḍa minad-danas, wa bā'id bainī wa baina khaṭāyāya kamā bā'adta bainal-masyriqi wal-magribi. Allāhumma innī a'ūżubika minal-kasali wal-ma`ṡami wal-magrami."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan azab neraka, fitnah kubur dan azab kubur, dari keburukan fitnah kekayaan, dan keburukan fitnah kefakiran. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Ya Allah, basuhlah hatiku dengan es dan salju, dan bersihkan hatiku dari dosa-dosa sebagaimana Engkau membersihkan pakaian putih dari noda. Jauhkanlah antara aku dan dosaku, sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, dosa, dan lilitan utang).17

56- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْهَرَمِ، والْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ».

56- "Allāhumma innī a'ūżubika minal-'ajzi wal-kasali wal-jubni wal-harami wal-bukhli wa a'ūżubika min 'ażābil-qabri wa min fitnatil maḥyā wal-mamāti."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, ketuaan, kekikiran, dan aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian).18

57- «اللهم إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ، وَدَرَكِ الشَّقَاءِ، وَسُوءِ الْقَضَاءِ، وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ».

57- "Allāhumma innī a'ūżubika min jahdil-balā` wa darakisy-syaqā` wa sū`il-qaḍā`, wa syamātatil-a'dā`i."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang menghimpit, takdir yang buruk, serta kegembiraan musuh).19

58- «اللهم أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ».

58- "Allāhumma aṣliḥ lī diniyallażi huwa 'iṣmatu amrī, wa aṣliḥ lī dun-yāyal-latī fīhā ma'āsyī, wa aṣliḥ lī ākhiratiyal-latī fīhā ma'ādī, waj'alil-ḥayāta ziyādatan lī fī kulli khairin, waj'alil-mauta rāḥatan lī min kulli syarrin."

(Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan benteng urusanku, perbaiki duniaku yang merupakan tempat hidupku, perbaiki akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikan kehidupanku sebagai tambahan dalam setiap kebaikan, dan jadikan kematianku sebagai peristirahatan dari segala keburukan).20

59- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى».

59- "Allāhumma innī as`alukal-hudā wattuqa wal-'afāfa wal-ginā."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaaan, penjagaan terhadap kehormatan, dan kekayaan).21

60- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ، وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ، وَالْبُخْلِ، وَالْهَرَمِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ، اللهم آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا».

60- "Allāhumma innī a'ūżubika minal-'ajzi wal-kasali wal-jubni wal-bukhli wal-harami, wa 'ażābil-qabri. Allāhumma āti nafsī taqwāhā, wa zakkihā anta khairu man zakkāhā, anta waliyyuhā wa maulāhā. Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ilmin lā yanfa' wa min qalbin lā yakhsya' wa min nafsin lā tasyba' wa min da'watin lā yustajābu lahā."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, ketuaan, dan azab kubur. Ya Allah, berikanlah jiwaku ketakwaan dan sucikanlah, karena hanya Engkau sebaik-baik yang menyucikannya, Engkau pelindung dan penolongnya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, nafsu yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabul).22

61- «اللهم اهْدِنِي وَسَدِّدْنِي، اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ».

61- "Allāhummah-dinī wa saddidnī, allāhumma innī as`alukal-hudā was-sadāda."

(Ya Allah, berilah aku petunjuk dan kebenaran (dalam beramal). Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk dan benar dalam beramal).23

62- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ».

62- "Allāhumma innī a'ūżu bika min zawāli ni'matika wa taḥawwuli 'āfiyatika wa fujā`ati niqmatika wa jamī'i sakhaṭika."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kehilangan hikmat-Mu, perubahan keselamatan dari-Mu, siksa-Mu yang tiba-tiba, dan seluruh murka-Mu).24

63- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلْتُ، وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ أَعْمَلْ».

63- "Allāhumma innī a'ūżu bika min syarri mā 'amiltu wa min syarri mā lam a'mal."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah kuperbuat dan keburukan apa yang tidak kuperbuat).25

64- «اللهم أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي»، « [وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي] وَاغْفِرْ لِي».

64- "Allāhumma akṡir mālī wa waladī, wa bārik lī fīmā a'ṭaitanī. Wa aṭil ḥayātī 'alā ṭā'atika wa aḥsin 'amalī, wagfir-lī."

(Ya Allah, perbanyaklah hartaku dan anakku, dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadaku.26 [Panjangkanlah hidupku di atas ketaatan kepada-Mu dan perbaiki amalanku], serta ampunilah aku).27

65- «لَا إلهَ إِلَّا اللهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلهَ إِلَّا اللهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ».

65- "Lā ilāha illallāhul 'aẓīmul ḥalīm, lā ilāha illallāhurabbul 'arsyil 'aẓīm, lā ilāha illallāhu rabbus-samāwāti wa rabbul 'arḍi wa rabbul 'arsyil karīm."

(Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung, Maha Penyantun, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan Arasy yang agung, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan langit dan Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang mulia).28

66- «اللهم رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ».

66- "Allāhumma raḥmataka arjū, falā takilnī ilā nafsī ṭarfata 'ain, wa aṣliḥ lī sya`nī kullahu, lā ilāha illā anta."

(Ya Allah, aku berharap rahmat-Mu, janganlah Engkau membiarkanku walau sekejap mata, dan perbaiki semua urusanku, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau).29

67- «لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ».

67- "Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓẓālimīn."

(Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim).30

68- «اللهم إِنِّي عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي».

68- "Allāhumma innī 'abduka, ibnu 'abdika, ibnu amatik, nāṣiyatī biyadik, māḍin fiyya ḥukmuka, 'adlun fiyya qaḍā`uka. As`aluka bi kullismin huwa laka, sammaita bihi nafsaka, auw anzaltahu fī kitābika, auw 'allamtahu aḥadan min khalqika, auw ista`ṡarta bihi fī 'ilmil-gaib 'indaka, an taj'alal-Qur`āna rabī'a qalbī wa nūra ṣadrī, wajalā`a ḥuznī, wa żahāba hammī."

(Ya Allah, sungguh aku hamba-Mu, anak hamba laki-lakimu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubun-Ku di tangan-Mu, hukum-Mu berlaku kepadaku, ketetapan-Mu adil terhadap diriku, aku memohon kepada-Mu melalui semua nama-Mu yang Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau Engkau turunkan melalui kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang dari kalangan makhluk-Mu, atau hanya Engkau yang mengetahuinya dalam ilmu gaib di sisi-Mu, mohon jadikanlah Al-Qur`an ini sebagai penyenang hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, serta hilangnya kegelisahanku).31

69- «اللهم مُصَرِّفَ القُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ».

69- "Allāhumma muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā 'alā ṭā'atika."

(Ya Allah, Zat yang mengendalikan hati, arahkanlah hati kami kepada ketaatan kepada-Mu).32

70- «يَا مُقَلِّبَ القُلُوبِ ثَبِّت قَلْبِي عَلَى دِينِكَ».

70- "Yā muqallibal-qulūb, ṡabbit qalbī 'alā dīnika."

(Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).33

71- «اللهم إنِّي أسْألُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ».

71- "Allāhumma innī as`alukal-'āfiyata fid-dun-yā wal-ākhirah."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat).34

72- «اللهمّ أحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا، وَأجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ».

72- "Allāhumma aḥsin 'āqibatanā fil-umūri kullihā wa ajirnā min khizyid-dun-yā wa 'ażābil-ākhirah."

(Ya Allah, jadikanlah kesudahan segala urusan kami itu baik, dan lindungilah kami dari kehinaan dunia dan siksa akhirat).35

73- «رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرِ الهُدَى إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ، رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا، لَكَ ذَكَّارًا، لَكَ رَهَّابًا، لَكَ مِطْوَاعًا، إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوَّاهًا مُنِيبًا، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي».

73- "Rabbi a'innī wa lā tu'in 'alayya, wan-ṣurnī wa lā tanṣur 'alayya, wamkur lī wa lā tamkur 'alayya, wahdinī wayassiril-hudā ilayya, wanṣurni 'alā man bagā 'alayya, rabbij'alnī laka syakkāran, laka żakkāran, laka rahhāban, laka miṭwā'an, ilaika mukhbitan, awwāhan munīban, rabbi taqabbal taubatī, wagsil ḥaubatī, wa ajib dakwatī, wa ṡabbit hujjatī, wahdi qalbī, wa saddid lisānī, waslul sakhīmata qalbī."

(Wahai Tuhanku, bantulah aku dan jangan Engkau membantu (orang lain) mengalahkanku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong (orang lain) mengalahkanku, berilah taktik untuk mengalahkan mereka, jangan Engkau memberikan taktik (kepada orang lain) untuk mengalahkanku, berilah aku petunjuk dan permudahlah untuk meraih petunjuk, tolonglah aku untuk mengalahkan orang yang menzalimiku.

Wahai Tuhanku jadikanlah aku hamba yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak berzikir kepada-Mu, sangat takut kepada-Mu, sangat taat kepada-Mu. Jadikanlah aku patuh, tunduk, pasrah kepada-Mu.

Wahai Tuhanku, terimalah tobatku, basuhlah dosaku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujjahku, berilah petunjuk hatiku, luruskanlah lisanku, dan hilangkanlah penyakit dalam hatiku).36

74- «اللهم إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ ﷺ، وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا اسْتَعَاذَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ ﷺ ، وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ، وَعَلَيْكَ الْبَلَاغُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ».

74- "Allāhumma innā nas`aluka min khairi mā sa`alaka minhu nabiyyuka muḥammadun ﷺ, wa na'ūżu bika min syarri mā ista'āża minhu nabiyyuka muḥammadun ﷺ, wa antal-musta'ān, wa 'alaikal-balāgu, walā ḥaula wa lā quwwata illā billāh."

(Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh Nabi-Mu Muhammad ﷺ, dan kami berlindung kepada-Mu dari apa yang Nabi-Mu Muhammad ﷺ berlindung darinya, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan, dan hanya kepada-Mu kami mengadu, dan tidak daya serta upaya kecuali dengan pertolongan Allah).37

75- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي».

75- "Allāhumma innī a'ūżu bika min syarri sam'ī, wa min syarri baṣarī, wa min syarri lisānī, wa min syarri qalbī, wa min syarri maniyyī."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, keburukan penglihatanku, keburukan lisanku, keburukan hatiku, dan dari keburukan air maniku (kemaluanku)).38

76- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبَرَصِ، وَالْجُنُونِ، وَالْجُذَامِ، وَمِنْ سَيِّئِ الأَسْقَامِ».

76- "Allāhumma innī a'ūżu bika minal-baraṣi, wal-junūni, wal-jużāmi, wa min sayyi`il-asqām."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kusta, gila, lepra, dan dari penyakit-penyakit yang buruk).39

77- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالْأَهْوَاءِ».

77- "Allāhumma innī a'ūżubika min munkarātil-akhlāq wal-a'māl wal-ahwā`."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak dan amal perbuatan yang mungkar serta hawa nafsu).40

78- «اللهم إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي».

78- "Allāhumma innaka 'afuwwun karīm tuḥibbul-'afwa fa-'fu 'annī."

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Pemurah, Engkau menyukai maaf, maka maafkanlah aku).41

79- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ».

79- "Allāhumma innī as`aluka fi'lal-khairāt wa tarkal-munkarāt wa hubbal-masākīn wa antag-firalī wa tarḥamanī, wa iżā aradta fitnata qaumin fatawaffanī gaira maftūnin, wa as`aluka ḥubbaka wa ḥubba man yuḥibbuka wa ḥubba 'amalin yuqarribunī ilā ḥubbika."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar mudah mengerjakan kebajikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan ampunilah aku, rahmatilah aku. Jika Engkau hendak menimpakan fitnah terhadap suatu kaum, wafatkanlah aku dalam kondisi tidak terfitnah, dan aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, kecintaan orang yang mencintai-Mu, dan kecintaan terhadap amalan yang mendekatkanku kepada kecintaan kepada-Mu).42

80- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ: عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ. اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ [مَا اسْتَعَاذَ بِكَ] [مِنْهُ] عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ. اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ، وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا».

80- "Allāhumma innī as`aluka minal-khairi kullihi, 'ājilihi wa ājilih, mā 'alimtu minhu wa mā lam a'lam; wa a'ūżu bika minasy-syarri kullihi, 'ājilihi wa ājilih, mā 'alimtu minhu wa mā lam a'lam. Allāhumma innī as`aluka min khairi mā sa`alaka minhu 'abduka wa nabiyyuka, wa a'ūżu bika min syarri [mas-ta'āża bika] [minhu] 'abduka wa nabiyyuka. Allāhumma innī as'alukal jannata wa mā qarraba ilaihā min qaulin aw 'amalin; wa a'ūżu bika minan-nāri wa mā qarraba ilaihā min qaulin aw 'amalin; wa as`aluka antaj'ala kulla qaḍā`in qadaitahu lī khairan."

(Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan semuanya, baik yang cepat maupun yang lambat, baik yang saya ketahui maupun yang tidak saya ketahui.

Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikan yang diminta oleh hamba-Mu dan Nabi-Mu; dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan [yang hamba dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu] [darinya].

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan apa saja yang mendekatkan kepadanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan; dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa saja yang mendekatkan kepadanya, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Aku juga memohon kepada-Mu untuk menjadikan setiap takdir (keputusan) yang Engkau tetapkan untukku adalah baik).43

81- «اللهم احْفَظنِي بالإِسْلاَمِ قائِمًا، واحْفَظْنِي بالإِسْلاَمِ قاعِدًا، واحْفَظنِي بالإِسْلاَمِ راقِدًا، ولَا تُشْمِتْ بِي عَدُوًّا ولَا حَاسِدًا. اللهم إِنِّي أسْألُكَ مِنْ كُلِّ خَيْرٍ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ، وأعُوذُ بِكَ مِنْ كُلِّ شَرٍّ خَزَائِنُهُ بِيَدِكَ».

81- "Allahummah-faẓnī bil-islāmi qā`iman, waḥ-faẓnī bil-islāmi qā'idan, waḥ-faẓnī bil-islāmi rāqidan, wa lā tusymit bī 'aduwwan wa lā ḥāsidan. Allāhumma innī as`aluka min kulli khairin khazā`inuhu biyadika, wa a'ūżubika min kulli syarrin khazā`inuhu biyadika."

(Ya Allah, jagalah aku tetap dalam keislaman ketika berdiri, jagalah aku tetap dalam keislaman saat duduk, jagalah aku tetap dalam keislaman ketika tidur, jangan Engkau jadikan aku mengalami hal yang membuat musuhku dan yang hasad terhadapku senang.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang perbendaharaannya di Tangan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang perbendaharaannya di Tangan-Mu).44

82- «اللهم اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا، اللهم مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا».

82- "Allāhumma-qsim lanā min khasy-yatika mā taḥūlu bihī bainanā wa baina ma'āṣīk, wa min ṭā'atika mā tuballigunā bihī jannataka, wa minal-yaqīni mā tuhawwinu bihī 'alainā maṣā`ibad-dun-yā. Allāhumma matti'nā bi asmā'inā wa abṣārinā wa quwwātinā mā aḥyaitanā, waj'alhul-wāriṡa minnā, waj'al ṡa`ranā 'alā man ẓalamanā, wanṣurnā 'alā man 'ādānā, wa lā taj'al muṣībatanā fī dīninā, wa lā taj'alid-dun-yā akbara hamminā wa lā mablaga 'ilminā, wa lā tusalliṭ 'alainā man lā yarḥamunā."

(Ya Allah, berikanlah kepada kami rasa takut kepada-Mu yang akan mencegah kami berbuat maksiat kepada-Mu. Anugerahkanlah kepada kami ketaatan kepada-Mu yang akan mengantarkan kami kepada surga-Mu. Anugerahkanlah kepada kami keyakinan yang akan meringankan ujian dunia bagi kami.

Ya Allah, berikanlah kami kenikmatan dan manfaat pada pendengaran kami, penglihatan kami, dan kekuatan kami, selama Engkau menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai pewaris kami. Jadikanlah pembalasan kami terhadap orang yang menzalimi kami, dan tolonglah kami atas orang-orang yang memusuhi kami. Janganlah Engkau timpakan musibah pada agama kami, dan jangan jadikan dunia tujuan terbesar kami dan jangan pula tujuan akhir ilmu kami. Janganlah Engkau timpakan kepada kami penguasa yang tidak menyayangi kami)45

83- «اللهم إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الجُبْنِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنَ البُخْلِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ أنْ أُرَدَّ إِلَى أَرْذَلِ العُمُرِ، وَأعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ القَبْرِ».

83- "Allāhumma innī a'ūżubika minal-jubni, wa a'ūżubika minal-bukhli, wa a'ūżubika min an uradda ilā arżalil-'umuri, wa a'ūżubika min fitnatid-dun-yā wa ażābil-qabri."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut, dan aku berlindung dari sifat kikir, aku berlindung kepada-Mu dari dikembalikan ke usia yang paling rendah (pikun), dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah dunia dan azab kubur).46

84- «اللهم اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي، وَجَهْلِي، وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللهم اغْفِرْ لِي هَزْلِي، وَجِدِّي، وَخَطَئِي، وَعَمْدِي، وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي».

84- "Allāhummag firlī khaṭī`atī wa jahlī wa isrāfī fī amrī wa mā anta a'lamu bihī minnī. Allāhumagfir lī hazlī wa jiddī wa khaṭa`ī wa 'amdī, wa kullu żālika 'indī."

(Ya Allah, ampunilah untukku dosa-dosaku, kebodohanku, urusanku yang berlebihan, dan ampunilah semua hal yang Engkau lebih tahu mengenainya daripada aku.

Ya Allah, ampunilah dosaku yang aku lakukan dengan bercanda dan serius, kesalahanku, serta kesengajaanku; semuanya itu ada padaku).47

85- «اللهم إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا، وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ. فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ، وَارْحَمْنِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ».

85- "Allāhumma innī ẓalamtu nafsī ẓulman kaṡīran, wa lā yagfiruż-żunūba illā anta, fa-gfir lī magfiratan min 'indika, warḥamnī, innaka antal-gafūrur-raḥīm."

(Ya Allah, sungguh aku telah menzalimi diriku dengan kezaliman yang banyak, dan tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau, maka berilah aku ampunan dari sisi-Mu dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun, Maha Penyayang).48

86- «اللهم لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ. اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِعِزَّتِكَ لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ أَنْ تُضِلَّنِي، أَنْتَ الْحَيُّ الَّذِي لَا يَمُوتُ، وَالْجِنُّ وَالْإِنْسُ يَمُوتُونَ».

86- "Allāhumma laka aslamtu, wa bika āmantu, wa 'alaika tawakkaltu, wa ilaika anabtu, wa bika khāṣamtu. Allāhumma innī a'ūżu bi'izzatika, lā ilāha illā anta, an tuḍillanī, antal-ḥayyullażī lā yamūt, wal-jinnu wal-insu yamūtūn."

(Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, kepada-Mu aku beriman, kepada-Mu aku bertawakal, kepada-Mu aku kembali, dan dengan pertolongan-Mu aku melawan musuh.

Ya Allah, aku berlindung dengan kemuliaan-Mu, tidak ada sembahan yang benar kecuali Engkau, janganlah Engkau menyesatkanku. Engkau Yang Maha Hidup yang tidak akan mati, sedangkan jin dan manusia pasti akan mati).49

87- «اللهم إنَّا نَسْألُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزائِمَ مَغْفِرَتِكَ، والسَّلَامَةَ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ، والغَنِيمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ، والفَوْزَ بالجَنَّةِ، والنَّجاةَ مِنَ النَّارِ».

87- "Allāhumma innā nas`aluka mūjibāti raḥmatika, wa 'azā`ima magfiratika, was-salāmata min kulli iṡmin, wal-ganīmata min kulli birr, wal-fauza bil-jannah, wan-najāta minan-nār."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu amalan yang mendatangkan rahmat-Mu, amalan yang mendatangkan ampunan-Mu, keselamatan dari semua dosa, keuntungan dari semua kebaikan, memperoleh kemenangan surga, dan keselamatan dari api neraka).50

88- «اللهم اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ».

88- "Allāhummagfir lilmu`minīna wal-mu`mināt."

(Ya Allah, ampunilah kaum mukmin laki-laki dan perempuan).51

89- «اللهم اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَسِّعْ لِي فِي دَارِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا رَزَقْتَنِي».

89- "Allāhummag-firlī żanbī wa wassi' lī fī dārī wa bārik lī fīmā razaqtanī."

(Ya Allah, ampunilah dosaku, luaskanlah rumahku, dan berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepadaku).52

90- «اللهم إنِّي أَسْأَلُك مِنْ فَضْلِكَ وَرَحْمَتِكَ؛ فَإِنَّهُ لَا يَمْلِكُهَا إِلَّا أَنْتَ».

90- "Allāhumma innī as`aluka min faḍlika wa raḥmatika; fa innahu lā yamlikuhā illā anta."

(Ya Allah, aku memohon karunia-Mu dan rahmat-Mu; sungguh tidak ada yang memilikinya kecuali Engkau).53

91- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الهَرَمِ، وَالتَّرَدِّي، وَالْهَدْمِ، وَالْغَمِّ، وَالْغَرَقِ، وَالْحَرَقِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ يَتَخَبَّطَنِيَ الشَّيْطَانُ عِنْدَ الْمَوْتِ، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ فِي سَبِيلِكَ مُدْبِرًا، وَأَعُوذُ بِكَ أَنْ أَمُوتَ لَدِيغًا».

91- "Allāhumma innī a'ūżubika minal-harami, wat-taraddī, wal-hadmi, wal-gammi, wal-garaqi, wal-ḥaraqi, wa a'ūżubika an yatakhabbaṭanisy-syaiṭānu 'indal-maut, wa a'ūżubika an amūta fī sabīlika mudbiran, wa a'ūżubika an amuta ladīgan."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ketuaan, jatuh dari ketinggian, keruntuhan bangunan, kesedihan, tenggelam, kebakaran, dan aku berlindung kepada-Mu dari godaan setan ketika hendak mati, dan aku berlindung kepada-Mu mati dalam kondisi kabur dari medan perang di jalan-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari sengatan binatang berbisa).54

92- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُوعِ؛ فَإِنَّهُ بِئْسَ الضَّجِيعُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخِيَانَةِ؛ فَإِنَّهَا بِئْسَتِ الْبِطَانَةُ».

92- "Allāhumma innī a'ūżu bika minal-jū', fa innahu bi`saḍ-ḍajī', wa a'ūżu bika minal-khiyānah, fa innahā bi`satil-biṭānah."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelaparan karena ia sejelek-jelek teman tidur, dan aku berlindung kepada-Mu dari khianat karena ia seburuk-buruk kawan dekat).55

93- «اللهم إنِّي أعُوذُ بِكَ مِنَ العَجْزِ، والكَسَلِ، والجُبْنِ، والبُخْلِ، والهَرَمِ، والقَسْوَةِ، والغَفْلَةِ، والعَيْلَةِ، والذِّلَّةِ، والمَسْكَنَةِ، وأعُوذُ بِكَ مِنَ الفَقْرِ، والكُفْرِ، والفُسُوقِ، والشِّقاقِ، والنِّفاقِ، والسُّمْعَةِ، والرِّياءِ، وأعُوذُ بِكَ مِنَ الصَّمَمِ، والبَكَمِ، والجُنُونِ، والجُذامِ، والبَرَصِ، وَسَيِّىءِ الأَسْقامِ».

93- "Allāhumma innī a'ūżu bika minal-'ajzi wal-kasali wal-jubni wal-bukhli wal-harami wal-qaswati wal-gaflati wal-'ailati waż-żillati wal-maskanati, wa a'ūżu bika minal-faqri wal-kufri wal-fusūqi wasy-syiqāq wan-nifāq was-sum'ah war-riyā`, wa a'ūżu bika minaṣ-ṣamami wal-bukmi wal-junūni wal-jużāmi wal-baraṣi wa sayyi`il-asqām."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, kekikiran, ketuaan, kerasnya hati, kelalaian, kemiskinan, kehinaan, dan keterpurukan; dan aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekafiran, kefasikan, pertengkaran, kemunafikan, sifat ingin didengar orang, dan riya; dan aku berlindung kepada-Mu dari ketulian, kebisuan, kegilaan, lepra, kusta, dan penyakit-penyakit yang buruk).56

94- «اللهم إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفَقْرِ، وَالْقِلَّةِ، وَالذِّلَّةِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ أَظْلِمَ أو أُظْلَمَ».

94- "Allāhumma innī a'ūżu bika minal-faqri, wal-qillati waż-żillati, wa a'ūżu bika min an aẓlima aw uẓlama."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, kekurangan, kehinaan, dan aku berlindung kepada-Mu dari berbuat zalim atau dizalimi).57

95- «اللهم إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ فِي دَارِ الْمُقَامَةِ؛ فَإِنَّ جَارَ الْبَادِيَةِ يَتَحَوَّلُ».

95- "Allāhumma innī a'ūżu bika min jāris-sū` fī dāril-muqāmati; fa inna jāral-bādiyati yataḥawwal."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang berperilaku buruk di tempat domisili; sungguh tetangga seorang badui; ia tidak akan menetap lama).58

96- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، ومِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَؤُلَاءِ الأَرْبَعِ».

96- "Allāhumma innī a'ūżu bika min qalbin lā yakhsa' wa min du'ā`in lā yusma' wa min nafsin lā tasyba' wa min 'ilmin lā yanfa', wa a'ūżu bika min hā`ulā`il-arba'."

(Ya Allah, aku berlindung dari hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah puas, ilmu yang tidak bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara tersebut).59

97- «اللهم إنّي أعُوذُ بِكَ مِنْ يَوْمِ السُّوءِ، وَمِنْ لَيْلَةِ السُّوءِ، وَمِنْ سَاعَةِ السُّوءِ، وَمِنْ صَاحِبِ السُّوءِ، وَمِنْ جَارِ السُّوءِ في دَارِ الْمُقامَةِ».

97- "Allāhumma innī a'ūżu bika min yaumis-sū` wa min lailatis-sū` wa min sā'atis-sū` wa min ṣāḥibis-sū` wa min jāris-sū` fī dāril-muqāmati."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hari yang buruk, malam yang buruk, waktu yang buruk, kawan yang buruk, dari tetangga yang buruk di tempat domisili).60

98- «اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَأَسْتَجِيْرُ بِكَ مِنَ النَّارِ».

98- "Allāhumma innī as`alukal-jannata wa astajīru bika minan-nār."

(Ya Allah, aku memohon surga kepada-Mu dan memohon perlindungan kepada-Mu dari neraka). [dibaca tiga kali].61

99- «اللهم فَقِّهْنِي فِي الدِّينِ».

99- "Allāhumma faqqihnī fid-dīn."

(Ya Allah, jadikanlah aku paham agama).62

100- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا أَعْلَمُ».

100- "Allāhumma innī a'ūżubika an usyrika bika wa ana a'lam, wa astagfiruka limā lā a'lam."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari berbuat syirik sementara aku mengetahuinya, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas perbuatan yang belum kuketahui).63

101- «اللهم انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا».

101- "Allāhumman-fa'nī bimā 'allamtanī wa 'allimnī mā yanfa'unī wa zidnī 'ilman."

(Ya Allah, jadikanlah apa yang Engkau ajarkan kepadaku bermanfaat dan ajarkanlah apa yang bermanfaat untukku serta tambahkanlah ilmu kepadaku).64

102- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا».

102- "Allāhumma innī as`aluka 'ilman nāfi'an wa rizqan tayyiban wa 'amalan mutaqabbalan."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan rezeki yang baik serta amalan yang diterima).65

103- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا اللهُ بِأَنَّكَ الْوَاحِدُ الْأَحَدُ، الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ، أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي، إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ».

103- "Allāhumma innī as`aluka yā Allāh, bi annakal-wāḥidu al-aḥaduṣ-ṣamad, al-lażī lam yalid wa lam yūlad, wa lam yakun lahū kufuwan aḥad, an tagfira lī żunūbī, innaka antal-gafūrur-raḥīm."

(Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, ya Allah, Engkau Zat Yang Maha Esa, tempat meminta segala sesuatu, yang tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, tidak ada satu pun yang setara dengan-Mu, agar Engkau mengampuni dosa-dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).66

104- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ [وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ] الْمَنَّانُ [يَا] بَدِيعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، إِنِّي أَسْأَلُكَ [الْجَنَّةَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ]».

104- "Allāhumma innī as`aluka bi anna lakal-ḥamda, lā ilāha illā anta [waḥdaka lā syarīka laka] al-mannān, [yā] badī'as-samāwāti wal-arḍi, yā żal-jalāli wal-ikrāmi, yā ḥayyu ya qayyūmu, innī as`aluka [al-jannata wa a'ūżubika minan-nār]."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu, segala pujian hanya milik-Mu, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau [saja tidak ada sekutu bagi-Mu] Maha Memberi. [Wahai] Zat Yang Menciptakan langit dan bumi, Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan, Maha Hidup, Maha Mengurus (makhluk-Nya) terus-menerus, aku memohon kepada-Mu [surga dan berlindung kepada-Mu dari neraka]).67

105- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللهُ لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ، الأَحَدُ، الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ، وَلَمْ يُولَدْ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ».

105- "Allāhumma innī as`aluka bi annī asyhadu annaka antallāhu lā ilāha illā anta, al-aḥaduṣ-ṣamad, allażī lam yalid wa lam yūlad, wa lam yakun lahū kufuwan aḥad."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu bahwa aku bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau, Zat Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satu pun setara dengan-Nya).68

106- «رَبِّ اغْفِرْ لِي، وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ».

106- "Rabbigfir lī, wa tub 'alayya innaka antat-tawwābul-gafūr."

(Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah tobatku, sungguh Engkau Maha Menerima tobat dan Maha Pengampun).69

107- «اللهم بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ، وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ، أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي، اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعْ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَا بَعَدَ الْقَضَاءِ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ، وَأَسْأْلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إلَى وَجْهِكَ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ، اللهم زَيِّنَّا بِزِينَةِ الإِيمَانِ، وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ».

107- "Allāhumma bi'ilmikal gaiba wa qudratika 'alal-khalqi, aḥyinī mā 'alimtal-ḥayāta khairan lī, watawaffanī iżā 'alimtal wafāta khairan lī. Allāhumma innī as`aluka khasyyataka fil gaibi wasy-syahādati, wa as`aluka kalimatal haqqi fir-riḍā wal-gaḍab, wa as`alukal-qaṣda fil ginā wal-faqri, wa as`aluka na'īman lā yanfad, wa as`aluka qurrata 'ainin lā tanqaṭi', wa as`alukar-riḍā ba'dal qaḍā`, wa as`aluka bardal-'aisyi ba'dal-maut, wa as`aluka lażżatan-naẓari ilā wajhika wasy-syauqi ilā liqā`ika fi gairi ḍarrā`a muḍirratin, wa lā fitnatin muḍillatin. Allāhumma zayyinnā bizīnatil-īmān, waj'alnā hudātan muhtadīn."

(Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas perkara gaib, dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, biarkanlah aku tetap hidup jika Engkau mengetahui bahwa hidup lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar aku takut kepada-Mu, baik di tempat tersembunyi maupun terang-terangan. Aku memohon pada-Mu agar dapat berkata benar di waktu rida atau marah. Aku mohon kepada-Mu agar tetap bisa sederhana dalam keadaan kaya atau fakir, aku mohon kepada-Mu kenikmatan yang tidak habis, penyejuk hati yang tidak terputus. Aku mohon kepada-Mu agar bisa rida setelah menerima ketetapan-Mu. Aku memohon kepada-Mu ketenangan setelah mati, serta kenikmatan memandang wajah-Mu (di surga), rindu bertemu dengan-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan.

Ya Allah, hiasilah kami dengan iman, dan jadikanlah kami sebagai penunjuk (jalan) yang lurus yang memperoleh bimbingan dari-Mu).70

108- «اللهم ارزُقني حُبَّكَ، وحُبَّ مَنْ يَنْفَعُني حُبُّهُ عندَك، اللهم مَا رَزَقْتَني مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ قُوَّةً لِي فِيمَا تُحِبُّ، اللهم مَا زَوَيْتَ عَنِّي مِمَّا أُحِبُّ فَاجْعَلْهُ فَرَاغًا لِي فِيمَا تُحِبُّ».

108- "Allāhummar-zuqnī ḥubbaka wa ḥubba man yanfa'unī ḥubbuhu 'indak. Allāhumma mā razaqtanī mimmā uḥibbu faj'alhu quwwatan lī fīmā tuḥib. Allāhumma mā zawaita 'annī mimmā uḥibbu faj'alhu farāgan lī fīmā tuḥibbu."

(Ya Allah, berilah aku rasa cinta kepada-Mu dan cinta kepada siapa pun yang cintaku kepadanya bermanfaat di sisi-Mu.

Ya Allah, apa yang sudah Engkau berikan kepadaku berupa rasa cinta kepada sesuatu, jadikanlah ia sebagai kekuatanku untuk bisa mengerjakan apa pun yang Engkau cinta. Ya Allah, apa pun yang Engkau jauhkan dariku dari berbagai hal yang aku cintai, maka jadikanlah itu sebagai kelapangan bagiku untuk melakukan hal yang Engkau cintai).71

109- «اللهم طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا، اللهم نَقِّنِي مِنْهَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ، اللهم طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ».

109- "Allāhumma ṭahhirnī minaż-żūnubi wal-khaṭāyā. Allāhumma naqqinī minhā kamā yunaqqaṡ-ṡaubul-abyaḍu minad-danas. Allāhumma ṭahhirnī biṡ-ṡalji wal-baradi wal-mā`il-bārid."

(Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan.

Ya Allah, bersihkanlah aku dari dosa-dosa itu seperti pakaian putih yang dibersihkan dari noda.

Ya Allah, sucikanlah aku dengan salju, es, dan air dingin).72

110- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْبُخْلِ، وَالْجُبْنِ، وَسُوءِ الْعُمُرِ، وَفِتْنَةِ الصَّدْرِ، وَعَذَابِ الْقَبْرِ».

110- "Allāhumma innī a'ūżubika minal-bukhli waljubni, wa sū`il-'umuri wa fitnatiṣ-ṣadri wa 'ażābil-qabri."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, pengecut, umur yang buruk (pikun), penyakit hati, dan azab kubur).73

111- «اللهم رَبَّ جِبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَرَبَّ إِسْرَافِيلَ، أَعُوذُ بِكَ مِنَ حَرِّ النَّارِ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ».

111- "Allāhumma rabba jibrā`īl wa mīkā`il wa rabba isrāfīl, a'ūżubika min ḥarrin-nār wa min 'ażābil-qabri."

(Ya Allah, Tuhan Jibril dan Mika`il dan Tuhan Israfil, aku berlindung kepada-Mu dari panasnya neraka dan azab kubur).74

112- «اللهم أَلْهِمْنِي رُشْدِي، وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي».

112- "Allāhumma alhimnī rusydī wa a'iżnī min syarri nafsī."

(Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku petunjuk ke jalan yang lurus dan lindungi aku dari keburukan jiwaku sendiri).75

113- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ».

113- "Allāhumma innī as`aluka 'ilman nāfi'an wa a'ūżubika min 'ilmin lā yanfa',"

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).76

114- «اللهم رَبَّ السَّمَوَاتِ [السَّبْعِ] وَرَبَّ الْأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللهم أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ».

114- "Allāhumma rabbas-samāwāti [as-sab'i], wa rabbal-`arḍi, wa rabbal-'arsyil 'azīm, rabbanā wa rabba kulli sya`in, fāliqal ḥabbi wan-nawā, wa munzilat-taurāti wal-injīl wal-furqān, a'ūżubika min syarri kulli sya`in anta ākhiżun bināṣiyatihi. Allāhumma antal awwalu fa laisa qablaka syai`, wa antal ākhiru fa laisa ba'daka syai`, wa antaẓ-ẓāhiru fa laisa fauqaka syai`, wa antal-bāṭinu fa laisa dūnaka syai`, iqḍi 'annad-dayna wa agninā minal faqri."

(Ya Allah, Tuhan [tujuh lapis] langit dan Tuhan bumi, Tuhan Arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, yang membelah butir (biji-bijian) dan inti (biji) kurma dan yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur`an; aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya (menguasainya).

Ya Allah, Engkau Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, dan Engkau Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu, Engkau Yang Zahir tidak ada sesuatu di atas-Mu, dan Engkau Yang Batin tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Mu; lunaskanlah utang kami dan bebaskan kami dari kefakiran).77

115- «اللهم أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِينَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا».

115- "Allāhumma allif baina qulūbina, wa aṣliḥ żata baininā, wah-dinā subulas-salām, wa najjinā minaẓ-ẓulumāti ilan-nūr, wa jannibnal-fawaḥisya mā ẓahara minhā wamā baṭana, wa bārik lanā fī asmā'ina wa abṣārinā wa qulūbinā wa azwājinā wa żurriyatinā, wa tub 'alainā innaka antat-tawwāburr-raḥīm, waj'alnā syākirīna lini'amika muṡnīna bihā 'alaika qābilīna lahā wa atmimhā 'alainā."

(Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan antar kami, berilah petunjuk menuju surga kepada kami, selamatkan kami dari kegelapan menuju cahaya, jauhkan kami dari segala perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi, berkahilah kami dalam pendengaran, penglihatan, hati, pasangan-pasangan kami, keturunan kami, dan terimalah tobat kami, sungguh Engkau Maha Menerima tobat lagi Maha Penyayang, dan jadikanlah kami golongan yang bersyukur atas nikmat-nikmat-Mu, golongan yang menyanjung-Mu atas nikmat-nikmat tersebut, menerimanya, dan sempurnakanlah untuk kami).78

116- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَسْأَلَةِ، وَخَيْرَ الدُّعَاءِ، وَخَيْرَ النَّجَاحِ، وَخَيْرَ الْعَمَلِ، وَخَيْرَ الثَّوَابِ، وَخَيْرَ الْحَيَاةِ، وَخَيْرَ الْمَمَاتِ، وَثَبِّتْنِي، وَثَقِّلْ مَوَازِينِي، وَحَقِّقْ إيمَانِي، وَارْفَعْ دَرَجَاتِي، وَتَقَبَّلْ صَلاَتِي، وَاغْفِرْ خَطِيئَتِي، وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ العُلَا مِنَ الْجَنَّةِ، اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ فَوَاتِحَ الْخَيْرِ، وَخَوَاتِمَهُ، وَجَوَامِعَهُ، وَأَوَّلَهُ، وَظَاهِرَهُ، وَبَاطِنَهُ، وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَا مِنَ الْجَنَّةِ آمِينْ، اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ مَا آتِي، وَخَيْرَ مَا أَفْعَلُ، وَخَيْرَ مَا أَعْمَلُ، وَخَيْرَ مَا بَطَنَ، وَخَيْرَ مَا ظَهَرَ، وَالدَّرَجَاتِ العُلَا مِنَ الْجَنَّةِ آمِينْ، اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ أنْ تَرْفَعَ ذِكْرِي، وَتَضَعَ وِزْرِي، وَتُصْلِحَ أمْرِي، وَتُطَهِّرَ قَلْبِي، وَتُحَصِّنَ فَرْجِي، وَتُنَوِّرَ قَلْبِي، وَتَغْفِرَ لِي ذَنْبِي، وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَا مِنَ الْجَنَّةِ آمِينْ، اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ أنْ تُبَارِكَ فِي نَفْسِي، وَفِي سَمْعِي، وَفِي بَصَرِي، وَفِي رُوحِي، وَفِي خَلْقِي، وَفِي خُلُقِي، وَفِي أَهْلِي، وَفِي مَحْيَايَ، وَفِي مَمَاتِي، وَفِي عَمَلِي، فَتَقَبَّلْ حَسَنَاتِي، وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ العُلَا مِنَ الْجَنَّةِ، آمِينْ».

116- "Allāhumma innī as`aluka khairal-mas`alati, wa khairad-du'ā`, wa khairan-najāḥ, wa khairal-'amal, wa khairaṡ-ṡawāb, wa khairal-ḥayāti, wa khairal-mamāt, wa ṡabbitnī, wa ṡaqqil mawāzīnī, wa haqqiq īmānī, war-fa' darajātī, wa taqabbal ṣalātī, wagfir khatī`atī, wa as`alukad-darajātil-'ulā minal-jannati āmīn.

Allāhumma innī as`aluka fawātiḥal-khair wa khawātimahu, wajawāmi'ahu, wa awwalahu, wa ẓāhirahu, wa bāṭinahu, wad-darajātil-'ulā minal-jannati, āmīn.

Allāhumma innī as`aluka khaira mā ātī wa khaira mā af'al wa khaira mā a'mal wa khaira mā baṭan wa khaira mā ẓahara wad-darajātil-'ulā minal-jannati āmīn.

Allāhumma innī as`aluka an tarfa'a zikrī, wa taḍa'a wizrī, wa tuṣliḥa amrī, wa tuṭahhira qalbī, wa tuḥaṣṣina farjī, wa tunawwira qalbī, wa tagfiralī żanbī, wa as`alukad-darajātil-'ulā minal-jannati, āmīn.

Allāhumma innī as`aluka an tubārika fī nafsī wa fī sam'ī wa fī baṣarī wa fī rūḥī wa fī khalqī wa fī khuluqī wa fī ahlī wa fī mahyāya wa fī mamātī wa fī 'amalī, fataqabbal ḥasanātī wa as`alukad-darajātil-'ulā minal-jannati, āmīn."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu permohonan terbaik, doa terbaik, kesuksesan terbaik, amalan terbaik, pahala terbaik, hidup terbaik, mati terbaik; dan teguhkan aku, beratkanlah timbangan amalku, kuatkanlah keimananku, angkatlah derajatku, terimalah salatku, ampunilah dosaku, aku memohon kepada-Mu derajat tertinggi di surga, āmīn.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu pembuka kebaikan, penutup kebaikan, kebaikan yang sempurna, kebaikan yang pertama, yang nampak, yang tersembunyi, dan derajat tertinggi di surga, āmīn.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang aku datangi, yang aku lakukan, amalkan, yang tersembunyi atau yang nampak, serta derajat tertinggi di surga. āmīn.

Ya Allah, jadikanlah aku mempunyai reputasi yang tinggi, gugurkanlah dosaku, perbaikilah urusanku, sucikanlah hatiku, jagalah kehormatanku, berilah cahaya kepada hatiku, ampunilah dosaku, aku memohon kepada-Mu derajat tertinggi di surga. āmīn.

Ya Allah, berkahilah jiwaku, pendengaranku, penglihatanku, rohku, fisikku, akhlakku, keluargaku, kehidupanku, kematianku, dan amalku; terimalah amalan kebaikanku, aku memohon kepada-Mu derajat tertinggi di surga. āmīn).79

117- «اللهم جَنِّبْنِي مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ، وَالْأَهْوَاءِ، وَالْأَعْمَالِ، وَالْأَدْوَاءِ».

117- "Allāhumma jannibnī munkarātil-akhlāq wal-ahwā` wal-a'māl wal-adwā`."

(Ya Allah, jauhkanlah aku dari kemungkaran terkait akhlak, hawa nafsu, amalan, dan penyakit).80

118- «اللهم قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَيَّ كُلَّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ».

118- "Allāhumma qanni'nī bimā razaqtanī wa bārik lī fīhi wakhluf 'alayya kulla gā`ibatin lī bikhairin."

(Ya Allah, jadikanlah aku rela atas rezeki-Mu kepadaku dan berkahilah rezeki itu untukku, dan gantilah setiap sesuatu yang hilang dariku dengan sesuatu yang lebih baik).81

119- «اللهم حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيرًا».

119- "Allāhumma ḥāsibnī ḥisāban yasīran."

(Ya Allah, hisablah diriku kelak (di akhirat) dengan hisab yang ringan).82

120- «اللهم أعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ».

120- "Allāhumma a'innā 'alā żikrika wa syukrika wa ḥusni 'ibādatika."

(Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan benar kepada-Mu).83

121- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ ﷺ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ».

121- "Allāhumma innī as`aluka īmānan lā yartaddu, wa na'īman lā yanfadu, wa murāfaqata muhammadin ﷺ fi a'lā jannatil-khuld."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keimanan yang tidak akan lepas, kenikmatan yang tidak habis, menemani Muhammad ﷺ di surga tertinggi yang kekal).84

122- «اللهم قِنِي شَرَّ نَفْسِي، وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي، اللهم اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ، وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَخْطَأْتُ، وَمَا عَمَدْتُ، وَمَا عَلِمْتُ، وَمَا جَهِلْتُ».

122- "Allāhumma qinī syarra nafsī wa'zim lī 'alā arsyadi amrī. Allāhummagfirlī mā asrartu wa mā a'lantu wa mā akhṭa`tu wa mā 'amadtu wa mā 'alimtu wa mā jahiltu."

(Ya Allah, lindungilah aku dari keburukan jiwaku, kuatkanlah hatiku untuk menempuh kebenaran. Ya Allah, ampunilah aku atas dosa yang tersembunyi, terang-terangan, tidak disengaja dan yang disengaja, yang aku ketahui atau tidak aku ketahui).85

123- «اللهم إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ، وَغَلَبَةِ الْعَدُوِّ، وَشَمَاتَةِ الأعْدَاءِ».

123- "Allāhumma innī a'ūżubika min galabatid-daini wa galabatil-'aduwwi wa syamātatil-a'dā`."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari himpitan utang, tekanan musuh, dan rasa gembira musuh terhadapku).86

124- «اللهم اغْفِرْ لِي، وَاهْدِنِي، وَارْزُقْنِي، وَعَافِنِي، أَعُوذُ بِاللهِ مِنْ ضِيقِ الْمَقَامِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

124- "Allāhummagfirlī wahdinī warzuqnī wa 'āfinī. A'ūżubillāhi min ḍīqil-maqāmi yaumal-qiyāmah."

(Ya Allah, ampunilah aku, berilah aku petunjuk, rezeki, dan selamatkanlah aku (dari segala keburukan). Aku berlindung kepada-Mu dari sempitnya suasana pada hari kiamat).87

125- «اللهم مَتِّعْنِي بِسَمْعِي، وَبَصَرِي، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ يَظْلِمُنِي، وَخُذْ مِنْهُ بِثَأْرِي».

125- "Allāhumma matti'nī bisam'ī wa baṣarī waj'alhumal-wāriṡa minnī, wanṣurnī 'alā man yaẓlimunī, wa khuż minhu biṡa`rī."

(Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku kenikmatan pada pendengaranku dan penglihatanku, jadikanlah keduanya tetap terjaga hingga akhir hidupku. Tolonglah aku melawan orang yang menzalimiku, dan balaslah kezaliman mereka terhadapku).88

126- «اللهم إنِّي أسْألُكَ عِيشَةً نَقِيَّةً، ومِيتَةً سَوِيَّةً، ومَرَدًّا غَيْرَ مَخْزٍ ولَا فَاضِحٍ».

126- "Allāhumma innī as`aluka 'īysyatan naqiyyah, wa mītatan sawiyyah, wa maraddan gaira mukhzin wa lā fāḍiḥin."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu hidup yang baik, mati yang tenang, kembali ke akhirat tidak dalam terhina dan tidak pula dipermalukan).89

127- «اللهم لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، اللهم لَا قَابِضَ لِمَا بَسَطْتَ، وَلَا بَاسِطَ لِمَا قَبَضْتَ، وَلَا هَادِيَ لِمَنْ أَضْلَلْتَ، وَلَا مُضِلَّ لِمَنْ هَدَيْتَ، وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلَا مُقَرِّبَ لِمَا بَاعَدْتَ، وَلَا مُبَاعِدَ لِمَا قَرَّبْتَ، اللهم ابْسُطْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِكَ، وَرَحْمَتِكَ، وَفَضْلِكَ، وَرِزْقِكَ، اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ النَّعِيمَ الْمُقِيمَ الَّذِي لَا يَحُولُ وَلَا يَزُولُ، اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ النَّعِيمَ يَوْمَ الْعَيْلَةِ، وَالأَمْنَ يَوْمَ الْخَوْفِ، اللهم إِنِّي عَائِذٌ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَعْطَيْتَنَا وَشَرِّ مَا مَنَعْتَنَا، اللهم حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ، اللهم تَوَفَّنَا مُسْلِمِينَ، وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيْرَ خَزَايَا وَلاَ مَفْتُونِينَ، اللهم قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِينَ يُكَذِّبُونَ رُسُلَكَ، وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِكَ، وَاجْعَلْ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ وَعَذَابَكَ، اللهم قَاتِلْ كَفَرَةَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ، إلهَ الْحَقِّ [آمِينْ] ».

127- "Allāhumma lakal-ḥamdu kulluhu. Allāhumma lā qābiḍa limā basaṭta ,wa lā bāsiṭa limā qabaḍta, wa lā hādiya liman aḍlalta, wa lā muḍilla liman hadayta, wa lā mu'ṭiya limā mana'ta, wa lā māni'a limā a'ṭayta, wa lā muqarriba limā bā'adta, wa lā mubā'ida limā qarrabta.

Allāhummab-suṭ 'alainā min barakātika, wa raḥmatika, wa faḍlika, wa rizqika. Allāhumma innī as`alukan-na'īmal-muqīma allażī lā yaḥulu wa lā yazūlu.

Allāhumma innī as`alukan-na'īma yaumal-'ailah, wal-amna yaumal-khaufi.

Allāhumma innī 'āiżun bika min syarri mā a'ṭaytanā, wa syarri mā mana'tanā.

Allāhumma ḥabbib 'ilainal-īmān wa zayyinhu fī qulūbinā, wa karrih ilainal-kufra wal-fusūqa wal-'iṣ-yān, waj'alnā minarrāsyidīn.

Allāhumma tawaffanā muslimīn wa aḥyinā muslimīn wa alḥiqnā biṣ-ṣāliḥin gaira khazāyā wa lā maftūnin.

Allāhumma qātilil-kafarata allażina yukażżibuna rusulaka, wa yaṣuddūna 'an sabīlik, waj'al 'alaihim rijzaka wa 'ażābaka. Allāhumma qātilil-kafaratallażina ūtul-kitab, ilāhal-ḥaqq, [āmīn]."

(Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa mengenggam apa yang telah Engkau bentangkan dan tidak ada pula yang bisa membentangkan apa yang telah Engkau genggam; tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada siapa pun yang telah Engkau sesatkan, tidak ada pula yang bisa menyesatkan siapa yang telah Engkau beri petunjuk; Tidak ada yang bisa memberi terhadap apa yang telah Engkau tahan dan tidak ada pula yang bisa menahan terhadap apa yang telah Engkau beri; Tidak ada yang bisa mendekatkan apa yang telah Engkau jauhkan dan tidak ada pula yang bisa menjauhkan apa yang telah Engkau dekatkan.

Ya Allah, limpahkan kepada kami dari keberkahan-Mu, rahmat-Mu, karunia-Mu, dan rezeki-Mu.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kenikmatan yang kekal yang tidak berlalu dan tidak pula hilang.

Ya Allah! aku memohon kepada-Mu kenikmatan pada saat fakir, dan keamanan pada saat takut.

Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kejelekan apa saja yang Engkau berikan, dan dari kejelekan apa saja yang Engkau tahan.

Ya Allah, Jadikanlah kami cinta kepada keimanan dan hiasilah dia di hati-hati kami; dan jadikanlah diri kami benci terhadap kekufuran, kefasikan, serta kemaksiatan. Jadikan kami di antara orang-orang yang diberi petunjuk.

Ya Allah, wafatkan kami dalam keadaan Islam, hidupkan kami dalam keadaan Islam, dan masukkan kami ke dalam orang-orang saleh tanpa dihina dan tidak pula difitnah.

Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan para Rasul-Mu dan merintangi jalan-Mu, dan berikan mereka siksa-Mu dan azab-Mu.

Ya Allah, perangi orang-orang kafir yang telah diberi kitab (Yahudi dan Nasrani), ya Tuhan kebenaran).90

128- «اللهم اغْفِرْ لِي، وَارْحَمْنِي، وَاهْدِنِي، وَعَافِنِي، وَارْزُقْنِي».

128- "Allāhummagfir lī warḥamnī wahdinī wa 'āfinī warzuqnī."

(Ya Allah, ampunilah aku, kasihani aku, beri aku petunjuk, beri aku keselamatan, dan beri aku rezeki).91

«...وَاجْبُرْنِي، وَارْفَعْنِي».

"...wajburnī warfa'nī."

(Penuhilah kebutuhanku dan angkatlah derajatku (dunia dan akhirat)).92

129- «اللهم زِدْنَا وَلَا تَنْقُصْنَا، وَأَكْرِمْنَا وَلَا تُهِنَّا، وَأَعْطِنَا وَلَا تَحْرِمْنَا، وَآثِرْنَا وَلَا تُؤْثِرْ عَلَيْنَا، وَأرْضِنَا وَارْضَ عَنَّا».

129- "Allāhumma zidnā wa lā tanquṣnā, wa akrimnā wa lā tuhinnā, wa a'ṭinā wa lā taḥrimnā, wa āṡirnā wa lā tu`ṡir 'alaynā, war-ḍinā war-ḍa 'annā."

(Ya Allah, tambahkanlah (kebaikan) untuk kami, jangan Engkau menguranginya; jadikanlah kami mulia, jangan Engkau hinakan kami; berikanlah (karunia-Mu) kepada kami jangan Engkau halangi kami (untuk mendapatkannya); utamakanlah kami dan jangan Engkau jadikan kami terpinggirkan; buatlah kami rida dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau ridai).93

130- «اللهم أَحْسَنْتَ خَلْقِي فَأَحْسِنْ خُلُقِي».

130- "Allāhumma aḥsanta khalqī fa aḥsin khuluqī."

(Ya Allah, Engkau telah menciptakan fisikku bagus, maka baguskan juga akhlakku).94

131- «اللهم ثَبِّتْنِي وَاجْعَلْنِي هَادِيًا مَهْدِيًّا».

131- "Allāhumma ṡabbitnī waj'alnī hādiyan mahdiyyan."

(Ya Allah, teguhkanlah aku, dan jadikanlah aku sebagai pemberi petunjuk yang mendapatkan petunjuk).95

132- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ مُوجِبَاتِ رَحْمَتِكَ، وَعَزَائِمَ مَغْفِرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ».

132- "Allāhumma innī as'alukaṡ-ṡabāt fil-amri wal-'azīmata 'alar-rusydi, wa as`aluka mūjibāti raḥmatika wa 'azā`ima magfiratik, wa as`aluka syukra ni'matika wa ḥusna 'ibādatika, wa as`aluka qalban salīman wa lisānan ṣādiqan, wa as`aluka min khairi mā ta'lamu, wa a'ūżu bika min syarri mā ta'lamu, wa astagfiruka limā ta'lamu, innaka 'allāmul-guyūb."

(Ya Allah, aku memohon keteguhan dalam urusan ini, tekad yang kuat di atas kebenaran. Aku memohon kepada-Mu sebab-sebab yang mendatangkan rahmat-Mu dan ketetapan hati untuk meraih ampunan-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar mampu mensyukuri nikmat-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan baik. Aku mohon kepadamu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu kebaikan apa pun yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan apa pun yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun kepada-Mu atas (dosa) apa pun yang Engkau ketahui, sungguh Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib).96

133- «اللهم إنِّي أَسْأَلُكَ الْفِرْدَوْسَ أَعْلَى الْجَنَّة».

133- "Allāhumma innī as`alukal-firdausa a'lal-jannah."

(Ya Allah, aku memohon kepadamu surga Firdaus, surga yang tertinggi).97

134- «اللهم جَدِّدِ الإيْمَانَ فِي قَلْبِي».

134- "Allāhumma jaddidil-īmān fī qalbī."

(Ya Allah, perbarui iman di hatiku).98

135- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ صَلَاةٍ لَا تَنْفَعُ».

135- "Allāhumma innī a'ūżubika min ṣalātin lā tanfa'."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ibadah salat yang tidak bermanfaat).99

136- «اللَّهُمَّ إنِّي أّعُوذُ بِكَ مِنْ جَارِ السُّوءِ، وَمِنْ زَوْجٍ تُشَيِّبُنِي قَبْلَ المَشِيبِ، وَمِنْ وَلَدٍ يَكُونُ عَليَّ رَبًّا، وَمِنْ مَالٍ يَكُونُ عَلَيَّ عَذَابًا، وَمِنْ خَلِيْلٍ مَاكِرٍ عَيْنُهُ تَرَانِي، وَقَلْبُهُ يَرْعَانِي؛ إِنْ رَأَى حَسَنَةً دَفَنَهَا، وَإِذَا رَأَى سَيِّئَةً أَذَاعَهَا».

136- "Allāhumma innī a'ūżubika min jāris-sū`, wa min zaujin tusyayyibunī qablal-masyībi, wa min waladin yakūnu 'alayya rabban, wa min mālin yakūnu 'alayya 'ażāban, wa min khalīlin mākirin 'ainuhu tarānī wa qalbuhu yar'ānī, in ra`ā ḥasanatan dafanahā wa iżā ra`ā sayyi`atan ażā'ahā."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang berperilaku buruk, pasangan hidup yang membuatku beruban sebelum waktunya, anak yang menjadi tuan atas diriku, harta yang menjadi azab, teman akrab yang penuh tipu daya, yang matanya melihatku dan hatinya mengintaiku; jika ia melihat kebaikan dariku maka ia menyembunyikannya, dan jika ia melihat keburukan maka ia menyebarkannya).100

137- «اللهم لَا تُخْزِنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ».

137- "Allāhumma lā tukhzinī yaumal-qiyāmah."

(Ya Allah, janganlah Engkau menjadikan aku hina pada hari kiamat).101

138- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ الْمُعَافَاةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ».

138- "Allāhumma innī as`alukal-mu'āfāta fid-dun-yā wal-ākhirah."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat).102

139- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ، وَقَلَبٍ لَا يَخْشَعُ، وَقَولٍ لَا يُسْمَعُ».

139- "Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ilmin lā yanfa', wa 'amalin lā yurfa', wa qalbin lā yakhsa', wa qaulin lā yusma'."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, amalan yang tidak diterima, hati yang tidak khusyuk, serta perkataan yang tidak didengar).103

140- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْـهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ،وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ».

140- "Allāhumma innī a'ūżubika minal-hammi wal-ḥazan, wal-'ajzi wal-kasali, wal-bukhli wal-jubni, wa ḍala'id-daini wa galabatir-rijāl."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah dan sedih, dari sifat lemah dan malas, dari sifat bakhil dan pengecut, dan dari lilitan utang serta penguasaan orang lain).104

141- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ النَّارِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجالِ».

141- "Allāhumma innī a'ūżu bika min 'ażābin-nārm wa a'ūżu bika min 'ażābil-qabri, wa a'ūżu bika minal-fitani mā ẓahara minhā wa mā baṭana, wa a'ūżu bika min fitnatid-dajjāl."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur, dan aku berlindung kepada-Mu dari bermacam-macam fitnah, baik yang nampak atau tersembunyi, serta aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal).105

142- «اللهم إِنِّي أَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِي سَبِيلِكَ».

142- "Allāhumma innī as`aluka syahādatan fī sabīlika."

(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk syahid di jalan-Mu).106

143- «اللهم اغْفِرْ لِي، اللهم اجْعَلْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَوْقَ كَثِيرٍ مِنْ خَلْقِكَ مِنَ النَّاسِ، اللهم اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَأَدْخِلْنِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُدْخَلًا كَرِيمًا».

143- "Allāhummagfirlī, allāhummaj'alnī yaumal-qiyāmati fauqa kaṡīrin min khalqika minan-nās. Allāhummagfirlī żanbī wa adkhilnī yaumal-qiyaāmati mudkhalan karīman."

(Ya Allah, ampunilah aku. Ya Allah, jadikanlah kedudukanku di atas kebanyakan makhluk-Mu dari kalangan manusia kelak pada hari kiamat. Ya Allah, ampunilah dosaku dan masukkanlah aku ke dalam tempat yang mulia kelak pada hari Kiamat).107

144- «اللهم اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّمَا قْضَيْتَ، إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ».

144- "Allāhummah-dinī fīman hadayta, wa 'āfinī fīman 'āfayta, wa tawallanī fīman tawallayta, wa bārik lī fīmā a'ṭayta, wa qinī syarra mā qaḍaita, innahu lā yaẓillu man wālayta, tabārakta rabbanā wa ta'ālayta."

(Ya Allah, berilah aku hidayah bersama orang yang Engkau beri hidayah, selamatkanlah aku bersama orang yang telah Engkau selamatkan, dan berilah aku pertolongan sebagaimana orang yang telah Engkau beri pertolongan, berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadaku, dan lindungilah aku dari keburukan apa pun yang sudah Engkau tetapkan, sungguh tidak akan terhina siapa pun yang Engkau beri perlindungan, Maha Suci Engkau wahai Tuhan kami dan Maha Tinggi).108

145- «رَبِّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ».

145- "Rabbigfirlī khaṭī`atī yaumad-dīn."

(Ya Tuhanku, ampunilah dosaku pada hari pembalasan nanti).109

146- « أسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيمَ الَّذِي لَا إلهَ إلَّا هُوَ، الحَيُّ القَيُّومُ، وَأتُوبُ إلَيهِ».

146- "Astagfirullāhal-'azīm allażī lā ilāha illā huwa, al-ḥayyul-qayyūm wa atūbu ilaihi."

(Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung, Yang tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Maha Hidup dan Maha Mengurusi (makhluk-Nya), dan aku bertobat kepada-Nya).110

147- «اللهم اغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِي، وَأَعِذْنِـي مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ».

147- "Allāhummagfirlī żanbī, wa aż-hib gaiẓa qalbī, wa a'iżnī min muḍillātil-fitan."

(Ya Allah, ampunilah dosaku, hilangkan rasa emosi dari hatiku, lindungilah aku dari kesesatan berbagai macam fitnah).111

148- «اللهم أَحْيِـنـِــي عَلَى سُنَّةِ نَبِيِّكَ ﷺ وَتَوَفَّنِي عَلَى مِلَّتِهِ، وأَعِذْنِــي مِنْ مُضِلَّاتِ الْفِتَنِ».

148- "Allāhumma aḥyinī 'alā sunnati nabiyyika ﷺ, wa tawaffanī 'alā millatihi, wa a'iżnī min muḍillātil-fitan."

(Ya Allah, jadikanlah hidupku di atas sunnah Nabi-Mu ﷺ, dan matikanlah aku di atas agamanya, serta lindungilah aku dari kesesatan berbagai macam fitnah).112

149- «اللهم صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، [فِي الْعَالَمِينَ] إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ».

149- "Allāhumma ṣalli 'alā Muḥammad wa 'alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita 'alā Ibrāhīm wa 'alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. Wa bārik 'alā Muḥammad wa 'alā āli Muḥammad, kamā bārakta 'alā Ibrāhīm wa 'alā āli Ibrāhīm, [fil-‘ālamīna] innaka ḥamīdun majīd."

(Ya Allah, limpahkanlah selawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau melimpahkan selawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Zat yang Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan curahkanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau mencurahkan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. [Di seluruh alam semesta], Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).113

Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam, sesuai dengan keagungan-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya. Ya Allah, limpahkanlah selawat serta salam kepada Nabi kami, Muhammad, beserta keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang baik sampai hari Kiamat.

 


PENGOBATAN DENGAN RUQYAH

DARI AL-QUR`AN DAN SUNNAH

 

 

 

 

 

Penulis:

Dr. Sa'īd bin Ali bin Wahf Al-Qaḥṭāniy

 


بِسْمِ اللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

 

MUKADIMAH

PENTINGNYA BEROBAT DENGAN AL-QUR`AN DAN SUNNAH

Segala puji hanya milik Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta meminta perlindungan kepada Allah dari keburukan jiwa kita dan dari keburukan perbuatan kita. Siapa pun yang Allah beri petunjuk, tidak akan ada yang bisa menyesatkannya, dan siapa pun yang Dia sesatkan, tidak akan ada yang mampu memberinya petunjuk.

Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya, serta aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam sebanyak-banyaknya kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat tiba.

Tidak diragukan lagi, bahwa pengobatan dengan Al-Qur`anul Karim serta dengan ruqyah yang sahih dari Nabi ﷺ merupakan pengobatan yang bermanfaat dan penyembuhan yang sempurna. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

﴿... قُلۡ هُوَ لِلَّذِينَ ءَامَنُواْ هُدٗى وَشِفَآءٞۚ ...﴾ [فصلت: ٤٤]

"Katakanlah, 'Al-Qur`an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman'." (QS. Fuṣṣilat: 44).

Allah -Subhānahu wa Ta'āla- juga berfirman,

﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا٨٢﴾ [الإسراء: ٨٢]

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur`an itu) hanya akan menambah kerugian." (QS. Al-Isrā`: 82).

Kata "min" di dalam ayat tersebut menjelaskan jenis; karena semua isi Al-Qur`an mengandung penyembuh seperti yang disebutkan dalam ayat di atas, dan Allah 'Azza wa Jalla berfirman,114

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ٥٧﴾ [يونس: ٥٧]

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur`an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS. Yūnus: 57).

Al-Qur`an merupakan penyembuh yang sempurna dari segala jenis penyakit hati dan fisik, serta berbagai penyakit duniawi dan ukhrawi. Namun, tidak semua orang diberi kemampuan serta taufik untuk bisa mencari kesembuhan melalui Al-Qur`an.

Jika seseorang yang sakit menggunakannya dengan baik sebagai pengobatan, serta mengobati penyakitnya disertai penuh ketulusan dan keimanan, penerimaan yang sempurna serta keyakinan yang kuat, dan memenuhi segala syaratnya, maka penyakit itu tidak akan bisa bertahan melawannya selamanya.

Bagaimana mungkin penyakit-penyakit mampu melawan firman Tuhan langit dan bumi yang sekiranya turun di atas gunung, niscaya gunung itu akan terpecah belah, atau jika turun ke bumi niscaya dia akan menghancurkannya berkeping-keping. Tidaklah suatu penyakit dari bermacam penyakit hati dan fisik melainkan di dalam Al-Qur`an ada petunjuk untuk mengobatinya, penyebabnya, serta cara pencegahannya, bagi yang Allah berikan rezeki berupa pemahaman terhadap kitab-Nya. Allah 'Azza wa Jalla telah menyebutkan di dalam Al-Qur`an beberapa penyakit hati dan fisik, serta cara mengobati keduanya.

Adapun untuk penyakit hati, ada dua jenis: penyakit syubhat serta keraguan dan penyakit syahwat serta kesesatan. Dan Allah -Subḥānahu wa Ta'ālā- menyebutkan penyakit-penyakit hati secara rinci, disertai sebab-sebab terjadi penyakit tersebut dan cara mengobatinya. Allah Ta'ala berfirman,115

﴿أَوَلَمۡ يَكۡفِهِمۡ أَنَّآ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ يُتۡلَىٰ عَلَيۡهِمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَرَحۡمَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِقَوۡمٖ يُؤۡمِنُونَ٥١﴾ [العنكبوت: ٥١]

"Apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan kepadamu Kitab (Al-Qur`an) yang dibacakan kepada mereka? Sungguh, dalam (Al-Qur`an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-'Ankabūt: 51).

Allāmah Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- menuturkan, "Siapa yang tidak disembuhkan oleh Al-Qur`an, Allah tidak akan menyembuhkannya, siapa saja yang tidak merasa cukup dengannya, Allah tidak akan mencukupkannya."116

Adapun untuk penyakit-penyakit fisik, Al-Qur`an telah mengarahkan kepada prinsip-prinsip pengobatannya, dasar-dasarnya, dan kaidah-kaidahnya. Hal itu karena semua kaidah-kaidah pengobatan fisik sudah tertera di dalam Al-Qur`an Al-'Azim, yaitu tiga jenis:

menjaga kesehatan,

mencegah dari hal yang membahayakan,

membersihkan zat-zat yang merusak dan membahayakan.

Prinsip-prinsip ini dapat dijadikan acuan untuk berbagai bentuk pengobatan lainnya.117

Jika seorang hamba mengobati dirinya dengan Al-Qur`an secara benar, niscaya ia akan melihat pengaruh yang menakjubkan dalam bentuk kesembuhan yang cepat.

Imam Ibnul Qayyim -raḥimahullāhu ta'ālā- mengatakan, "Sungguh, aku pernah mengalami sakit sewaktu di Makkah, dan tidak mendapati seorang dokter pun, atau obat. Lantas aku mengobati diriku sendiri dengan membaca Surah Al-Fātiḥah, dan aku melihat efek yang sangat menakjubkan. Aku mengambil seteguk air zamzam lantas membacakannya di air tersebut berkali-kali, kemudian aku meminumnya, dan aku merasakan kesembuhan total. Lalu aku selalu mengandalkan cara tersebut dalam banyak jenis rasa sakit, dan aku sangat merasakan manfaatnya yang luar biasa. Aku juga memberikan resep tersebut kepada siapa pun yang mengeluh sakit, dan kebanyakan dari mereka sembuh dengan cepat."118

Begitu pula pengobatan menggunakan ruqyah nabawiyah yang telah terbukti termasuk obat yang paling mujarab, serta berdoa tatkala terbebas dari hal-hal yang menghalanginya termasuk penyebab paling kuat untuk menolak keburukan dan memperoleh sesuatu yang diharapkan.

Ruqyah juga termasuk pengobatan paling bermanfaat, terlebih jika doanya terus-menerus dipanjatkan, karena doa merupakan musuhnya bala, yang dapat menolak dan mengobatinya, serta mencegahnya hinggap di tubuh atau meringankannya jika telah masuk ke tubuh. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ,119

«الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ،فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بالدُّعَاء».

"Doa itu bermanfaat untuk mengobati apa pun yang sudah hinggap di tubuh atau pun yang belum hinggap, maka berodalah wahai para hamba Allah."120

Dan sabda beliau ﷺ,

«لَا يَرُدُّ القَضَاءَ إلَّا الدُّعَاءُ، وَلَا يَزِيدُ فِي الْعُمُرِ إلَّا الْبِرُّ».

"Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa, dan tidak ada yang bisa menambah umur kecuali amal kebajikan."121

Akan tetapi, ada hal penting yang harus diperhatikan bahwa ayat-ayat, zikir-zikir, doa-doa, bacaan-bacaan ta'awuz yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit serta untuk meruqyah pada dasarnya memiliki manfaat dan sifat penyembuhan. Namun, hal ini memerlukan penerimaan, kekuatan dari orang yang melakukannya, serta pengaruhnya. Jika kesembuhan tidak terjadi, maka itu bisa disebabkan oleh lemahnya pengaruh dari orang yang melakukannya, kurangnya penerimaan dari yang sakit, atau adanya penghalang yang kuat dalam dirinya yang mencegah obat tersebut bekerja. Karena sesungguhnya, pengobatan dengan ruqyah bergantung pada dua hal:

Pertama: Dari sisi diri orang yang sakit, jiwanya harus kuat, tulus dalam berharap kepada Allah Ta'ala, keyakinannya harus mantap bahwa Al-Qur`an adalah penyembuh serta rahmat bagi kaum mukmin, dan melindungi diri dengan cara yang benar yang selaras antara hati dan lisan; karena ini termasuk termasuk bentuk perjuangan. Seorang pejuang tidak akan meraih kemenangan atas musuhnya kecuali dengan dua hal:

- Senjatanya itu sendiri bagus dan berkualitas.

- Lengan tangannya harus kuat.

Ketika ada salah satunya tidak terpenuhi, maka senjatanya tidak bermanfaat, lantas bagaimana jika kedua hal tersebut tidak ada sama sekali; hati orangnya kosong dari tauhid, tawakal, ketakwaan, dan ketulusan dalam berdoa, serta tidak memiliki senjata sama sekali.

Kedua: Dari sisi yang mengobati dengan Al-Qur`an dan Sunnah. Dia harus memiliki dua hal tersebut juga; karenanya Ibnu At-Tīn

-raḥimahullāhu ta'ālā-

mengatakan,

122

 

"Ruqyah dengan Al-Mu'awwiżāt (surat-surat perlindungan) dan selainnya dari nama-nama Allah, merupakan pengobatan rohani. Jika hal itu dilakukan melalui lisan orang-orang saleh

dari makhluk Allah, maka kesembuhan akan diperoleh dengan izin Allah Ta'ala."

123

Para ulama telah sepakat bahwa ruqyah dibolehkan bila memenuhi tiga syarat:

Pertama: Menggunakan firman Allah Ta'ala atau nama-nama serta sifat-sifat-Nya, atau perkataan Rasul-Nya

ﷺ

.

Kedua: Menggunakan bahasa Arab atau bahasa lainnya yang bisa dipahami maknanya.

Ketiga: Meyakini bahwa ruqyah tidak berpengaruh dengan sendirinya; tetapi atas takdir Allah Ta'ala. Ruqyah hanya salah satu upaya pengobatan.

124

Karena pentingnya perkara ini, saya telah meringkas bagian tentang ruqyah dari kitab saya "Aż-Żikru wa Ad-Du'ā`u wa Al-'Ilāju bi Ar-Ruqā min Al-Kitābi wa As-Sunnah" dan kami tambahkan beberapa faedah, Insya Allah Ta'ala.

Kami memohon kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan nama-nama-Nya yang indah dan sifat-sifat-Nya yang luhur, agar menjadikan usaha ini tulus hanya karena wajah-Nya yang mulia, dan semoga bermanfaat bagiku, bermanfaat bagi yang membacanya, mencetaknya, menjadi perantara dalam menyebarkannya, serta segenap kaum muslimin; sungguh Allah Yang Maha Suci mampu melakukannya dan Maha Kuasa. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam serta keberkahan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, para sahabat, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari Kiamat.

Seorang yang fakir kepada Allah Ta'ala

Dr. Sa'īd bin Ali bin Wahf Al-Qaḥṭāniy

Ditulis pada tanggal 18/06/1414 H.

 

 


1- MENGOBATI SIHIR

Pengobatan ilahi untuk mengatasi sihir ada dua bagian:

Jenis Pertama: Melakukan tindakan preventif sebelum terkena sihir:

Mengerjakan semua kewajiban dan meninggalkan semua yang haram, serta tobat dari semua dosa.

Memperbanyak membaca Al-Qur`anul Karim, dengan menjadikan sebagai amalan rutin yang dibaca setiap hari.

Membentengi diri dengan doa-doa, zikir-zikir perlindungan, serta zikir-zikir yang disyariatkan, di antaranya

Membaca

 

«بِسْمِ اللهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ في الأرْضِ وَلَا في السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ العَلِيمُ».

" Bismillāhillażī lā yaḍurru ma'as-mihi syay'un fil-arḍi wa lā fis-samā`i wa huwas-samī'ul-'alīm."

(Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tidak ada sesuatu pun mampu membahayakan di bumi atau di langit, dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui).

Ini dibaca sebanyak tiga kali waktu pagi dan petang.

Membaca

ayat Kursi

setiap selesai salat, sebelum tidur, serta waktu pagi dan petang.

Membaca,

125126

﴿قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ١﴾ [الإخلاص: ١]

“Qul huwallāhu aḥad” [Surah Al Ikhlas]

"(Katakanlah (Muhammad), 'Dialah Allah, Yang Maha Esa'."

serta membaca

Al-Mu'awwiżatain

(Surah Al-Falaq dan An-Nās) tiga kali setiap pagi dan petang, ketika hendak tidur.

Membaca:

«لَا إلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ».

" Lā ilāha illallāh waḥdahū lā syarīka lah, lahul-mulku walahul-ḥamdu, wahuwa 'alā kulli syai`in qadīr."

(Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya seluruh kerajaan, segala pujian milik-Nya, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu), seratus kali setiap hari.

Selalu menjaga zikir-zikir pagi dan petang, zikir-zikir setelah salat fardu, zikir-zikir sebelum tidur, bangun darinya, zikir ketika masuk rumah, dan keluar darinya, zikir saat berkendaraan, zikir sebelum masuk masjid dan keluar darinya, doa masuk ke dalam toilet dan keluar darinya, doa saat melihat orang yang terkena musibah, dan lain sebagainya.

127

Sebagian besarnya sudah saya cantumkan dalam kitab Ḥiṣnul Muslim sesuai dengan keadaan, situasi, tempat, dan waktu. Tidak diragukan lagi bahwa menjaga itu semua termasuk sebab seseorang terhindar dari sihir, 'ain, dan ganguan jin dengan izin Allah Ta'ala. Ini juga termasuk pengobatan terbaik setelah terkena gangguan tersebut dan lainnya.

128

Makan tujuh butir kurma ‘ajwa di pagi hari saat perut kosong, jika memungkinkan. Ini berdasarkan sabda Nabi

ﷺ

,

«مَنْ اصْطَبَحَ بِسَبْعِ تَمَرَاتٍ عَجْوَةٍ لَمْ يَضُرَّهُ ذَلِكَ الْيَوْمِ سُمٌّ وَلَا سِحْرٌ».

"Siapa pun yang di pagi hari memakan tujuh butir kurma 'Ajwa, dia tidak akan terkena racun atau sihir."129

Yang lebih sempurna dengan menggunakan kurma Madinah yang berasal dari daerah antara wilayah Al-Ḥarratain (dua wilayah yang tanahnya hitam), seperti yang tertera dalam riwayat Muslim. Yang mulia Syekh kami Allāmah Abdul Aziz bin Abdullah bin Bāz -raḥimahullāh- berpendapat bahwa semua jenis kurma Madinah memiliki kriteria tersebut. Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«مَنْ أَكَلَ سَبْعَ تَمَرَاتٍ مِمَّا بَيْنَ لَابَتَيْهَا حِينَ يُصْبِحُ... ».

"Siapa saja yang memakan tujuh butir kurma (yang tumbuh) di antara lābatayhā, ketika pagi..."130 Dan seterusnya sampai akhir hadis.131

Beliau rahimahullāh juga meyakini bahwa manfaat tersebut juga dapat diperoleh oleh orang yang memakan tujuh butir kurma, meskipun bukan dari kurma Madinah secara mutlak.

Bagian Kedua: Pengobatan sihir setelah terkena.

Ini ada beberapa jenis:

Jenis Pertama: Mengeluarkan dan menghancurkannya jika diketahui tempatnya dengan cara-cara yang mubah secara syariat. Ini adalah cara yang paling efektif untuk mengobati orang yang terkena sihir.

132

 

Jenis Kedua: Ruqyah syar'iyyah.

Di antaranya adalah sebagai berikut:133

Pertama: Menumbuk tujuh lembar daun Sidr (bidara) hijau dengan batu atau lainnya, kemudian tuangkan air secukupnya untuk mandi dan membacakan zikir-zikir berikut pada air tersebut:

«أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ».

" A'ūżubillāhi minasy-syaiṭānirrajīm."

(Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk).

﴿ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡحَيُّ ٱلۡقَيُّومُۚ لَا تَأۡخُذُهُۥ سِنَةٞ وَلَا نَوۡمٞۚ لَّهُۥ مَا فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِي ٱلۡأَرۡضِۗ مَن ذَا ٱلَّذِي يَشۡفَعُ عِندَهُۥٓ إِلَّا بِإِذۡنِهِۦۚ يَعۡلَمُ مَا بَيۡنَ أَيۡدِيهِمۡ وَمَا خَلۡفَهُمۡۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيۡءٖ مِّنۡ عِلۡمِهِۦٓ إِلَّا بِمَا شَآءَۚ وَسِعَ كُرۡسِيُّهُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَۖ وَلَا يَـُٔودُهُۥ حِفۡظُهُمَاۚ وَهُوَ ٱلۡعَلِيُّ ٱلۡعَظِيمُ٢٥٥﴾ [البقرة: ٢٥٥]

"Allāhu lā ilāha illā huwal-ḥayyul-qayyūm, lā ta`khużuhū sinatuw-walā naum, lahū mā fis-samāwāti wamā fil-arḍ, manżallażī yasyfa'u 'indahū illā bi`iżnih, ya'lamu mā baina aidīhim wa mā khalfahum, wa lā yuḥīṭūna bisyai`in min 'ilmihī illā bimā syā`, wa si'a kursiyyuhus-samāwāti wal-arḍ, wa lā ya`ūduhū ḥifẓuhumā wa huwal-'aliyyul aẓīm."

(Allah, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar). (QS. Al-Baqarah: 255).

﴿وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنۡ أَلۡقِ عَصَاكَۖ فَإِذَا هِيَ تَلۡقَفُ مَا يَأۡفِكُونَ ١١٧ فَوَقَعَ ٱلۡحَقُّ وَبَطَلَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١١٨ فَغُلِبُواْ هُنَالِكَ وَٱنقَلَبُواْ صَٰغِرِينَ ١١٩ وَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سَٰجِدِينَ ١٢٠ قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٢١ رَبِّ مُوسَىٰ وَهَٰرُونَ ١٢٢﴾ [الأعراف: ١١٧-١٢٢]

"Wa awḥainā ilā mūsā an alqi 'aṣāka, fa`iżā hiya talqafu mā ya`fikūn. Fawaqa'al-ḥaqqu wa baṭala mā kanū ya'malūn. Fagulibū hunālika wan-qalabū ṣāgirīn. Wa ulqiyas-saḥaratu sājidīn. Qālū āmannā birabbil-'Ālamīn. Rabbi mūsā wa hārūn.

(Dan Kami wahyukan kepada Musa, “Lemparkanlah tongkatmu!” Maka tiba-tiba ia menelan (habis) segala kepalsuan mereka). Maka terbuktilah kebenaran, dan segala yang mereka kerjakan menjadi sia-sia. Maka mereka dikalahkan di tempat itu dan jadilah mereka orang-orang yang hina. Dan para penyihir itu serta merta menjatuhkan diri dengan bersujud. Mereka berkata, “Kami beriman kepada Tuhan seluruh alam, (yaitu) Tuhannya Musa dan Harun.”). (QS. Al-A'rāf: 117-122).

﴿وَقَالَ فِرۡعَوۡنُ ٱئۡتُونِي بِكُلِّ سَٰحِرٍ عَلِيمٖ ٧٩ فَلَمَّا جَآءَ ٱلسَّحَرَةُ قَالَ لَهُم مُّوسَىٰٓ أَلۡقُواْ مَآ أَنتُم مُّلۡقُونَ ٨٠ فَلَمَّآ أَلۡقَوۡاْ قَالَ مُوسَىٰ مَا جِئۡتُم بِهِ ٱلسِّحۡرُۖ إِنَّ ٱللَّهَ سَيُبۡطِلُهُۥٓ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُصۡلِحُ عَمَلَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ ٨١ وَيُحِقُّ ٱللَّهُ ٱلۡحَقَّ بِكَلِمَٰتِهِۦ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡمُجۡرِمُونَ ٨٢﴾ [يونس: ٧٩-٨٢]

"Wa qāla fir'aunu`-tūnī bikulli sāḥirin 'alīm. Falammā jā`as-saḥaratu qāla lahum-mūsā alqū mā antum-mulqūn. Falammā alqau qāla mūsā mā ji`tum bihi as-siḥru innallāha sayubṭiluhu innallāha lā yuṣliḥu 'amalal-mufsidīn. Wa yuḥiqqullāhul-ḥaqqa bikalimātihi walau karihal mujrimūn.”

(Dan Fir'aun berkata (kepada pemuka kaumnya), “Datangkanlah kepadaku semua penyihir yang ulung. Maka ketika para penyihir itu datang, Musa berkata kepada mereka, “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!” Setelah mereka melemparkan, Musa berkata, “Apa yang kamu lakukan itu, itulah sihir. Sesungguhnya Allah akan menampakkan kepalsuan sihir itu.” Sungguh, Allah tidak akan membiarkan terus berlangsungnya pekerjaan orang yang berbuat kerusakan.” Dan Allah akan mengokohkan yang benar dengan ketetapan-Nya, walaupun orang-orang yang berbuat dosa tidak menyukainya). (QS. Yūnus: 79-82).

﴿قَالُواْ يَٰمُوسَىٰٓ إِمَّآ أَن تُلۡقِيَ وَإِمَّآ أَن نَّكُونَ أَوَّلَ مَنۡ أَلۡقَىٰ ٦٥ قَالَ بَلۡ أَلۡقُواْۖ فَإِذَا حِبَالُهُمۡ وَعِصِيُّهُمۡ يُخَيَّلُ إِلَيۡهِ مِن سِحۡرِهِمۡ أَنَّهَا تَسۡعَىٰ ٦٦ فَأَوۡجَسَ فِي نَفۡسِهِۦ خِيفَةٗ مُّوسَىٰ٦٧قُلۡنَا لَا تَخَفۡ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡأَعۡلَىٰ٦٨ وَأَلۡقِ مَا فِي يَمِينِكَ تَلۡقَفۡ مَا صَنَعُوٓاْۖ إِنَّمَا صَنَعُواْ كَيۡدُ سَٰحِرٖۖ وَلَا يُفۡلِحُ ٱلسَّاحِرُ حَيۡثُ أَتَىٰ ٦٩ فَأُلۡقِيَ ٱلسَّحَرَةُ سُجَّدٗا قَالُوٓاْ ءَامَنَّا بِرَبِّ هَٰرُونَ وَمُوسَىٰ ٧٠﴾ [طه: ٦٥-٧٠]

"Qālū yā mūsā immā an tulqiya wa immā an nakūnā awwala man Al-Qā. Qāla bal alqū. Fa`iżā ḥibāluhum wa 'iṣiyyuhum yukhayyalu ilaihi min siḥrihim annahā tas'ā. Fa`awjasa fī nafsihī khīfatam-mūsā. Qulnā lā takhaf innaka anta al-A'lā. Wa alqi mā fī yamīnika talqaf mā ṣana'ū, innamā ṣana'ū kaydu saḥirīn, wa lā yufliḥus-sāḥiru ḥaiṣu atā. Fa`ulqiyas-saḥaratu sujjadan. Qālū āmannā birabbi hārūna wa mūsā.

(Mereka berkata, “Wahai Musa, apakah engkau yang melemparkan (dahulu) atau kami yang lebih dahulu melemparkan?” (Dia (Musa) berkata, “Silahkan kamu melemparkan!” Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka terbayang olehnya (Musa) seakan-akan ia merayap cepat, karena sihir mereka). Maka Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman, “Jangan takut! Sungguh, engkaulah yang unggul (menang). Dan lemparkan apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka). Dan penyihir itu tidak akan menang dari mana pun ia datang. Lalu para penyihir itu merunduk bersujud, seraya berkata, “Kami telah percaya kepada Tuhannya Harun dan Musa.”) (QS. Ṭāhā: 65-70).

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Bismillāhirraḥmānirraḥīm.”

(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ ١ لَآ أَعۡبُدُ مَا تَعۡبُدُونَ ٢ وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ ٣ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٞ مَّا عَبَدتُّمۡ٤وَلَآ أَنتُمۡ عَٰبِدُونَ مَآ أَعۡبُدُ٥ لَكُمۡ دِينُكُمۡ وَلِيَ دِينِ ٦﴾ [الكافرون: ١-٦]

“Qul yā Ayyuhal-Kāfirūn. Lā a'budu mā ta'budūn. Walā antum 'ābidūna mā a'bud. Walā antum 'ābidūna mā a'bud. Walā ana 'ābidum-mā 'abattum. Walā antum 'ābidūna mā a'bud. Lakum dīnukum wa liya dīn.”

(Katakanlah (Muhammad), “Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku).

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Bismillāhirraḥmānirraḥīm.”

(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ٢ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ ٣ وَلَمۡ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدُۢ ٤﴾ [الإخلاص: ١-٤]

“Qul huwallāhu aḥad. Allāhuṣ-ṣamad. Lam yalid wa lam yūlad. Walam yakul-lahū kufuwan aḥad.”

(Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia)

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Bismillāhirraḥmānirraḥīm.”

(Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ١ مِن شَرِّ مَا خَلَقَ ٢ وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ٣مِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِي ٱلۡعُقَدِ٤وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ٥﴾ [الفلق: ٥]

“Qul a'ūżu bi rabbil-falaq. Min syarri mā khalaq. Wa min syarri gāsiqin iżā waqab. Wa min syarrin-naffāṡāti fil-'uqad. Wamin syarri ḥāsidin iżā ḥasad.

(Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar). dari kejahatan makhluk yang Dia ciptakan, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita penyihir yang meniup pada buhul-buhul talinya, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.”)

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

“Bismillāhirraḥmānirraḥīm.”

(Dengan Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang).

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ ١ مَلِكِ ٱلنَّاسِ ٢ إِلَٰهِ ٱلنَّاسِ ٣ مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ ٤ ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ ٥ مِنَ ٱلۡجِنَّةِ وَٱلنَّاسِ٦﴾ [الناس: ١-٦]

“Qul a'ūżu bi rabbin-nās. Malikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudūrin-nās. Minal-jinnati wan-nās.

(Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, (dari (golongan) jin dan manusia.”)

Setelah membaca zikir tersebut di atas pada air, maka diminum tiga kali, lalu sisanya untuk mandi. Dengan demikian, penyakit akan hilang dengan kehendak Allah Ta'ala.

Jika memang perlu, silakan diulang sampai dua kali atau lebih, tidak masalah, sampai penyakitnya hilang. Sudah banyak orang mencoba dan Allah memberikan manfaat melaluinya. Ini sangat bagus bagi seseorang yang terhalang dari menggauli istrinya.134

Kedua: Dibacakan surah Al-Fātiḥah, ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah, surah Al-Ikhlāṣ dan Al-

Mu'awwiżatain

(Al-Falaq dan An-Nās) tiga kali atau lebih dengan meniupkan dan mengusap bagian yang sakit dengan tangan kanan.

135

Ketiga: Doa Perlindungan, Ruqyah, dan Doa-Doa yang Menyeluruh

١- «أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيمَ رَبَّ العَرْشِ العَظِيمِ أَنْ يَشْفِيَكَ».

As`alullāhal 'aẓīma rabbal 'arsyil 'aẓīmi an yasyfiyaka.

(Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung Tuhan Arasy yang Besar semoga Dia menyembuhkanmu). Dibaca tujuh kali.136

2- Orang yang sakit meletakkan tangannya pada bagian tubuhnya yang sakit, seraya membaca,

«بِسْمِ اللَّه»

"bismillāh" tiga kali dan membaca,

«أَعُوذُ بِالله وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ».

A'ūżu billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥāżir.

(Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaan-Nya dari keburukan apa yang aku rasakan dan yang aku takutkan).137

٣- «اللهم رَبَّ النَّاسِ،أَذْهِبِ الْبَأْسَ، وَاشْفِ أَنْتَ الشَّافِي، لَا شِفَاءَ إِلَّا شِفَاؤُكَ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا».

Allāhumma rabban-nās, ażhibil-ba`sa, wa-syfi anta asy-syāfī, lā syifā`a illā syifā`uka, syifā`an lā yugādiru saqaman.

(Ya Allah, Tuhan seluruh manusia! Hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, karena Engkaulah Yang Maha Penyembuh. Tiada kesembuhan selain kesembuhan dar-Mu, yaitu dengan kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit).138

٤- «أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لَامَّةٍ».

A'ūẓu bi kalimātillāhit-tāmmāti min kulli syaiṭānin wa hāmmatin, wa min kulli 'ainin lāmmatin.

(Aku memohon perlindungan melalui kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari setiap kejahatan setan, binatang yang berbisa, dan dari setiap mata yang jahat).139

٥- «أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ».

A'ūẓu bi kalimātillāhi at-tāmmāti min syarri mā khalaqa.

(Aku berlindung melalui kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya.)140

٦- «أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ: مِنْ غَضَبِهِ، وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وَأَنْ يَحْضُرُونِ»

A'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmāti min gaḍabihi wa 'iqābihi, wa syarri 'ibādihi, wa min hamazātisy-syayāṭīni wa an yaḥḍurūni.

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka dan siksa-Nya, dari keburukan hamba-hamba-Nya, serta bisikan-bisikan setan dan agar mereka tidak menghampiriku).141

٧- «أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ الَّتِي لَا يُجَاوِزُهُنَّ بَرٌّ وَلَا فَاجِرٌ، مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، وَبَرَأَ، وَذَرَأَ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَنْزِلُ مِنَ السَّمَاءِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَعْرُجُ فِيهَا، وَمِنْ شَرِّ مَا ذَرَأَ فِي الْأَرْضِ، وَمِنْ شَرِّ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا، وَمِنْ شَرِّ فِتَنِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ طَارِقٍ إِلَّا طَارِقًا يَطْرُقُ بِخَيْرٍ يَا رَحْمَنُ».

A'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmāti allatī lā yujāwizuhunna barrun wa lā fājirun, min syarri mā khalaqa, wa bara`a wa żara`a, wa min syarri mā yanzilu minas-samā`i, wa min syarri mā ya'ruju fīhā, wa min syarri mā żara`a fil-`arḍi wa min syarri mā yakhruju minhā, wa min syarri fitanil-laili wan-nahāri, wa min syarri kulli ṭāriqin illā ṭāriqan yaṭruqu bikhairin yā raḥmān.

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna, yang tidak dilampaui oleh orang baik maupun orang jahat, dari kejahatan apa yang Dia ciptakan, wujudkan, dan sebarkan, dari kejahatan apa yang turun dari langit, dari kejahatan apa yang naik ke sana, dari kejahatan apa yang Dia sebarkan di bumi, dari kejahatan apa yang keluar darinya, dari kejahatan fitnah malam dan siang, dan dari kejahatan setiap yang datang mengetuk kecuali yang datang mengetuk dengan kebaikan, wahai Yang Maha Penyayang).142

٨- « اللهم رَبَّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ، وَرَبَّ الأَرْضِ، وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْـحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ ...»

Allāhumma rabbas-samāwāti as-sab'i, wa rabbal-`arḍi, wa rabbal-'arsyil 'azīm, rabbanā wa rabba kulli sya`in, fāliqal ḥabbi wan-nawā, wa munzilat-taurāti wal-injīl wal-furqān, a'ūżubika min syarri kulli sya`in Anta ākhiżun bināṣiyatihi. Allāhumma Antal awwalu fa laisa qablaka syai`, wa Antal ākhiru fa laisa ba'daka syai`, wa Antaẓ-ẓāhiru fa laisa fauqaka syai`, wa Antal-bāṭinu fa laisa dūnaka syai`.

(Ya Allah, Tuhan tujuh lapis langit dan Tuhan bumi, Tuhan Arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Yang membelah butir tumbuh-tumbuhan dan biji buah-buahan, dan yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al-Qur`an. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala sesuatu yang Engkau pegang ubun-ubunnya. Ya Allah, Engkau Yang Maha Awal, tidak ada sesuatu pun sebelum-Mu, dan Engkau Yang Maha Akhir, tidak ada sesuatu setelah-Mu, Engkau Yang Zahir tidak ada sesuatu di atas-Mu, dan Engkau Yang Batin tidak ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Mu...").143

٩- «بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ، مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ نَفْسٍ أَوْ عَيْنِ حَاسِدٍ، اللهُ يَشْفِيكَ، بِسمِ اللهِ أَرقِيكَ».

Bismillāhi arqīka, min kulli syai`in yu`żīka, wa min syarri kulli nafsin `aw 'ainin ḥāsidin, Allāhu yasyfīka, bismillāhi `arqīka.

(Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala penyakit yang mengganggumu dan dari keburukan setiap jiwa atau pandangan yang hasad. Semoga Allah menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu).144

١٠- «بِسْمِ اللهِ يُبْرِيكَ، وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ، وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ، وَمِنْ شَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ».

Bismillāhi yubrīka, wa min kulli da`in yasyfīka, wamin syarri ḥāsidin iżā ḥasad, wa min syarri kulli żī 'ainin.

(Dengan nama Allah, Dia akan menyembuhkanmu, Dia kan menyembuhkanmu dari segala penyakit, dari keburukan orang yang hasad saat ia bersikap hasad, dan dari keburukan setiap 'ain).145

١١- «بِسْمِ اللهِ أَرْقِيكَ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ يُؤْذِيكَ، مِنْ حَسَدِ حَاسِدٍ، وَمِنْ كُلِّ ذِي عَيْنٍ اللهُ يَشْفِيكَ».

Bismillāhi arqīka min kulli syai`in yu`ẓīka min ḥasadi ḥāsidin wa min kulli żī 'ain ,allāhu yasyfīka.

(Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala hal yang menyakitimu, dari orang yang hasad serta segala pandangan yang penuh kedengkian, semoga Allah menyembuhkanmu).146

Semua permohonan perlindungan, doa-doa, serta ruqyah ini digunakan untuk mengobati sihir, 'ain, kerasukan jin, serta seluruh penyakit; karena ia merupakan ruqyah yang manfaatnya menyeluruh dan bermanfaat dengan izin Allah Ta'ala.

Jenis Ketiga: Penyembuhan dengan berbekam pada bagian atau anggota tubuh yang terlihat bekas sihir, jika memang memungkinkan. Namun, jika tidak memungkinkan, maka cukup dengan pengobatan yang telah disebutkan sebelumnya, segala puji hanya milik Allah Ta'ala.

147

Jenis Keempat: Obat-obatan alami.

Ada obat-obat alami yang bermanfaat, ditunjukkan Al-Qur`an Al-Karim dan Sunnah yang suci, jika seseorang melakukannya dengan yakin, tulus, dan berharap, disertai keyakinan bahwa manfaat itu bersumber dari Allah, maka Allah akan memberikan manfaat dengannya, atas kehendak Allah Ta'ala; sebagaimana ada juga obat-obatan racikan dari tumbuh-tumbuhan dan yang semisal. Hal itu berdasarkan uji coba, maka tidak masalah untuk mengambil manfaat darinya secara syariat selama tidak mengandung keharaman.148

Di antara bentuk pengobatan alami yang berguna atas izin Allah Ta'ala: madu, 149 ḥabbatus saudā`,150 air zamzam, 151 serta air hujan, berdasarkan firman Allah Ta'ala,

﴿وَنَزَّلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ مُّبَٰرَكٗا...﴾ [ق: ٩]

"Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah." (QS. Qāf: 9). Minyak Zaitun, berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«كُلُوا الزَّيْتَ وَادَّهِنُوا بِهِ؛ فَإِنَّهُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ».

"Makanlah dengan minyak zaitun dan pakai sebagai minyak rambut; karena ia pohon yang diberkahi."152

Dan telah terbukti berdasarkan eksperimen, testimoni, dan bacaan, bahwa ia merupakan minyak terbaik. 153

Dan di antara pengobatan alami lainnya: mandi, membersihkan diri, dan menggunakan parfum. 154

 

 


2- MENGOBATI PENYAKIT 'AIN

Pengobatan 'ain mempunyai beberapa bagian:

Bagian Pertama: Sebelum terkena 'ain

Pengobatan ini memiliki beberapa cara:

Perlindungan dan penguatan orang yang dikhawatirkan akan terkena (sihir) melalui zikir-zikir, doa-doa, bacaan-bacaan doa mohon perlindungan yang disyariatkan, sebagaimana pada bagian pertama mengenai pengobatan terhadap sihir.

155

Seseorang yang khawatir atau takut terkena 'ain (mata jahat) -jika melihat pada dirinya sendiri, harta, anak, dan saudaranya, atau hal lain yang membuatnya kagum- hendaklah mendoakannya untuk mendapatkan keberkahan, dengan mengucapkan:

«مَا شَاءَ اللهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَيْهِ».

"Ma syā`-allāh lā quwwata illā billāh. Allāhumma bārik 'alaih."

(Semua ini atas kehendak Allah, tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadanya).

Hal ini berdasarkan sabda Nabi ﷺ,

«إِذَا رَأَى أَحَدُكُمْ مِنْ أَخِيهِ مَا يُعْجِبُهُ فَلْيَدْعُ لَهُ بِالْبَرَكَةِ».

"Apabila di antara kalian melihat pada saudaranya sesuatu yang menakjubkan, maka doakanlah keberkahan untuknya."156

Menyembunyikan keindahan orang yang dikhawatirkan terkena 'ain (mata jahat).

157

 

Bagian Kedua: Cara mengatasi setelah terkena 'ain.

Ini ada beberapa jenis, yaitu:

Apabila pelaku 'ain sudah diketahui, maka ia diperintahkan agar berwudu kemudian air tersebut digunakan mandi oleh korban 'ain.

158

Perbanyak membaca,

﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ١﴾ [الإخلاص: ١]

Qul Huwallāhu Aḥad (surah Al-Ikhlāṣ), Al-Mu'awwiżatain (Surah Al-Falaq dan An-Nās), Al-Fātiḥah, ayat Kursi, ayat-ayat penutup surah Al-Baqarah, doa-doa yang disyariatkan dalam meruqyah dengan meniupkan dan mengusap bagian yang sakit menggunakan tangan kanan seperti yang dilakukan pada jenis kedua dalam pengobatan sihir, bagian ketiga dari nomor 1-11.159

Membacakan (ayat-ayat Al-Qur`an) di air dengan meniupkan (napas) ke dalamnya, lalu orang yang sakit meminumnya dan menuangkan sisanya ke badannya,

160

atau dibacakan pada minyak zaitun lalu mengoleskannya pada tubuhnya.

 

161

Jika dibacakan pada air zamzam, maka itu lebih sempurna jika memungkinkan,

 

162

juga bisa dilakukan pada air hujan.

163

Tidak masalah menuliskan beberapa ayat Al-Qur`an untuk orang yang sakit, kemudian ayat-ayat tersebut dibasuh dengan air dan diminum olehnya, di antaranya: surah Al-Fātiḥah, ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah,

164

﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ١﴾ [الإخلاص: ١]

Qul Huwallāhu Aḥad (surah Al-Ikhlāṣ), Al-Mu'awwiżatain (Surah Al-Falaq dan An-Nās) dan doa-doa ruqyah seperti yang tertera pada jenis kedua tentang pengobatan sihir, bagian B dan C dari nomor 1-11.165

Bagian Ketiga: Melakukan upaya untuk menangkal bahaya mata hasad.

Caranya sebagai berikut:

Memohon perlindungan kepada Allah dari keburukannya.

Bertakwa kepada Allah dan menjaga perintah dan larangan-Nya.

«احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ».

"Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu."166

Bersabar menghadapi pelaku hasad, memaafkannya, tidak perlu melawannya, tidak juga mengadukannya, dan tidak menceritakan kepada orang lain tentang perbuatan buruknya.

Tawakal kepada Allah. Siapa yang bertawakal kepada Allah, maka Dia akan mencukupkan keperluannya.

Tidak perlu takut kepada pelaku hasad, tidak memenuhi hati dengan memikirkan orang tersebut. Ini adalah salah satu obat yang paling bermanfaat.

Berharap kepada Allah, ikhlas kepada-Nya, serta memohon keridaan-Nya.

Bertobat atas segala dosa; karena dosa-dosa dapat menyebabkan musuh menguasai seseorang.

﴿وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَة فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِير٣٠﴾ [الشورى: ٣٠]

"Dan musibah apa pun yang menimpa kamu maka adalah karena perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu)." (QS. Asy-Syūrā: 30).

Bersedekah dan berbuat baik semampunya; karena pengaruhnya luar biasa dalam menangkal bala, pengaruh 'ain, dan keburukan orang yang hasad.

Memadamkan api emosi orang yang hasad, zalim, serta orang yang gemar mengganggu dengan berbuat baik kepadanya, Semakin besar gangguan, kejahatan, kezaliman, dan hasad yang ditujukan kepadamu, semakin besar pula kebaikan, nasihat, dan kasih sayang yang kamu berikan kepadanya. Tidak ada yang mampu melakukan hal ini kecuali orang yang mendapat anugerah besar dari Allah.

Menjaga kemurnian tauhid dan mengikhlaskannya hanya untuk Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana, yang tidak ada sesuatu pun yang dapat mendatangkan mudarat atau memberikan manfaat kecuali dengan izin-Nya

-Subḥānahu wa Ta'ālā-.

Tauhid adalah inti dari semua sebab perlindungan ini, dan kepadanya segala upaya ini bermuara. Tauhid adalah benteng Allah yang paling kokoh; siapa yang memasukinya akan berada dalam keamanan.

Inilah 10 sebab yang bisa mencegah seseorang dari keburukan pelaku hasad, 'ain, dan penyihir.167

 


3- MENGOBATI ORANG YANG KESURUPAN JIN

Pengobatan untuk orang yang kesurupan, yang dimasuki oleh jin, terbagi menjadi dua bagian:

Bagian Pertama: Sebelum Kesurupan

Di antara upaya pencegahannya adalah dengan mengerjakan seluruh ibadah yang fardu dan semua kewajiban, menjauhi seluruh perkara yang diharamkan, bertobat dari semua bentuk kemaksiatan, serta membentengi diri dengan zikir-zikir, doa-doa, dan doa mohon perlindungan yang disyariatkan.

Bagian Kedua: Mengobati Setelah Kerasukan Jin

Ini dapat dilakukan dengan bacaan seorang muslim yang sejalan antara hati dan lisannya, serta ruqyah untuk orang yang kesurupan. Pengobatan ruqyah yang paling bagus adalah membaca Al-Fātiḥah,168 ayat Kursi, dua ayat terakhir dari surah Al-Baqarah,

﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ١﴾ [الإخلاص: ١]

Qul Huwallāhu Aḥad." (surah Al-Ikhlāṣ), dan

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلۡفَلَقِ ١﴾ [الفلق: ١]

Qul a'ūżu bi rabbi al-falaq" (surah Al-Falaq), serta

﴿قُلۡ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلنَّاسِ١﴾ [الناس: ١]

Qul a'ūżu birabbin-nās (surah An-Nās).

Kemudian meniupkan pada orang yang kesurupan. Tindakan ini diulang sebanyak tiga kali atau lebih, serta membacakan ayat-ayat Al-Qur`an lainnya; karena seluruh Al-Qur'an merupakan penyembuh bagi penyakit hati, obat, petunjuk, serta rahmat bagi kaum mukmin.169 Sedangkan doa-doa ruqyah adalah seperti yang disebutkan dalam jenis yang kedua tentang pengobatan sihir pada bagian B dan C.170

Untuk proses pengobatan ini harus terpenuhi dua hal:

Pertama: Dari sisi orang yang kerasukan

Dia harus kuat jiwanya, tulus berharap kepada Allah, memohon perlindungan dengan benar yang selaras antara hati dan lisannya.

Kedua: Dari sisi orang yang mengobatinya

Dia harus seperti itu juga, karena senjata itu tergantung penggunanya.171

Dan jika dikumandangkan azan di telinga orang yang kerasukan, itu sangat baik; karena setan akan kabur saat mendengarnya.172

 


4- MENGOBATI PENYAKIT KEJIWAAN

Pengobatan paling bagus untuk penyakit kejiwaan dan sempitnya dada secara ringkas adalah sebagai berikut:173

Hidayah dan tauhid, sebagaimana kesesatan dan kesyirikan termasuk penyebab sempitnya dada.

Cahaya keimanan yang tulus yang Allah tancapkan pada hati seorang hamba disertai amal saleh.

Ilmu yang bermanfaat. Semakin luas ilmu seorang hamba, semakin lapang dan luas pula dadanya.

Tobat dan kembali kepada Allah

-Subḥānahu wa Ta'ālā-,

mencintai-Nya dengan sepenuh hati, berharap penuh kepada-Nya, serta menikmati beribadah kepada-Nya.

Terus-menerus berzikir kepada Allah dalam setiap situasi dan kondisi, karena zikir mempunyai pengaruh yang menakjubkan dalam melapangkan dada, menenangkan hati, serta menghilangkan kecemasan dan kesedihan.

Berbuat baik kepada sesama dengan berbagai bentuk kebaikan, memberikan manfaat kepada mereka sebisa mungkin. Orang yang dermawan dan selalu berbuat baik adalah manusia yang paling lapang dadanya, paling baik jiwanya, dan paling tenang hatinya.

Berani, karena orang yang pemberani memiliki dada yang lapang dan hati yang luas.

Mengeluarkan benalu hati berupa sifat-sifat tercela yang menyebabkannya terasa sempit dan tersiksa: seperti hasad, benci, dendam, permusuhan, iri hati dan kezaliman. Dalam hadis yang sahih disebutkan bahwa Nabi

ﷺ

ditanya tentang manusia yang paling utama? Beliau menjawab,

174

«كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ» فَقَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: « هُوَ التَّقِيُّ، النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ».

"Orang yang hatinya bersih, memiliki lisan yang jujur." Mereka berkata, "Lisan yang jujur, kami mengetahuinya, apa itu hati yang bersih?" Beliau menjawab, "Orang yang hatinya penuh ketakwaan, suci, tidak ada dosa, kezaliman, dendam, dan tidak pula hasad."175

Meninggalkan pandangan yang berlebihan, perkataan yang sia-sia, mendengar hal yang tidak bermanfaat, bergaul yang tidak perlu, makan berlebihan, dan tidur berlebihan; karena meninggalkan hal-hal tersebut merupakan sebab kelapangan dada, kebahagiaan hati, serta hilangnya kesedihan dan kegelisahan.

Menyibukkan diri dengan suatu pekerjaan atau ilmu yang bermanfaat, karena hal itu dapat mengalihkan hati dari kegelisahan yang mengganggunya.

Fokus pada pekerjaan yang ada saat ini dan tidak disibukkan dengan kekhawatiran terhadap masa depan atau kesedihan atas masa lalu. Seorang hamba hendaknya berusaha melakukan hal yang bermanfaat bagi agama dan dunianya, berdoa kepada Tuhannya untuk keberhasilan tujuannya, serta memohon pertolongan-Nya dalam hal tersebut; karena hal itu dapat menghilangkan kegelisahan dan kesedihan.

Melihat kepada orang yang berada di bawahmu, dan jangan melihat kepada orang yang berada di atasmu dalam hal kesehatan dan segala yang menyertainya, serta rezeki dan segala yang menyertainya.

Melupakan kesulitan yang telah berlalu dan tidak mungkin untuk dikembalikan, sehingga tidak memikirkannya sama sekali.

Jika seorang hamba mengalami musibah, hendaknya ia berusaha untuk meringankannya dengan mempertimbangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi, lalu berusaha menghadapinya sesuai dengan kemampuannya.

Kekuatan hati, tidak mudah terguncang atau terpengaruh oleh khayalan dan ilusi yang ditimbulkan oleh pikiran buruk, serta tidak mudah marah. Jangan selalu mengkhawatirkan hilangnya kenikmatan atau datangnya kesulitan, tetapi serahkan segala urusan kepada Allah Azza Wa Jalla, sambil tetap berusaha dengan sebab-sebab yang bermanfaat dan memohon ampun serta keselamatan kepada-Nya.

Menyandarkan hati kepada Allah, tawakal kepada-Nya, dan berprasangka baik kepada-Nya

-Subḥānahu wa Ta'ālā-;

sebab orang yang bertawakal kepada Allah tidak akan terpengaruh oleh khayalan dan was-was.

Orang yang bijak tahu bahwa kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang penuh kebahagiaan dan ketenangan, dan bahwa kehidupan itu sangat singkat, sehingga dia tidak membuangnya dengan kecemasan dan terlarut dalam kesulitan; karena itu bertentangan dengan kehidupan yang sehat.

Jika ia ditimpa sesuatu yang tidak diinginkan, ia membandingkan antara berbagai nikmat agama dan dunia yang masih ada padanya

dengan musibah yang menimpanya. Dengan perbandingan tersebut, akan jelas banyaknya nikmat yang masih ada padanya. Demikian pula, ia akan membandingkan antara apa yang ia khawatirkan akan mendatangkan bahaya baginya dengan banyaknya kemungkinan yang aman. Maka ia tidak akan membiarkan kemungkinan yang lemah mengalahkan kemungkinan-kemungkinan kuat yang lebih banyak. Dengan demikian hilanglah kecemasannya dan ketakutannya.

Ia tahu bahwa gangguan dari orang lain tidak akan merugikannya, terutama yang berupa perkataan jahat; malah itu justru merugikan mereka. Oleh karena itu, ia tidak menghiraukannya dan tidak memikirkannya, agar hal tersebut tidak merugikannya.

Ia menjadikan pikirannya fokus pada hal-hal yang bermanfaat baginya dalam masalah agama maupun dunia.

Seorang hamba tidak meminta pujian atas kebaikan yang telah ia lakukan dan ia berikan, kecuali dari Allah. Ia tahu bahwa ini adalah bentuk interaksinya dengan Allah, sehingga ia tidak memperhatikan pujian dari orang yang telah diberi kebaikan.

﴿إِنَّمَا نُطعِمُكُم لِوَجهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُم جَزَآءٗ وَلَا شُكُورًا٩﴾ [الإنسان: ٩]

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu." (QS. Al-Insān: 9).

Menjadikan hal-hal yang bermanfaat sebagai fokus utama, dan berusaha untuk mewujudkannya, serta tidak memperhatikan hal-hal yang merugikan. Ia tidak membiarkan pikiran dan perasaannya teralihkan oleh hal-hal tersebut.

Menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang ada saat ini, dan memberikan fokus penuh untuk pekerjaan-pekerjaan di masa depan, sehingga ketika tiba waktunya, ia dapat melaksanakannya dengan kekuatan pemikiran dan tindakan.

Memilih pekerjaan yang bermanfaat, ilmu yang bermanfaat, mendahulukan urusan yang paling penting kemudian yang penting, terutama yang sangat digemari, dan memohon pertolongan dari Allah dalam menjalaninya, kemudian bermusyawarah. Jika yakin ada maslahat dan tekad sudah bulat, maka dia tawakal kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Menyebutkan nikmat-nikmat Allah yang tampak dan yang tersembunyi; karena mengenal nikmat-nikmat tersebut dan membicarakannya dapat menghilangkan kecemasan dan kesedihan, serta mendorong hamba untuk bersyukur.

Memperlakukan istri, kerabat, mitra, serta siapa pun yang memiliki hubungan dengan Anda secara baik. Apabila kamu menemukan kekurangan pada mereka, maka ingatlah kelebihan-kelebihan mereka dan bandingkan dengan kekurangannya. Dengan memperhatikan hal itu, hubungan akan terus terjaga, dan hati akan merasa lapang. Oleh karena itu Nabi

ﷺ

bersabda,

«لَا يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا، رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ».

"Janganlah seorang laki-laki mukmin (suami) membenci wanita mukminah (istri). Jika ia tidak menyukai salah satu perilakunya, tentu ada perilaku lainnya yang dia sukai."176

Berdoa semoga semua urusan menjadi baik.

Di antara doa terbaik dalam hal ini adalah:

«اللهم أَصْلِحْ لِي دِينِي الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِي الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ».

"Allāhumma aṣliḥ lī dīnī al-lażī huwa 'iṣmatu amrī, wa aṣliḥ lī dun-yāya al-latī fīhā ma'āsyī, wa aṣliḥ lī ākhiratī al-latī fihā ma'ādī, waj'alil-ḥayāta ziyādatan lī fī kulli khair, waj'alil-mauta rāḥatan lī min kulli syarr."

(Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan benteng urusanku, perbaikilah duniaku yang menjadi tempat hidupku, perbaikilah akhiratku yang menjadi tempat kembaliku, jadikanlah kelangsungan hidup sebagai penambah segala kebaikan bagiku, dan jadikanlah kematian sebagai pemutus dari segala keburukan bagiku).177

Dan juga doa,

«اللهم رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ».

Allāhumma raḥmataka arjū, falā takilnī ilā nafsī ṭarfata 'ain, wa aṣliḥ lī sya`nī kullahu, lā ilāha illā anta."

(Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan; maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun sekejap mata. Perbaikilah urusanku seluruhnya. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau).178

Berjihad di jalan Allah. Hal ini berdasarkan sabda Nabi

ﷺ

,

«جَاهِدُوا فِي سَبِيلِ اللهِ؛ فَإِنَّ الْجِهَادَ فِي سَبِيلِ اللهِ بَابٌ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ، يُنَجِّي اللهُ بِهِ مِنْ الْـهـَمِّ وَالْغَمِّ».

"Berjihadlah dijalan Allah karena jihad di jalan Allah termasuk salah satu pintu surga, dengan jihad tersebut Allah akan menyelamatkan dari kecemasan dan kesedihan."179

Sebab-sebab serta sarana-sarana ini merupakan pengobatan yang berguna bagi penyakit jiwa, dan termasuk pengobatan paling bagus untuk kegelisahan jiwa bagi yang merenunginya serta mengamalkannya dengan tulus dan ikhlas. Sebagian ulama telah menggunakannya untuk mengobati banyak kondisi serta penyakit kejiwaan, lantas Allah menjadikannya sangat bermanfaat.180

 


5- MENGOBATI LUKA DALAM DAN GORESAN

Dahulu Rasulullah ﷺ, apabila ada orang mengeluh atau menderita borok atau luka goresan, beliau akan menunjuk dengan jari beliau seperti ini, dan Sufyan meletakkan jari telunjuknya di tanah, kemudian mengangkatnya dan mengucapkan:

«بِسمِ اللهِ، تُرْبَةُ أرْضِنَا، بِرِيقَةِ بَعْضِنَا، يُشْفَى بِهِ سَقِيمُنَا، بإذْنِ رَبِّنَا».

"Bismillāhi, turbatu arḍinā, bi rīqati ba'ḍinā, yusyfā bihī saqīmunā, bi iżni rabbinā."

(Dengan nama Allah, debu tanah kami, dengan ludah sebagian kami, semoga sembuh orang yang sakit dari kami, dengan izin Tuhan kami).181

Makna hadis tersebut adalah bahwa beliau Rasulullah ﷺ mengambil sedikit air liurnya dengan jari telunjuknya, kemudian meletakkannya di tanah sehingga ada sesuatu yang menempel padanya. Setelah itu, beliau mengusapkannya pada bagian tubuh yang terluka atau yang sedang sakit, sambil mengucapkan kalimat tersebut saat mengusapnya.182

6- PENGOBATAN UNTUK MUSIBAH

١- ﴿مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ وَلَا فِيٓ أَنفُسِكُمۡ إِلَّا فِي كِتَٰبٖ مِّن قَبۡلِ أَن نَّبۡرَأَهَآۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٞ 22 لِّكَيۡلَا تَأۡسَوۡاْ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُواْ بِمَآ ءَاتَىٰكُمۡۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٍ٢٣﴾ [الحديد: ٢٢-٢٣]

"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauḥ Maḥfūẓ) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Al-Ḥadīd: 22-23).

٢- ﴿مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَهۡدِ قَلۡبَهُۥۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ ١١﴾ [التغابن: ١١]

"Tidak ada suatu musibah yang terjadi kecuali dengan izin Allah; dan siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. At-Tagābun: 11).

٣- «مَا مِنْ عَبْدٍ تُصيبُهُ مُصِيبَةٌ، فَيَقُولُ: إنّا للهِ وَإنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللهم أْجُرْنِي في مُصِيبَتي، وَأَخْلِفْ لِي خَيرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللهُ تَعَالَى في مُصِيبَتِهِ، وَأخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا».

"Tidaklah seorang hamba ditimpa suatu musibah lalu dia membaca; Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn, allāhumma`jurnī fī muṣībatī wakhluf lī khairan minhā,"

(Sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nya kami akan kembali; Ya Allah, berikanlah aku pahala pada musibah yang menimpaku ini, dan berikanlah aku penggantinya yang lebih baik), melainkan Allah Ta'ala akan memberinya pahala pada musibah yang menimpanya dan memberinya pengganti yang lebih baik dari itu."183

٤- «إِذَا مَاتَ وَلَدُ الْعَبْدِ قَالَ اللهُ تَعَالَى لِمَلاَئِكَتِهِ: قَبَضْتُم وَلَدَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ، فَيَقُولُ: مَاذَا قَالَ عَبْدِي؟ فَيَقُولُونَ: حَمِدَكَ وَاسْتَرْجَعَ، فَيَقُولُ: ابْنُوا لِعَبْدِي بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ، وَسَمُّوهُ بَيْتَ الْحَمْدِ».

"Bila anak seorang hamba meninggal dunia, Allah berfirman kepada malaikat-Nya, 'Kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?' Mereka menjawab, 'Ya.' Lantas Allah berfirman, 'Kalian mencabut nyawa buah hatinya?' Mereka menjawab, 'Ya.' Kemudian Allah berfirman, 'Lalu apa yang diucapkan oleh hamba-Ku itu?' Mereka menjawab, 'Ia memuji-Mu184 dan mengucapkan istirjā`.' Maka Allah berfirman, 'Bangunkan untuk hamba-Ku sebuah rumah di surga dan berilah ia nama Baitul Ḥamd (Rumah Pujian)'."185

٥- «يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إلَّا الجَنَّةَ».

"Allah Ta'ala berfirman, ‘Tidak ada balasan (yang pantas) dari-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, ketika Aku mencabut nyawa orang yang paling ia cintai di antara penduduk dunia, kemudian dia bersabar dan mengharap pahala dari-Ku, kecuali surga’."186

 

6- Nabi ﷺ bersabda kepada seorang laki-laki yang baru saja kehilangan putra,

«أَلَا تُحِبُّ أَنْ لَا تَأْتِيَ بَابًا مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ إِلَّا وَجَدْتَهُ يَنْتَظِرُكَ».

"Tidakkah kamu ingin saat mendatangi salah satu pintu surga, melainkan kau dapati ia telah menunggumu di sana?"187

٧- «يَقُولُ اللهُ عزوجل: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ [وَاحْتَسَبَ] عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الْجَنَّةَ» يُرِيدُ عَيْنَيْهِ.

"Sesungguhnya Allah -'Azza wa Jalla- berfirman, 'Apabila Aku menguji hamba-Ku pada 'dua kekasihnya' (dibutakan), lalu dia bersabar [dan berharap pahala-Nya], Aku akan menggantinya dengan surga." Maksudnya kedua matanya.188

٨- «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصِيبُهُ أَذًى: مِنْ مَرَضٍ فَمَا سِوَاهُ إِلَّا حَطَّ اللهُ بِهِ سَيِّئَاتِهِ كَمَا تَحُطُّ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا».

"Tidaklah seorang muslim ditimpa suatu gangguan berupa sakit atau yang lainnya, melainkan dengan sebab itu Allah akan menggugurkan kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daunnya."189

٩- «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ».

"Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau lebih dari itu, melainkan Allah akan mengangkatnya satu derajat dan menghapus darinya satu dosa."190

١٠- «مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ،191 وَلَا نَصَبٍ،192 وَلَا سَقَمٍ، وَلَا حَزَنٍ، حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ،193 إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّـئَاتِهِ».

"Tidaklah seorang muslim ditimpa waṣab, naṣab, penyakit, kesedihan, hingga al-hamm yang membuatnya murung, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan sebab itu."194

١١- «إنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ».

"Sesungguhnya besarnya balasan itu sesuai dengan besarnya ujian, dan sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan mengujinya; siapa yang rida dengan ujian itu maka baginya keridaan Allah, dan siapa yang marah terhadap ujian tersebut, maka baginya kemurkaan Allah."195196

١٢- «...فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ».

"...Cobaan akan senantiasa menimpa seorang hamba hingga Dia (Allah) membiarkannya berjalan di muka bumi ini dalam keadaan tidak memiliki dosa."197198

 


7- MENGOBATI KEGELISAHAN DAN KESEDIHAN

Manakala seorang hamba ditimpa kegelisahan dan kesedihan, lalu ia mengucapkan,

«اللهم إِنِّي عَبْدُكَ ابْنُ عَبْدِكَ ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجَلَاءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي، إِلَّا أَذْهَبَ اللهُ حُزْنَهُ وَهَمَّهُ، وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَحًا».

"Allāhumma innī 'abduka, ibnu 'abdika, ibnu amatika, nāṣiyatī biyadika, māḍin fiyya ḥukmuka, 'adlun fiyya qaḍā`uka. As`aluka bi kullismin huwa laka, sammaita bihī nafsaka, aw anzaltahu fī kitābika, aw 'allamtahu aḥadan min khalqika, aw ista`ṡarta bihi fī 'ilmil-gaib 'indaka, an taj'alal-Qur`āna rabī'a qalbī, wa nūra ṣadrī, wajalā`a ḥuznī, wa żahāba hammī.

(Ya Allah, sungguh aku hamba-Mu, anak hamba laki-lakimu dan anak hamba perempuan-Mu, ubun-ubun-Ku di tangan-Mu, telah berlaku hukum-Mu kepadaku, ketetapan-Mu kepadaku adil. Aku memohon kepada-Mu melalui semua nama-Mu, Engkau namakan diri-Mu sendiri, atau Engkau turunkan melalui kitab-Mu, atau Engkau ajarkan kepada seseorang dari kalangan makhluk-Mu, atau hanya Engkau yang mengetahuinya dalam ilmu gaib di sisi-Mu, mohon jadikanlah Al-Qur`an ini sebagai penyenang hatiku, cahaya dadaku, penghilang kesedihanku, serta hilangnya kegelisahanku), niscaya Allah akan menghilangkan kesedihan dan kegelisahannya, lalu Dia ganti dengan kebahagiaan."199

٢- «اللهم إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ».

"Allāhumma innī a'ūżubika minal-hammi wal-ḥazani, wal-'ajzi wal-kasali, wal-bukhli wal-jubni, wa ḍala'id-daini wa galabatir-rijāl."

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gundah dan sedih, dari sifat lemah dan malas, dari sifat bakhil dan pengecut, dan dari lilitan utang dan penguasaan orang lain).200

 


8- OBAT DERITA

١- «لَا إلهَ إِلَّا اللهَ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لَا إلهَ إِلَّا اللهَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لَا إلهَ إِلَّا اللهَ رَبُّ السَّمَوَاتِ، وَرَبُّ الْأَرْضِ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ»

"Lā ilāha illallāhul 'aẓīmul ḥalīm, lā ilāha illallāhu rabbul 'arsyil 'aẓīm, lā ilāha illallāhu rabbus-samāwāti wa rabbul 'arḍi wa rabbul 'arsyil karīm."

(Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung, Maha Penyantun. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan Arasy yang agung. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Tuhan langit dan Tuhan bumi, dan Tuhan Arasy yang mulia).201

 

٢- «اللهم رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ».

"Allāhumma raḥmataka arjū, falā takilnī ilā nafsī ṭarfata 'ainin, wa aṣliḥ lī sya`nī kullahu, lā ilāha illā anta."

(Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri sekejap mata pun. Perbaikilah urusanku seluruhnya. Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau).202

 

٣- «لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ».

"Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn."

(Tidak ada tuhan yang hak kecuali Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim).203

 

٤- «اللهُ اللهُ رَبِّي، لَا أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا».

"Allāhu rabbī lā usyriku bihī syai`an."

(Allah adalah Tuhanku, aku tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun).204

9- CARA MENGOBATI DIRI SENDIRI

Letakkanlah tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan bacalah,

«بِسْمِ اللهِ».

“Bismillāh”, sebanyak tiga kali.

Kemudian bacalah (doa berikut) sebanyak tujuh kali:

«أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِـــــــدُ وَأُحَاذِرُ ».

"A'ūżu billāhi wa qudratihi min syarri mā ajidu wa uḥāżir.”

(Aku berlindung dengan keagungan dan kekuasaan Allah dari keburukan apa yang aku dapatkan dan yang aku khawatirkan).205

 


10- MENGOBAT ORANG SAKIT SAAT MENJENGUKNYA

"Siapa yang menjenguk orang sakit sebelum ajalnya datang, lalu berdoa di sisinya sebanyak tujuh kali:

«أَسْأَلُ اللهَ الْعَظِيمَ، رَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، أَنْ يَشْفِيَكَ».

As`alullāhal-'aẓīm, rabbal-'arsyil-'aẓīm an yasyfiyaka.

(Aku memohon kepada Allah Yang Maha Agung, Pemilik Arasy yang agung, agar menyembuhkanmu),' niscaya Allah menyembuhkannya."206

 

11- MENGOBATI KEGELISAHAN DAN GANGGUAN TIDUR

«أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ: مِنْ غَضَبِهِ، وَعِقَابِهِ، وَشَرِّ عِبَادِهِ، وَمِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ، وَأَنْ يَحْضُرُونِ».

"A'ūżu bi kalimātillāhit-tāmmāti min gaḍabihi wa 'iqābihi, wa syarri 'ibādihi, wa min hamazātisy-syayāṭīni wa an yaḥḍurūni."

(Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka dan siksa-Nya, dari keburukan hamba-hamba-Nya, serta bisikan-bisikan setan dan agar mereka tidak menghampiriku).207

12- MENGOBATI DEMAM

Nabi ﷺ bersabda,

«الْحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوهَا بِالْمَاءِ».

"Demam itu bagian dari panas neraka Jahanam, maka dinginkanlah dengan air."208

 

13- MENGOBATI SENGATAN DAN GIGITAN HEWAN BERBISA

Dibacakan surah Al-Fātiḥah sambil mengumpulkan ludah, lalu menghembuskannya pada pada bekas sengatan.

209

Mengusap tubuh yang tersengat dengan air dan garam sambil dibacakan,

﴿قُلۡ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡكَٰفِرُونَ١﴾ [الكافرون: ١]

Surah Qul yā ayyuhal-kāfirūn. dan Al-Mu'awwiżatain (Surah Al-Falaq dan An-Nās).210

 


14- MENGATASI MARAH

Untuk mengobati kemarahan bisa dengan dua cara:

Pertama: Pencegahan

Hal ini dapat dicapai dengan menghindari sebab-sebab kemarahan. Di antara sebab-sebab tersebut adalah: kesombongan, mengagumi diri sendiri, membanggakan diri, ketamakan yang tercela, bercanda tidak pada tempatnya, senda gurau yang berlebihan, dan hal-hal serupa lainnya.

Kedua: Mengatasi kemarahan setelah terjadi

Ada 4 cara saja:

Memohon perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Berwudu.

Mengubah posisi saat marah: dengan duduk, berbaring, keluar ruangan, menahan diri dari berbicara, dan lain sebagainya.

Mengingat pahala yang dijanjikan bagi orang yang menahan amarah, serta akibat buruk dari kemarahan yaitu kehinaan.

211

15- BEROBAT DENGAN ḤABBATUS SAUDĀ`

Nabi ﷺ bersabda,

«فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلَّا السَّامَ».

"Ḥabbatus saudā` bisa mengobati segala penyakit, kecuali as-sām." Ibnu Syihāb menuturkan, "Kata as-sām artinya kematian dan ḥabbatus saudā` artinya jintan hitam."212

Ḥabbatus saudā` memiliki manfaat yang sangat banyak. Sabda beliau, "Obat dari segala penyakit" seperti firman-Nya Ta'ala,

﴿تُدَمِّرُ كُلَّ شَيۡءِۢ بِأَمۡرِ رَبِّهَا...﴾ [الأحقاف: ٢٥]

"Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya." (QS. Al-Aḥqāf: 25). Yakni segala sesuatu yang bisa dihancurkan dan yang semisalnya.213

 

16- BEROBAT DENGAN MADU

Allah

'Azza wa Jalla

berfirman mengenai lebah,

﴿... يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٞ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٞ لِّلنَّاسِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ٦٩﴾ [النحل: ٦٩]

"Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir." (QS. An-Naḥl: 69).

Nabi

ﷺ

bersabda,

«الشِّفَاءُ فِي ثَلَاثَةٍ: فِي شَرْطَةِ مِحْجَمٍ، أَوْ شَرْبَةِ عَسَلٍ، أَوْ كَيَّةٍ بِنَارٍ، وَأَنَا أَنْهَى أُمَّتِي عَنْ الْكَيِّ».

"Kesembuhan itu pada tiga perkara: sayatan bekam, minum madu, sengatan besi panas, dan aku melarang umatku menggunakan metode besi panas."214

17- BEROBAT DENGAN AIR ZAMZAM

Nabi

ﷺ

bersabda mengenai air zamzam,

«إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ [وَشِفَاءُ سُقْمٍ]».

"Sungguh ia penuh berkah, ia bisa mengenyangkan [dan sebagai obat penyakit]."215

 

Hadis Jabir yang statusnya marfu',

«مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ»

"Air zamzam sesuai dengan niat yang meminumnya."216

 

Ada riwayat sahih dari Nabi

ﷺ

bahwasanya beliau membawa air zamzam dalam bejana

217

dan gentong. Beliau biasanya menuangkannya

untuk orang-orang sakit serta memberikannya untuk diminum.

218

 

Ibnul Qayyim -raḥimahullāhu ta'ālā- mengatakan, "Aku dan orang lain juga pernah mencoba berobat dengan air zamzam dan mendapat berbagai hal yang menakjubkan, dan aku pernah mengobati beberapa penyakit dengannya, latas aku pun sembuh219 dengan izin Allah."220

 

18- MENGOBATI PENYAKIT HATI

Hati itu ada tiga jenis:

Hati yang bersih

Tidak akan ada yang selamat pada hari kiamat kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang seperti itu. Allah Ta'ala berfirman,

﴿يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩﴾ [الشعراء: ٨٨-٨٩]

"(Yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu'arā`: 88-89).

Hati yang bersih adalah yang bersih dari segala bentuk syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah, serta bersih segala jenis syubhat yang bertentangan dengan wahyu-Nya, bersih dari segala jenis penghambaan kepada selain-Nya, serta bersih dari tindakan berhukum kepada selain yang ditentukan oleh Rasul-Nya ﷺ.

Secara umum, hati yang selamat dan sehat ialah yang bersih dari dari segala bentuk kesyirikan kepada-Nya, tetapi penghambaannya murni hanya kepada Allah: dari sisi niat, kecintaan, tawakal, tobat, ketundukan, ketakutan, harapan, dan amalnya murni karena Allah. Jika ia mencintai sesuatu, ia mencintai karena Allah; jika ia membenci, ia membenci karena Allah; jika ia memberi, ia memberi karena Allah; jika menahan sesuatu, ia menahannya karena Allah. Jadi semua perhatiannya hanya untuk Allah, kecintaannya karena Allah, niatnya karena-Nya, fisiknya untuk Allah, semua amalnya untuk Allah, tidurnya karena Allah, terjaganya karena Allah, pembicaraannya karena Allah, berbicara tentang Allah lebih menyenangkan baginya daripada berbicara tentang hal lain, pikirannya hanya tentang meraih keridaan serta kecintaan Allah. Kita memohon kepada Allah Ta'ala hati seperti ini.221

Hati yang mati

Ini adalah kebalikan dari yang pertama. Hati ini tidak mengenal Tuhannya, tidak beribadah berdasarkan perintah-Nya, serta tidak mengikuti apa yang Dia cintai dan ridai. Sebaliknya, hati ini hanya mengikuti hawa nafsu dan kenikmatannya, meskipun hal itu mendatangkan murka dan kemarahan Allah.

Hati ini menghambakan diri kepada selain Allah dalam cinta, takut, harapan, keridaan, kemarahan, pengagungan, dan penghambaan. Jika ia membenci, maka ia membenci karena hawa nafsunya; jika ia mencintai, maka ia mencintai karena hawa nafsunya; jika ia memberi, maka ia memberi karena hawa nafsunya; jika ia menahan sesuatu, maka ia menahannya karena hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah imamnya, syahwat adalah pemimpinnya, kebodohan adalah pengemudinya, dan kelalaian adalah kendaraannya. Kita berlindung kepada Allah dari hati semacam ini.222

Hati yang sakit

Ini adalah hati yang memiliki kehidupan, tetapi juga mengandung penyakit. Hati ini memiliki dua kekuatan yang saling mempengaruhi, kadang dikuasai oleh yang satu, kadang oleh yang lain. Di dalamnya terdapat cinta kepada Allah Ta'ala, iman kepada-Nya, keikhlasan, dan tawakal yang menjadi sumber kehidupannya. Namun, di saat yang sama, ia juga mengandung cinta kepada syahwat, ambisi untuk meraihnya, hasad, kesombongan, rasa ujub, keinginan untuk berkuasa, serta berbuat kerusakan di bumi melalui kepemimpinan yang zalim, kemunafikan, ria, ketamakan, dan kebakhilan yang menjadi sumber kehancuran dan kebinasaannya. Kita berlindung kepada Allah dari hati semacam ini.223

Untuk mengobati hati dari semua jenis penyakitnya telah disebutkan dalam Al-Qur`anul Karim.

Allah Ta'ala berfirman,

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ قَدۡ جَآءَتۡكُم مَّوۡعِظَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ وَشِفَآءٞ لِّمَا فِي ٱلصُّدُورِ وَهُدٗى وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ٥٧﴾ [يونس: ٥٧]

"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur`an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman." (QS. Yūnus: 57).

Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا٨٢﴾ [الإسراء: ٨٢]

"Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur`an itu) hanya akan menambah kerugian." (QS. Al-Isrā`: 82).

Penyakit hati itu ada dua jenis:

Ada jenis penyakit hati yang pemiliknya tidak merasakan sakitnya secara langsung, yaitu penyakit kebodohan, syubhat, dan keraguan (terhadap kebenaran). Penyakit ini sebenarnya lebih menyakitkan dibandingkan jenis penyakit hati lainnya, tetapi karena hati tersebut sudah rusak, pemiliknya tidak merasakan penderitaannya.

Ada jenis penyakit hati yang terasa menyakitkan secara langsung, seperti kegelisahan, kesedihan, duka cita, dan amarah. Penyakit ini dapat hilang dengan pengobatan alami, yaitu dengan menghilangkan penyebabnya atau cara lainnya.

224

Untuk mengobati hati bisa menggunakan empat cara:

Pertama: Dengan Al-Qur`anul Kar

i

m

Al-Qur`an adalah penyembuh penyakit keraguan yang ada dalam dada, serta menghilangkan kesyirikan, noda kekafiran, serta penyakit-penyakit syubhat dan syahwat. Al-Qur`an merupakan petunjuk bagi yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya, serta sebagai rahmat bagi kaum mukmin berupa balasan di dunia dan akhirat. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,

﴿أَوَمَن كَانَ مَيۡتٗا فَأَحۡيَيۡنَٰهُ وَجَعَلۡنَا لَهُۥ نُورٗا يَمۡشِي بِهِۦ فِي ٱلنَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُۥ فِي ٱلظُّلُمَٰتِ لَيۡسَ بِخَارِجٖ مِّنۡهَاۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلۡكَٰفِرِينَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ١٢٢﴾ [الأنعام: ١٢٢]

"Dan apakah orang yang mati (hatinya) lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An'ām: 122).

Kedua: Hati membutuhkan tiga perkara:

Sesuatu yang bisa menjaga kekuatannya, yaitu dengan keimanan, amal saleh, serta rutinitas ketaatan.

Menjaganya dari marabahaya, yaitu dengan menjauhi semua bentuk kemaksiatan dan jenis penyimpangan.

Mengeluarkan segala sesuatu yang berbahaya (bagi hati), yaitu dengan bertobat dan beristigfar.

 

Ketiga: Mengobati penyakit hati supaya tidak dikuasai oleh hawa nafsu.

Ada dua cara pengobatannya: evaluasi diri dan melawannya.

Untuk evaluasi diri terbagi menjadi dua jenis:

Jenis Pertama: Sebelum melakukannya

Ini memiliki empat tingkatan:

Apakah amal ini mampu untuk dilakukan?

Apakah melakukan amal ini lebih baik baginya daripada meninggalkannya?

Apakah amal ini dilakukan dengan niat untuk mendapatkan rida Allah?

Apakah amal ini dapat dibantu dengan adanya orang yang mendukung dan menolongnya jika amal tersebut membutuhkan bantuan? Jika jawabannya ada, maka dia dapat melanjutkan untuk melakukannya; namun jika tidak, maka sebaiknya jangan dilanjutkan.

Jenis Kedua: Setelah melakukan amal tersebut.

Ini terbagi menjadi tiga macam:

Muhasabah diri terkait ketaatan yang belum sepenuhnya dijalankan sesuai dengan hak-hak Allah Ta'ala, sehingga amal tersebut tidak dilakukan dengan cara yang seharusnya.

 

Di antara hak-hak Allah Ta'ala: Ikhlas, nasihat, mengikuti tuntunan Rasul, beribadah dengan ihsan, mengakui karunia Allah kepadanya, dan mengakui keteledorannya setelah mengerjakan itu semua.

Evaluasi diri terkait setiap pekerjaan yang seharusnya lebih baik jika ditinggalkan daripada dilakukan.

Evaluasi diri terkait hal yang diperbolehkan (mubah) atau kebiasaan yang tidak dilakukannya, serta apakah niatnya karena Allah dan kehidupan akhirat, sehingga akan mendapatkan keuntungan, atau justru

hanya demi meraih materi duniawi sehingga akan merugi.

Inti dari semua itu adalah bahwa seseorang harus muhasabah diri sendiri terlebih dahulu terkait amalan-amalannya yang wajib, kemudian disempurnakan jika mendapati kekurangan, lalu muhasabah diri terkait hal-hal yang terlarang jika ia mengetahui bahwa dirinya telah melakukan salah satu darinya, maka segera bertobat dan istigfar, kemudian muhasabah atas apa yang dilakukan anggota tubuhnya, lalu terkait kelalaiannya.225

Keempat: Mengobati penyakit hati karena dikuasai oleh setan

Setan adalah musuh manusia, dan cara terlepas darinya dengan melakukan apa yang Allah syariatkan, yaitu memohon perlindungan kepada-Nya. Nabi ﷺ telah menggabungkan antara berlindung dari kejahatan diri sendiri dan kejahatan setan. Beliau ﷺ bersabda kepada Abu Bakar,

«قُلْ اللهم فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إِلَّا أَنْتَ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي، وَشَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ، وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا، أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ».

Ucapkanlah, "Allāhumma fāṭiras-samāwāti wal-arḍi, 'ālimal-gaibi wasy-syahādah, rabba kulli syai`in wa malīkahu. Asyhadu allā ilāha illā anta, a'ūżubika min syarri nafsī wa syarrisy-syaiṭāni wa syirkihi, wa an aqtarifa 'alā nafsī sū`an aw ajurrahū ilā muslim."

(Ya Allah Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui alam gaib dan yang tampak, Tuhan segala sesuatu dan rajanya. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan jiwaku, kejahatan setan dan kesyirikannya, serta (aku berlindung kepada-Mu) dari berbuat keburukan terhadap diriku sendiri atau menimpakannya kepada sesama muslim). Bacalah ketika pagi dan petang, dan saat hendak tidur.226

Dan juga memohon perlindungan kepada-Nya, tawakal, serta ikhlas. Semua ini bisa mencegah penguasaan setan.227

Semoga Allah mencurahkan selawat serta salam kepada hamba dan Rasul-Nya, Muhammad, keluarga, segenap sahabatnya, serta siapa pun yang mengikuti mereka dengan baik sampai hari kiamat.

Daftar Isi

 

Keutamaan doa 8

Doa dari Al-Qur`an dan sunnah 16

Pengobatan dengan ruqyah dari Al-Qur`an dan sunnah 99

Mukadimah 100

Pentingnya berobat dengan Al-Qur`an dan sunnah 100

1- Mengobati sihir 110

2- Mengobati penyakit 'ain 131

3- Mengobati orang yang kesurupan jin 137

4- Mengobati penyakit kejiwaan 140

5- Mengobati luka dalam dan goresan 149

6- Pengobatan untuk musibah 150

7- Mengobati kegelisahan dan kesedihan 156

8- Obat derita 158

9- Cara mengobati diri sendiri 160

10- Mengobat orang sakit saat menjenguknya 161

11- Mengobati kegelisahan dan gangguan tidur 161

12- Mengobati demam 162

13- Mengobati sengatan dan gigitan hewan berbisa 162

14- Mengatasi marah 163

15- Berobat dengan ḥabbatus saudā` 164

16- Berobat dengan madu 165

17- Berobat dengan air zamzam 166

18- Mengobati penyakit hati 168


Buku asli tersebut telah dicetak, alhamdulillah, disertai takhrīj (penelitian) hadis-hadisnya secara terperinci dalam empat jilid: Zikir-zikir "Ḥisnul Muslim" di jilid pertama dan kedua, mengenai doa di jilid ketiga, serta pengobatan dengan ruqyah di jilid keempat.

HR. Abu Daud (2/78), no. 1481, Tirmizi (5/211), no. 2959, Ibnu Majah (2/1258), no. 3828 dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani -raḥimahullāh- dalam Ṣaḥiḥ Al-Jāmi' Aṣ-Ṣagīr (3/150), dan Ṣaḥiḥ Ibni Mājah (2/324).

HR. Abu Daud (2/78), no. 1488, Tirmizi (5/557), no. 3556, Ibnu Majah (2/1271), no. 3865, dan Ibnu Hajar mengatakan, "Sanadnya jayyid", dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/179).

HR. Tirmizi (5/566) dan (5/462), no. 3573, Ahmad (3/18), no. 11150, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' Aṣ-Ṣagīr (5/116) serta Ṣaḥīḥ Sunan At-Tirmiżī (3/140).

Lihat adab-adab ini dan sebab-sebab dikabulkannya doa beserta dalilnya dalam sumber aslinya, 3/927-975.

Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa beliau kadang memulai dengan dirinya sendiri dalam berdoa, dan kadang tidak, seperti dalam doanya untuk Anas, Ibnu Abbas, Ummu Ismail, dan lainnya. Untuk rincian lebih lanjut tentang masalah ini, lihat: Syarḥ An-Nawawi li Ṣaḥīḥ Muslim (15/144). Tuḥfatul Aḥważi Syarḥ Sunan At-Tirmiżī (9/328), dan Fatḥul Bāri Syarḥ Ṣaḥīḥ Al-Bukhāri (1/281).

Silakan lihat waktu, kondisi, serta tempat-tempat tersebut beserta dalilnya secara rinci pada buku induk, (3/975-1117).

Silakan lihat nama Allah yang paling agung dalam hadis no. 104, 105 dan 203 di buku ini.

Untuk menambah faedah, silakan lihat buku Al-Fawā`id karya Ibnul Qayyim, hlm. 436 dan 437.

Disadur dari surah Al-Baqarah: 213.

Disadur dari surah Al-Baqarah: 269.

Disadur dari surah Ibrāhīm: 27.

Disadur dari surah Al-Ḥujurāt: 7.

Disadur dari surah At-Tagābun: 16.

HR. Bukhari, no. 4522, 6389; Muslim, no. 2690.

HR. Bukhari, no. 823; Muslim, no. 589.

HR. Bukhari, no. 282; Muslim, no. 2706.

HR. Bukhari, no. 6347; Muslim, no. 2707, dengan lafaznya, "Rasulullah ﷺ memohon perlindungan kepada Allah dari beratnya cobaan, kesengsaraan yang menghimpit, takdir yang buruk, dan kegembiraan musuh."

HR. Muslim, no. 2720.

HR. Muslim, no. 2721.

HR. Muslim, no. 2722.

HR. Muslim, no. 2725.

HR. Muslim, no. 2739.

HR. Muslim, no. 2716.

Dalilnya adalah doa Nabi ﷺ untuk Anas, "Allāhumma akṡir mālahu wa waladahu, wa bārik lahu fīma a'ṭaitahu." (Ya Allah, perbanyaklah hartanya dan anaknya, dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan kepadanya). HR. Bukhari, no. 198; Muslim, no. 660.

HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 653, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Aḥādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 2241, dan dalam Ṣaḥīḥ Al-Adab Al-Mufrad, hlm. 244, dan lafaz yang ada di dalam kurung menunjukkan sabda beliau ﷺ saat ditanya, "Siapakah manusia terbaik?" Lalu beliau menjawab, "Siapa yang umurnya panjang dan amalnya baik". HR. Tirmizi, no. 2329, dan Ahmad, no. 17716, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiẓī (2/271), dan kami pernah bertanya kepada yang mulia guru kami Ibnu Bāz -raḥimahullāh- mengenai doa tersebut, apakah disunahkan untuk dibaca?" Beliau menjawab, "Iya."

HR. Bukhari, no. 634; Muslim, no. 2730.

HR. Abu Daud, no. 5090, Ahmad (5/42), dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Abī Dāwud (3/250), dan dalam Ṣaḥīḥ Al-Adab Al-Mufrad, no. 260, dan sanadnya dinyatakan hasan juga oleh 'Allāmah Ibnu Bāz dalam Tuḥfah Al-Akhyār, hlm. 24.

HR. Tirmizi, no. 3505, Al-Hakim, dan ia nyatakan sahih, serta disepakati oleh Az-Zahabi (1/505) dan dinyatakan sahih juga oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/168), lafaznya, "Doanya Nabi Yunus saat ia berdoa ketika berada di dalam perut ikan besar, "Allā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓẓālimīn." [QS. Al-Anbiyā`: 87]; sungguh jika seorang muslim berdoa dengan lafaz tersebut dalam urusan apa pun, niscaya doanya akan Allah kabulkan."

HR. Ahmad (1/391, 452), Al-Hakim (1/509), dinyatakan hasan oleh Al-Ḥāfiẓ dalam Takhrīj Al-Ażkār, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Takhrīj Al-Kalim Aṭ-Ṭayyib, hlm. 73.

HR. Muslim, no. 2654.

HR. Tirmizi, no. 3522, Ahmad, (4/182), Al-Hakim (1/525 dan 528) dan dinyatakan sahih olehnya serta disepakati oleh Az-Zahabi, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (6/309), serta Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/171) dan Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- mengatakan, "Ini adalah doa yang sering beliau ﷺ ucapkan."

HR. Tirmizi, no. 3514, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 726, dan lafaznya dalam riwayat Tirmizi, "Mohonlah kepada Allah keselamatan di dunia dan akhirat." Dan dalam lafaz lainnya, "Mohonlah ampunan dan keselamatan kepada Allah, sungguh tidaklah seseorang diberikan sesuatu yang lebih baik setelah rasa yakin selain keselamatan", dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (3/180), (3/185), dan (3/170), dan memiliki penguat dari riwayat lain juga, lihat dalam Musnad Al-Imam Ahmad berdasarkan edisi yang disusun Ahmad Syakir (1/156-157).

HR. Ahmad (4/181), Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Kabīr (2/33/1169), dalam Ad-Du'ā`, no. 1436, Ibnu Ḥibbān, no. 2424, 2425 (Mawārid), Al-Ḥāfiẓ Al-Haiṡamī mengatakan dalam Majma' Az-Zawā`id (10/178), "Para perawi Ahmad dan salah satu sanad Aṭ-Ṭabarani orang-orang terpercaya."

HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 664 dan 665, Abu Daud, no. 1510 dan 1511, Tirmizi, no. 3551, Ibnu Majāh, no. 3830, Ahmad (1/127), Al-Hakim dan ia menyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi (1/519), dan dinyatakan sahih juga oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Abī Dāwud (1/414), dan dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/178).

HR. Tirmizi, no. 3521, Ibnu Majah, no. 3846 masih semakna dengannya, Tirmizi berkata, "Hadis ini hasan garīb", dan dinyatakan daif oleh Al-Albani dalam Ḍa'īf At-Tirmiżī, hlm. 387).

HR. Abu Daud, no. 1551, Tirmizi, no. 3492, An-Nasā`ī, no. 5470, dan yang lainnya, serta dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/166), dan Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1108).

HR. Abu Daud, no. 1554, An-Nasā`ī, no. 5493, Ahmad (3/192), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1116), serta Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/184).

HR. Tirmizi, no. 3591, Ibnu Ḥibbān, no. 2422 (Mawārid), Al-Hakim (1/532), Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Kabīr (19/19/36), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/184).

HR. Tirmizi, no. 3513, An-Nasā`ī dalam Al-Kubrā, no. 7712, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/170).

HR. Ahmad dengan lafaznya (5/243), Tirmizi, no. 3235, dengan redaksi yang semisalnya dan ia nyatakan hasan, ia juga berkata, "Aku bertanya kepada Muhammad bin Ismail -yakni Bukhari-," lalu ia menjawab, "Hadis ini hasan sahih". Dan pada akhir hadis, beliau ﷺ bersabda, "Sungguh ia hak, kajilah dan pelajari". Al-Hakim (1/521), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/318).

HR. Ibnu Majah, no. 3846 dengan lafaznya, Ahmad (6/134), lafaz tambahan yang kedua miliknya, Al-Hakim menyatakan sahih dan disepakati oleh Az-Zahabi (1/521), dan lafaz tambahan yang pertama miliknya, dinyatakan sahih pula oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/327).

HR. Al-Hakim (1/525), ia nyatakan sahih dan disepakati oleh Az-Zahabi, dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (2/398), dan dalam Silsilah al-Aḥādīṡ aṣ-Ṣaḥīḥah (4/54), no. 1540).

HR. Tirmizi, no. 3502, Al-Hakim (1/528) dan ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi dan Ibnu Sunnī, no. 446, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/168), dan Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (1/400).

HR. Bukhari, no. 2822.

Muttafaq 'alaih. Bukhari, no. 6398 dan Muslim, no. 2719.

Muttafaq 'alaih. Bukhari, no. 834 dan Muslim, no. 2705.

Muttafaq 'alaih. Bukhari, no. 6398 dan Muslim, no. 2719.

HR. Al-Hakim (1/525) dan ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi, dan Al-Baihaqi dalam Ad-Da'awāt, no. 206. Lihat: Al-Ażkār karya An-Nawawi, hlm. 340, dan dinyatakan hasan oleh muḥaqqiq (peneliti) Abdul Qādir Al-Arna`ūt.

Ini berdasarkan hadis 'Ubadah -raḍiyallāhu 'anhu-, ia berkata, "Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda, ‘Siapa saja yang memohon ampun untuk kaum mukmin laki-laki dan perempuan, niscaya Allah akan tulis baginya setiap satu orang mukmin, baik laki-laki atau perempuan sebagai satu kebaikan’." Lihat Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Kabīr (5/202), no. 5092, (3/334), no. 2155. Isnadnya dinilai jayyid dalam Majma' Az-zawā`id karya Al-Haiṡami (10/210), dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ al-Jāmi', (5902) (5/242).

HR. Ahmad, no. 16599, 23114, dan 23188, dan Tirmizi, no. 3500, dan para muḥaqiq Al-Musnad mengatakan dalam (27/144), (38/197), dan (38/145), "Ḥasan ligairih".

HR. Aṭ-Ṭabarani. Al-Haiṡamī berkata dalam Majma' Az-Zawā`id (10/59), "Para perawinya termasuk perawi Aṣ-Ṣaḥīḥ, selain Muhammad bin Ziyād, namun ia ṡiqah [terpercaya]", dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (1/404), no. 1278.

HR. Abu Daud, no. 1552, An-Nasā`ī, no. 5531 dan 5532), serta dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1123), dan Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwud (1/425).

HR. Abu Daud, no. 1547, An-Nasa`i, no. 5483. Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1112).

HR. An-Nasā`ī, no. 5493, Al-Hakim (1/530), dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (1/406), dan Irwā` Al-Galīl, no. 852.

HR. Abu Daud, no. 1544, An-Nasā`ī, no. 5475, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1111), Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (1/407), dan lafaz yang berada di dalam kurung di dalam riwayatnya Ibnu Ḥibbān (Mawārid), dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Mawārid Aẓ-Ẓam`ān (2/455).

HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 117, Al-Hakim (1/532) dan ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi. Hadis ini juga diriwayatkan oleh An-Nasā`ī, no. 5517, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (1/408) serta Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1118).

HR. Tirmizi, no. 3482, Abu Daud, no. 1549, dan dinyatakan sahih oleh Allāmah Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi', no. 1295, dan Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1113).

HR. Aṭ-Ṭabarani dan Al-Haiṡamī berkata dalam Majma' az-Zawā`id (10/144), "Para perawinya adalah perawi Aṣ-Ṣaḥīḥ". Dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (1/411), no. 1290).

HR. Tirmizi, no. 2572, Ibnu Majah, no. 3340, An-Nasā`ī, no. 5536, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (2/319), dan Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1121) dengan lafaz, "Siapa yang memohon surga kepada Allah sebanyak tiga kali, surga akan berkata, 'Ya Allah, masukkan ia ke dalam surga', dan siapa yang memohon perlindungan kepada-Nya dari neraka sebanyak tiga kali, neraka akan berkata, 'Ya Allah, lindungi ia dari neraka'.")

Dalilnya adalah hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengenai Doa Nabi ﷺ untuk Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-, Bukhari, no. 143 dan Muslim, no. 2477.

HR. Ahmad (4/403), Ibnu Abi Syaibah (10/337), Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Mu'jam Al-Awsaṭ (4/284) dn dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Targīb wa At-Tarhīb (1/19).

HR. Tirmizi, no. 3599, Ibnu Majah, no. 259, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (1/47).

HR. Ibnu Majah, no. 925, An-Nasā`ī dalam 'Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 102, Ahmad (6/294 dan 305), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (1/152).

HR. An-Nasā`ī, no. 1300 dan lafaz ini miliknya, An-Nasā`ī dalam Al-Kubrā, no. 7665, Abu Daud, no. 985, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Sunan An-Nasā`ī (1/147).

HR. Abu Daud, no. 1495, Ibnu Majah, no. 3858, An-Nasā`ī, no. 1299, Tirmizi, no. 3544, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (1/279), dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/329).

HR. Abu Daud, no. 985, Tirmizi, no. 3475, Ibnu Majah, no. 3857, Ahmad (5/360), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Sunan At-Tirmizi (3/163).

HR. Abu Daud, no. 1518, Tirmizi, no. 3434 dan lafaz ini miliknya, An-Nasā`ī dalam Al-Kubrā, no. 10292, Ibnu Majah, no. 3814, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/321) dan Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/153).

HR. An-Nasā`ī, no. 1305, Ahmad (4/264) dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (1/280-281).

HR. Tirmizi, no. 3491 dan ia nyatakan hasan. Syekh Abdul Qādir Al-Arna`ūṭ mengatakan, "Status hadis ini memang seperti yang ia katakan". Lihat taḥqiqnya pada Jāmi' Al-Uṣūl (4/341).

HR. Muslim, no. 476 dan An-Nasā`ī, no. 400.

HR. An-Nasā`ī, no. 5469, lafaznya, "Nabi ﷺ biasa memohon perlindungan kepada Allah dari lima perkara: dari sifat kikir, pengecut, pikun, penyakit hati, dan azab kubur". Hadis ini juga diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 1539 dan dinyatakan hasan oleh Al-Arna`ūṭ dalam takhrijnya dalam Jāmi' Al-Uṣūl (4/363).

HR. An-Nasā`ī, no. 1344, Ahmad (6/61), Al-Baihaqi dalam Ad-Da'awāt, no. 109, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1121), dan Silsilah Al-Aḥādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 1544.

HR. Tirmizi dan lafaz ini miliknya (5/519), no. 3483, dan redaksi yang serupa oleh Ahmad (33/197), no. 19992, Al-Hakim (1/510) dengan redaksi semisal juga, dan ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi. Dan para peneliti (tahqiq) Al-Musnad mengenai hadis Ahmad (33/197) mengatakan, "Sanadnya sahih berdasarkan syaratnya Asy-Syaikhaini (Bukhari dan Muslim)". Adapun lafaz Tirmizi, maka didaifkan oleh Al-Albani dalam Ḍa'īf At-Al-Tirmiżī, hlm. 397.

HR. An-Nasā`ī dalam Al-Kubrā, no. 7867, Ibnu Majah, no. 3843, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Sunan Ibni Mājah (2/327), dan lafaznya, "Mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan mohonlah perlindungan kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat."

HR. Muslim, no. 2713 dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu-.

HR. Abu Daud, no. 969, Al-Hakim dan lafaz ini miliknya (1/265), ia berkata, "Sahih berdasarkan syarat Muslim" serta disepakati oleh Az-Zahabi (1/26), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Adab Al-Mufrad, no. 630.

HR. Al-Hakim dari Ummu Salamah secara marfū' (1/520), ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi (1/520), Al-Baihaqi dalam Ad-Da'awāt, no. 225, dan Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Kabīr (23/326), no. 717.

HR. Al-Hakim (1/523), ia berkata, "Sahih berdasarkan syarat Muslim", dan disepakati oleh Az-Zahabi (1/532), Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr (19/19), no. 36, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ẓilāl Al-Jannah, no. 13.

HR. Al-Hakim (1/532), ia nyatakan sahih dan disepakati oleh Az-Zahabi (1/510) dari riwayat Ibnu Abbas -raḍiyallāhu 'anhumā-. Al-Baihaqi dalam Al-Ādāb, no. 1084, dan dalam Ad-Da'awāt Al-Kabīr, no. 211, serta dinyatakan hasan oleh Al-Hāfiẓ Ibnu Hajar dalam Al-Futūḥāt Ar-Rabbāniyyah (4/383).

HR. Ahmad (6/48), Al-Hakim (1/255), ia berkata, "Sahih berdasarkan syarat Muslim" dan disepakati oleh Az-Zahabi (1/255). Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- berkata, "Ketika beliau selesai dari salatnya, aku bertanya, "Wahai Nabi Allah, apa itu hisab yang mudah?" Beliau menjawab, "Seseorang melihat buku catatan amalnya lalu, Dia (Allah) memaafkannya. Sungguh, siapa pun yang dipersulit hisabnya waktu itu wahai Aisyah, dia akan binasa. Dan setiap derita yang dialami seorang mukmin maka Allah 'Azza wa Jalla akan menjadikannya sebagai pelebur dosanya, walau hanya tertusuk duri." Allāmah Al-Albani mengatakan dalam Misykāh Al-Maṣābīḥ, "Sanadnya jayyid."

HR. Ahmad (2/299), Al-Hakim (1/499) ia nyatakan sahih dan disepakati oleh Az-Zahabi. Derajat hadis memang seperti yang disebutkan oleh beliau berdua. Juga diriwayatkan oleh Abu Daud, no. 1524, An-Nasā`ī dalam Al-Kubrā, no. 9973, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Adab Al-Mufrad, no. 534.

HR. Ibnu Ḥibbān (Mawārid), hlm. 604, no. 2436, dari riwayat Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- secara mauqūf, Ahmad dari jalur periwayatan lain (1/386 dan 400), An-Nasā`ī dalam 'Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 869, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 2301.

HR. An-Nasā`ī dalam Al-Kubrā (6/246), no. 10830, Al-Hakim (1/510) dan ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi; Ahmad (4/444), di dalam Al-Musnad yang telah ditahqiq (diteliti) (33/197), no. 19992, dan Al-Ḥāfiẓ mengatakan dalam Al-Iṣābah, "Sanadnya Sahih". Juga dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Takhrīj Riyāḍ Aṣ-Ṣaliḥīn dalam catatan hadis no. 1495.

HR. An-Nasā`ī, no. 5475, Ahmad (2/173), dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ An-Nasā`ī (3/1113).

HR. An-Nasā`ī, no. 1617, Ibnu Majah, no. 1356, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Sunan An-Nasā`ī (1/356), dan Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (1/226).

HR. Tirmizi, no. 3681, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 650, dan Al-Hakim (1/523). Dia menyatakan sahih dan disepakati oleh Az-Zahabi, dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/188).

HR. Al-Hakim (1/541), Zawā`id Musnad Al-Bazzār (2/442), no. 2177, Aṭ-Ṭabarani dalam Ad-Du'ā`, no. 1435. Al-Haiṡamī mengatakan dalam Majma' Az-Zawā`id (10/179), "Sanad Aṭ-Ṭabarani jayyid.")

HR. Ahmad dengan lafaz yang sama (3/424) dan (24/246), no. 15492. Kalimat yang berada di dalam kurung milik Al-Hakim (1/507) dan (3/23-24). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, no. 699, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Takhrīj Fiqhus-Sīrah, hlm. 284, serta Ṣaḥīḥ Al-Adab Al-Mufrad karya Bukhari, no. 538, hlm. 259.

HR. Muslim, no. 2696 dan 2697, dalam riwayat lain dari Muslim, "Karena doa-doa ini akan mengumpulkan kebaikan dunia dan akhirat untukmu." Dan dalam Sunan Abu Daud, no. 850, perawinya berkata, "Tatkala arab badui tersebut pergi berlalu, Nabi ﷺ bersabda, 'Sungguh kedua tangannya dipenuhi kebaikan'."

Lihat: Sunan Ibnu Majah, no. 898, dan Sunan At-Tirmiżī, no. 284, Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (1/148), serta Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (1/90).

HR. Tirmizi (5/326), no. 3173, Al-Hakim (2/98). Dia mensahihkannya, dan dinyatakan hasan oleh Syekh Abdul Qādir Al-Arna`ūṭ dalam taḥqiqnya (penelitiannya) di kitab Jāmi' Al-Uṣūl (11/282), no. 8847.

HR. Ahmad (6/68 dan 155) dan (1/403), Ibnu Ḥibbān, no. 2423 dalam Mawārid, Aṭ-Ṭayālisi, no. 374, Musnad Abi Ya'lā, no. 5075, dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Irwā` Al-Gālīl (1/115), no. 74.

Dalilnya adalah doa Nabi ﷺ ini untuk Jarir -raḍiyallāhu 'anhu-. Lihat: Al-Bukhari, no. 6333, serta 3020, 3036, dan lainnya.

HR. Ahmad (28/338), no. 17114 dan (28/356), no. 17133, Tirmizi, no. 3407, Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr dengan lafaznya, no. 7135, 7157, 7175, 7176, 7177, 7178, 7179, dan 71780; Ibnu Ḥibbān dalam Ṣaḥīḥ-nya, (3/215), no. 935 dan (5/310), no. 1974, dinyatakan hasan oleh Syu'aib Al-Arna`ūṭ dalam Ṣaḥīḥ Ibni Ḥibbān (5/312), dan dinyatakan hasan jalur-jalur periwayatannya oleh para pentahqiq Al-Musnad (28/338), juga disebutkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Aḥādīṡ As-Ṣaḥīḥah pada jilid ke-7, no. 3228, sementara dalam Ṣaḥīḥ Mawārid Az-Ẓam`ān, no. 2416 dan 2418, ia berkata, "Ṣaḥīḥ ligairih."

Doa ini dikutip dari sabda Nabi ﷺ, "...Apabila kalian memohon kepada Allah, mohonlah surga Firdaus; karena ia surga yang terbaik dan surga tertinggi, dan di atasnya 'Arasy Allah yang Maha Pengasih, darinya keluar air sungai-sungai surga." HR. Bukhari, no. 2790 dan 7423.

Doa ini dikutip dari hadis Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu 'anhumā-, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya iman itu bisa menjadi usang di dalam diri kalian, seperti halnya pakaian yang usang, maka mohonlah kepada Allah agar memperbaharui keimanan di dalam hati kalian." HR. Al-Hakim (1/4), ia nyatakan sahih dan disepakati oleh Az-Zahabi. Al-Haiṡamī dalam Majma' Az-Zawā`id (1/52) menuturkan, "Diriwayatkan oleh Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Kabīr dan sanadnya hasan." Juga dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Aḥādīṡ As-Ṣaḥīḥah (4/113), no. 1585.

HR. Abu Daud, no. 1549, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abi Dāwud (1/424).

HR. Aṭ-Ṭabarani dalam Ad-Du'a (3/1425), no. 1339, dan Al-Al-Albani dalam Silsilah Al-Aḥādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah (7/377), no. 3137, mengatakan, "Aku berkata, "Sanad ini jayyid, semua perawinya dari perawi At-Tahżīb..."

HR. Ahmad dalam Al-Musnad (29/596), no. 18056, dan para pen-taḥqiq Al-Musnad mengatakan, "Sanadnya sahih". Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr (3/20), no. 2524, dengan lafaz, "Allāhumma lā tukhzinī yaumal-qiyāmah wa lā tukhzinī yaumal-ba`s." (Ya Allah, janganlah Engkau hinakan aku pada hari Kiamat, janganlah Engkau hinakan aku pada hari yang sangat mengerikan).

HR. Ibnu Majah, no. 3851, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (3/259), dan dalam Silsilah Al-Aḥādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 1138.

HR. Ibnu Ḥibbān, no. 2440 (Mawārid), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Mawārid Aẓ-Ẓam`ān (2/454), no. 2066.

HR. Bukhari, no. 6363. Anas -raḍiyallāhu 'anhu- berkata, "Aku dahulu menjadi pelayan Rasulullah ﷺ, setiap beliau singgah, aku biasa mendengar beliau sering mengucapkan, "Allāhumma innī a'ūżubika..."

HR. Muslim, no. 2867, disebutkan di dalamnya, "Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab neraka"...[Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur...] sampai akhir hadis.

HR. Muslim, no. 1909. Ini dikutip dari sabda beliau ﷺ, "Siapa yang memohon kepada Allah mati syahid dengan tulus, niscaya Allah menghantarkannya menuju kedudukan para syuhada, sekalipun ia mati di atas kasurnya."

HR. Bukhari, no. 4323 dan Muslim, no. 2498. Ini dikutip dari doa Nabi ﷺ untuk 'Ubaid Abu 'Āmir dan termasuk doa beliau ﷺ untuk Abu Burdah -raḍiyallāhu 'anhumā-.

HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/249), no. 1723. Para pen-taḥqiq Al-Musnad mengatakan (3/249), "Sanadnya sahih." Riwayat ini mutlak dan tidak terikat dengan salat witir, sebagaimana yang tercantum pada riwayat lainnya, dan dalam riwayat ini Anas -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Beliau mengajarkan kami doa ini..."

HR. Muslim, no. 214. Ada yang bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, Ibnu Jud'ān pada masa jahiliah dahulu gemar menyambung tali silaturahmi, memberi makan orang miskin. Apakah itu semua bermanfaat baginya?" Beliau menjawab, "Tidak akan bermanfaat baginya, karena dia sekalipun tidak pernah mengucapkan, 'Rabbigfirlī khaṭī`atī yaumad-dīn.' (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku pada hari pembalasan nanti).

HR. Tirmizi, no. 3577, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/469), "Siapa yang mengucapkannya, niscaya Allah mengampuninya, meskipun ia pernah melarikan diri dari medan perang."

Doa ini dikutip dari doa Nabi ﷺ untuk Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-, "Allāhummagfir laha żanbahā, wa aż-hib gaiẓa qalbihā, wa a'iżnā min muḍillātil-fitan." (Ya Allah, ampunilah dosanya, hilangkan rasa emosi dari hatinya, lindungilah ia dari kesesatan berbagai macam fitnah). HR. Ibnu 'Asākir dengan sanadnya dalam Al-Arba'īn fī Manāqib Ummahāt Al-Mu`minīn, hlm. 85, dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā-. Ibnu 'Asākir berkata, "Hadis ini sahih hasan dari Baqiyyah bin Al-Walid. Ibnu As-Sunni meriwayatkan dengan redaksi yang semisal dalam 'Amal Al-Yaum wa Al-Lailah, no. 457, dan dalam naskah lainnya milik Ibnu As-Sunni, ia berkata, "Wa ajirnī minasy-syaiṭān." (Dan lindungilah aku dari setan) pengganti kalimat "min muḍillātil-fitan". Lihat takhrij hadis ini dalam karya Al-Albani di Aḍ-Ḍa'īfah, no. 4207, dan juga ada hadis lain sebagai penguat dari Ummu Salamah -raḍiyallāhu 'anhā- yang diriwayatkan oleh Ahmad, no. 26576 (2/44) dengan redaksi yang serupa. Berikut ini lafaznya, "Ucapkanlah 'Allāhumma rabba muhammadin an-nabiyyi, igfirlī żanbī, wa aż-hib gaiẓa qalbī, wa ajirnī min muḍillātil-fitan mā aḥyaytanā." (Wahai Tuhan Nabi Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkanlah emosi dalam hatiku, dan lindungilah aku dari kesesatan berbagai macam fitnah selama kami mashi hidup). Al-Haiṡamī menyatakannya hasan dalam Majma' Az-Zawā`id (10/27). Riwayat ini juga ada di Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Mu'jam Al-Kabīr (23/338), no. 785, tanpa lafaz, "mā aḥyaytanā." Ada riwayat lain yang menguatkan dari Ummu Hāni` -raḍiyallāhu 'anhā-, ia berkata, "Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku sebuah doa yang bisa aku panjatkan." Beliau bersabda, "Ucapkanlah 'Allāhummagfirlī żanbī...'" dan seterusnya sampai akhir hadis. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Kharā`iṭī dalam I'tilāl Al-Qulūb, no. 52, serta Masāwi` Al-Akhlāq, no. 323.

HR. Al-Baihaqi dalam Al-Kubrā (5/95), dari doanya Ibnu Umar yang statusnya mauqūf pada dirinya. Ibnu Al-Mulaqqin menukilnya dalam Al-Badr Al-Munīr (6/309). Dia berkata, "Dinukil dari Ad-Diyā`, "Sanadnya jayyid". Ibnu Mas'ud -raḍiyallāhu 'anhu- mengatakan, "Jangan sampai di antara kalian mengucapkan, "Allāhumma ini a'ūżubika minal-fitnah." (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah), karena tidak seorang pun yang luput dari fitnah; karena Allah berfirman, "Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu)." (QS. At-Tagābun: 15). Maka siapa saja di antara kalian memohon perlindungan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari kesesatan-berbagai macam fitnah." HR. Ibnu Jarir dalam Tafsirnya (13/475), no. 15912, dan disebutkan oleh Ibnu Baṭṭāl dalam uraiannya pada buku Ṣaḥīḥ Al-Bukhāri (4/13).

HR. Bukhari, no. 3370. Kalimat yang ada di antara dua tanda kurungnya merupakan bagian dari hadis Abu Hurairah -raḍiyallāhu 'anhu- dalam riwayat Muslim, no. 405.

Lihat: Al-Jawāb Al-Kāfī Liman Sa`ala 'an Ad-Dawā` Asy-Syāfī karya Ibnul Qayyim, hlm. 20.

Zād Al-Ma'ād karya Ibnul Qayyim (4/6) dan (4/352).

Zād Al-Ma'ād (4/352).

Zād Al-Ma'ād (4/352) dan (4/6).

Lihat: Zād Al-Ma'ād (4/178) dan Al-Jawāb Al-Kāfī, hlm. 21.

Lihat: Al-Jawāb Al-Kāfī, hlm. 22-25.

HR. Tirmizi, no. 3548, Al-Hākim (1/670), Ahmad, no. 22044, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani. Lihat: Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (3/151), no. 3403.

HR. Al-Hākim (1/670), Tirmizi, no. 2139, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah (1/76), no. 154.

Lihat: Zād Al-Ma'ād (4/68) dan Al-Jawāb Al-Kāfī, hlm. 21.

Fatḥul-Bārī karya Ibnu Ḥajar (10/196).

Lihat: Fatḥul-Bārī (10/195) dan Fatāwā Allāmah Ibni Bāz (2/384).

HR. Al-Hākim dan ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi (1/562), dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Targīb wa At-Tarhīb (1/273), no. 658.

HR. Tirmizi, no. 3388, Abu Daud, no. 5088, Ibnu Mājah, no. 3869, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/332).

HR. Bukhari (4/95), no. 3293 dan Muslim, (4/2071), no. 2691.

Lihat: Zād Al-Ma'ād (4/126), dan Majmū' Fatāwā Al-'Allāmah Ibn Bāz (3/277). Lihat juga pembahasan tentang 10 sebab yang bisa menangkal keburukan orang hasad dan penyihir, pada bagian ketiga dari pengobatan terhadap 'ain dalam buku ini.

HR. Bukhari dalam Al-Fatḥ (10/247), no. 5445 dan Muslim, (3/1618), no. 2047.

Kata "Lābatayhā" bentuk ganda dari kata "Lābatun" yaitu Al-Ḥarrah, yang berarti tanah yang berbatu hitam dan berlubang, seolah-olah telah terbakar oleh api. Yang dimaksud dengan al-Ḥarratān di sini adalah dua daerah yang mengelilingi kota Madinah Nabawiyah. Lihat: Faiḍ Al-Qadīr karya Al-Munāwi (2/514).

HR. Muslim (3/1618), no. 2047).

Lihat: Zād Al-Ma'ād (4/124), Bukhari dengan Al-Fatḥ (10/132), no. 5765, Muslim (4/1917), no. 2189, dan Majmū' Fatāwā Ibn Bāz (3/228).

Lihat: Fatḥ Al-Ḥaq Al-Mubīn fi 'Ilāj Aṣ-Ṣar'i wa As-Siḥri wa Al-'Aini, hlm. 138.

Lihat: Fatāwā Ibnu Bāz (3/279), Fatḥ Al-Majīd, hlm. 346, Aṣ-Ṣārim Al-Battār fī At-Taṣaddī lī As-Saḥarah wa Al-Asyrār karya Wahīd Abdussalām, hlm. 109-117. Ada juga tata cara ruqyah yang bermanfaat serta dipaparkan panjang lebar dan sangat berguna insya Allah Ta'ala. Muṣannaf Abdirrazzāq (11/13), dan Fatḥ Al-Bārī karya Ibnu Ḥajar (10/233).

Lihat: Bukhari dalam Al-Fatḥ (9/62), no. 5016, Muslim (4/1723), no. 2192, Bukhari dalam Al-Fatḥ (10/208).

HR. Abu Daud (3/187), no. 3106, Tirmizi (2/410), no. 2083, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (5/180 dan 322), dan Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwud (2/276).

HR. Muslim (4/1728), no. 2202.

HR. Bukhari dalam Al-Fatḥ (10/206), no. 5750 dan Muslim (4/1721), no. 2191.

HR. Bukhari dalam Al-Fatḥ (6/408), no. 3371.

HR. Muslim (4/1728), no. 2709.

HR. Abu Daud, no. 3893, Tirmizi, no. 3528, Dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī, (3/171).

HR. Ahmad (3/119), no. 15461, dengan sanad yang sahih, Ibnu As-Sunnī, no. 637. Lihat: Majma' Az-Zawā`id (10/127), dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah (7/196)).

HR. Muslim (4/2084), no. 2713.

HR. Muslim, dari Abu Sa'id Al-Khudri -raḍiyallāhu 'anhu- (4/1718), no. 2186.

HR. Muslim dari Aisyah -raḍiyallāhu 'anhā- (4/1718), no. 2185.

HR. Ibnu Mājah, no. 3527, dari 'Ubādah bin Aṣ-Ṣāmit -raḍiyallāhu 'anhu-, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/268).

Lihat: Zād Al-Ma'ād (4/125). Ada beberapa jenis tata cara mengobati sihir setelah terkena, tidak masalah jika Anda mencobanya, insyaallah bermanfaat. Lihat: Muṣannaf Ibnu Abu Syaibah (7/386-387), Fatḥ Al-Bārī (10/233-234), Muṣannaf Abdurrazzāq (11/13), Aṣ-Ṣārim Al-Battār, hlm. 194-200, dan As-Siḥr Ḥaqīqatuhu wa Ḥukmuhu karya Dr. Musfir Ad-Damīnī, hlm. 64-66.

Lihat: Fatḥ Al-Ḥaq Al-Mubīn fī 'Ilāj Aṣ-Ṣar'i wa As-Siḥr wa Al-'Ain, hlm. 139.

Lihat: Fatḥu Al-Ḥaqqi Al-Mubīn, hlm. 140. Nanti akan dipaparkan pengobatan menggunakan madu dalam buku ini.

Lihat: Fatḥu Al-Ḥaqqqi Al-Mubīn, hlm. 141. Nanti akan dipaparkan pengobatan menggunakan ḥabbat saudā` dalam buku ini.

Lihat: Fatḥu Al-Ḥaqqqi Al-Mubīn, hlm. 144. Nanti akan dibahas cara pengobatan dengan air zamzam dalam buku ini.

HR. Ahmad dalam Musnad (3/497), no. 16055, Tirmizi, no. 1851, Ibnu Mājah, no. 3319, dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (2/166).

Lihat: Fatḥ Al-Ḥaq Al-Mubīn fī 'Ilāj Aṣ-Ṣar'i wa As-Siḥr wa Al-'Ain, hlm. 142.

Lihat: Ibid, hlm. 145.

Lihat: Pembahasan yang lalu terkait pengobatan terhadap sihir pada buku ini.

HR. Muwaṭṭa` Mālik (2/938), Ibnu Mājah (2/1160), no. 3509, Ahmad (4/447), no. 15700, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/265), dan Zād Al-Ma'ād (4/170), Aṣ-Ṣārim Al-Battār fī At-Taṣaddī lī As-Saḥarah wa Al-Asyrār karya Syekh Wahīd Abdussalām, hlm. 229-252.

Lihat: Syarḥ As-Sunnah karya Al-Bagawī (13/116) dan Zād Al-Ma'ād (4/173).

Lihat: Sunan Abī Dāwud (4/9), no. 5056, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah (6/61), Zād Al-Ma'ād (4/163). Lihat juga: Al-Wiqāyah wa Al-'Ilāj min Al-Kitāb wa As-Sunnah karya Muhammad bin Syāyi', hlm. 144-147.

Lihat: Pembahasan pada jenis kedua mengenai pengobatan sihir pada buku ini, hal 122-128.

HR. Abu Daud (4/10), no. 3885. Hal itu pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ kepada Ṡābit bin Qais. Hadis ini didaifkan oleh Al-Albani dalam Da'īf Abī Dāwud, no. 836.

Musnad Ahmad (3/497), no. 16055, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah (1/108), no. 379.

Lihat: Pembahasan yang telah disebutkan sebelumnya pada jenis keempat mengenai pengobatan sihir di dalam buku ini.

Lihat: Pembahasan yang telah disebutkan sebelumnya pada jenis keempat mengenai pengobatan sihir di dalam buku ini.

Lihat: Zād Al-Ma'ād karya Ibnul Qayyim (4/170) dan Fatāwā Ibni Taimiyyah (64/19).

Lihat: Jenis kedua dari cara pengobatan sihir di buku ini, hal 122-128.

HR. Tirmizi, no. 2516 dan disahihkan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (2/309).

Lihat: Badā`i'ul-Fawā`id karya Ibnul Qayyim (2/238-245).

Lihat: Sunan Abī Dāwud (4/13-14), no. 3896, Ahmad (5/210), no. 21835, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 2028.

Lihat: Al-Fatḥ Ar-Rabbānī tartīb Musnad Al-Imām Aḥmad (17/183).

Lihat: Jenis kedua mengenai pengobatan sihir pada buku ini.

Lihat: Ruqyah yang dibahas secara panjang lebar dan bermanfaat dalam buku Aṣ-Ṣārim Al-Battār, hlm. 109-117 karya syekh Wahid Abdussalam. Lihat juga: Zād Al-Ma'ād (4/66-69), Īḍāḥ Al-Ḥaq fī Dukhūl Al-Jinniy bi Al-Insiy war Rad 'alā man ankara żālika karya Allāmah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, hlm. 14, Fatāwā Ibnu Taimiyah (19/9-65) dan (24/276), Al-Wiqāyah wa Al-'Ilāj min Al-Kitāb wa As-Sunnah karya Muhammad bin Syāyi', hlm. 66-69, Kaifiyah Ṭard Al-Jinn min Al-Bait, Al-Wiqāyah wa Al-'Ilāj karya Muhammad bin Syāyi', hlm. 59, dan 'Ālam Al-Jinn wa Asy-Syayāṭīn karya Al-Asyqar, hlm. 130.

Lihat: Fatḥ Al-Ḥaq Al-Mubīn fī 'Ilāj Aṣ-Ṣar'i wa As-Siḥri wa Al-'Aini, hlm. 112, dan Bukhari, no. 574.

Lihat: Sebab hati terasa lapang dalam Zād Al-Ma'ād (2/23-28) dan buku Al-Wasā`il Al-Mufīdah li Al-Ḥayāh As-Sa'īdah karya Allāmah Abdurrahmān bin Nāṣir As-Sa'di -raḥimahullāh-.

Kata "dagalu asy-syai`" maknanya aib yang merusak.

HR. Ibnu Mājah, no. 4216, dan dinyatakan sahih oleh Allāmah Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/411).

HR. Muslim (2/1091), no. 1469.

HR. Muslim (4/2087), no. 2720.

HR. Abu Daud (4/324), no. 5090, Ahmad (5/42), no. 20430, disahihkan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Al-Jāmi', no. 3388, dan beliau nyatakan hasan dalam Ṣaḥīḥ Sunan Abī Dāwud (3/251).

HR. Ahmad (5/314, 316, 319, 330, 326), no. 21624, 22680, dan 22732, dan Al-Hākim. Dia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi (2/75), dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah (2/274).

Lihat: Mukadimah Al-Wasā`il Al-Mufīdah, cetakan kelima, hlm. 6.

HR. Bukhari dalam Al-Fatḥ (10/206), no. 5745 dan Muslim, (4/1724), no. 2194.

Lihat: Syarḥ Nawawī 'alā Ṣaḥīḥ Muslim (14/184), Fatḥ Al-Bārī karya Ibnu Ḥajar (10/208). Lihat penjelasan lengkap hadis ini dalam Zād Al-Ma'ād (4/186-187).

HR. Muslim (2/633), no. 918.

Maksud "memuji-Mu dan istirjā`" adalah mengucapkan "Alḥamdulillāh, Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji'ūn".

HR. Tirmizi, no. 1021, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (1/298).

HR. Bukhari sertai Al-Fatḥ (11/242), no. 6424.

HR. Ahmad, no. 15595, An-Nasā`i (4/23) dalam Al-Janā`iz, Bāb Al-Amr bi Al-Iḥtisāb wa Aṣ-Ṣabr 'inda nuzūl Al-Muṣībah, no. 1870, dan sanadnya sahih berdasarkan syarat Aṣ-Ṣaḥīḥ, dinyatakan sahih oleh Ibnu Ḥibbān (8/209) dan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Targīb wa At-Tarhīb, no. 2007. Lihat juga Fatḥ Al-Bārī (11/243).

HR. Bukhari dalam Al-Fatḥ (10/116), no. 5653, dan kata yang berada di dalam tanda kurung kotak merupakan redaksi Sunan At-Tirmiżī, no. 2400. Lihat: Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (2/286).

HR. Bukhari serta Al-Fatḥ (10/120), no. 5648 dan Muslim, (4/1991), no. 2571.

HR. Muslim (4/1991), no. 2572).

Kata waṣab maknanya penyakit kronis (berlangsung lama), seperti disebutkan dalam firman Allah Ta'ala "walahum 'ażābun wāṣib" (dan mereka akan mendapat azab yang kekal) maknanya lazim dan tetap, lihat Syarḥ Nawawi (16/130).

Kata naṣab maknanya kepayahan.

Ada yang berpendapat bahwa kata al-hamm berasal dari kata kerja yang huruf ya`-nya fathah dan ha`-nya ḍammah "yahummu"; ada juga yang mengatakan "yuhammu" huruf ya`-nya ḍammah dan ha`-nya fathah, maknanya membuatnya gundah; keduanya benar. Lihat Syarḥ Nawawi 'alā Ṣaḥīḥ Muslim (16/130).

HR. Muslim (4/1993), no. 2573).

Lafaz As-Sukhṭu dan As-Sakhaṭu adalah antonim kata Ar-riḍā. Kalimat Qad Sakhiṭa (ia marah), pelakunya disebut Sākhiṭun, sedangkan kata Askhaṭahu (membuatnya marah). Contoh lain: tasakh-khaṭa 'aṭā`ahu (Dia menganggap pemberiannya sedikit dan tidak berkesan baginya). Kata sakhiṭa sakhaṭan termasuk pola kata ta'iba. Kata As-Sukhṭu dengan huruf sin-nya ḍammah merupakan bentuk kata benda (isim) .... Kata sakhiṭ-tuhu, sakhiṭ-tu 'alaihi, Askhaṭ-tuhu dan Sakhiṭa sama seperti kalimat Agḍabtuhu dan Gaḍiba secara pola dan makna. Lihat: As-Ṣiḥḥāḥ, entri Sīn Khā Ṭā`, dan Al-Miṣbāh Al-Munīr, entri Sīn Khā Ṭā`.

HR. Tirmizi, no. 2396, Ibnu Mājah, no. 4031, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (2/286).

HR. Tirmizi, no. 2698, Ibnu Mājah, no. 4023, dan dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (2/286).

Maknanya seorang muslim.

HR. Ahmad (1/391), no. 3712, disahihkan oleh al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Targīb wa At-Tarhīb, no. 182.

HR. Bukhari (7/158), no. 2893, Rasulullah ﷺ sering membaca doa ini. Lihat: Bukhari serta Al-Fatḥ (11/173).

HR. Bukhari (7/154), no. 6346 dan Muslim (4/2092), no. 2730.

HR. Abu Daud (4/324), no. 5090, Ahmad (5/42), no. 20430, dihasankan oleh Al-Albani dalam Irwā` Al-Galīl (3/357), Al-Arna`ūṭ di taḥqiq-nya dalam Al-Musnad (34/75).

HR. Tirmizi 5/529), no. 3505, Al-Ḥākim dan ia nyatakan sahih serta disepakati oleh Az-Zahabi (1/505), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/168).

HR. Abu Daud (2/87), no. 1525, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/335) dan Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (4/196).

HR. Muslim (4/1728), no. 2202.

HR. Tirmizi, no. 2083, Abu Daud, no. 3893, dan dinyatakan sahih oleh Allāmah Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (2/210) serta Ṣaḥīḥ Al-Jāmi' (5/180).

HR. Abu Daud (4/12), no. 3893, dinyatakan hasan oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/171).

HR. Bukhari dalam Al-Fatḥ (10/174), no. 3264 dan Muslim, (4/1733), no. 2210).

HR. Bukhari serta Al-Fatḥ (10/208), Kitāb Aṭ-Ṭibb, Bāb Ruqyah An-Nabiy ﷺ.

HR. Aṭ-Ṭabarani dalam Al-Mu'jam Aṣ-Ṣagīr (2/830). Al-Haiṡamī menyatakan sanadnya hasan dalam Majma' Az-Zawā`id (5/111), dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Aṣ-Ṣaḥīḥah, no. 548).

Lihat rinciannya disertai dalil-dalil yang sahih dalam Āfātul-lisān, hlm. 110-112; Al-ḥikmah fī Ad-Da'wah ilallāh, hlm. 64-66, karya penulis buku ini juga.

HR. Bukhari dalam Fatḥul Bārī (10/143), no. 5688 dan Muslim, 1735, no. 2251.

Lihat: Zād Al-Ma'ād (4/297), dan Aṭ-Ṭib min Al-Kitāb wa As-Sunnah karya Allāmah Muwaffaquddīn Abdullaṭīf Al-Bagdādī, hlm. 88.

HR. Bukhari dalam Al-Fatḥ (10/137), no. 5681. Lihat juga faedah-faedah madu dalam Zād Al-Ma'ād (4/50-62), dan Aṭ-Ṭib min Al-Kitāb wa As-Sunnah karya Allāmah Allāmah Muwaffaquddīn Abdullaṭīf Al-Bagdādī, hlm. 129-136.

HR. Muslim (4/1922), no. 2473, dan redaksi yang ada di dalam kurung kotak adalah riwayat Al-Bazzār (2/86), Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubrā (5/147), Aṭ-Ṭabrānī dalam Al-Mu'jam Al-Awsaṭ (3/247) dan sanadnya sahih. Lihat: Majma' Az-Zawā`id (3/286).

HR. Ibnu Mājah, no. 3062 dan yang lainnya, dan dinyatakan sahih oleh Allāmah Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ Ibni Mājah (2/183) dan Irwā` Al-Galīl (4/320).

Kata Al-Idāwah artinya bejana untuk bersuci, bentuk jamaknya Al-Adāwā, Mukhtār Aṣ-Ṣiḥāh (1/11).

HR. Tirmizi (1/180), no. 963, Al-Baihaqi (5/202), dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (1/284), dan Silsilah Al-Aḥādīṡ Aṣ-Ṣaḥīḥah (2/572), no.883, Zād Al-Ma'ād (4/392).

Orang-orang selain penduduk Hijaz mengatakan "fabari`tu" (aku pun sembuh). Lihat: An-Nihāyah fī Garīb Al-Ḥadīṡ (1/111).

Zād Al-Ma'ād (4/393 dan 178).

Lihat: Igāṡah Al-Lahafān min Maṣā`id Asy-Syaiṭān karya Ibnul Qayyim -raḥimahullāh- (1/7 dan 73).

Lihat: Igāṡah Al-Lahafān min Maṣā`id Asy-Syaiṭān (1/9).

Lihat: Igāṡah Al-Lahafān (1/9).

Lihat: Igāṡah Al-Lahafān (1/44).

Lihat: Igāṡah Al-Lahafān (1/136).

HR. Tirmizi, no. 3392, Abu Daud, no. 5058, dan dinyatakan sahih oleh Al-Albani dalam Ṣaḥīḥ At-Tirmiżī (3/142).

Lihat: Igāṡah Al-Lahafān (1/145-162).

Silakan merujuk mengenai nama-nama tersebut beserta dalil-dalilnya dari Al-Qur`an dan Sunnah dalam buku berjudul "Syarḥu asmā`illāhi al-ḥusnā fī ḍaw`i al-kitābi was-sunnah" (Penjelasan Nama-nama Allah yang Terbaik berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah)... karya penulis sendri.